
Tiba-tiba dari panggung terdengar suara Pak Dheng. Ia sudah berdiri di sana bersama pemain drum dan bass.
"Assalamualaikum semuanya! Santai aja, saya bukan mau ngajar kok, cuma mau berada di tengah anak muda supaya awet muda. Tapi sebenarnya ada oknum mahasiswi yang mendorong saya ke panggung, makanya biar adil, saya minta dia juga naik ke panggung. Beri applause untuk teman kita, Dewi!" panggil Pak Dheng disusul tepuk tangan penonton.
Belum sempat Dewi menemukan kata yang tepat untuk Uge, ia diminta naik ke panggung oleh Pak Dheng. Dewi segera meninggalkan Uge tanpa kata-kata, wajahnya tidak lagi cerah.
Uge sangat menyesal, semangatnya untuk bertemu Widi juga hilang, sekarang ia lebih ingin menyelesaikan masalah dengan Dewi, walau kesempatannya bertemu Widi hilang. Ternyata perkataan Widi benar, Uge tidak akan pernah ada dalam sejarah Widi..
"Assalamualaikum Dewi, terimakasih ya undangannya," sapa Pak Dheng menghampiri Dewi yang telah berada di panggung.
"Wa alaikumsalam Pak, saya yang terima kasih, Pak Dheng mau datang," sahut Dewi ramah, ia berjuang habis-habisan menutupi kesedihannya.
Pak Dheng kembali mendekati microphon untuk bicara pada penonton," Teman-teman, ada yang belum tahu? Teman cantik kita, Dewi, adalah pianis jazz yang sangat merdu suaranya, dia harus membuka acara malam ini setelah break dengan suara dan pianonya," seru Pak Dheng, membuat penonton bertepuk tangan.
Uge terperangah mendengar ini, Widi akan menjadi pengisi acara pertama setelah break sholat Isya, Dewi adalah Widi, serius?
Uge memperhatikan Dewi dengan seksama sambil mengingat perjalanan chattingnya dengan Widi.
Oh, pantas Widi sangat mengenal ITB. Rupanya dia enggak sekedar mampir. Widi telah mencatat malam ini sebagai peristiwa penting, Dewi satu-satunya perempuan yang sesuai dengan petunjuk. Widi bilang moodnya rusak sebelum naik panggung, ternyata aku perusaknya! Gumam Uge.
Uge yakin Dewi dan Widi adalah orang yang sama, rasa bersalahnya hilang, senyumnya mengembang lebar bagai baru memenangkan lotere.
Kesedihan Dewi terbaca Pak Dheng, ia sempat melihat Dewi dan Uge sebelum memanggil Dewi ke panggung. Sepertinya Dewi ada masalah dengan Uge, mungkin menyatukan mereka di panggung, bisa menenangkan hati dua anak muda ini, gumam Pak Dheng.
"Kurang lengkap nih kalo enggak pakai gitar, saya mau panggil satu orang lagi. Kebanyakan orang pasti tahunya dia cuma seorang calon arsitek berbakat, padahal dia juga gitaris jazz handal yang selalu menyembunyikan talentanya, tapi malam ini dia harus tunjukkan, Angga silahkan naik ke panggung!" panggil Pak Dheng, suara tepukan kembali terdengar.
Uge tak menyangka namanya disebut, ia langsung menjadi pusat perhatian. Seandainya bukan Pak Dheng, Uge pasti menolak, tetapi karena sangat menghormati Pak Dheng, ia terpaksa naik ke panggung.
"Pak Dheng iseng banget nih," ujar Uge sambil mencium tangan Pak Dheng.
Pak Dheng memberi kode pada Uge untuk menenangkan Dewi dulu, Uge mengangguk.
"Baik teman-teman, saya mau pilih lagu romantis, semoga bikin teman-teman yang sudah punya pasangan segera menikah. Karena halal itu indah, sehat dan berkah! I'm in the mood for love, oke teman-teman? O iya, saya mau cerita sedikit tentang lagu ini ……” celoteh Pak Dheng ke penonton, ia sengaja mengulur waktu dan mengalihkan perhatian.
