
Setelah sempat pingsan, Uge kembali mendengar suara. Kepalanya terasa sangat nyeri, badannya tidak dapat digerakkan, pecahan kaca ada dimana-mana. Teriakan orang-orang yang sedang menolong, kelap-kelip lampu sirene mobil ambulan dan polisi membuatnya kepalanya semakin pening. Ia mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
Pak Nata? Bagamana kondisinya? Kenapa enggak ada, kemana dia?
Tiba-tiba seorang polisi menatapnya, lalu berteriak kencang pada orang-orang disekitarnya, "Yang satu lagi masih hidup, ayo kita keluarkan, cepat!" Mendengar ini, Uge seperti dihimpit jutaan ton rasa bersalah. Ia takut sekali.
"Segera kabari keluarga penumpang yang meninggal," kata polisi lain yang berada dekat tandu yang akan dimasukan ke dalam ambulan.
Uge merasa sebagai penyebab kematian Pak Nata. Ia tidak tahu ada orang lain yang telah menembak mobilnya, terbayang wajah Widi saat tahu bahwa ia adalah penyebab kematian ayahnya. Uge berharap nyawanya saja yang diambil, jangan nyawa Pak Nata. Air matanya mengalir lebih deras dari darah yang ada di kepalanya. Beratnya beban rasa bersalah pada Widi tak mampu ia atasi lagi, Uge kembali pingsan.
***
Sudah 5 hari Uge berada di kamar rumah sakit. 2 hari pertama Uge terbaring tak sadarkan diri. Di sebelah Uge, Santoso setia menunggu, sesekali ia membaca Al Qurán kecil di tangannya. Menurut dokter kondisi Uge secara fisik akan segera membaik, ia memang mengalami benturan kuat pada bagian kepala, tapi robekan lukanya tidak terlalu besar, ia juga tidak mengalami patah tulang. Tetapi secara kejiwaan, Uge mengalami trauma yang perlu ditangani serius. Saat Uge siuman, ia sering berteriak sambil memukuli dirinya sendiri hingga tak sadar diri kembali. 2 hari berikutnya, Uge sudah bisa tenang, tetapi ia jarang mau bicara. Kini ia lebih sering ditangani Dokter ahli kejiwaan.
Santoso telah menyerahkan urusan kantor pada 2 rekan kerjanya yang lain. Ia merasa Uge lebih membutuhkan dirinya ketimbang kantor, cuma dia yang bisa dianggap saudara dari manusia sebatang kara ini, Teman-teman Uge di Bandung tidak tahu tentang kecelakaan ini karena Santoso tidak kenal dengan mereka.
Santoso menutup Al Qurán yang dibacanya, ia mendekati Uge yang ternyata telah terbangun mendengarkan bacaan Santoso. Wajahnya terlihat lebih tenang.
"Kamu sudah bangun, gimana sudah enakan badannya?" tanya Santoso.
Uge menatap Santoso seperti sedang berusaha mengenalinya.
"Santoso?" tanya Uge.
Santoso hanya mengangguk lalu membantu Uge yang berusaha duduk.
"Kenapa gue ada di sini, San? Gue sakit apa?" tanya Uge bingung. Santoso senang Uge sudah mau bicara dengannya. Sejak siuman, ia hanya mau bicara pada Dokter. Tapi Santoso ragu memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu cuma perlu istirahat, supaya luka-lukanya sembuh," sahut Santoso.
"Gue kecelakaan ya?" tanya Uge sambil memperhatikan luka-lukanya.
Santoso mengangguk sambil memencet tombol pemanggil perawat. Dokter meminta Santoso memanggilnya jika Uge bangun.
"Gue doang atau ada orang lain yang kena kecelakaan itu?" tanya Uge.
"Angga, manusia tidak bisa menolak takdir. Umur itu rahasia Allah. Kalau sudah waktunya, mau di mobil, mau di kantor atau di tempat tidur, sama saja."
"Oh, ada yang meninggal, siapa San?" tanya Uge.
__ADS_1
"Pak Nata," jawab Santoso.
"Pak Nata? Itu siapa San?" tanya Uge.
Pertanyaan Uge membuat Santoso heran. Tiba-tiba pintu terbuka, tampak tim dokter, perawat dan polisi yang ingin masuk ke ruangan. Salah seorang dokter meminta polisi untuk menunggu di luar.
"Selamat sore Pak Erlangga, kelihatannya sudah lebih sehat," kata dokter yang terlihat paling senior. Uge hanya mengangguk sambil terseyum. Salah seorang dokter juga meminta Santoso menunggu di luar. Saat di luar polisi tadi mengajak Santoso bicara, ia sudah mengenal Santoso.
