Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Secercah Cahaya Bintang Sehabis Hujan


__ADS_3

Al Kahfi Land Office, Depok, 2004


 


Malam ini hujan sangat deras, sejak tadi sore langit menumpahkan air lebih banyak dari biasanya, seolah ingin membersihkan udara dari polusi debu pembangunan kawasan luar hutan yang mulai menjepitnya.


Kantor telah sepi, hanya ada segelintir pekerja, salah satu yang setia jadi penghuni malam pastinya adalah Widi, ia sedang melipat perlengkapan sholat yang telah dipakai.


Pak Jajat, petugas keamanan kantor mengetuk pintu kaca ruangan Widi, ia masuk setelah Widi melambaikan tangan memintanya masuk.


"Mbak Widi, betah banget di kantor, lagi sibuk ya? Maaf saya mengganggu nih," ujar Pak Jajat.


"Eh Pak Jajat, enggak sibuk kok, ada apa Pak?" tanya Widi.


"Mbak Widi dipanggil Pak Erlangga di rumah kotak," lapor Pak Jajat.


"Tumben, ada apa ya? Waduh, bahaya nih," sahut Widi kuatir.


"Hehe, tadi wajahnya sih adem, saya ambil payung dulu di depan ya, Mbak," ujar Pak Jajat.


"Enggak usah Pak Jajat, itu ada jas hujan motor kok," sahut Widi.


"Mbak, jangan ke situ naik motor! Tunggu di teras bawah aja, ntar saya anterin payungnya," canda Pak Jajat.


"Ya udah, terimakasih Pak Jajat," sahut Widi sambil tertawa.


"Sama-sama, Mbak Widi," balas Pak Jajat.


Setelah Pak Jajat meninggalkannya, Widi segera menuruni tangga menuju teras bawah yang menghadap Rumah Kotak. Erlangga tak pernah meminta Widi bertemu dengannya, pasti ada hal yang sangat penting, pikirnya.


Cukup lama Widi menunggu, Pak jajat belum juga datang, kalau cuma hujan biasa, Widi pasti menembusnya. Derasnya hujan menghalangi pandangan Widi ke arah dermaga, ia melihat samar bayangan seseorang di sana berjalan menuju Kantor Segitiga. Widi berusaha memastikan sosok bayangan yang semakin mendekat itu, ketika sosok itu melewati cahaya, wujudnya mulai terlihat tapi Widi tak dapat melihat wajahnya karena tertutup payung besar yang condong ke depan, laki-laki itu berusaha menghindari terpaan hujan yang tertiup angin kencang dari arah depannya. Semakin dekat dengan tempat Widi menunggu, semakin cepat pula langkahnya. Setelah tiba di teras ia menutup payungnya, sekarang Widi bisa melihat wajah orang itu.


"Kamu Widi?" tanya laki-laki itu.


"Kamu?" Widi sangat terkejut, ia terpana memandang wajah laki-laki ini.


"Saya Erlangga, ada yang mau saya bicarakan, bisa kita ke seberang?" ajak Erlangga.


Widi terkesima, bukan cuma karena bosnya mau menjemputnya, tapi wajah ini tidak asing baginya, tapi Widi heran, kenapa laki-laki ini tidak mengenalnya. Widi mengamati wajah dan penampilan laki-laki ini, telah berubah drastis.


 


 


 


 


 


"Widi, kenapa?" tanya Erlangga mengagetkan. Widi mulai ragu, apa cuma mirip? Rasanya enggak mungkin.


"Widi?" panggil Erlangga.


"Oh maaf, iya, iya, bisa pak," jawab Widi gugup, ia segera memutuskan untuk menganggap Erlangga hanya seorang yang mirip dengan orang yang dikenalnya.


Kini Widi punya kebingungan lain, Erlangga hanya membawa satu payung, rasanya canggung berjalan dipayungi orang yang paling dihormati di kantor ini. Tak ada pilihan, Widi langsung melangkah cepat menembus hujan sambil memayungi kepala dengan tangannya. Tanpa ampun, hujan langsung mengguyurnya hingga kuyup.


