
Sudah waktunya untukku pulang. Raffa benar-benar membuatku pusing di hari pertama bekerja. Semua pekerjaan yang menumpuk selama seminggu ini, dilimpahkan padaku. Dia pun mengharuskan aku untuk menyelesaikan semua tugasnya hari ini. Sehingga membuatku bekerja lembur.
Malam begitu gelap, membuat langkah kakiku sendiri menjadi rasa takut. Sunyi, hanya aku seorang yang berada di dalam perusahaan ini.
"Aku benar-benar sendiri di sini!" gumamku, dengan cepat langkah kakiku berlari menuju pintu keluar.
"Apa ada orang di sini?!" teriakku. Saat mencoba membuka pintu, ternyata sudah terkunci. Apa mereka tidak tahu? Kalau masih ada orang di dalam sini?!
"Tolong... siapapun yang mendengarku! Tolong aku terkunci di dalam sini!" aku memukul-mukul pintu yang terbuat dari kaca tebal itu. Sampai akhirnya tubuhku terkulai lemah.
Prang!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang berasal dari dapur. Membuatku semakin ketakutan dan membayangkan hal yang bahkan belum tentu terjadi. Aku mulai menangis, sampai akhirnya aku tertidur.
***
"Nona?"
Aku mengerjapkan mataku, menyadari ada seorang pria asing di hadapanku membuatku berteriak. "Aaaaaa!!!"
"Tenang, Nona. Saya bukan orang jahat," kata pria asing itu.
"Nona? Kamu asisten baru, pak Raffa, ya?" aku mengangguk, sepertinya dia adalah salah satu pegawai di sini.
"Namaku, Bagas!" mengulurkan tangannya ke arahku.
"Shella," balasku.
"J-jam berapa sekarang, Bagas?" tanyaku.
"Jam 12 malam," jawabnya.
__ADS_1
"A-apa?!" aku segera bangkit.
"Shella, biar aku antar kamu pulang, ya?"
"Tapi..." aku masih linglung.
"Ini sudah tengah malam. Tidak baik bagimu, untuk pulang sendiri." Aku berpikir, lalu mengangguk.
Di perjalanan...
"Oh iya, kamu tadi ke kantor kenapa?" tanyaku.
"Aku melupakan ponselku! Akhirnya aku kembali ke kantor," jawabnya.
"Apa kamu juga bekerja lembur?"
"Ya, begitulah. Tapi, aku tidak melihatmu, Shella."
"Maafkan aku, ya?"
"Kenapa minta maaf?"
"Karenaku, kamu harus terkunci di dalam selama setengah jam!" jawabnya.
"M-maksudmu?" tanyaku, lagi.
"Sebelum aku pulang, masih ada pak Yudi. Dia salah satu security yang memegang kunci. Karena malam ini adalah bagiannya, kebetulan dia adalah tetanggaku. Jadi setelah kami putuskan, tidak ada siapapun di dalam. Kami mengunci pintu dan pagar.
Namun, saat hampir sampai. Aku mengingat ponselku. Dan tidak ada di dalam saku. Jadi aku meminjam kuncinya pada pak Yudi, agar aku bisa mengambil ponselku yang tertinggal di sana." Jelas, Bagas.
"Aku sungguh minta maaf, karena tidak menyadari masih ada kamu di dalam sana!" ucap, Bagas meminta maaf dengan tulus padaku.
__ADS_1
"Tidak apa, Bagas. Terima kasih, jika kamu tidak datang mungkin aku akan bermalam di sana sendirian."
"Oh iya, dari tadi kita muter-muter. Rumah kamu di mana?" tanyanya.
"Sudah tidak terlalu jauh dari sini. Belok kanan!"
"Baik, nyonya!" jawabnya, membuatku membulatkan mata.
"Bagas, jangan panggil aku seperti itu..."
"Hehehe..."
"Ya ampun, aku lupa! Mas Raffa! Aku gak boleh biarin Bagas tahu, kalau aku tinggal serumah dengannya!"
"Bagas, berhenti di depan saja!" kataku, dia pun segera menghentikan kendaraannya.
"Yang mana rumahmu?" tanyanya.
"Rumahku ada di dalam gang sebelah sana!" jawabku asal.
"Oh... kapan-kapan aku boleh mampir, kan?"
"Hmm... ya! Kapan-kapan saja, ya?! Terima kasih tumpangannya!" aku segera masuk ke dalam gang itu. Kemudian mengintip Bagas. "Akhirnya dia sudah pergi!" gumamku, mulai berjalan ke arah rumah suamiku.
***
...Bersambung...
Hai semua, jangan lupa like dan komen, ya? Vote juga, biar Author semangat nulis chapter berikutnya.
Ig : casillabella
__ADS_1