Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Menunaikan Janji Part 2


__ADS_3

Erlangga sangat terkejut, "Maksud kamu?"


"Maaf Ga, besok aku resign dan akan pergi jauh dari semua ini," ujar Widi pelan.


Erlangga semakin bingung, ia ingin mengucapkan sesuatu tapi kuatir kalimatnya malah semakin menguatkan keinginan Widi untuk pergi.


Widi sebenarnya tidak tega meninggalkan Erlangga, tapi ia merasa tidak ada gunanya lagi berada disini. Angga telah hilang dan Erlangga akan menikah dengan Vanessa. Segala kenangan di tempat ini akan menyiksanya, ruangan kerjanya akan selalu menghadirkan sosok Uge yang selalu menemaninya chatting setiap malam, wajah Erlangga juga akan menghadirkan sosok Angga yang mengenalkannya pada Tuhan. Widi akan mengikhlaskan kantor ini untuk Erlangga, ia akan pergi mencari tempat baru yang jauh dan berharap terkena amnesia seperti Erlangga, agar bisa menjadi sosok baru tanpa beban masa lalu.


"Angga, jaga diri kamu baik-baik, mudah-mudahan kamu tetap menjalankan sholat walau ruangan di ujung itu akan gelap saat malam. Mungkin dengan sholat itu, kamu akan mengenal Tuhan kembali seperti saat kamu mengenalkan Tuhan padaku. Satu hal lagi, 5 tahun yang telah aku lewati itu adalah masa lalu, walau masa lalu tidak penting buat kamu, tapi di kurun waktu itulah aku selalu menyayangi kamu dan menanti pertemuan hari ini. Aku mau pulang sekarang," ujar Widi.


"Wid, aku.... aku enggak bisa jalanin kantor ini tanpa kamu, bahkan aku butuh kamu untuk segala hal. Jangan pergi, maaf kalo ucapanku menyakiti kamu. Kasih aku waktu agar bisa memahami ucapan kamu," pinta Angga.


"Waktu enggak pernah menyelesaikan masalah kita. Seandainya kamu tahu apa yang sedang terjadi, justru setiap kita berhasil berada di rel waktu yang sama, maka waktu akan memisahkan kita," ujar Widi sambil menyeka air mata yang mulai menetes di pipinya.


"Widi kalau kamu pergi, kamu akan menghabiskan seluruh sisa waktuku dengan pertanyaan, kenapa sih kamu tiba-tiba jadi sangat membenciku?" tanya Erlangga.


"Aku enggak pernah benci kamu. Angga, kamu memang sama sekali enggak ingat sama aku, ya? Masa enggak ada sih, satu saja kenangan kita yang kamu sisakan? Supaya aku punya alasan untuk nunggu kamu lagi," ujar Widi dengan mata berlinang.


Erlangga diam, ia memang tidak punya kenangan yang mampu menahan kepergian Widi, lebih tepatnya ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Widi. Erlangga menatap mata Widi untuk menyimpan kenangan terakhirnya, Widi juga menatap mata Erlangga.

__ADS_1


Tiba-tiba Erlangga seperti pernah melihat Widi di tempat lain. Sebuah gambar muncul, matanya pernah terkunci pada perempuan yang juga menatapnya di depan Masjid Salman.


"Selamat tinggal Angga!" ucap Widi membuyarkan gambar di kepala Erlangga.


Aneh, bayangan itu sepertinya memang sebuah kenangan, gumam Erlangga.


"Widi, aku hanya minta waktu kamu lima menit, boleh?" tanya Erlangga.


Widi mengangguk lemah, ini malam terakhirnya untuk Erlangga, ia berkenan memberi sedikit waktu. Kini Erlangga yang menjauhi Widi, ia berpaling dan menatap sisi danau yang gelap untuk mengingat sesuatu.


Jangan-jangan memang ada yang enggak wajar dengan diriku. Sebelumnya Andi juga berusaha membuatku teringat sesuatu. Astaga! Aku baru sadar, aku hanya sulit mengingat segala hal yang berkaitan dengan Bandung. Ada apa dengan kota itu? tanya Erlangga dalam hati.


Ternyata kalimat itu mampu memberinya kekuatan besar, rasa sakit berangsur hilang dan hawa dingin menjalar di kepalanya, badannya menjadi segar dan kepalanya terasa ringan. Kenangan masa lalu mulai muncul dalam benaknya ia melihat sosoknya sendiri dalam wujud mahasiswa gondrong dengan penampilan berantakan. Sosok itu tampak taat pada perintah Tuhannya dan ia juga senang menularkan kecintaannya pada Tuhan ke orang lain.


Erlangga telah menemukan kembali jati dirinya, dalam benaknya ia bagai melihat sekumpulan file video yang tinggal dipilih, ingatan mana yang ingin ia putar. Erlangga menemukan wajah Widi, kenangan inilah yang ia paling ia butuhkan saat ini, ia membukanya. Erlangga terkesima, ia melihat sepasang manusia bicara di rumah yang berada di lereng pegunungan, ia bahkan mampu mengingat detail pembicaraan mereka. Ya Allah, aku pernah melamar Widi!


Erlangga terus menyusun puzzle-puzle video yang berserak untuk menjadi satu gambar utuh, tiba-tiba semua memori meluap dalam kepalanya bagai banjir bandang yang tidak bisa dibendung, ia bagai menyaksikan rangkuman perjalanan hidupnya di Bandung yang terlupakan dan berjalan dengan cepat, tiba-tiba video berhenti saat muncul gambar ia dan Pak Nata di dalam mobil. Erlangga sudah mampu menebak kengerian yang akan ia saksikan. Kalau saja malam ini bukan kesempatan terakhirnya untuk menahan Widi, ia akan menyumbat memori itu sampai di sini, tapi Erlangga tidak punya pilihan, ia harus tahu apa yang terjadi sebenarnya di malam itu. Erlangga memberanikan diri mengenang peristiwa kecelakaan yang menewaskan Pak Nata. Akhirnya Erlangga punya perspektif utuh tentang dirinya.


Aku ingat, seharusnya saat menghadapi ujian yang sangat berat, aku tetap berserah diri pada Allah, tetapi Aku malah sangat marah padaNya. Aku terlalu ujub dengan ibadahku dan sombong dengan jerih payahku, sehingga aku merasa Tuhan telah merenggut sesuatu yang pantas kudapatkan. Akhirnya aku menolak takdir hingga merusak ingatanku sendiri. Maafkan aku Ya Allah.

__ADS_1


Erlangga telah bisa menerima kenyataan dan menyadari kesalahannya, sekarang justru ia yang merasa harus meninggalkan AL Kahfi Land karena tidak mampu menjalankan berbagai amanah Pak Nata. Erlangga tidak membimbing Widi dalam urusan agama, tidak membangun tempat pendidikan untuk orang miskin dan tidak membangun sebuah masjid di kawasan hutan pinus ini.


"Widi, maafin aku ya?" pinta Erlangga.


"Astagfirlahaladzim kamu berdarah lagi! Kamu enggak apa-apa? Dan kamu kelihatan... beda?" tanya Widi.


 


 


 


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2