Erlangga secara reflek mengejar agar Widi berada dalam naungan payung besar yang dia pegang, "Widi, kamu jangan hujan-hujanan gini, nanti sakit," kata Erlangga.


Seribu-satu hal berkecamuk dalam pikiran Widi saat dipayungi Erlangga, hatinya masih belum terima jika laki-laki di sebelahnya ini bukan orang yang ia kenal dan pernah singgah di hatinya. Mereka diam sepanjang perjalanan menembus hujan, sesekali Widi melirik Erlangga, ia semakin tidak percaya.


Sampai di Rumah Kotak, Widi berdiri di depan pintu, sementara Erlangga langsung masuk, ia mencari-cari sesuatu, setelah ketemu, Erlangga menghampiri Widi dengan membawa handuk.


"Ini handuk baru, keringkan dulu biar kamu enggak sakit, lagian kamu sih, udah tahu hujan lebat malah ditembus, padahal udah saya jemput." Erlangga menyodorkan handuk, Widi tak punya alasan untuk menolak, dingin sekali rasanya.


"Yuk ke dalam," ajak Erlangga sambil masuk ke dalam rumah, Widi mengikutinya sambil mengeringkan wajah dan rambutnya. Widi memperhatikan seluruh isi ruangan, tanpa ia sadari, Erlangga memperhatikan Widi dengan seksama, jaket basah yang dipakai Widi membuat Erlangga tersenyum, masih jaket bolong yang sama.


"Wajah kamu enggak asing, ya?" pertaanyaan Erlangga membuat Widi tersenyum lega, akhirnya laki-laki ini ingat padanya.


"Kamu beneran lupa?" tanya Widi polos.


Erlangga merasa aneh mendengar pertanyaan Widi, apa lagi Widi menyebut dirinya dengan ‘kamu”, seolah Erlangga temannya.


"Oh iya, kita kan satu kantor, jelas aja wajah kamu enggak asing, maaf kalo saya lupa, maklum lah karyawan saya lumayan banyak," jawab Erlangga.


Hah, karena satu kantor? Sudahlah Wid, dia memang enggak kenal kamu, cuma mirip. gumam Widi malu, benaknya semakin ramai dengan percakapannya sendiri, malu-maluin, pasti dia pikir aku sok akrab, Widi, laki-laki ini memang orang lain, jangan permalukan dirimu sendiri terus, belajar ikhlas lah Wid.


"Oh maaf pak, saya keliru, bapak mirip teman saya," Widi mengoreksi ucapannya, suaranya terdengar gemetar, ia mulai kedinginan.


"Santai aja, tuh, kasihan kamu jadi kedinginan gini, tapi kebetulan banget, sebentar ya." Erlangga masuk lagi ke dalam lalu keluar dengan beberapa tas kantong belanja.


"Saya memang mau kasih ini ke kamu, ternyata langsung berguna, jangan nolak!" Erlangga meletakkan tas-tas kantong belanja itu di sofa dan menyisakan beberapa di tangan lalu menyodorkannya, Widi menerimanya dengan heran.


"Gini Wid, saya ingin ngasih perhatian lebih ke anak-anak buah saya yang juga ngasih kontribusi besar untuk perusahaan, nah ini salah satunya. Nantilah saya ceritakan, kamu makin kedinginan tuh. Di tas kantong belanja ini ada setelan pakaian-pakaian baru, kamu salin dengan yang kering di kamar mandi, saya tinggal ke Area L dulu supaya kamu enggak risih, karena ada saya."


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ternyata Pak Jajat.


"Selamat malam Pak Erlangga, maaf mengganggu, saya mau antar payung untuk Mbak Widi," ujar Pak Jajat.


"Jat, lu nyari payungnya ke Hongkong? Udah kuyup tuh," ujar Erlangga.


"Enggak kok, saya yang enggak sabar," sahut Widi.


“Ya sudah salin dulu, saya tunggu di Area L,”  perintah Erlangga pada Widi.