"Dewi maafin aku ya," kata Uge pelan.
"Kamu enggak salah kok, udah ah, nanti kita dilihatin orang-orang nih," sahut Dewi malas meladeni Uge.
"Dewi, yang aku tunggu itu ternyata kamu," ujar Uge.
Dewi menatap Uge, ia bingung dengan kalimat Uge.
"Boleh enggak bikin satu janji lagi untuk kamu? Insya Allah kali ini aku bisa tepati," pinta Uge.
"Janji mau telepon lagi?" sahut Dewi sinis.
"Ngajak kamu ngobrolin rencana pernikahan kita, setelah ini," ujar Uge sambil menatap wajah Dewi.
Wajah Dewi kembali cerah dan pipinya memunculkan rona merah. Pak Dheng menoleh ke arah Dewi, ia sudah kehabisan bahan untuk mengulur waktu.
“Angga! Jangan ngerayu Dewi di panggung! Mainkan dulu lagunya!” canda Pak Dheng yang telah yakin masalah 2 anak muda itu telah selesai. Penonton terawa dan kembali memberikan applause..
Uge memainkan intro lagu, saxophone Pak Dheng menyambutnya, kemudian terdengarlah lantunan piano dan suara merdu Dewi serta semua instrumen.
"I'm in the mood for love simply because you're near me
Funny but when you're near me, I'm in the mood for love.
Heaven is in your eyes, bright as the stars we're under,
Oh, is it any wonder, I'm in the mood for love ....
Setelah lagu selesai, tepuk tangan penonton bergemuruh keras. Sebagian penonton senang musiknya, sebagian yang lain senang menangkap wajah sepasang anak muda yang terlihat jelas saling jatuh cinta, tentunya ada juga yang tidak senang, cemburu.
Saat Uge turun dari panggung, beberapa teman menyambutnya, "Wah Angga, baru tahu kamu jago main gitar," kata Lisa.
"Bukan cuma jago gitar, tapi jago deketin cewek juga," timpal Rani ketus, Uge hanya tersenyum.
Dewi bertindak cepat menyelamatkan Uge dari serangan teman-temannya. "Teman-teman, maaf aku duluan ya, aku udah pamit sama Pak Dheng," ujar Dewi.
"Geulis!" teriak Dipa ke Dewi.
"Kenapa Dipa?" tanya Dewi.
Wajah Dipa terlihat tak senang, tanpa menyahut Dipa mendekati Uge. Dipa semakin mengintimidasi Uge dengan lebih mendekatkan wajahnya. Panita yang berada di dekat mereka mulai memberi perhatian khusus, kuatir terjadi keributan. Wajah Uge tetap terlihat santai.
Tiba-tiba Dipa tertawa, "Kamana wae? (kemaana aja?) Urang (saya) mampir ke kos mau pinjem bor buat proyek, maneh (kamu) teh ngilang, seminggu anyiiing," tanya Dipa.
"Kunci kos teh urang titip ka Andi," sahut Uge.
“Beeuh Si Jenggo mah cicing wae! (diam aja)”
Panitia tampak lega. Rupanya urusan pinjam bor.
"Geulis, kunaon pilih eta barudag bulug? Perasaan urang teh lebih kasep,” tanya Dipa pada Dewi seolah berbisik,
“Kamu sendiri yang bilang, daripada musik metal, lebih baik musik jazz, kamu kan rocker!” sahut Dewi seolah berbisik juga.
Dipa langsung bernyanyi, “Rocker juga manusiaaaaaa!”
*****
Kampung Daun, Bandung, 1999
Menurut survei dari lembaga tidak resmi, 2 dari 3 mahasiswa perantauan di Bandung pasti bertemu jodohnya di sini. Sebagai mahasiswa perantauan, Uge tampak berpeluang menambah daftar statistik tidak resmi itu, tetapi Uge juga telah memperhitungkan informasi dari chatting lintas waktu, ia akan menjadi 'Sang Mantan', karena kenyataannya di tahun 2004 Widi atau Dewi belum menikah.
