
Setelah hari itu, aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Pikiranku selalu tertuju pada Raffa. Bagaimana dengannya? Apa dia mengingatku? Apa dia menyetujui perjodohan ini?
Pagi ini hujan begitu deras. Untung saja, ini hari minggu. Kalau tidak, sampai di kantor tubuhku pasti basah kuyup. Aku mulai membuat teh, supaya tubuhku terasa hangat. Menatap keluar jendela sembari meminum teh hangat buatanku sendiri. Tiba-tiba aku memikirkan hal konyol, mulai berkhayal bisa berlari-larian di bawah hujan bersama Raffa.
"Ishh..." desahku. Lalu tertawa pada diriku sendiri. Berani-beraninya aku memikirkan hal seperti itu?!
Tiba-tiba suara dering teleponku, membuat fokusku teralihkan.
"Hallo? Dengan siapa?" tanyaku pada si penelepon.
"......."
"Apa? Di mana beliau di rawat?"
"......."
"Baik. Saya akan segera datang!" panggilan itu membuat hatiku tidak tenang. Dengan segera, aku mengambil dompetku dan berlari ke luar rumah tanpa peduli dengan hujan.
Aku berlari secepat mungkin, sampai aku tidak mempedulikan jalanan yang licin. Dan benar saja, kakiku terpeleset. Sedikit goresan tidak membuatku menyerah. Aku kembali berlari, sampai ada tukang ojek yang menawariku tumpangan. Tidak ada pilihan, karena pikiranku sekarang hanya terfokus pada bu Kayla. Dengan cepat aku menerima ajakannya.
Aku telah sampai di depan rumah sakit. Aku mengucapkan banyak terima kasih pada tukang ojek itu, sembari memberi uang padanya. Setelah itu aku kembali berlari ke dalam rumah sakit.
__ADS_1
Dengan tubuh basah kuyup, aku segera bertanya pada salah satu perawat di sana.
"Di mana pasien bernama bu Kayla Azahra?"
"Dengan bu Shella? Mari saya antar!" ucap perawat itu. Dengan cepat aku mengangguk, lalu mengikuti langkahnya.
Sampai tiba di depan pintu kamarnya, aku melihat bu Kayla terbaring lemah. Dengan beberapa orang di sana. Siapa mereka? Apa mereka keluarga lengkap bu Kayla?
Semua orang melirik ke arahku. Dengan perlahan aku mulai melangkahkan kakiku ke arah mereka.
"Nak..." panggilnya lirih.
Dengan ragu, aku menghampirinya dan menggenggam salah satu telapak tangannya. "Ibu, apa yang terjadi padamu?" tubuh bu Kayla benar-benar terlihat lemah. Selang oksigen menempel dihidungnya.
"Raffa?!" batinku.
"Ta-tapi---"
"Raffa sudah setuju, nak. Ibu mohon... ini adalah permintaan terakhir ibu padamu."
"Ibu... kenapa bilang begitu?" tanyaku panik. Aku tidak suka mendengarnya.
__ADS_1
"Ibu pasti sembuh!" sambungku.
"Ibu mohon..." pintanya sekali lagi.
Aku menatap Raffa, lalu kembali beralih pada bu Kayla. "Baik, bu. Jika ini memang keinginan ibu. Dan jika Raffa juga setuju." Jawabku, sedikit ragu. Aku pun tidak ingin menghancurkan hati bu Kayla yang telah kuanggap seperti ibu kandungku sendiri.
Semua prosesi pernikahan berlangsung dengan cepat. Untuk pertama kalinya aku memakai kebaya indah seperti ini. Ibu, benar-benar menyiapkan semua ini. Dan tentu saja, semua dilakukan di depan mata bu Kayla sendiri. Agar beliau turut menyaksikan anak semata wayangnya menikah. Setelah kami resmi menjadi sepasang suami istri, tiba-tiba saja tubuh bu Kayla mengejang hebat. Sampai akhirnya, hal yang sangat kutakutkan terjadi. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya, tepat setelah kami menikah.
***
Malam telah tiba. Jenazah bu Kayla pun, sudah di semayamkan. Raganya memang telah menyatu dengan tanah. Namun, kenangan tentangnya tidak akan pernah pergi.
Malam pengantin yang sangat berbeda. Penuh keheningan tanpa ada rasa bahagia. Kulihat Raffa terus terdiam. Aku tahu, Raffa pasti sangat terpukul. Dengan ragu, aku mencoba mendekatinya.
"Mas... aku tahu, kehilangan orang tua sangat membuatmu rapuh. Terutama ibu, kasih sayang dan cintanya tidak akan pernah tergantikan. Aku harap, mas bisa ikhlas dengan takdir ini. Aku yakin, ibu pasti sudah tenang di sana."
Raffa memandangiku, lalu membuang wajahnya. Dia langsung bangkit dan pergi. "A-apa aku mengatakan hal yang salah?"
***
...Bersambung...
__ADS_1
Hai semua, dukung saya dengan like, komentar dan votenya. Supaya saya lebih semangat menulis chapter berikutnya. Terima kasih...
Ig : casillabella