__ADS_1


"Mari Pak Erlangga." Pak Jajat mengembangkan payung untuk Erlangga.


"Ngapain Jat? Lu mau mayungin gue? Romantis banget, tuh hujannya mendadak reda, alam aja enggak rela kita satu payung, hahaha,"  canda Erlangga.


Pak Jajat tersenyum sambil menutup payung. Pak Erlangga lupa, dia juga tadi romantis banget mayungin Wid, cieee. balas Pak Jajat dalam hati.


*****


 


 


"Widi, kenapa?" tanya Erlangga mengagetkan. Widi mulai ragu, apa cuma mirip? Rasanya enggak mungkin.


"Widi?" panggil Erlangga.


"Oh maaf, iya, iya, bisa pak," jawab Widi gugup, ia segera memutuskan untuk menganggap Erlangga hanya seorang yang mirip dengan orang yang dikenalnya.


Kini Widi punya kebingungan lain, Erlangga hanya membawa satu payung, rasanya canggung berjalan dipayungi orang yang paling dihormati di kantor ini. Tak ada pilihan, Widi langsung melangkah cepat menembus hujan sambil memayungi kepala dengan tangannya. Tanpa ampun, hujan langsung mengguyurnya hingga kuyup.


Erlangga secara reflek mengejar agar Widi berada dalam naungan payung besar yang dia pegang, "Widi, kamu jangan hujan-hujanan gini, nanti sakit," kata Erlangga.


Seribu-satu hal berkecamuk dalam pikiran Widi saat dipayungi Erlangga, hatinya masih belum terima jika laki-laki di sebelahnya ini bukan orang yang ia kenal dan pernah singgah di hatinya. Mereka diam sepanjang perjalanan menembus hujan, sesekali Widi melirik Erlangga, ia semakin tidak percaya.


Sampai di Rumah Kotak, Widi berdiri di depan pintu, sementara Erlangga langsung masuk, ia mencari-cari sesuatu, setelah ketemu, Erlangga menghampiri Widi dengan membawa handuk.


"Ini handuk baru, keringkan dulu biar kamu enggak sakit, lagian kamu sih, udah tahu hujan lebat malah ditembus, padahal udah saya jemput." Erlangga menyodorkan handuk, Widi tak punya alasan untuk menolak, dingin sekali rasanya.


"Yuk ke dalam," ajak Erlangga sambil masuk ke dalam rumah, Widi mengikutinya sambil mengeringkan wajah dan rambutnya. Widi memperhatikan seluruh isi ruangan, tanpa ia sadari, Erlangga memperhatikan Widi dengan seksama, jaket basah yang dipakai Widi membuat Erlangga tersenyum, masih jaket bolong yang sama.


"Wajah kamu enggak asing, ya?" pertaanyaan Erlangga membuat Widi tersenyum lega, akhirnya laki-laki ini ingat padanya.


"Kamu beneran lupa?" tanya Widi polos.


Erlangga merasa aneh mendengar pertanyaan Widi, apa lagi Widi menyebut dirinya dengan ‘kamu”, seolah Erlangga temannya.


"Oh iya, kita kan satu kantor, jelas aja wajah kamu enggak asing, maaf kalo saya lupa, maklum lah karyawan saya lumayan banyak," jawab Erlangga.


Hah, karena satu kantor? Sudahlah Wid, dia memang enggak kenal kamu, cuma mirip. gumam Widi malu, benaknya semakin ramai dengan percakapannya sendiri, malu-maluin, pasti dia pikir aku sok akrab, Widi, laki-laki ini memang orang lain, jangan permalukan dirimu sendiri terus, belajar ikhlas lah Wid.


"Oh maaf pak, saya keliru, bapak mirip teman saya," Widi mengoreksi ucapannya, suaranya terdengar gemetar, ia mulai kedinginan.


"Santai aja, tuh, kasihan kamu jadi kedinginan gini, tapi kebetulan banget, sebentar ya." Erlangga masuk lagi ke dalam lalu keluar dengan beberapa tas kantong belanja.