Untungnya Uge punya jiwa pantang menyerah dan selalu optimis, ia tak peduli, seperti yang pernah ia katakan, orang yang telah melewati waktu, belum tentu telah mengungkap rahasia takdir. Saat ini Uge tak mau merusak suasana memikirkan perpisahan, ia ingin menjalani sisa jatah waktunya bersama Dewi dengan manis dan akan berjuang lagi mencari Widi di masa depan untuk memperbaiki lagi hubungannya mereka.
Tidak seorang pun tahu Uge punya rumah di kawasan pegunungan dekat Kampung Daun, salah satu rumah dari proyek propertinya yang sengaja tidak ia jual. Uge lebih betah tinggal di Kosan Bodas, sehingga ia tidak menempati rumahnya. Uge mengajak Dewi ke sana bersama Mang Asep. Selain karena Dewi dilarang orangtuanya pergi tanpa sopirnya, Uge juga teringat nasehat ustadnya Jangan membuka peluang maksiat, walau tidak punya niat ke arah itu. Tak sampai setengah jam, mereka telah sampai di rumah Uge.
__ADS_1
Rumah Uge berada di tepi lereng pegunungan. Bangunan minimalis ini memilik pekarangan luas di bagian belakangnya dan di bagian ujungnya yang mendadak curam terdapat kolam-kolam yang diapit 2 anak tangga kecil untuk menuju area yang lebih rendah. Di bagian bawah inilah sudut pandang terbaik untuk menikmati pemandangan kelap-kelip malam Kota Bandung dari atas pegunungan.
Uge menyalakan perapian sementara Dewi berdiri di dekat pagar pembatas lereng curam menikmati pemandangan di sekitarnya. Mang Asep ngotot ingin menonton siaran ulang pertandingan Persib melawan Persija di dalam rumah, padahal ia ingin memberi kesempatan dua muda-mudi ini untuk bebas ngobrol.
"Rumah kamu arsitekturnya keren banget," puji Dewi sambil duduk di dekat Uge.
"Cuma rumah kecil, sekedar tabungan masa depan," sahut Uge sambil mengambil gelas berisi minuman jahe hangat untuk Dewi. “Ayo dicicip, mumpung masih hangat.”
Dewi mengirup aroma hangat dan meneguk minuman dari gelas di tangannya, “Baru kelar sidang tapi udah punya rumah sendiri, pantas, jarang kelihatan di kampus.”
"Alhamdulillah, Wi. Oh iya, nama lengkap kamu siapa sih?" tanya Uge, ia heran kenapa Dewi memakai nama Widi saat chatting.
"Dewidi... Nata... Prayogi," jawab Dewi berusaha memenggal namanya dengan jelas.
Jawaban Dewi membuat Uge mengernyitkan dahi, "penggalannya gitu? Bukan Dewi... Dinata... Prayogi?" tanya Uge yang memenggal nama Dewi dengan cara yang ia kira.
"Nah itu, banyak yang suka salah penggal. Namaku singkat, cuma Dewidi, makanya belakangnya ditempel nama bapakku. Kebanyakan orang memanggilku Dewi, bahkan termasuk Andi yang sering ke rumah dari kecil, padahal keluarga dekat memanggilku Widi," ujar Dewi.
"Oh gitu, jadi Nata Prayogi itu bapak kamu? Itu Pak Nata yang lagi sering muncul di Koran?" tanya Uge memastikan.
"Bapak emang lagi sering muncul di koran," jawab Dewi.
Uge tidak menyangka, ternyata Dewi adalah anak Pak Nata, orang yang memodali Al Kahfi Land, karena Agi tidak dapat persetujuan dari ayahnya. Lalu apa iya Erlangga Yusuf yang diceritakan Widi adalah aku sendiri? tanya Uge dalam hati.
