
Kepalaku masih terasa pusing, dan sedikit nyeri. Kucium aroma terapi di sekitar indra penciumanku. Perlahan, mata ini mengerjap. Membuka celah agar cahaya dapat masuk ke dalam. Kulihat pria di sampingku, dia terlihat khawatir.
"Shella, k-kamu gak apa-apa? Ada yang sakit? Bagaimana perutmu?" tanya Raffa bertubi-tubi, jiwaku yang sebenarnya belum terkumpul seluruhnya masih bingung untuk menjawab pertanyaannya.
"A-aku tidak apa-apa, mas. Aku hanya merasa pusing, dan..." aku menggantung kalimatku, apa ada hal yang kulupakan?
"Bayiku!" kataku dalam hati. Pertanyaan Raffa tentang perut pasti tentang bayi yang ada dalam kandunganku. Aku benar-benar seorang ibu yang tidak baik! Bagaimana bisa aku membahayakan kesehatan anakku?
Aku kembali mengingat kejadian sebelumnya, padahal aku tahu perutku sudah meraung-raung meminta jatah sebelum Raffa pulang. Bahkan aku tidak mengingat kalau ada malaikat kecil yang harus kurawat dengan baik.
"Nak, maafkan aku... kamu pasti sangat kelaparan..." batinku menangis.
"Kenapa melamun? Shella sebaiknya kamu minum dulu!" Raffa mengambilkan segelas air yang sudah tersedia di atas nakas.
Aku meminum air yang Raffa berikan, "Seharusnya kamu tidak seperti ini, Shella! Bagaimana bisa? Kamu begitu egois? Ini akibatnya! Beruntung bayi kita baik-baik saja! Sekarang kamu harus makan!" aku hampir menyemburkan air yang belum sempat kutelan. Aku merasa terkejut karena Raffa berkata seperti itu secara tiba-tiba.
"M-maaf mas..." kata yang keluar dari bibirku. Aku menunduk, aku bersalah... aku memang bersalah. Aku bukan calon ibu yang baik!
***
__ADS_1
Aku tertidur lelap setelah Raffa menyuapiku dengan berbagai jenis makanan sampai akhirnya aku tertidur karena merasa sangat kekenyangan. Kini pandanganku terfokus pada lelaki dengan wajah bantal yang tengah tidur lelap di sampingku. Ada rasa bahagia bisa melihat wajahnya dalam jarak sedekat ini. Biasanya kami tidur terpisah. Namun, kali ini berbeda dan membuatku merasa senang. Seolah dinding yang menghalangi antara aku dan Raffa telah hancur.
Jariku memberanikan diri untuk menyentuh hidung mancung miliknya, lalu beralih ke bulu matanya. Bulu matanya yang lentik sungguh sangat manis dipandang. Namun, ketika mata itu terbuka, auranya menjadi sangat berbeda.
Raffa terlihat mengerjap! Sepertinya aku telah mengganggu tidurnya! "Apa yang kulakukan?!" batinku. Aku mengumpati diriku sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri. Lalu dengan gerakan cepat aku berpura-pura masih tidur.
"Kenapa tidak ada gerakan atau suara? Apa dia tidak terbangun?" tanyaku dalam hati.
Menunggu beberapa detik membuatku tidak sabar. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka mata. Namun, setelah itu kembali menutup mata dengan cepat. Jantungku berdegup kencang.
"Sepertinya aku merasa ada yang sedang meraba-raba wajahku tadi. Terutama di hidungku!"
"Gawat! Apa dia sudah terbangun sejak aku merabanya? Aduh bagaimana ini?" batinku.
"Shella, aku tahu kamu tidak benar-benar sedang tidur!"
Deg!
Jantungku hampir saja lepas! Sial! Aku ketahuan! Dengan terpaksa aku membuka mata dan segera memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Sudah kuduga..." ucapnya, sembari tersenyum aneh kepadaku.
"A-apa?" tanyaku gugup.
"Tidak ada! Ayo sarapan!"
"A-aku ingin ke kamar mandi dulu!" kataku, mulai bangkit dari tempat tidur.
"Aku tunggu!" serunya, aku membalasnya dengan anggukan.
Beberapa saat kemudian, aku telah selesai dengan ritual pagiku. Aku keluar dengan membawa pakaian kotor yang kubawa di tanganku, lalu hendak memasukannya ke tempat cucian kotor. Namun mataku tak sengaja melihat kemeja milik Raffa. Tiba-tiba kepalaku terasa pusing lagi, aku baru ingat kejadian semalam. Apa itu nyata? Atau hanya mimpiku? Dengan rasa penasaran, aku mengambilnya, dan memastikan apa yang ingin kulihat ada atau tidak?!
Tak kusangka, ternyata semalam bukanlah mimpi. Dengan perasaan marah, aku membawa kemeja itu ke ruang makan.
"Mas!" panggilku agak tinggi. Entah darimana keberanian ini datang? Yang jelas saat ini aku butuh penjelasan.
"Shella? Ayo makan! Bayi kita pasti sudah lapar juga!"
"Mas! Apa ini?" tanyaku sambil memperlihatkan kemeja yang dipakainya semalam dan tidak merespons ajakannya.
__ADS_1
.
...Bersambung...