"Saya memang mau kasih ini ke kamu, ternyata langsung berguna, jangan nolak!" Erlangga meletakkan tas-tas kantong belanja itu di sofa dan menyisakan beberapa di tangan lalu menyodorkannya, Widi menerimanya dengan heran.


"Gini Wid, saya ingin ngasih perhatian lebih ke anak-anak buah saya yang juga ngasih kontribusi besar untuk perusahaan, nah ini salah satunya. Nantilah saya ceritakan, kamu makin kedinginan tuh. Di tas kantong belanja ini ada setelan pakaian-pakaian baru, kamu salin dengan yang kering di kamar mandi, saya tinggal ke Area L dulu supaya kamu enggak risih, karena ada saya."


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, ternyata Pak Jajat.


"Selamat malam Pak Erlangga, maaf mengganggu, saya mau antar payung untuk Mbak Widi," ujar Pak Jajat.


"Jat, lu nyari payungnya ke Hongkong? Udah kuyup tuh," ujar Erlangga.


"Enggak kok, saya yang enggak sabar," sahut Widi.


“Ya sudah salin dulu, saya tunggu di Area L,”  perintah Erlangga pada Widi.


"Mari Pak Erlangga." Pak Jajat mengembangkan payung untuk Erlangga.


"Ngapain Jat? Lu mau mayungin gue? Romantis banget, tuh hujannya mendadak reda, alam aja enggak rela kita satu payung, hahaha,"  canda Erlangga.


Pak Jajat tersenyum sambil menutup payung. Pak Erlangga lupa, dia juga tadi romantis banget mayungin Wid, cieee. balas Pak Jajat dalam hati.


*****


 


Di kamar mandi Rumah Kotak Widi menganalisa alasan Erlangga membelikannya baju, apa karena cara berpakaianku telah memperburuk citra perusahaan? Tante Lina ternyata enggak salah negur aku, sekarang giliran bos yang negur. Gawat!


Widi membuka tas kantong belanja yang diserahkan Erlangga. Wah, ini sih baju mahal, brand incaran cewek-cewek kaya Soffie, Si Ucup kok bisa tahu? Ukurannya pas.


Untungnya saat terguyur hujan Widi memakai jaket motor, sehingga basahnya tidak terlalu sampai ke dalam, ia segera menggantinya.


Setelah terpakai Widi tampak mengagumi dirinya sendiri di cermin besar kamar mandi, memang baju mahal enggak bohong, aku jadi beda, tapi kenapa jadi mirip Soffie?


Widi memperhatikan rak kaca, di situ terdapat banyak produk perawatan wajah, badan, rambut dan sebagainya, sangat lengkap. Pantes Si Ucup wajahnya putih dan licin,  cowok tapi wajahnya bening, enggak kalah sama cewek-cewek di sini.


Widi memandangi dirinya di cermin, ia sudah lama tidak tersentuh perabotan wajib perempuan, wajahnya terlihat seperti gorengan yang berminyak dan tidak segar. Setelan baju mahal ini membuat Widi merasa harus mengkoreksi hal-hal yang tidak sesuai. Widi menutup pundaknya dengan handuk untuk mencuci wajahnya dengan pembersih wajah di rak agar terlihat segar. Mudah-mudahan Si Ucup enggak keberatan, pikirnya.


Setelah wajahnya bersih, Widi membuka ikatan rambutnya untuk mengeringkan rambut basahnya dengan hair dryer, lalu menyisirnya. Setelah merasa pantas, Widi menyimpan pakaian basahnya di kantong belanja yang sudah kosong, kemudian berjalan keluar Rumah Kotak.


*****


Hujan telah berhenti, Widi melihat Erlangga duduk di kursi tepi danau Area L tanpa Pak Jajat. Widi menghampiri Erlangga, kini giliran Erlangga yang terkesima melihat Widi. Ia bagai melihat ulat yang telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.


