Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 7 - Mengingat Masa Lalu


__ADS_3

"Nyonya, silahkan masuk!" kata salah satu penjaga. Memang ada beberapa penjaga atau sering kita sebut satpam di sini. Dan satu asisten rumah tangga. Namun, entah mengapa sejak aku menikah, dia (ART) tidak ada di sini. Padahal, saat ibu Kayla masih hidup. Dia selalu terlihat di rumah ini.


"Terima kasih, Pak Mukhsin!" aku memasuki halaman rumah suamiku.


Di dalam kamar...


Aku menyalakan lampu di kamarku yang gelap. Alangkah terkejutnya aku, saat melihat Raffa tidur di atas ranjangku. Aku menggelengkan kepala, mungkin saja ini adalah khayalan. Karena sebenarnya aku sudah sangat mengantuk. Namun, tubuh Raffa masih bisa kulihat di atas ranjang.


"Apa aku tidak salah lihat?" aku mulai melangkah ke arahnya.


"Shallu..."


"S-Shallu? Apa aku tidak salah dengar? Raffa memanggil nama Shallu saat tertidur?" seketika saja bibirku tersenyum.


Flashback On


"Shallu jelek!"


"Apa kamu bilang?!" kataku sambil berkacak pinggang.


"Kamu jelek! Pendek lagi!"

__ADS_1


"Ihh... Raffa! Aku gak jelek!"


"Aku akan perlihatkan foto ini pada ibuku!"


"Ih, jangan Raffa. Malu!" rengekku.


"Nggak, ibu harus lihat wajah jelek yang lagi mangap ini!" Raffa berlari menuju rumahnya, sedangkan aku mengejarnya. Aku berusaha melindungi harga diriku di depan keluarga Raffa. Mau di simpan di mana wajahku nanti? Jika ibu Kayla melihat ekspresiku saat tertidur.


"Raffa! Jangan ih!"


Flashback Off


Mengingat kejadian itu, membuat rasa kantukku hilang.


Perlahan, aku mengusap keringatnya. Aku tidak ingin sampai mengganggu tidurnya. Setelah itu, aku berdiri dan berjalan ke arah sofa. Aku berniat untuk tidur di sana. Aku tidak ingin membuat Raffa marah, jika tahu aku tidur di sebelahnya.


***


Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Membuatku mengerjapkan mata dan mulai bersiap untuk hari ini. Seperti biasanya, aku memasak sarapan untuk suamiku. Meskipun dia tidak pernah mencicipi makanan yang kubuat. Bahkan, menyentuhnya saja tidak pernah. Namun, aku tidak akan menyerah. Karena memang sudah tugasku melayani suamiku dengan baik, meskipun dia tidak mau menerimanya.


Raffa mulai menunjukkan wajahnya, dia menuruni anak tangga dengan santai sambil memainkan handphone. Tidak seperti biasanya, karena kulihat sepertinya Raffa belum bersiap untuk pergi bekerja.

__ADS_1


"Mas, sarapan yuk!" dia menoleh, dan berjalan ke arahku.


"Masak apa?" tanyanya.


"Maaf, hanya nasi goreng dan telur mata sapi. Aku harap, mas suka."


Raffa mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu duduk dan mulai memakan nasi goreng buatanku. Hal ini tentu saja membuatku senang. Untuk pertama kalinya Raffa mau makan masakan yang aku buat. Dan hal ini membuatku berpikir, apa mungkin Raffa mulai menerimaku sebagai istrinya?


"Kenapa kamu tidak makan?"


"Oh, hu'um!" aku tersadar dari lamunanku yang sudah berkelana indah. Dengan segera, aku menyantap makanan yang ada di hadapanku.


"Hari ini aku akan bertemu klien. Setelah kamu sampai di kantor, segera ambil berkas yang ada di dalam laci yang berada di dekat jendela. Aku tidak bisa ke kantor, nanti kamu bawakan berkas itu ke alamat yang aku kirim di pesan."


"Iya, mas," jawabku, mengerti.


Setelah sarapan, aku segera pergi bekerja. Tanpa ditemani suamiku. Tentu saja itu tidak mungkin, kan? Mengingat, Raffa yang tidak ingin orang-orang tahu kalau dia sudah beristri.


***


...Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf dua hari kemarin gak update. Ngomong-ngomong, mampir juga ke karyaku yang lain. Judulnya, "Gema & Anya". Bagi yang pernah membaca di awal-awal, ada beberapa chapter di sana yang berubah alur. Terima kasih :)


__ADS_2