Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 29 - Gagal


__ADS_3

Bagaimana aku bisa keluar, tanpa mereka tahu? Kalau mereka tahu, mereka pasti banyak bertanya, dan akan mengantarku pergi! Kalau kayak gitu, yang ada nanti Raffa tahu! Aku harus bagaimana?


Tiba-tiba, terbesit sebuah ide di dalam kepalaku. "Bagaimana kalau..." gumamku sembari tersenyum, lalu melangkahkan kakiku ke luar.


"Nyonya!" panggil mereka, agak menunduk.


"Mau ke mana, nyonya?" tanya salah satu penjaga.


"Aku tidak mau ke mana-mana. Tapi..." aku sengaja memotong kata-kataku.


"Tapi apa, nyonya? Bila ada hal yang nyonya inginkan, kami akan berusaha memberikannya!"


"Aku hanya ingin memakan es krim vanilla, anggur hijau, ayam krispi, burger, sate kambing, dan coklat!" ucapku seperti tengah menghitung dengan jari.


"Em... nyonya, kami akan belikan sekarang juga!" ucap penjaga itu.


"Tapi aku gak mau kalian belinya di dekat sini!" ujarku agak merengek.


"Lalu di mana, nyonya?"


"Aku akan membagi tugas untuk kalian bertiga! Aku ingin kamu, membelikanku es krim yang ada di dekat toko bunga, ujung jalan itu!" ucapku sembari menunjuk, "Dan kamu, belikan aku burger dan ayam krispi yang ada di pasar!" ucapku kepada penjaga lainnya.

__ADS_1


"Tapi nyonya, dari sini ke pasar cukup jauh!" ujarnya.


"Jadi kamu gak mau beliin?!" ucapku menghardik si penjaga itu.


"Emm... a-anu! Baik, akan saya belikan, nyonya!"


"Baguslah..." lirihku, "Oh iya, kalau tugas kamu, belikan aku anggur yang ada di pasar juga. Sate kambing dan coklat jangan lupa!" pintaku pada penjaga ketiga.


"Tapi nyonya, saya tidak bermaksud menolak. Tapi, bila kami semua pergi. Siapa yang akan menjaga rumah ini? Keamanan nyonya, sudah tanggung jawab kami. Jadi, bisakah salah satu dari kami tetap berjaga di sini? Saya dan pak Mukhsin akan membelikan semua pesanan, nyonya!" ujarnya.


"Aduh... kok aku gak mikir sampai ke situ, ya?" gumamku bingung. Kalau masih ada yang berjaga, bagaimana aku bisa keluar dari sini, coba?!


Aku membuang nafas, "Huftt... baiklah. Kamu tetap di sini untuk berjaga," ucapku pasrah.


Setelah itu, mereka berdua pun pergi. Aku tetap diam di tempat. Sambil memikirkan, cara apa yang bisa aku lakukan, agar bisa keluar dari sini tanpa diketahui mereka.


"Nyonya, di sini panas. Sebaiknya nyonya duduk di dalam rumah, saya akan segera mengantarkan pesanan nyonya ke dalam, bila mereka telah kembali!" ucap penjaga itu, membuyarkan lamunanku.


"Pak... saya lupa sesuatu!" ucapku spontan.


"Bisakah aku meminta tolong? Aku sangat ingin meminum jus naga dicampur gula merah dan kunyit!" pintaku asal.

__ADS_1


Penjaga itu nampak mengerutkan dahi. Melihat ekspresinya, membuatku ingin ketawa. Namun, sebisa mungkin aku menahannya.


"Tapi nyonya, di mana saya bisa mendapatkan jus seperti itu?" tanyanya.


"Aku juga tidak tahu, pak. Tapi aku sangat ingin itu, tolong carikan jus seperti itu, ya, pak..." lirihku, dengan tatapan mata mengharap.


Penjaga itu menggaruk kepalanya, sepertinya dia kebingungan dengan keinginanku ini.


"Nyonya!" panggil bi Ani di belakangku.


"Nyonya ingin minum jus itu? Maaf nyonya, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan, nyonya!" ujar bi Ani.


"Iya, bi. Saya menginginkan itu!"


"Di kulkas ada buah naga, dan kunyit. Saya bisa membuatkannya untuk nyonya!"


"T-tapi..." lirihku pelan. Aku kembali membuang nafas kecewa. Sepertinya aku benar-benar tidak bisa pergi dari rumah ini. Semua rencanaku pun gagal! Hah... padahal aku sangat penasaran dengan kata-kata wanita itu. Aku sangat ingin memastikan kebenarannya.


***


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2