"Seperti berita di Koran dan TV, kecelakaan ini memang kasus pembunuhan yang berkaitan dengan perkara korupsi yang tengah ditangani almarhum. Pelakunya baik eksekutor maupun dalangnya telah kami tangkap,. Kasusnya sedang dalam proses pengadilan. Pak Erlangga tidak ada kaitannya dengan pembunuh, bahkan hampir jadi korban. Tadinya kami ingin menghadirkan Pak Erlangga menjadi saksi di pengadilan tapi dokter tidak mengizinkan, karena kondisi kejiwaan Pak Erlangga akan semakin memburuk jika itu dilakukan. Saya ke sini hanya ingin memastikan keterangan dokter," ujar Pak Polisi.
Seorang perawat keluar meminta polisi itu masuk dan Santoso diminta menunggu di ruang Profesor Fikri, dokter ahli kejiwaan yang paling senior tadi, setelah memeriksa Uge, ia ingin bicara dengan Santoso.
Santoso langsung mencari ruang tersebut dan menunggu disana. Saat menunggu, ia melihat koran-koran dengan headline kisah heroik Pak Nata, ia membaca salah satu koran. Setelah mengabiskan sekian koran, Profesor Fikri akhirnya muncul.
"Selamat sore Pak Santoso." Sapa Profesor Fikri.
"Selamat sore Profesor Fikri, jadi bagaimana keadaan Erlangga?" tanya Santoso.
"Fisiknya sudah pulih, tapi masalah pada kejiwaannya masih harus ditangani dengan serius. Kalau bicara kejiwaan bukan berarti gila ya," ujar Profesor Fikri sambil tersenyum.
“Iya saya mengerti, prof, jadi apa yang sedang dialami Pak Erlangga, Prof?”
"Astagfirlloh, penyebabnya adalah kecelakaan itu, Prof?" tanya Santoso.
"Penyebabnya adalah kejadian traumatik, dia bisa saja trauma pada kecelakaannya, trauma pada peristiwa pembunuhan itu, trauma karena merasa bersalah pada korban meninggal, banyak kemungkinan, yang jelas ia sedang trauma," ujar Profesor Fikri.
"Apakah gangguan ini cuma bersifat sementara, Prof?" tanya Santoso.
"Gangguan Amnesia Disosiatif dapat berlangsung cuma beberapa jam, namun dapat pula bertahun-tahun. Semuanya tergantung kesanggupan dia menghadapi kenyataan atas kejadian yang membuatnya trauma itu. Masalahnya, mereka yang terkena gangguan Amnesia Disosiatif biasanya akan menjauhi segala hal yang akan membuka memori yang telah hilang itu, seperti tempat, barang hingga orang. Gangguan ini dapat menghilang dengan tiba-tiba sama seperti ketika muncul. Kabar baiknya, jika berhasil sembuh, kemungkinan kambuhnya relatif kecil," jawab Profesor Fikri.
"Lalu apakah dia masih bisa menjalankan aktivitas sehari-harinya, Prof?" tanya Santoso.
"Kasus Amnesia Disosiatif memang unik karena hanya memori yang berkaitan dengan kejadian traumatiknya yang hilang. Sementara bagian memori yang tidak berhubungan langsung dengan traumanya atau pola kebiasaan dasar, seperti kemampuan membaca, berbicara, dan berbagai keterampilan yang pernah dimiliki tetap berjalan normal," jawab Profesor Fikri.
"Bagaimana cara menangani orang yang terkena Amnesia Disosiatif, Prof?" tanya Santoso.
"Setiap kasus memiliki cara penanganan berbeda karena penyebab gangguan dan kondisi jiwa setiap pasien juga berbeda. Ada kasus yang akan lebih baik untuk kejiwaan pasien jika memorinya dibiarkan saja hilang, tapi ada pula kasus yang malah tidak baik untuk kejiwaannya jika memorinya yang hilang itu tidak bisa kembali. Untuk menangani Pak Erlangga, tentunya kita harus mempelajari kondisinya agar tahu mana yang terbaik untuk dia, apakah mengembalikan memorinya segera, atau menunggu sampai dia siap, bisa juga sebaiknya biarkan saja memori itu hilang. Untuk saat ini, saya menyarankan agar membuatnya merasa tenang saja terlebih dahulu," saran Profesor Fikri.