"Kamu punya saudara kandung laki-laki?" tanya Uge mencari kemungkinan lain.
"Aku anak satu-satunya," jawab Dewi.
Jika aku adalah Erlangga Yusuf, pemilik Al Kahfi Land yang diceritakan Widi, kenapa hubunganku dengan Widi seolah baru saling kenal? Lalu kenapa sifatku jadi berubah total? Dan kenapa pula Widi enggak tahu kantor itu juga milik ayahnya? tanya Uge dalam hati.
Uge bingung, setelah mendapat banyak informasi baru, ia malah jadi sulit memahami peristiwa di masa depan. Widi mengenalnya dengan nama Uge dan Dewi mengenalnya dengan nama Angga, hal sepele itu bisa dibereskan sekarang, tapi sayangnya ia telah berjanji pada Widi untuk bicara tentang masa depan. Sudahlah, yang penting Widi adalah Dewi, soal lain enggak perlu dipikirkan sekarang, ada hal yang lebih penting untuk kusampaikan pada Dewi.
"Oke, sekarang aku mau bicara dengan jelas. Aku mau melamar kamu jadi istriku," ujar Uge.
"Serius?" tanya Dewi.
"Serius," sahut Uge.
"Angga, kamu nyatain perasaan aja enggak, ngajak pacaran juga enggak, tahu-tahu langsung ngajak nikah. Segala sesuatu itu kan perlu proses," sahut Dewi.
"Oke, aku jelasin alasannya kenapa aku langsung ngelamar, dalam aturan agama kita, hubungan laki-laki dengan perempuan punya batasan, intinya pacaran itu enggak boleh," ujar Uge.
"Apa iya aturan agama sekaku itu?" tanya Dewi.
"Gini. Aku kan biasa main proyek. Aturan wajib pakai atribut keselamatan untuk pekerja, selalu di anggap kaku. Padahal pekerja tahu, di proyek resiko kecelakaannya tinggi, angka korbannya banyak," ujar Uge.
"Ya kalo tentang proyek aku setuju. Gini, aku kan enggak pernah pacaran, jadi argumenku pasti netral. Ngapain agama melarang orang pacaran, emang resikonya nyawa?" tanya Dewi.
"Emang pacaran itu apa sih?" tanya Uge.
"Pacaran itu hubungan dekat antara laki-laki dan perempuan sebelum menikah, tujuannya untuk saling melindungi, jadi teman tukar pikiran, penyemangat hidup dan sebagainya," jawab Uge.
"Kamu yakin cuma itu yang dilakukan orang pacaran? Kalo gitu apa bedanya dengan temenan atau sahabatan?" tanya Uge.
"Aku enggak berpikir negatif tetapi ilmiah. Saat manusia berusia muda, libido atau hasrat kebutuhan biologis manusia sedang tinggi-tingginya, sementara kemampuan kontrol diri sedang rendah-rendahnya. Pacaran jelas beda dengan pertemanan atau persahabatan, ada urusan melegalisasi sentuhan fisik di luar pernikahan. Kamu mau menyangkal itu?" tanya Uge.
"Hmm, ya tapi mungkin sentuhan fisik orang pacaran kan enggak sampai seperti orang menikah," ujar Dewi.
"Siapa yang berani jamin? Awalnya cuma pegangan tangan, tapi pasti bakal penasaran untuk naik kelas, naik kelas lagi, kelas lagi, kalo terus-terusan naik kelas, maka akan?" tanya Uge.
"Lulus!" jawab Dewi sambil tertawa.
"Itu dia! Lulus alias hamil, padahal belum menikah. Itulah kenapa aturan agama melarang, karena pacaran itu beresiko hamil," ujar Uge.
"Ah, tapi kan banyak yang pacaran tapi enggak hamil?" kilah Dewi.
