Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Kapan Nikah?


__ADS_3

Al Kahfi Land, Depok, 2004


Biasanya di sekitar danau, hanya ruang kerja Erlangga di rumah kotak yang terlihat terang hingga larut malam, tetapi beberapa hari ini, salah satu ruang kerja di kantor segitiga juga terlihat terang. Itu adalah ruang kerja Widi.


Widi terpaksa sering pulang malam untuk menghindari pertanyaan menyebalkan. Sebagai perempuan yang dianggap matang, ia mulai sering diserang pertanyaan kapan nikah? Itulah alasannya.


Serangan awal terjadi saat Widi masih menumpang di rumah Tante Lina, adik perempuan ibunya.


"Widi, Tante senang kamu di sini, tapi kamu juga harus punya masa depan sendiri. Lihat, perempuan lain seumur kamu sudah banyak yang menikah lho," kata Tante Lina saat Widi hendak berangkat kerja.


"Widi belum punya teman dekat," sahut Widi terkejut, karena selama ini Tante Lina tidak pernah mengusiknya, terutama urusan jodoh.


"Gimana ada yang mau ngedeketin? Perempuan kok penampilannya kaya laki-laki," ujar Tante Lina setengah bercanda, artinya setengah serius pula tentunya.


Widi tersentak, ia menjawab, "kerjaan Widi memang sering ke lapangan, masak pakai gaun?”


"Widi, bukan cuma kamu lho, perempuan yang kerja di lapangan, bukan cuma kamu juga lho, perempuan yang kerja bawa motor. Yang lain kok bisa bawa baju salin, make-up, parfum? Mereka juga tahu mana jaket dan helm yang cocok buat perempuan,” sahut Tante Lina membuat Widi tak berkutik.


Beberapa hari setelah diskusi menegangkan itu, Widi memutuskan pindah dari rumah Tante Lina ke rumah kos yang lebih dekat dari kantor. Ia mengarang alasan, bahwa pekerjaan kantor menuntutnya sering pulang malam.


Setelah tinggal di rumah kos, ternyata Widi benar-benar harus sering pulang malam. Di situ ia justru menerima lebih banyak serangan pertanyaan usil dari penghuni kos. Pacarnya mana? Kok belum nikah? Enggak bosan sendiri?Mau dijodohin enggak?Arrrgh ....


Pertanyaan tentang jodoh mulai membuat Widi merasa sinting. Bahkan, saat di kantor sendirian, ia masih merasa mendengar pertanyaan itu dari pantulan wajahnya sendiri di kaca.


Malam ini Widi kembali terdampar di kesunyian kantor. Ia jadi teringat berbagai hal manis yang mendadak hilang dari hidupnya, termasuk kenangan saat seseorang melamarnya sekitar lima tahun yang lalu. Sayangnya hingga kini Widi tidak pernah lagi bertemu dengannya, bahkan tidak tahu keberadaannya.


Di mana dia? tanya Widi dalam hati sambil memandangi layar monitor komputernya.


Ya ampun, kenapa enggak kepikiran cari di internet? pekik Widi bersemangat.


Widi duduk lebih tegak dan siap mengetik nama laki-laki itu pada mesin pencari, tetapi harapannya kembali pupus. Memangnya dia selebriti?Tinggal ketik namanya, pasti dia yang muncul.


Hubungan Widi dengan laki-laki yang pernah melamarnya memang unik. Mereka sempat bicara serius soal pernikahan, padahal Widi belum tahu nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah dan berbagai informasi standar tentang laki-laki itu.


Andai mesin waktu benar-benar ada.


Tanpa sadar Widi mengetik kalimat itu pada mesin pencari. Ia tertegun saat menemukan situs web tentang diskusi lintas waktu.


Widi tidak percaya, tapi ia butuh melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikiran dari serangan bisikan-bisikan gaib tentang pertanyaan kapan nikah.


Widi baru saja berhasil mendaftarkan diri untuk chatting, beberapa orang menyapanya, ia memilih menjawab sapaan seseorang dari Bandung.


^Hai Uge^ balas Widi.


Aduh! Widi mendadak menyesal menjawab sapaan orang itu. Ia baru sadar, di dunia maya, orang bisa menjadi siapapun dan berani bicara apapun.