"Apa yang sebaiknya saya lakukan untuk membuatnya tenang, Prof?" tanya Santoso.
"Jangan terburu-buru memaksa dia mengembalikan memorinya yang hilang, biarkan dia kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa, jika ada sifat barunya yang aneh, itu adalah bentuk pelarian yang tidak ia sadari untuk menjauhkan diri dari kenangan yang dapat membuatnya trauma. Biasanya, jika ia sudah benar-benar merasa tenang, ia akan punya banyak pertanyaan tentang memorinya yang hilang, di saat itulah kita boleh membantunya. Cari cara agar dia mau berkonsultasi dengan ahli kejiwaan, saya tahu itu tidak mudah, akan terdengar seperti memvonisnya sakit jiwa kan? Baik, ini saja yang dapat saya sampaikan untuk sementara, Pak Santoso," kata Profesor Fikri.
__ADS_1
"Baik Profesor Fikri, terimakasih atas penjelasannya." Santoso pamit untuk menemui Uge di kamarnya.
Besoknya Uge sudah diizinkan pulang, setelah ia tiba di rumah sementara sekaligus kantornya di Fatmawati, Uge langsung memeriksa pekerjaan yang luput dari perhatiannya selama di rumah sakit. Rupanya Santoso tidak perlu repot-repot meminta Uge melakukan aktivitasnya seperti yang disarankan Profesor Fikri.
"San, gue enggak peduli tulisan headline Koran tentang Pak Nata, terserah dia itu pejabat tinggi apa kek, yang gue tahu, gue hampir jadi korban gara-gara dia. Lain kali lu harus periksa latar belakang orang yang mau ketemu gue, jangan sampe gue tersangkut sama masalah orang lain," ujar Uge kesal.
"Iya Angga, tapi Pak Nata itu sudah ada sebelum aku bergabung, bahkan aku juga enggak tahu hubungan bisnis dia dengan kamu," jawab Santoso.
"Lho kok bisa enggak tahu? Kalo gue lupa, wajar! Gue abis kecelakaan. Jadi fungsi lu apa? Terus dokumen-dokumen penting pendirian perusahaan lu simpen dimana? Bawa ke sini, gue cari-cari enggak ketemu," perintah Uge.
"Kamu enggak pernah titip ke aku, Ga." jawab Santoso.
"Wah lu gue ajak karena gue pikir bisa kerja, San. Untung lu temen lama gue. Ya udah nanti lu cari, seharusnya lu punya inisiatif dong tanya semua hal yang harus lu tau ke gue, terus anak buah lu dimana? Bolos?" tanya Uge.
“Di lapangan, ngawasin pembangunan Al Kahfi Land,” jawab Santoso.
"Hah ngapain? Emangnya mereka arsitek? Waduh, berantakan banget cara lu nanganin perusahaan saat gue enggak ada," ujar Uge kesal.
"Sebelum kecelakaan kan kamu pernah minta aku bantu ngawasin lapangan, lalu aku minta mereka menggantikan tugasku, karena aku sedang fokus menangani masalah kesehatan kamu," sahut Santoso.
"Hah? Fokus sama kesehatan gue? Emang lu dokter? Lu fokus sama bidang lu dong, urus kantor!" Bentak Uge.
"Oke Angga, maaf ya," ujar Santoso sabar.
"Satu lagi San, lu enggak bisa panggil gue 'Pak Erlangga? Jangan mentang-mentang kita temen, terus lu enggak mau hormatin gue, kan gue sekarang atasan lu, San. Bukannya gila hormat, cuma kalo lu sembarangan sama gue manggil 'Angga', nanti yang lain-lain juga ikut," ujar Uge.
Santoso hanya mengangguk, ia mulai merasakan perubahan sikap Uge. Benar kata Profesor Fikri, Uge sedang membangun identitas barunya.
Bagi orang yang baru kenal Uge setelah kecelakaan, Uge terlihat normal, sebagai penggerak perusahaan yang handal, bahkan dengan identitas barunya dia memiliki tangan besi yang mampu mempercepat kerajaan bisnisnya bersanding dengan perusahaan-perusahaan besar, Uge pun telah memodifikasi penampilan dan gaya hidupnya agar pantas duduk di singasana itu. Urusan akhirat yang dulu selalu melekat pada ucapan dan perbuatannya juga telah dilupakannya. Hanya Santoso yang tahu bahwa Uge telah menjadi manusia baru bernama Erlangga Yusuf, jangan panggil lagi dia dengan nama Angga, apalagi Uge, karena itu bukan namanya lagi.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1