"Aku bilang beresiko hamil, bukan pasti hamil. Misal, kalo di kawah beracun ada tulisan peringatan 'Awas kawasan beracun, beresiko kematian!', ternyata enggak semua yang nekat ke situ mati, apa lantas peringatan harus dicabut?" tanya Uge.
"Hmm, betul juga sih, tapi gimana dong? Pacaran kan udah dianggap hal biasa, sudah jadi bagian tradisi kita."
"Nah itu letak kesalahannya, kalo sudah tradisi jadi dianggap benar, dan enggak ada yang mau merubah tradisi salah. Orang tua yang enggak mengizinkan anaknya pacaran malah jadi tokoh antagonis, mereka terpaksa membiarkan anak-anaknya yang belum siap menikah menjalin hubungan beresiko supaya enggak dibilang kolot," ujar Uge.
"Mereka bingung melarangnya," ujar Dewi.
"Nah itu, ada yang aneh enggak? Laki-laki ingusan, baru kenal, dan pasti belum tentu bisa bertanggung jawab, malah dipercaya untuk pinjam anak gadisnya. Tapi kira-kira dikasih enggak? kalo laki-laki ingusan yang enggak dikenal itu pinjam mobil, sertifikat tanah, ATM dan sebagainya," tanya Uge.
"Hahaha, oke aku setuju, terus jadi yang bener kaya kamu gini, enggak ada proses? tanya Dewi.
"Enggak ada proses? Justru aku ngejalanin proses dengan urutan yang benar. Pertama adalah kesiapan, Insya Allah aku udah berusaha mempersiapkan diri, mulai dari pengetahuan agama, mental, finansial dan sebagainya sebelum mencari pendamping hidup. Kedua, setelah siap, baru boleh cari calon pasangan. Ketiga pendekatan, hehe, kok kamu ketawa sih?" tanya Uge.
"Hihihi, jadi proses ketiga cuma butuh beberapa jam?" tanya Dewi.
"Lama atau sebentar itu kan tergantung soal ketampanan," canda Uge.
"Hahaha. Terus yang proses keempat pasti ngelamar! Bukan nembak ngajak pacaran, bener kan?" tanya Dewi.
"Cerdas! Mana yang lebih mencerminkan sikap tanggung jawab? Nembak atau ngelamar? Nembak itu mirip emak-emak zolim yang beli buah, belum tentu beli tapi buahnya dicomotin duluan, bener enggak?" tanya Uge.
"Iya, iya! Proses kelima pasti menikah?" tanya Dewi.
"Kamu kok ngebet banget sih? Bapak si perempuan kan belum tentu setuju, deketin dulu dong keluarganya! Gimana kalo kita kembali ke tema penting malam ini. Jadi lamaran aku diterima?” tanya Uge.
"Angga, aku kan baru kenal kamu kemarin. Masa ngomong nikah se-instan ini?" tanya Dewi.
“Ah, yang nembak aja butuh jawaban segera, apa lagi yang serius!” ujar Uge.
“Justru itu, ini lamaran,” sahut Dewi.
“Ini cuma soal mindset. Gini, anggap aja aku nembak ngajak kamu pacaran deh, tapi bedanya, hubungan kita ini punya tujuan dan tanggal yang jelas. Ditambah kita juga enggak akan melakukan kebiasaan orang pacaran, sampai hubungan ini halal, kamu mau jadi pacarku dengan gaya pacaran tadi?” tanya Uge.
“Hmm, lebih halus. Pinter banget milih kalimat, padahal ngelamar juga,” sahut Dewi sambil tertawa.
“Habis kamu takut banget denger kata nikah. Tuh, aku udah nembak, sekarang jawaban kamu gimana?” tanya Uge.
__ADS_1
“Angga, kamu kan tahu aku masih kuliah dan aku yakin keluargaku juga belum siap anaknya menjalin hubungan seserius ini,” sahut Dewi.
“Aku enggak ngajak nikah besok, Dewi. Kalo kamu udah menyatakan bersedia, masalah tanggal dan sebagainya memang harus sesuai kesepakatan bersama. Kamu maunya nikahnya setelah kamu lulus?” pancing Uge.