Ternyata ini maksud ucapan Erlangga pada Santoso, ia sangat detail, sehingga mampu melihat kecantikan tersembunyi di balik bungkus lusuh saat pertama kali melihat Widi di ruangannya, rupanya ketika Widi menanggalkan kamuflasenya, ia lebih cantik dari perkiraan Erlangga.


"Widi, kamu cantik sekali! Duduk Wid," pujian Erlangga membuat Widi salah tingkah, antara malu sekaligus senang, namanya juga perempuan.


"Pak, maaf tadi saya pakai sisir dan sabun wajah di toilet, biar pantas sama baju ini, oh iya baju ini saya pinjam dulu ya," ujar Widi sambil duduk di seberang Erlangga.


"Oh baju yang kamu pakai dan yang semua yang ada di sofa itu memang untuk kamu. Oke kalo gitu nanti saya belikan juga perawatan wajah yang khusus perempuan, yang tadi kamu pakai khusus laki-laki," ujar Erlangga.


Ups! Widi malu, terbukti ia memang tidak pernah mengurus diri lagi, sehingga tidak tahu sabun wajah kini punya gender.

__ADS_1


Erlangga masih terpukau menatap Widi yang baru, Widi menjadi canggung. "Ada yang ingin bapak bicarakan ke saya tentang pekerjaan?" tanya Widi untuk menormalkan situasi.


"Widi, wajah kamu memang seperti enggak asing ya?" ujar Erlangga terus memandangi Widi.


"Ya kan karena saya kerja di sini," sahut Widi tak mau terjebak sok akrab lagi.


"Bukan, kok seperti penah lihat kamu sebelum di kantor ini," ujar Erlangga


"Wajah saya memang pasaran pak," jawab Widi sekenanya.


"Pasaran? Kamu itu perempuan paling cantik yang pernah saya kenal," Erlangga belum bisa menahan diri dari ketakjubannya.


"Pengaruh baju mahal! Maaf Pak, pasti ada yang bapak mau sampaikan tentang pekerjaan saya?" Widi mulai tak nyaman, jangan-jangan Erlangga adalah laki-laki tipe penggoda.


"Oh maaf, mungkin pujian saya justru bikin kamu enggak nyaman. Oh iya saya mau buat teh hangat, saya buatin untuk kamu juga ya?" tawar Erlangga sambil berdiri.


Dengan sigap Widi langsung ikut berdiri, "Biar saya aja yang buat, bapak duduk aja." Widi tidak enak hati membiarkan pemilik perusahaan membuatkannya teh, ia bergegas kembali ke Rumah Kotak, ternyata Erlangga mengikuti Widi,.


“Aku temenin deh,” ujar Erlangga.


Di area dapur kering, Widi sigap membuka lemari, mengambil cangkir, teh dan gula, lalu memanaskan air dari poci listrik.


"Kamu hafal banget rumah ini, Wid," ujar Erlangga.


"Oh bapak belum kenal ya sama arsiteknya? Kemana aja?" canda Widi sambil menyendok gula dan teh.


Widi sadar sedang berhadapan dengan pemilik kantor, tapi ia memilih bersikap sepantasnya, menghormati tanpa perlu membungkuk-bungkuk, toh masih sama-sama muda.


"Kata Santoso dia arsitek paling hebat di sini, tapi enggak lah, dia masih juara 2, juara 1 nya tetap saya," canda Erlangga, ia berusaha mengikuti gaya Widi yang menghadapinya dengan santai.


"Ngalah aja deh, mana bisa menang, kalo lawannya yang punya kantor," sahut Widi.


"Ah, emang kalah, kok ngaku ngalah," balas Erlangga sambil mengambil poci lalu menuangkan air mendidih ke cangkir, "Yuk lanjut ngobrol di Area L.


"Oke Pak,” Widi mengambil baki untuk membawa cangkir dan tissue.


"Saya aja," Erlangga ingin membawa baki itu.


"Nanti aja, kalo saya udah juara satu, bapak boleh bawa baki," sahut Widi.


