
ITB, Bandung, 1999
Dewi dan Uge bagai Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi. Walau cocok berdampingan tapi kenyataannya mereka saling berjauhan.
Dewi memiliki segudang aktivitas di kampus sehingga ia dikenal banyak mahasiswa dan dosen. Wajah cantik, pintar, ramah dan pandai berkomunikasi membuatnya selalu dilibatkan dalam kegiatan mahasiswa dan penelitian dosen.
Berbeda dengan Uge, dia tidak tertarik kegiatan kampus karena lebih sibuk dengan proyek komersil di luar kampus, sehingga ia hanya dikenal oleh segelintir orang kampus yang terlibat dalam proyeknya dan beberapa dosen yang mengagumi kemampuan akademisnya.
Kata Andi, Uge seperti burung walet yang banyak bersarang di gedung FSRD, dia ada dan bernilai, tidak peduli pada sekitar dan juga tidak ada peduli padanya. Tidak ada alasan membenci Uge, karena dia anak yang baik, tetapi ada juga alasan menyenangi Uge, karena dia tidak suka bergaul. Cuma 2 orang yang banyak berinteraksi dengan Uge, selain Andi, Uge dekat dengan seorang dosen, yaitu Profesor Dheng Dwara.
Pak Dheng adalah manusia yang punya keunggulan otak kiri sekaligus otak kanan, walau spesialisasinya arsitektur tapi dia bagai pakar semua cabang keilmuan. Pak Dheng memiliki banyak penemuan teknologi, salah satunya perangkat nirkabel gelombang radio, yaitu untuk pertukaran data antar komputer dan meningkatkan kecepatan internet berkali-kali lipat. Pak Dheng memberikan perangkat ini untuk Uge dan 2 orang yang pernah menemani Uge naik gunung bersama Pak Dheng, yaitu Andi dan Ali.
Kejeniusan Pak Dheng memang sering membuat Uge seolah hidup di jaman batu. Sayangnya, Pak Dheng menyimpan berbagai penemuannya hanya untuk kesenangan pribadi. Selain teknologi, Pak Dheng juga punya minat kuat dalam urusan agama. Dia penghafal Alqur'án yang gemar berdakwah dengan memanfaatkan pengetahuan dan hobi-hobinya, seperti naik gunung, musik hingga otomotif sehingga ia mudah menarik minat anak-anak muda mengenal agama, Uge adalah salah satu hasil cetakannya.
Pak Dheng telah lama hidup sendiri. Istrinya meninggal dunia setelah melahirkan anaknya, dan anaknya pun dibuang entah kemana oleh Bu Agatha, Ibu kandung Pak dheng. Saat itu Pak Dheng sedang melanjutkan kuliah S2 di Jerman.
, Bu Agatha, perempuan berdarah campuran Indo-Belanda, tidak pernah menyetuju pernikahan Pak Dheng dengan almarhum istrinya yang merupakan anak pembantu yang bekerja pada keluarga Bu Agatha, walaupun almarhum istri Pak Dheng sangat cantik.
Pak Dheng sangat terobsesi menemukan teknologi untuk berkomunikasi dengan orang di masa lalu agar tahu keberadaan anaknya yang hilang, sayangnya Uge tidak pernah mendiskusikan chatting lintas waktunya dengan Pak Dheng.
Di hari tuanya, Bu Agatha yang mulai menekuni agama sangat menyesal telah membuang cucu kandungnya sendiri. Untungnya Pak Dheng tidak menyimpan dendam, ia telah memaafkan Bu Agatha dan mau merawatnya dengan penuh kasih sayang.
Uge sering mengunjungi rumah Pak Dheng, sehingga ia juga akrab dengan Bu Agatha. Selain senang berdiskusi dengan Pak Dheng, anak sebatang kara yang besar di panti asuhan ini seolah menemukan keluarganya, karena Bu Agatha sangat sayang pada Uge, bagai bertemu cucunya yang hilang.