“Bisa 3 tahun lagi lho,” jawab Dewi.
Uge tersenyum, ia yakin Dewi telah menerima pinangannya, tapi ia tak mau menikah sebelum lulus kuliah.
“Nah bandingin, kalo kita pacaran dengan cara biasa dan ternyata enggak berjodoh setelah 3 tahun, pihak mana yang dirugikan? Tapi dengan caraku, kita jalanin hidup cukup seperti berteman tapi udah enggak pusing urusan jodoh lagi, kalo pun gagal, setidaknya enggak ada pihak yang dirugikan, kalo sama-sama ngebet, tanggalnya bisa dipercepat,” ujar Uge.
“Kayak orang tunangan?” tanya Dewi.
“Mirip, tapi enggak boleh pacaran. Gimana?” tanya Uge.
“Aku tetap butuh waktu untuk jawab itu, Angga,” jawab Dewi.
“Pasti, namanya juga perempuan. Oh ya Dewi. aku itu udah kenal dan dekat sama bapak dan ibu kamu," ujar Uge.
"Oh iya, dekat gimana?" tanya Dewi.
"Deket banget, bahkan kalo aku ngomong, aku yakin kita disuruh nikah tahun ini juga, yuk besok kita ngomong ke mereka,” ajak Uge.
“Angga, sabar dikit kek! Aku masih kuliah, emang boleh ke kampus bawa anak?” tanya Dewi polos.
Uge tertawa, ia yakin seribu persen Dewi telah menerima pinangannya.
"Kenapa?" tanya Dewi heran.
“Ini yang ngebet siapa sih?” tanya Uge.
“Hah? Oh.. Hahaha... maksud aku....”
“Hahaha,”
“Udah ah, aku pulang!” ujar Dewi.
“Iya, maaf. Hahaha,” sahut Uge.
Dewi dan Uge ngobrol hingga Mang Asep mengajak Dewi pulang. Malam ini Uge menginap di rumahnya sendiri. Sepanjang malam Uge berusaha mengabaikan kenyataan masa depan yang ia ketahui dari chatting lintas waktu, Uge terus meyakinkan dirinya bahwa hubungannya dengan Dewi akan baik-baik saja dan tetap berharap bisa segera menikah, apalagi ia juga memang dekat dengan Pak Nata. Uge pun terkenang perjalanannya di hutan pinus bersama Pak Nata seminggu yang lalu.
*****
Al Kahfi Land, Depok, 1999
"Bapak senang ide Angga mempertahankan hutan ini biar jadi paru-paru pinggiran Kota Jakarta. Pokoknya, semua bapak percayakan aja sama Angga," kata Pak Nata.
"Terimakasih Pak Nata," jawab Uge sambil mengikuti Pak Nata berjalan menelusuri jembatan dermaga yang baru selesai.
"Oh iya, tapi bapak mau pesan satu. Nanti Angga bikin satu bangunan tempat pendidikan untuk anak-anak yang orang tuanya enggak mampu, supaya bisa belajar ilmu agama dan bisnis. Di sebelah mana dan gimana bentuknya, Angga aja yang atur," ujar Pak Nata.
"Insya Allah, Pak Nata. Mudah-mudahan Angga juga bisa seperti Bapak, peduli sama orang-orang kecil," sahut Uge.
"Bapak justru banyak belajar dari Angga, terimakasih udah ngajak Bapak dan Ibu ke pengajian, mudah-mudahan semua urusan dunia kita juga selalu seiring dengan urusan akhirat," ujar Pak Nata.
"Aamiin, terus gimana dengan anak bapak? Kapan bapak mau Angga libatkan?" tanya Uge, saat itu ia tentu belum tahu Dewi adalah anak Pak Nata.