^Apa kabar dunia di tahun 2004?^ tanya Uge.


Widi masih menjunjung kesopanan, ia tidak tega meninggalkan pembicaraan saat telanjur menyahut, ya sudahlah, tapi jangan berharap basa-basi ini bakal manjang.


^Kabarnya gitu-gitu aja, dengan bertambahnya tahun, paling cuma ganti penguasa, muncul teknologi baru dan nambah populasi,^ balas Widi.


^Enggak gitu-gitu aja dong, itu kan juga perubahan,^ sahut Uge. Jawaban Widi malah membuat Uge merasa ditantang berdebat.


^Iya kalo dicari-cari ya banyak, sedetik aja pasti udah terjadi perubahan, se-enggaknya posisi jarum detik pada jam udah bergeser dari tempat semula,^ jawab Widi.


^Kamu penjinak bom? Sedetik aja dibilang bisa membuat perubahan,^ balas Uge.


Nyolot nih orang, ujar Widi.

__ADS_1


^Mas! Kalo mau tanya masa depan mending pelihara tokek. Dia tahu kamu bakal kaya atau miskin?^ balas Widi puas.


Uge tertawa. Ia semakin bersemangat menghadapi lawan bicara yang skeptis, biasanya itu adalah jatahnya.


^Inikan diskusi lintas waktu, pertanyaannya enggak boleh standar dong,^ ketik Uge.


^Justru pertanyaan lintas waktu kamu terlalu standar,^ ejek Widi.


^Coba gantian, kasih pertanyaan enggak standar ke orang masa lalu?^ tantang Uge.


^Oke. Kamu bisa bantu nemuin aku di zaman kamu enggak? Aku mau ngomong,^ ketik Widi.


Uge kagum dengan jawaban Widi, ia jadi semakin tertarik mengenal Widi. ^Kasih info lengkap aja, dimana aku bisa cari kamu di zaman aku.^


^Sori deh, biar basa-basi ini enggak lama. Aku enggak percaya kalo kita beda waktu,^ ketik Widi berterus terang.


^Aku juga enggak percaya,^ sahut Uge.


^Ya udah, karena sama-sama waras, jadi enggak ada yang perlu kita obrolin, aku pamit ya,^ pinta Widi ingin segera mengakhiri chatting.


^Tunggu Wid, aku lagi butuh teman ngobrol, boleh ya?^ tanya Uge.


Widi sebenarnya enggan, tetapi ia menghargai Uge yang sopan. ^Oke.^


^Makasih ya, kita kenalan dulu yuk. Nama panggilanku Uge, tinggal di Bandung, sedang kuliah di ITB, kamu?^ tanya Uge.


Informasi Uge membuat Widi tertarik, ia memang ingin tahu kabar tentang ITB dan Bandung.


^Nama panggilanku Widi, lulusan Universitas Berdikari Jakarta, udah 3 tahun kerja jadi arsitek. Kamu di ITB, angkatan?^ tanya Widi bersemangat.


^Aku angkatan 95, sekarang udah semester akhir,^ sahut Uge.


^Lintas waktu? Baru kuliah 4 tahun, masa di drop out?^ tanya Uge.


^Kirain waras. Jangan cari gara-gara deh, aku tahu banget tentang ITB angkatan segituan,^ ancam Widi.


^Ya tes aja, gampang kan?^ tantang Uge.


^Kalo bener kamu anak ITB angkatan 95, di depan BNI ada pedagang es kelapa bernama Kang Yayan, dia sangat ngetop.  Pertanyaannya, tukang apa yang dagang di sebelah Kang yayan? Kalo salah jawab, langsung bye,^ ancam Widi sambil tertawa geli dengan pertanyaannya sendiri.


^Ngaco nih anak! Kang Yayan kan tukang parkir,^ sahut Uge.


Jawaban Uge membuat Widi tertawa, ternyata Uge tahu. ^Terus kenapa Kang Yayan sampe segitu ngetop?^


^Akhir tahun 98, Kang Yayan pensiun dini karena nikah sama bule. Dia dimodalin jadi pengusaha travel sukses di Cipaganti. Itu kan kisah paling inspiratif di sekitar ITB,^ sahut Uge lancar.


Widi mencari pertanyaan lain yang lingkupnya lebih sempit.


