Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Tepat Di Waktu Tak Tepat


__ADS_3

Al Kahfi Land, Depok, 2004


Sebuah ruang di kantor segitiga yang biasanya terlihat terang dari rumah kotak, malam ini tampak gelap, sehingga membuat Erlangga merasa ada sesuatu yang hilang dari kawasan danau ini. Biasanya ia seolah tak pernah butuh orang lain, tapi sejak malam pertemuannya dengan Widi, rasa rindu mendadak menghampirinya, ia ingin sekali mengulangi waktu dimana ia merasa sangat nyaman.


Erlangga tidak pernah punya pasangan, tetapi kebanyakan orang mengira ia punya hubungan istimewa dengan Soffie. Sebenarnya kedekatan mereka hanya karena keduanya butuh figur saudara kandung yang tidak mereka miliki. Sejak awal bekerja, Soffie telah menempatkan diri sebagai adik Erlangga, sehingga Soffie tidak sama dengan dayang-dayang kantor cantik lain yang selalu berusaha memikat hati Erlangga. Soffie juga berasal dari keluarga yang tingkat sosialnya setara dengan Erlangga, sehingga ia pun tak butuh kelebihan materi Erlangga. Keduanya telah nyaman dengan hubungan kakak-adik sehingga sulit berkembang ke arah lain.


Sebulan yang lalu, diam-diam, ternyata Erlangga telah menjalin hubungan dengan Vanessa, seorang model papan atas yang ditemuinya ketika menghadiri perhelatan kaum sosialita. Erlangga mau hadir karena merasa sudah saatnya keluar sangkar mencari pasangan untuk menikah.


Kehadiran laki-laki seperti Erlangga tentunya tidak akan disia-siakan perempuan-perempuan yang juga mencari pasangan di tempat itu, yang berhasil mencuri perhatian Erlangga adalah Vanessa. Erlangga yang mentah pengalaman soal perempuan, dengan polos mengatakan pada Vanessa bahwa ia memang mencari pasangan untuk menikah. Vanessa tak mau menyia-nyiakan kesempatan, sangat mudah baginya menaklukan Erlangga yang mencari calon istri yang sepadan, bukan yang tepat. Fisik, penampilan dan status sosial mereka memang sepadan. Vanessa hanya butuh waktu satu minggu untuk membuat Erlangga mengajaknya bertunangan.

__ADS_1


Itu adalah keputusan terbodoh Erlangga! Setelah pasangan ini meneteapkan tanggal untuk pesta pertunangan, 2 manusia yang tampak sepadan ini ternyata sama sekali tidak cocok. Vanessa lebih banyak tinggal di luar negeri, di negara yang serba bebas, negeri yang menjadikan pelanggaran norma dan susila sebagai hak asasi manusia. Vanessa tidak membatasi kedekatannya dengan laki-laki manapun yang ia suka, ia akrab dengan minuman keras, obat-obatan terlarang dan kehidupan malam. Vanessa juga mulai menunjukkan perangai aslinya yang ternyata lebih kasar dari Erlangga, ia bahkan tak segan-segan mengucapkan 'kata kotor' dan menyerang fisik di depan umum saat marah. Vanessa sama sekali tidak tertarik dengan tema diskusi yang Erlangga suka, bahkan ia tidak mau menghargai untuk sekedar mendengar, ia pasti langsung menyudahi atau memotong kalimat Erlangga.


Erlangga tidak akan kuat hidup bersama perempuan seperti ini. Banyak yang salah sangka pada Erlangga, ia memang pengejar dunia sejati dan tidak peduli urusan agama, tetapi ia bukan manusia pengejar kesenangan seperti Vanesssa dan kebanyakan anak-anak buah hedonnya di kantor. Erlangga sangat menjaga diri dari hal-hal yang dianggap tabu dalam budaya timur, ia tidak doyan alkohol dan kebiasaan-kebiasaan yang merusak kesehatan, ia tak suka curi-curi kesempatan menyentuh perempuan, bahkan sentuhan biasa di dunia pergaulan. Erlangga seorang penyendiri yang tidak nyaman dengan keramaian, ia lebih suka menenggelamkan diri dengan pekerjaan, buku dan hobi-hobinya. Ia bahkan seolah tidak membutuhkan orang lain untuk membuatnya bahagia.


Erlangga menyesali pertunangannya, tapi ia butuh alasan yang kuat untuk menyudahinya, karena perempuan seperti Vanessa bisa saja melakukan hal-hal yang merugikan nama baiknya jika Erlangga salah langkah.


Erlangga menyesal tidak berdiskusi soal keinginannya mencari jodoh pada Soffie. Adik angkatnya itu memang terlalu posesif untuk urusan ini, ia selalu menyortir perempuan yang mendekati Erlangga, ujung-ujungnya ia selalu berkomentar negatif, kurang cantik, kurang berkelas, kurang pintar, kurang perhatian, selalu ada saja kekurangan yang ditemukannya. Erlangga tak mau membujang seumur hidup, apalagi ia tahu Soffie juga sedang dekat dengan seseorang dan telah merencanakan pernikahan. Walau cuma adik angkat, tapi ia tak mau dilangkahi Soffie, hal itu juga yang membuat Erlangga latah bertunangan.


Erlangga tampak termenung di area L, pikirannya melayang menyesali hubungannya dengan Vanessa, apalagi saat kenangan bergurau bersama Widi di tempat ini melintasi pikirannya. Tak pernah terjadi sebelumnya, Erlangga malas berlama-lama lagi di rumah kotak, ia memutuskan pulang dan akan kembali ke kantor saat Widi telah selesai cuti.

__ADS_1


Erlangga tak mengerti, tiba-tiba Wajah Widi terus menghantui pikirannya, jantungnya tak mau berhenti berdesir saat menapaki jalan yang ia lalui bersama Widi ketika hujan, rindunya pun semakin hebat saat memandangi ruang gelap itu. Ya, Erlangga jatuh cinta pada Widi.


 


 


***


Bersambung

__ADS_1


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


__ADS_2