Pak Nata tersenyum lalu memegang pundak Uge, "Angga, saat ini anak bapak belum waktunya belajar urusan bisnis, bapak ingin dia belajar agama dulu. Selama ini, bapak kurang memperhatikan urusan agamanya, untungnya dia bisa tumbuh jadi anak yang baik, insyaAllah. Tapi saat hisab, baik aja kan enggak cukup. Nanti apa yang bisa dia dan bapak jawab, saat diperiksa amalan sholat dan yang lainnya?" keluh Pak Nata.
"Alhamdulillah Pak, masih banyak kesempatan untuk bapak bimbing," ujar Uge.
"Itulah yang bapak mau sampaikan, bapak berharap, Angga mau bantu bimbing anak bapak dalam agama. Kalo urusan agama udah bagus, baru Angga bantu dan libatkan dia untuk mengelola perusahan ini bersama, tapi nanti Angga yang harus tetap jadi pemimpin kantor, semua ini kan ihktiar kamu. Makanya Angga nanti usahakan sering main ke rumah Bapak, biar dekat dengan anak Bapak, hobi kalian sama, sama-sama suka nukang, insyaAllah kalian cocok," ujar Pak Nata.
"Insya Allah, Angga akan berusaha Pak, mudah-mudahan Angga mampu," sahut Angga.
Pak Nata puas dengan jawaban Uge. Jika Uge paham, sebenarnya Pak Nata berniat menjodohkan Uge dengan Dewi. Tapi Uge terlalu polos, ia mengira Pak Nata tertarik hanya karena cocok berbisnis dengan Uge. Padahal Pak Nata sudah tak terlalu butuh uang lagi, apalagi dari Uge. Sebagai orang tua yang memiliki harta berlimpah, ia hanya ingin masa tuanya tenang, menikahkan anak satu-satunya dengan laki-laki baik yang diyakini dapat membahagiakan anaknya dunia dan akhirat.
Pak Nata mengagumi sosok Uge yang masih muda tetapi sudah sangat matang, Uge berani mengajaknya untuk kerjasama bisnis, Uge juga yang mendekatkannya dengan agama. Masalahnya, menjodohkan anak zaman sekarang biasanya malah menimbulkan resistansi, sehingga Pak Nata berencana akan mendekatkan Uge dengan Dewi dalam kegiatan bisnis yang ditawarkan Uge. Tetapi rencana tersebut terpaksa ia tunda karena ada masalah besar yang harus diselesaikan Pak Nata.
.
"Sebenarnya ada hal yang mengganggu pikiran bapak," ujar Pak Nata.
"Boleh Angga tahu, Pak?" tanya Uge.
"Masalah ini enggak ada hubungannya dengan bisnis kita, ini masalah Bapak sebagai penegak hukum. Hasil pemeriksaan yang bapak pernah cerita ke Angga, ternyata menyeret nama orang-orang besar, tapi bapak tetap memprosesnya secara hukum, sehingga mereka mulai melakukan teror," kata Pak Nata.
"Astaghfirllohaladzim, teror apa pak? Sudah lapor polisi?" tanya Uge terkejut.
"Sudah, ada orang enggak dikenal beberapa kali melempari rumah dengan batu, mereka juga mengancam lewat telpon akan menghabisi nyawa saya dan keluarga. Bapak sih enggak takut, yang Bapak kuatirkan adalah anak dan istri," ujar Pak Nata.
"Kalau gitu sebaiknya ngungsi dulu aja atau sewa orang keamanan sampai kondisinya aman, mau Angga bantu?" usul Uge.
"Benar juga. Terimakasih Angga, tapi biar masalah keselamatan keluarga menjadi tanggung jawab saya saja," ujar Pak Nata.
Dari kejauhan terdengar sayup suara adzan dhuhur. "Sudah masuk waktu, mau ke masjid Pak? Lokasi masjid lumayan jauh dari sini," ajak Uge.
"Artinya jika karyawannya sudah ramai tempat ini juga butuh masjid. Ayo kita berangkat sekarang," sahut Pak Nata.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1