Erlangga tertawa lalu berjalan di sebelah Widi. Mereka baru saling kenal, level hubungan pekerjaan mereka pun sangat jauh, tapi keduanya tampak cepat membuang semua sekat itu.


Kini mereka telah berada di Area L. Erlangga memulai percakapan, "Widi, kamu kan udah lumayan lama disini, kenapa saya enggak pernah lihat kamu ya?”


"Mau jawaban jujur atau nyeneng-nyenengin?" tanya Widi.


"Enggak ada opsi jujur sekaligus nyenengin?" tanya Erlangga.


"Saya sengaja menghindar, abis katanya bapak.... " Widi ragu meneruskan kalimatnya.


"Galak?" tanya Erlangga.


"Ngerasa enggak?" tanya Widi.


"Lho, kamu ngerasa digalakin enggak?" tanya Erlangga.


"Saya kan baru ketemu, selama ini Bapak ngerasa galak enggak?" tanya Widi.


“Hmm, iya sih. Tapi jujur, gara-gara kamu saya berubah,” ujar Erlangga.


“Gara-gara saya?” tanya Widi.


“Iya, gara-gara bangunan-bangunan serba kaca juga, pemandangan orang rajin sholat di ujung Rumah Segitiga yang terlihat dari sini, membuat saya mengoreksi banyak hal, terimakasih, Widi,”  ujar Erlangga.


"Alhamdulillah. O, iya saya lupa ngucapin terimakasih atas komputer baru dan mobil kantor untuk tugas lapangan, juga pakaian untuk saya. Terima kasih ya, Pak Erlangga," ujar Widi.


"Itu belum rewards paling spesial dari saya untuk arsitek juara 2. Mulai hari senin kamu resmi menggantikan posisi Desmond. Gaji dan fasilitas akan disesuaikan dengan posisi itu. Untuk ruangan, kalau kamu suka, kamu boleh tetap disana, tapi kalau kamu perlu penyesuaian atau mau pindah ke tempat Desmond juga boleh, nanti minta aja ke Santoso. Masalah Desmond, kamu enggak usah kuatir, itu urusan saya. O iya besok kan hari sabtu, kantor kita libur, lalu hari selasa juga tanggal merah. Kamu ambil cuti aja dulu, nanti masuk di hari kamis, supaya saat memulai tanggung jawab baru, semuanya masalah telah beres," saran Erlangga.


Widi terkejut, wajahnya terlihat sangat senang, "Alhamdulillah, terimakasih Pak."


Widi mendadak kehabisan kalimat bahkan ekspresi yang dapat mewakili perasaannya yang luar biasa.


"Satu hal lagi, kenapa saya belikan baju untuk kamu? Karena saya mau orang saya tampil sebaik mungkin. Saya enggak setuju dengan ungkapan, Don't judge book by its cover. Enggak mungkin, mata cuma mampu menangkap apa yang terlihat, emang bisa meneropong isi? Saya minta mulai malam ini, kamu harus punya penampilan yang tidak membuat orang memandang kamu sebelah mata, kalo butuh apa pun untuk urusan itu, bilang ke saya," pinta Erlangga.


"Insya Allah, Pak." Widi tak selera untuk berdebat, tadinya ia malah mengira akan dipecat karena penampilannya.


"Dan.... gimana kalo jaket yang biasa kamu pake itu..."


"Itu punya om saya, Pak. Enggak usah dibahas," potong Widi.


"Hahaha, ya ya ya," sahut Erlangga sambil menahan tawanya agar tak meledak.


"Sekali lagi Pak, saya sangat berterimakasih atas semua ini, mudah-mudahan saya pantas dan bisa bekerja lebih baik lagi," ujar Widi.


"Sama-sama Wid, saya masih punya satu kalimat lagi. Kamu memang arsitek juara dua, tapi kamu perempuan yang paling cantik yang saya kenal,” puji Erlangga tak mampu menahan kekagumannya.


***


 


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.

__ADS_1


Penulis, Indra W


__ADS_2