Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Membawamu Kembali Part 2


__ADS_3

Andi merobek amplop surat dan membacakannya di depan Widi dan Soffie.


Bandung,  1999


Assalamualaikum Ndi, tolong gue!


Setelah lu pulang dari Kosan Bodas, gue yakin kita enggak akan ketemu lagi. Mungkin surat ini akan lu baca di tahun 2004 dan kondisi gue udah berubah drastis 1800 karena gagal melewat ujian harta. Gue juga bakal jauh dari Allah, Ndi.


Di tahun 1999 gue ngebangun kantor Al Kahfi Land dari modal Pak Nata, ayahnya Dewi, tapi kantor itu malah akan gue kuasain sendiri. Tolong, Ndi, lu harus bikin gue sadar, gimana pun caranya! Dan kalo gue yang di masa depan melawan, lu proses aja secara hukum. Dokumen-dokumen penting perusahaan udah gue serahin ke Dewi bersama surat gue.


Enggak masalah kalo gue jadi enggak punya apa-apa lagi, mudah-mudahan itu bisa bikin gue insyaf dan tobat, pokoknya lu harus bisa seret gue balik ke pengajian. Emangnya lu mau ke surga tanpa gue, Ndi? Enggak asik banget sih lu!


Sepertinya gue juga bakal bikin Dewi menderita sepanjang lima tahun ke depan. Cukup deh! Jangan diperpanjang lagi, karena gue sayang banget sama dia, lu juga sih ngejodoh-jodohin! Tanggung jawab, Ndi.


Angga


"Pak Erlangga itu ternyata Angga sahabat kamu? Kok bisa jahat banget dia?" tanya Soffie heran.


"Sejak dia buka pintu itu tadi, aku tahu itu Angga. Dewi, Angga memang suka bisnis tapi dia enggak serakah sama harta, enggak mungkin dia mau nguasain kantor, pasti ada hal lain," ujar Andi. Ia tetap membela sahabatnya.


"Aku pun enggak tertarik dengan usulannya soal ke jalur hukum, yang aku penasaran, kenapa dia bisa akting sesempurna itu?" tanya Widi.


"Hmm, kemungkinan besar dia mengalami gangguan ingatan," ujar Andi.


"Kenapa bisa sampai begitu?" tanya Widi.


"Maaf ya, kalo membangkitkan kenangan pahit kamu, aku juga minta maaf karena enggak hadir saat kamu kehilangan Bapak dan Ibu, aku sedang di Singapura, Wi. Aku betul-betul kehilangan jejak kamu dan Angga, nomor kamu enggak aktif, rumah kamu ditempati orang lain, pemilik baru bilang enggak tahu dimana pemilik rumah sebelumnya. Angga juga enggak ngomong ke siapa pun pindah kemana, aku tanya lewat emailnya sampai akhirnya penuh, juga tidak dijawab, aku juga enggak punya email kamu, dulu email kan belum sepenting sekarang," ujar Andi.


"Kamu enggak salah, Ndi. Itulah maksud aku tadi, ceritanya sangat panjang," ujar Widi.


"Kita harus tuntaskan cerita panjang itu dengan cepat. Sepulang dari singapura, aku cari berita koran-koran tentang tragedi Pak Nata. Menurut berita, saat terjadi kecelakaan akibat penembakan itu, ada seorang penumpang lain yang selamat. Kamu ingat enggak, waktu itu siapa supir yang mengantar Bapak?" tanya Andi.


"Gara-gara supir pribadi bapak, Pak Bambang, ketahuan jadi informan musuh, bapak jadi tidak mau mempercayakan keselamatan keluarganya pada siapapun lagi, bahkan bapak menyetir mobil sendiri saat menyembunyikan aku dan ibu di tempat rahasia, itu sebabnya tidak ada nomor telepon yang bisa kamu hubungi," ujar Widi.


"Bapak sempat punya pesan terakhir?" tanya Andi.


"Hmm…. Oh iya, Bapak sempat telpon sebelum kecelakaan, katanya mau mengajak seseorang ke tempat aku dan Ibu. Katanya orang ini akan membimbing aku belajar agama saat Bapak tidak ada," jawab Widi.


"Artinya penumpang yang selamat di mobil itu adalah satu-satunya orang luar yang Bapak percaya. Dia memang bukan supir, karena menurut koran posisi Pak Nata ada di sebelahnya. Kamu tahu siapa dia?” tanya Andi.


“Guru ngaji?” tanya Widi.


Andi tersenyum, “Orang itu pernah berhasil membawa Pak Nata ke pengajian, makanya diharapkan juga bisa membimbing kamu soal agama. Masya Allah, ternyata Pak Nata juga berharap orang itu berjodoh dengan anaknya. Al Kahfi Land adalah bukti betapa besar harapannya,” ujar Andi.


"Al Kahfi Land? Jadi menurut kamu yang saat itu sedang bersama Bapak adalah Angga?” tanya Widi.


"Ngapain Bapak ngajak guru ngaji malam-malam untuk bimbing kamu belajar agama di tempat rahasia? Angga pasti sudah melamar kamu ke Bapak," ujar Andi.


