Aku Tahu, Kamu Baik

Aku Tahu, Kamu Baik
Chapter 28 - Ragu


__ADS_3

Hari telah berlalu, namun keadaan, dan perasaan ini terus menggangguku. Ingin sekali aku menanyakan tentang perasaannya padaku. Tentang perlakuan baiknya padaku. Namun, aku tak cukup berani untuk bertanya padanya.


Bagaimana sebenarnya perasaannya padaku? Apa ada sedikit saja rasa cinta untukku? Melihat beberapa perhatian yang dia berikan padaku akhir-akhir ini. Ataukah semua perhatian yang diberikan, hanya sekadar karena aku tengah mengandung anaknya?


Tak hanya tentang perasaan, hal lain yang sangat ingin kutanyakan, adalah kenapa? Kenapa dia tidak ingin orang luar mengetahui status hubungan antara aku dan dia? Kenapa juga dia tidak mengizinkanku untuk kembali bekerja di kantornya?


Bruk!


"Nyonya, maafkan kami!" ujar bi Ani.


"Heh! Di sini kau rupanya!"


"Hah?! Dia lagi!" aku membuang nafas kasar, menatap kesal padanya.


"Nyonya, kami akan membawanya pergi! Sekali lagi, maafkan kami!" ujar salah satu penjaga.


"Lepas! Aku ingin bicara dengannya!" jerit wanita itu, sambil menghentakkan kakinya.


"Pak, lepaskan dia!" pintaku.

__ADS_1


Aku menatap pada bi Ani dan para penjaga, aku tahu mereka berusaha mencegah wanita ini untuk masuk. Namun, mereka tidak terlihat begitu berani untuk mencegah maupun mengusirnya. Hah... Shella! Tentu saja! Wanita ini kan pacarnya Raffa, para penjaga atau bi Ani juga pasti tahu lah! Eh, tunggu? Maksudku, wanita ini adalah mantan pacar suamiku.


Aku kembali menghela nafas, "Kalian bisa pergi!" lanjutku, namun mendapat penolakan kecil dari salah satu penjaga.


"Tapi nyonya---"


"Kalian tidak perlu khawatir, saya juga ingin bicara dengannya!" ujarku.


***


"Jadi, ada apa kamu datang kemari? Di sini tidak ada mas Raffa, dia belum pulang!"


Dia tersenyum sinis, "Cih! Aku ke sini bukan nyari Raffa. Aku ke sini, cuma mau bilang, kalau hubunganku dengan Raffa semakin membaik!" ujar wanita itu.


"Lalu?? Kamu gak cemburu? Kesel? Atau marah gitu?!" tanyanya dengan raut wajah kesal.


"Kalau kamu datang kemari hanya untuk membual, sebaiknya kamu pulang saja! Aku gak akan percaya sama bualan kamu!" ucapku sembari menunjuk ke arah wajahnya.


"K-kau!! Beraninya!" wanita itu menggeram, "Kalau kau tidak percaya, datang lah besok ke kantor, Raffa! Lihat sendiri dengan mata kepalamu! Bahwa hubungan kami semakin membaik! Bahkan Raffa akan segera menikahiku!" ujarnya sembari tersenyum licik padaku.

__ADS_1


"Jangan lupa, untuk datang besok!" lanjutnya lalu pergi dari hadapanku.


"Wanita itu! Datang hanya untuk memanas-manasiku? Aku tidak akan percaya padanya!" gumamku dalam hati, sambil mengepalkan telapak tanganku.


"Tapi... bagaimana jika memang yang dikatakannya itu benar?" membayangkan hal itu, tubuhku seketika melemas. Bukan tidak mungkin, jika Raffa masih berhubungan dengannya, dia... dia tidak mencintaiku.


Bulir-bulir air mataku mulai menetes, aku tidak sanggup bila Raffa benar-benar berhubungan dengan wanita lain. Aku tidak ingin hal itu terjadi.


"Baiklah, aku akan datang dan melihatnya sendiri! Meskipun, Raffa melarangku. Setidaknya, aku bisa memastikan keraguanku!"


***


Keesokan harinya...


Hari ini aku bersiap-siap untuk pergi ke tempat Raffa bekerja. Kebetulan Raffa baru saja berangkat, aku harus segera berganti pakaian. Aku memilih pakaian berwarna hitam, serta memakai topi di kepalaku, dan tak lupa dengan kacamata hitam juga masker. Tujuanku berpakaian seperti ini, agar orang sulit untuk mengenaliku. Jadi, Raffa pun pasti tidak akan tahu, kalau aku datang ke kantornya.


Aku mengendap-endap, ternyata di luar ada beberapa penjaga! "Aduh! Bagaimana dengan para penjaga itu? Kenapa aku tidak memikirkannya?" gumamku pelan, sambil menepuk jidatku.


Bagaimana aku bisa keluar, tanpa mereka tahu? Kalau mereka tahu, mereka pasti banyak bertanya, dan akan mengantarku pergi! Kalau kayak gitu, yang ada nanti Raffa tahu! Aku harus bagaimana?

__ADS_1


.


...Bersambung...


__ADS_2