Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 14 - Mengandung?


__ADS_3

"Shella!" kata terakhir yang kudengar. Perlahan aku mengerjapkan mata, di mana aku? Sepertinya tempat ini tidak asing? Karena di sini terdapat banyak sekali foto Raffa.


"Ini kan ruang santai milik, Raffa?" gumamku dalam hati.


"Rupanya anda telah sadar, nona!" Hasan menghampiriku bersamaan dengan seorang wanita berjas putih.


"Dokter, bagaimana dengan keadaannya?" tanya Hasan pada wanita itu.


"Sebelumnya, izinkan saya bertanya pada anda, nona Shella!" wanita itu melihat ke arahku.


"Nona, apa yang anda rasakan? Apa anda merasa pusing?" tanyanya, dibalas anggukan olehku.


"Apa sudah sering terjadi?" tanyanya lagi.


"Beberapa hari ini saya memang selalu merasa pusing, namun sepertinya itu hanya pusing biasa. Tapi hari ini, saya memang merasa tidak enak badan," jawabku.


"Dan itu membuat anda sampai pingsan? Begitu?" lanjut wanita itu, menatapku sedikit tajam.


"Nona Shella, anda tidak boleh melakukan banyak aktivitas, dan memikirkan banyak hal. Perbanyak istirahat dan perbaiki pola makan anda."


"Jadi dia sakit apa, dokter?"


"Dia hanya kelelahan dan sepertinya sedang banyak pikiran. Tuan Hasan, anda tidak perlu khawatir. Karena dia kini sedang mengandung!" jelas wanita itu membuatku terkejut.


"Mengandung?!" pekikku, tak berbeda jauh denganku. Sepertinya Hasan juga terkejut mendengar penuturan wanita itu.


"Kalau begitu, saya permisi!" wanita itu pergi meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


Sementara itu, bersamaan dengan kepergiannya, Eka masuk ke dalam ruangan ini.


"Permisi, pak!" Hasan pun, memberikan kode bahwa dia mengizinkan Eka untuk masuk ke dalam ruangan ini. Hasan pun pergi meninggalkan aku dan Eka.


"Kamu sakit apa, Shel?"


"Aku tidak apa-apa!" jawabku, mulai bangun dari tempat tidur.


"Kamu mau ke mana?"


"Ya, keluar lah! Ini kan ruang pribadi, pak Raffa!" jawabku.


"Tunggu dulu sebentar!" Eka berusaha mencegahku.


"Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam ruangan ini! Wuih! Kamu sangat beruntung, Shella!" lanjutnya.


"Ya, beruntung lah! Gak semua orang bisa masuk ke dalam ruangan ini, Shella! Bahkan, kamu orang pertama yang dibawa ke sini karena kasus pingsan!"


"Ih, apa sih, Eka? Aku gak ngerti deh!"


"Gini, ya. Karyawan lain, kalau sakit gak pernah tuh di bawa ke sini!"


"Ya mungkin mereka gak sampai pingsan?"


"Ih, bukan kayak gitu, Shel. Di sini kan ada ruangan khusus buat orang yang emang lagi sakit. Maksudku tempat istirahatnya itu lho..."


"Terus?" tanyaku masih tidak mengerti maksud dari kata-kata, Eka.

__ADS_1


"Ya, jadi kamu beruntung! Biasanya, ya. Yang boleh masuk ke ruangan ini itu cuma, pak Raffa, pak Hasan, sama---" Eka terlihat mengingat-ingat.


"Sama siapa?" tanyaku, penasaran.


"Ada sih, dulu. Tapi sudah lama sekali! Kalau tidak salah pacarnya pak Raffa, deh!"


"Apa?!" pekikku, terkejut. Membuat Eka ikut terkejut karena teriakanku.


"Kenapa teriak?" tanyanya sambil mengelus dada.


"Oh... t-tidak kok!" jawabku gugup.


"Shella, apa kata dokter tadi? Kamu sakit apa?"


"A-aku... aku tidak sakit. Aku hanya kecapekan."


"Tapi di luar, aku sempet denger kamu ngomong kenceng, mengandung? Apa itu maksudnya? Apa aku salah dengar, ya?"


Aku menghela nafasku, sebenarnya aku tidak ingin orang lain tahu jikalau aku tengah mengandung. Namun, Eka... kami sudah bersahabat. Aku tidak ingin ada rahasia selain identitasku dan suamiku, lagi pula dia sudah tahu jika aku sudah menikah. Meskipun dia tidak tahu, siapa suamiku.


"Kok ngelamun, Shel?!" tanyanya sambil menepuk bahuku.


"Eh... eh! M-maaf!" kataku gelagapan.


"A-aku hamil, Eka..."


***

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2