Usia Pak Dheng telah mencapai 50 tahun, tetapi fisiknya tetap terlihat muda, ia luwes bergaul sehingga dekat dengan para mahasiswa. Bermain musik jazz adalah salah satu hobi Pak Dheng yang telah diketahui para mahasiswa, sehingga saat hari ini ada panggung musik jazz kecil di kampus, Dewi yang terlibat jadi panitia, mengundang Pak Dheng nge-jam dengan para mahasiswa. Pak Dheng bersedia dengan syarat, acara harus break sebelum adzan untuk memberi kesempatan bagi mereka yang melaksanakan sholat berjamaah. Kalau Pak Dheng yang minta, mahasiswa pasti setuju.
Saat ini panitia sedang mengistirahatkan acara dan akan mulai lagi setelah sholat Isya. Penikmat musik jazz memang tidak sebanyak musik lain yang lebih digemari anak muda, tetapi untuk sebuah panggung kecil, jazz pula, jumlah penonton yang setia lesehan di sekitar panggung, tampaknya telah memenuhi harapan panitia.
Di antara panitia yang hilir-mudik, hanya Dewi yang tidak terlalu melibatkan diri dalam kesibukan. Ia duduk dan sesekali berdiri sambil memperhatikan orang-orang lesehan di sekitar panggung. Walau tahu kemungkinannya sangat kecil, Dewi berharap ada Uge di situ.
"Halo Geulis, nyari aku?" tanya Dipa.
"Eh Dipa, kamu jadi manggung?" tanya Dewi.
"Enggak tau nih, masa enggak boleh sama panitia? Beneran enggak boleh nih, Ran?" tanya Dipa pada Rani, ketua panitia yang berada di dekat Dewi.
Dipa berambut lurus gondrong, tapi saat manggung ia selalu pakai wig keriting, bahkan untuk tampil total ala rocker era 80-an, ia pasti mengenakan daster, baju luar jaring-jaring dan stocking punya emaknya. Beberapa hari yang lalu, ia minta pada panitia agar group-bandnya bisa manggung di acara ini.
"Ini kan event jazz Dip. Kamu mah gelo pisan, masa musik metal ikutan ngisi?" jawab Rani.
"Tapi ini tentang musik jazz, ada unsur edukasi untuk mempromosikan musik jazz...Wi, kumaha?" tanya Dipa yang satu jurusan dengan Dewi di FSRD, minta dibantu.
"Kenapa enggak dibolehin aja sih Ran?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Ih Dewi kamu jangan dengerin Si Gelo! Nih, biar kamu tahu, gimana lagu kamu, Dip?" tanya Rani pada Dipa.
"Oke dengerin ya, lagu ini penting buat masa depan musik jazz.... Daripada musik metal lebih baik musik jazz!...." Dipa menyanyikan potongan lagunya dengan nada suara yang tinggi dan melengking. Dewi pun tertawa.
"Tuh….Bodor, gelo Dipa mah," ujar Rani sebal.
"Keren kok! Enggak apa-apa lah Ran, ini kan acara kampus, masa anak kampus enggak boleh ngisi? Lagian biar acaranya enggak monoton," ujar Dewi.
"Kamu mau tanggung jawab, kalo panitia lain pada komplen?" tanya Rani.
"Iya, aku yang minta bandnya Dipa naik panggung, pasti seru lah," ujar Dewi bersemangat. Dipa tampak senang.
"Hatur nuhun Geulis, ini mah kalo bukan karena cinta, enggak mungkin diperjuangkan sama kesayangan aku, hehehe. Aku panggil anak-anak ke sini ya, bye Rani, bye Cinta...Mmmuaaahhh," canda Dipa sambil berjalan dengan gaya lompatan balet.
Dewi tertawa melihat ulah Dipa, begitu pula Rani walau masih cemberut. Setelah Dipa menjauh, Dewi kembali memperhatikan orang lalu-lalang.
"Cari siapa sih Wi?" tanya Rani.
"Kamu kenal Angga? Anak arsitek," tanya Dewi.
"Angga temennya Andi?" tanya Rani.