"Angga memang pernah bilang, dia dekat dengan Bapak. Lalu apa hubungannya dengan kehilangan ingatan?" tanya Widi.


"Wi, Angga kecelakaan bersama bapak dari perempuan yang dicintainya! Dia harus ngomong apa ke kamu? Rasa penyesalan itu membuat dia trauma sehingga amnesia, memang aneh sih model amnesianya, kok cuma sebagian? Untuk memastikannya, aku harus cari dokter yang megang dia setelah kecelakaan, semoga ada jawaban, tapi mau cari kemana?" tanya Andi.


"Hmm mungkin kita bisa tanya Pak Santoso, kata orang-orang dia yang paling awal kerja di sini, mungkin dia tahu sesuatu, kita langsung tanya aja sekarang," ajak Widi.


Mereka langsung menemui Santoso di ruangannya. Andi menjelaskan tentang pertemanannya dengan Angga, lalu menceritakan siapa Widi sebenarnya, kemudian menunjukkan surat-surat dari Angga dan dokumen yang dititipkannya. Setelah itu giliran Santoso menceritakan semua hal yang ia ketahui. Sekarang semuanya jadi terang benderang.


"Wah saya harus memanggil dengan sebutan Bu Widi sekarang, untung saya enggak pernah macam-macam sama Bu Widi," canda Santoso.


"Widi aja, saya enggak menderita Amnesia Disosiatif, Pak," balas Widi.


"Hehe, nah jadi sekarang apa solusinya?" tanya Santoso.


"Sepertinya sudah waktunya memancing memori-memorinya yang hilang," jawab Andi.


***


 

__ADS_1


 


Sky Garden, Jakarta, 2004


Restoran ini berada di puncak gedung tinggi di Jakarta. Tempat ini memiliki area dalam dan luar, Erlangga memilih area luar yang terbuka agar suasana ngobrol lebih lepas. Malam ini ia ingin merasakan suasana santai dan bebas.


Seorang pelayan baru saja meninggalkan meja mereka untuk menyiapkan makanan yang dipesan. Andi menghemat waktu dengan memberi pertanyaan yang langsung mengarah, untuk mengembalikan ingatan Erlangga.


"Dulu kuliah arsitek dimana, Ga?" tanya Andi.


"Hmm, ITB angkatan 95, kamu?" tanya Erlangga.


"Lho? Kita bertiga satu kampus dong, aku 95, Widi 98, tapi kami di FSRD," sahut Andi.


"Oh, itu dia! Sekaranag aku baru paham, wajah Widi seperti enggak asing, ternyata kita pernah satu kampus walau beda fakultas, tapi Widi bukannya kuliah di Jakarta?" tanya Erlangga.


"Saya sempat dua tahun di ITB, Pak," jawab Widi.


"Widi, jangan bikin suasana seperti di kantor, panggil Angga aja, anggap aja kita lagi reuni," ujar Erlangga.


"Setuju! Dulu pas kuliah tinggal dimana, Ga?" tanya Andi.


"Nah itu, memoriku harus di upgrade nih, urusan kantor udah kebanyakan, jadinya banyak memori lama yang kehapus untuk nampung yang baru," canda Erlangga.


"Kelihatannya kamu bukan asli Bandung, dulu nge-kos ya?" tanya Andi terus mengarahkan.


"Betul aku nge-kos, tapi dimananya aku lupa, udah 5 tahun yang lalu, Ndi," jawab Erlangga.


"Dago, Pasteur, Ledeng?" tanya Andi memberi pilihan agar Erlangga mudah mengingat.


"Ledeng! Wah memang harus sering ketemu sama orang-orang sezaman nih," jawab Erlangga senang.


"Tempatnya seperti apa, Ga? Aku punya sahabat yang kos di daerah Ledeng, mungkin kalian nge- kos di tempat yang sama," tanya Andi.


"Mulai agak inget nih….. rumah tua, warnanya cat dinding dan kusennya putih tapi sudah mulai pudar, bangunannya besar, kamarnya juga lumayan banyak," ujar Erlangga berusaha mengingat.


"Mirip Kosan Bodas tempat temanku, agak jauh dari pemukiman lain, ya?" tanya Andi.


Andi jadi bersemangat, bagai sedang memunguti uang tercecer dari karung pembobol bank yang bolong, "Anak-anak kos manggil dia Uge, kenal?"


"Ooooh Uge! Kena lah! Gondrong kan?," tanya Erlangga.


Andi sangat senang, rupanya tidak terlalu sulit mengembalikan ingatan Erlangga. Soffie hanya menyimak, ia tidak ingin memecah konsentrasi Andi, agar ingatan Erlangga segera pulih.


"Uge itu anak pengusaha kaya, dulu dia suka ngasih proyek, itu teman kamu, Ndi? Apa kabarnya tuh orang?" tanya Erlangga.


Andi melongo, sedangkan Widi tertawa.


"Iya, Uge itu temanku, kabarnya dia kejedot batu sampai kena amnesia akut," sahut Andi dengan wajah sebal, Widi tertawa lagi.


