Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 3 - Membenciku


__ADS_3

Pernikahan, adalah sebuah kata sakral yang menyatukan kedua insan saling mencintai. Namun, bukan itulah arti pernikahan yang sesungguhnya. Pernikahan adalah sebuah ikatan yang disepakati kedua belah pihak. Untuk bersama, saling menyayangi, melindungi, dalam keadaan senang maupun susah. Namun, bagaimana dengan pernikahan ini? Apa Raffa juga akan mencintaiku? Menyayangiku serta melindungiku sebagai istrinya? Bahkan... selama kami menikah, Raffa belum pernah berbicara padaku sedikitpun. Ada apa dengan Raffa? Apa karena kepergian ibu Kayla? Ataukah karena kehadiranku yang mungkin... tidak dia inginkan?


Seminggu sudah usia pernikahanku. Aku sudah tidak bekerja. Karena aku ingin fokus melayani suamiku tercinta. Tapi, Raffa jarang sekali pulang ke rumah ini. Jikalau ada, dia hanya mengambil barang yang dia butuhkan. Apa dia sangat tidak menyukaiku? Apa aku ada salah padanya? Mengapa dia selalu menghindar dariku?


Kini, aku kembali melihatnya pulang. Dia terburu-buru menaiki tangga dan turun sambil membawa sebuah berkas. Aku mencoba memberanikan diri untuk bicara.


"Mas? Apa mau pergi lagi? Shella sudah membuat sarapan untuk, mas Raffa."


Dia menatapku sekilas, kemudian berlalu begitu saja, seperti biasanya. Aku tidak tinggal diam kali ini. Aku mengejarnya sampai ke depan rumah. "Mas! Tolong bicara padaku, kenapa kamu selalu menghindar dariku? Apa aku ada salah padamu, mas?" teriakku sambil menahan sesak di dada.


Dia terdiam, sepertinya perkataanku membuatnya berpikir. Kemudian dia membalikkan badannya ke arahku. Dia segera menarik tanganku, membawaku ke lantai atas. Tepatnya kamarku, atau mungkin... kamar kita berdua?


"Mas, lepas! Sakit, mas!" pintaku, karena Raffa menggengam tanganku dengan kasar.


"Kau ingin tahu kenapa aku bersikap seperti ini, hah?!" bentakkan itu keluar begitu saja dari bibir Raffa.


"Karenamu lah ibuku tiada! Aku membencimu Shella!"

__ADS_1


Deg!


Tubuhku bergetar, hatiku sangat sesak. Apa salahku? Kenapa kamu menyalahkan kepergian ibumu padaku? Aku bahkan tidak tahu apa-apa!


"Kenapa diam?! Kau pikir dengan menghasut ibuku untuk menikahkanmu denganku akan membuatmu seperti ratu?" Raffa mulai mencengkram daguku dengan erat. "Dasar wanita rendahan! Kau melakukan semua ini karena ingin hartaku, kan?! Kau pikir aku bodoh?!" bentaknya begitu dekat di depan wajahku. Aku hanya bisa menangis, dan menutup mataku. Aku tidak pernah menyangka, ini adalah sisi lain dari laki-laki yang kucintai selama ini.


Bruk!


Aku tersungkur kala dia mendorong tubuhku ke lantai. Kepalaku membentur nakas sehingga membuat luka kecil di dahiku. Isakku semakin menjadi-jadi. Tidak pernah terbayangkan pernikahan semacam ini.


"Kau sangat ingin menjadi istriku, kan? Baiklah! Aku akan menunjukkan padamu, bagaimana caranya menjadi seorang istri!" Raffa kembali menarik tanganku dan membawaku ke dapur.


Aku mengangguk dan segera mengambil kentang di dalam kulkas. Aku mulai mengupasnya dengan tangan gemetar, diiringi isakku yang belum berhenti sejak tadi.


Raffa kembali mencengkram daguku, "Kalau mau masak jangan nangis! Apa ini wajah istri yang baik, hah?!" dia melepaskan cengkramannya dengan kasar.


Aku berusaha tidak menangis, namun tanganku tetap bergetar dan sesekali air pipiku masih mengalir. "Cih! Kalau potong kentang itu yang rapi! Apa kamu tidak pernah melihat kentang goreng?!" Raffa mendekatiku lagi, tangannya menggengam kedua tanganku dari belakang, seolah dia sedang mengajariku bagaimana memotong kentang yang benar.

__ADS_1


Namun, bukannya membantu. Jariku tiba-tiba terkena pisau itu, dan mengalirlah cairan berwarna merah. "Cih! Benar-benar payah! Sekarang cepat cuci tanganmu! Dan potong kentang yang baru. Aku tidak sudi memakan kentang yang berlumuran darah!"


Aku menurutinya, dan segera memotong kentang yang baru. Lalu segera memasukkannya ke dalam penggorengan.


"Awas, jangan sampai gosong!"


"I-iya!" jawabku cepat.


"Coba kulihat!" Raffa melangkahkan kakinya, lalu menarik paksa gagang penggorengan itu.


"Ah!" pekikku.


"Ck! Jangan lebay! Ini sudah matang, ayo angkat!" titahnya.


"Mas, kenapa kamu jadi seperti ini? Segitu bencinya kamu sama aku, mas?" ucapku dalam hati sambil menatapnya.


"Kenapa? Aku tahu, aku tampan. Tapi segera angkat kentang-kentang itu atau nanti gosong!" bentaknya, dengan cepat aku menuruti permintaannya.

__ADS_1


***


...Bersambung...


__ADS_2