"Iya, lihat enggak?" tanya Dewi.
"Siapa bilang? Lihat tuh siapa yang baru datang!" tunjuk Lisa yang telah melihat sosok Uge.
"Angga datang? Aku kesana dulu, ya!" Dewi senang sekali melihat Uge, ia segera pamit meninggalkan teman-temannya.
"Sssst, udah denger gosip terhangat belum?" tanya Rani.
"Oh, mereka pacaran? Cocok ya," sahut Lisa.
"Ih sayang banget tauk, sekelas Dewi, masa dapatnya Angga?" ujar Rani tak terima.
"Lho emang kenapa? Angga ganteng kok," bela Lisa.
__ADS_1
"Yeeee, yang lebih ganteng dan selevel sama Dewi, banyak yang antri," sahut Rani.
"Haha, ampun Ran, lu udah kayak emaknya aja, terserah Dewi lah! Lo sendiri kalo dideketin Angga, yakin nolak?" Pancing Lisa.
"Hmmm........... Ah kalo gue se-Dewi, pasti gue tolak," sahut Rani.
"Dasar lo, berarti mau, hahaha," ledek Lisa.
Berdiri tak terlalu jauh dari panggung, membuat Uge yang tak pernah muncul di acara kampus jadi pusat perhatian, khususnya kaum hawa, apalagi Uge terlihat sangat berbeda malam ini, selain rambutnya sudah pendek dan tanpa brewok, ia kini tidak tampil dengan pakaian asal nyaman di badan, Uge menyempatkan waktu membeli pakaian dan sepatu baru karena tak mau Widi sakit mata saat melihatnya.
"Angga kamu datang," Dewi senang, ia pun terpana melihat penampilan Uge. Sebaliknya Uge malah kaget seperti melihat hantu.
"Eh Dewi, kamu lagi di sini?" tanya Uge terlihat canggung.
"Aku kan panitia. Kamu gitu deh, janji mau telepon, ditungguin enggak ada kabar," Dewi tetap protes walau hatinya senang bisa bertemu Uge di sini.
Rasa bersalah kembali mengantui Uge. Ia memang berencana menemui Dewi untuk meminta maaf, tapi tidak sekarang. Malam ini adalah kesempatan langka untuk bertemu Widi yang nyata. Tetapi saat menatap wajah Dewi, hatinya kembali berdesir, perempuan ini terlalu cantik untuk dilepaskan.
Uge sadar betapa bodoh dirinya, ketika semua laki-laki pemujanya berharap berada di posisinya, ia malah akan mencampakkan Dewi. Uge jatuh cinta pada perempuan ini, tapi ia harus mengorbankan perasaannya, demi janjinya pada Widi.
"Dewi, aku minta maaf, enggak bisa nepatin janji," ujar Uge bersungguh-sungguh.
"Udah, enggak apa-apa kok, pasti kamu sibuk, aku temani kamu di sini ya," sahut Dewi.
Uge menatap mata bening itu lekat-lekat. Ia sebenarnya tidak tega menyatakan ini, "maaf Dewi, aku udah ada janji dengan orang lain di sini."
"Oh? Aku temenin sampai orang itu datang, boleh kan?" tanya Dewi mulai heran.
"Maaf Dewi, yang aku tunggu itu teman perempuan," sahut Uge pelan.
Dewi terkejut, ia ingin memastikan ucapan Uge. "Aku enggak boleh di sini karena kamu menunggu teman perempuan? Kamu punya pacar?" tanya Dewi.
Uge tak menjawab, ia merasa serba salah.
Dewi tak menyangka Uge tega mempermainkan perasaannya, kemarin laki-laki ini telah membuai dirinya dengan harapan. Dewi merasa bodoh karena terlalu cepat jatuh cinta. Dewi berusaha menguasai diri agar tidak mengatakan atau melakukan hal yang semakin membuatnya terlihat bodoh. Dewi memandang Uge dengan senyum yang dipaksakan untuk menutupi kekecewaannya.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W