"Hahaha, jangan gitu, Ndi. Biar suka ngelantur, tapi anaknya baik kok," ujar Erlangga.


"Angga, batu hitam itu kenapa dibawa? Mau buat jimat penglaris kantor ya? Atau pemancar komunikasi dengan makhluk luar angkasa?"


"Haha, aku suka sama bentuk uniknya. Betul juga, batu itu harus diteliti, jangan-jangan batu memang portal untuk melintas galaksi atau lintas waktu... Hmm lintas waktu?" Tiba-tiba Erlangga diam.


Andi, Widi dan Soffie tertegun, mereka menanti keajaiban pada Erlangga. Tiba-tiba Erlangga memegang kepala, wajahnya meringis seperti kesakitan.


"Lintas waktu gimana, Ga?" tanya Andi tidak sabar.


Erlangga tidak menjawab, ia semakin terlihat kesakitan.


"Ndi, udah Ndi. Pak Erlangga kenapa?" tanya Widi kuatir.


Erlangga diam sejenak mengatur nafas, beberapa detik kemudian ia sudah kembali terlihat normal, "enggak apa-apa Wid, pusingnya udah hilang kok. Maaf ya semua, aku kadang-kadang suka begini, tapi didiamkan sebentar juga hilang."


"Biasa kalo bos suka gitu, beban pikirannya banyak soalnya," kata Andi.

__ADS_1


"Ah yang ngomong kaya bukan bos aja, kamu kan punya pabrik furnitur," ujar Erlangga.


"Bukan pabrik, cuma workshop kecil-kecilan," jawab Andi.


"Kecil apanya? Brand terkenal, produk berkualiatas yang sudah di eksport ke banyak negara, kantorku juga sering pakai," puji Erlangga.


"Eh, reuni kok jadi ngobrolin bisnis." Andi tak mau membicarakan hal yang tidak berhubungan dengan memori Erlangga yang hilang.


"Iya betul, udah lama enggak ngomongin kampus," kata Erlangga.


"Dulu di ITB punya pacar, Ga?" tanya Andi.


Widi mendelik pada Andi, tapi Andi tidak peduli.


"ITB bukannya perempuannya sedikit?" tanya Erlangga.


"Tapi berkualitas, iya kan, Wi? tanya Andi sambil tertawa.


"Mungkin, aku kan cuma sebentar di sana," jawab Widi malas.


Widi tidak nyaman dirinya dijadikan bahan untuk memancing memori Erlangga karena ada rasa kecewa, keberadaannya saja tidak mampu membuat Erlangga ingat.


"Tahu enggak kembang kampus di jaman kita? Kalo kamu enggak tahu, jangan ngaku anak ITB lah!" Tantang Andi.


"Oh iya! aku ingat!" sahut Erlangga


Jawaban Erlangga sering membuat Andi tegang. "Siapa namanya?" Kejar Andi.


"Gila udah lama banget! Entar-entar, jangan dikasih tahu. Hmm, ada lagunya itu... Pake Mersi, gitu, kan? HAHAHA" Tawa keras Erlangga justru membuat Andi semakin kuatir akan jawaban ajaibnya.


"Nah, kamu tahu enggak namanya siapa?" tanya Andi, ia berharap kali ini jawaban Erlangga benar.


"Widi!" teriak Erlangga.


Andi hampir lompat dari kursinya. Ia tampak puas karena tugasnya mampu diselesaikan dengan baik.


"Eh kok Widi sih? Widi kan kamu! Widi memang enggak kalah cantik sih, tapi lagu itu bukan untuk dia, yang betul, DEWI!" Teriak Erlangga, ia puas dengan jawabannya hingga melakukan selebrasi berdiri.


Andi memegangi kepalanya, Widi tertawa melihat Andi, sementara Soffie bingung dengan obrolan mereka.


"Dewi itu yang mana sih? Kalian ada yang kenal?" tanya Erlangga.


"Kabarnya dia jadi Rektor ITB, sekarang," sahut Andi frustasi.


"Oh Ya? Hebat juga Dewi. Ayo tanya apa lagi? Udah lama aku enggak ngobrol soal kampus, ternyata masih ingat," tantang Erlangga.


Beberapa pelayan menghampiri meja mereka dan meletakkan hidangan. Setelah berpikir sebentar, Andi mengambil ancang-ancang, sepertinya ia sudah punya pertanyaan pamungkas yang akan menjebol ingatan Angga.


"Oke, terakhir sebelum makan. Ini agak susah, nama lengap Dewi itu siapa?" tanya Andi.


"Ndi, udah Ndi, makan dulu aja," potong Widi. Walau ikut tertawa, tapi hati kecilnya sebenarnya sedih, karena Erlangga sama sekali tidak ingat padanya.


"Cuma 1 pertanyaan sebelum makan kok," Andi tetap mengejar jawaban.


"Iya sebentar Widi, sepertinya aku pernah dengar ini, kalo enggak salah, ada nama bapaknya," ujar Erlangga.


Semua orang di meja itu terdiam.


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


__ADS_2