^Kamu kenal Dewi?^ tanya Widi, ia tampak ragu dengan pertanyaannya sendiri.


^Dewi mana? Nama Dewi kan pasaran,^ sahut Uge.


^Emang Dewi yang kamu kenal, berapa banyak?^ tanya Widi.


^Enggak ada yang aku kenal. Mungkin Dewi yang sering diomongin cowok-cowok. Dewi FSRD angkatan 98, itu maksud kamu?^ tanya Uge.


Pertanyaan sesempit itu juga dilahap, Widi yakin, Uge pasti  alumni ITB. Ia ingin segera membawa diskusi ke situasi waras. ^Ge, malu-maluin almamater aja, udah masuk situs beginian, ngaku dari tahun 1999 segala. Kerja di mana sekarang?^ tanya Widi.


^Aku masih kuliah dan sekarang masih tahun 1999. Tapi kalo kamu ngerasa di tahun 2004, enggak masalah kok,^ sahut Uge.

__ADS_1


^Lagi ngelawak?^ tanya Widi.


^Lho? Aku kan berhasil jawab pertanyaan kamu. Nah, kamu kenapa tahu banget ITB? Katanya kuliah di Jakarta, jadi siapa yang suka bohong?^ tanya Uge.


^Aku enggak bohong. Perlu aku email scan ijazahku?^ tantang Widi.


^Nanti aja, kalo aku punya perusahaan dan butuh arsitek dari masa depan,^ sahut Uge.


^Gimana mau punya perusahaan? Udah tua, enggak lulus-lulus,^ ledek Widi.


^Mbak Terminator, minta email kamu deh. Semoga info tanggal, bisa merubah tema diskusi lintas waktu,^ tantang Uge.


^Oke Mas Flinstone. Aku mau tahu, nanti alasannya apa lagi,^ sambut Widi.


Mereka bertukar alamat email dan saling mengirim email, ternyata tidak berhasil.


^Huh, alamat email kamu belum ada. Orang masa depan enggak tahu cara bikin email?^ ledek Uge.


^Email kamu yang udah enggak aktif. Orang masa lalu enggak tahu cara buka email?^ sahut Widi.


Perdebatan tentang lintas waktu terus berjalan, tetapi malah membuat mereka jadi semakin akrab. Dua makhluk ini pasti kesepian.


*****


 


 


Erlangga menghentikan pekerjaannya, ia berjalan ke luar rumah kotak untuk menikmati suasana danau. Di situ perhatiannya tertuju pada satu ruang yang masih terang di kantor segitiga.


Erlangga menyadari, malam-malam belakangan ini, ruangan itu selalu berpenghuni. Walau terlihat sangat samar, Erlangga yakin penghuninya perempuan, beberapa kali ia melihat penghuninya melakukan gerakan yang ia duga sedang sholat. Orang itu memang Widi.


Keberadaan Widi bagai memberi Erlangga teman saat sendirian di malam hari, sehingga ia tidak mau mengusiknya. Sebenarnya selain Erlangga dan Widi, ada beberapa pekerja keamanan dan kebersihan yang tinggal di sini, tetapi mereka berada di bagian lain yang tidak terlihat dari rumah kotak.


Erlangga mengalihkan pandangan menuju bagian danau tergelap yang jauh dari cahaya. Rupanya tanpa cahaya, danau indah ini tampak seperti tempat menakutkan. Ia pun menyadari sesuatu.


Hati gue enggak pernah kesentuh cahaya, mungkin itu sebabnya gue selalu marah. Perempuan itu tampak tenang ngejalanin hidupnya. Mungkin karena dia rajin sholat, hatinya jadi penuh dengan cahaya.


Erlangga kembali memandangi kantor segitiga, ternyata ruang kerja terang itu telah berubah gelap. Widi mematikan setiap lampu koridor yang telah ia lewati, seketika pemandangan di sana menjadi gelap.


 


 


Erlangga jadi membayangkan, seperti apa tempat ini bila tidak ada cahaya sama sekali?Bagaimana pula dengan gelapnya alam kubur?


Entah kenapa pertanyaan itu mendadak melintas di kepala Erlangga. Ia bukan penakut, tetapi rasa takut yang hebat mendadak menyelimutinya, ia pun langsung bersiap diri untuk pulang.


*****


 


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2