
Jakarta, 2004
Di restoran mewah hotel bintang lima, seorang pelayan menghampiri meja untuk membenahi piring-piring yang tak lagi disentuh oleh pasangan yang duduk disitu.
"Boleh saya angkat, Pak?" tanya sang pelayan sopan.
"Silahkan," jawab Erlangga singkat. Pelayan itu mengambil piring di dekat Erlangga.
"Kalo yang ini sudah boleh saya angkat, Bu?" tanya pelayan itu sambil menunjuk piring di dekat Vanessa. Tak ada jawaban dari Vanessa, ia tak mau mengalihkan perhatian dari ponselnya, sesekali ia tertawa sendiri.
"Angkat aja, Mas," jawab Erlangga.
"Baik Pak, terimakasih," sahut sang pelayan.
Setelah pelayan itu meninggalkan mereka, suasana di meja itu kembali sangat sunyi, tak ada obrolan yang keluar dari pasangan ini, walau mereka jarang bertemu.
Vanessa lebih suka sibuk dengan ponselnya ketimbang menanggapi tema diskusi Erlangga yang terlalu berat untuknya, sementara Erlangga juga lebih suka diam mengamati sekitarnya ketimbang menanggapi tema diskusi Vanessa yang terlalu remeh untuknya, seputar masalah sepele anak-anak manja yang dibesar-besarkan. Seorang teman perempuan Vanessa, Si A marah besar dengan seorang teman laki-laki Vanessa, Si B, hanya karena ia tidak bisa cuti untuk berlibur ke Bali, A dan B adalah pasangan. Akhirnya Si A tetap pergi ke Bali, tetapi dengan laki-laki lain, sehingga membuat Si B melarikan masalahnya dengan mabuk-mabukan di bar. Tentunya ini bukan diskusi yang menarik buat Erlangga, apalagi Vanessa memaksa Erlangga ikut ke bar untuk menghibur sahabatnya Si B. Jawaban Erlangga membuat Vanessa tak pernah lagi bercerita, Si A perempuan murahan, Si B laki-laki lemah, tak ada gunanya membahas apalagi terlibat urusan ***** itu.
Erlangga memandangi jarum detik pada jam tangannya yang terasa bergerak sangat lambat, ia sudah sangat bosan menontoni orang-orang bahagia di meja-meja lain sekeliling restoran ini, akhirnya ia angkat bicara, "kamu lagi SMS-an sama siapa sih?"
Vanessa menjawab dengan mata yang tetap melekat pada ponselnya. "Oh, ini lho honey. Pak Tio, pejabat itu, dia genit banget ternyata! Padahal udah tua bangka, udah punya cucu, tapi ngerayu aku terus."
Vanessa masih saja membalas SMS sambil senyum-senyum.
"Terus kamu ladenin?" tanya Erlangga.
"Habis rayuannya norak banget, lucu banget deh, makanya aku kerjain aja sekalian," sahut Vanessa tanpa melihat Erlangga yang wajahnya terlihat marah.
"Kamu sama kok genitnya dengan dia," sahut Erlangga dingin.
__ADS_1
Vanessa kesal, ia menatap wajah Erlangga lalu membanting ponselnya ke meja dengan keras sehingga orang-orang di dekat mereka kaget dan memandangi mereka.
"Anj**g! Kamu bilang apa?" bentak Vanessa.
Mereka kini jadi tontonan. Erlangga diam tapi matanya menatap Vanessa dengan tajam.
"KAMPUNGAN!" bentak Vanessa semakin keras. Orang-orang mulai berbisik-bisik membicarakan mereka
"Aku ngeladenin SMS supaya enggak bosen! Biar kamu tahu, kamu itu ngebosenin! Pacaran maunya di tempat umum terus! Sok suci!” Vanessa meracau tanpa memperdulikan orang-orang disekelilingnya.
Erlangga tak meladeni, ia melambaikan tangan, memanggil pelayan untuk segera membayar.
Vanessa tiba-tiba sadar, ternyata strategi mengamuk tidak mempan untuk laki-laki ini. Saat pelayan datang, Vanessa menunjukkan jarinya ke arah pelayan itu agar ia kembali menjauh, sambil menarik nafas dalam-dalam untuk meredam emosinya, Vanessa menatap Erlangga dengan wajah yang dibuat sedih.
"Kok jadi kamu yang marah?" tanya Vanessa pelan, ia berubah jadi lembut.
"Maafin aku ya honey, kalo kamu enggak suka aku SMS sama laki-laki lain, berarti kamu memang sayang sama aku," rayu Vanessa sambil memasang suara dan wajah yang sangat sedih.
"Honey, aku kan calon istri kamu, kamu tega ngebiarin aku nangis?" tanya Vanessa ikut berdiri sambil berjuang keras mengeluarkan air mata.
"Aku harus gimana?" tanya Vanessa, akhirnya ia berhasil menjatuhkan air mata ke pipinya.
Erlangga menatap Vanessa dengan raut wajah tegas, "aku antar kamu pulang."
"Iya, iya, asal kamu jangan marah terus sama aku," ujar Vanessa sambil tersenyum, ia ingin meraih lengan Erlangga, tapi Erlangga segera menjauh menghampiri pelayan.
Di mobil, Erlangga menyetir tanpa bicara, Vanessa pun ikut diam karena tak sepatah kata pun ditanggapi Erlangga. Untuk mengatasi kebosanannya menyusuri jalanan macet, Vanessa menyalakan radio, rupanya hanya butuh waktu sebentar bagi untuk melupakan masalah tadi, bagai tak terjadi apa-apa, Vanessa bernyanyi dan bergoyang mengikuti lagu yang diputar di radio pilihannya. Sakit Jiwa, gumam Erlangga.
Erlangga tetap diam tapi pikirannya ternyata melayang jauh ke Widi, ia mengenang malam saat bersama Widi dimana ia merasa sangat nyaman dan bahagia. Tiba-tiba Erlangga mendapat SMS, ia membacanya.
__ADS_1
SMS From : Soffie
Bos, bsk aku ga jd ikut km ke USA. Pls bls. Aku mau telp, tp takut ganggu org pacaran, salam sm V, pdhl gw mw kenalin bos sm yg lbh cck ;P
Erlangga tersenyum, Soffie kok tahu hubunganku dengan Vanessa?
***
Al Kahfi Land, Depok, 2004
Malam ini Widi sedang berada di kantor seperti biasanya, ia membuka website chatting lintas waktu, ternyata muncul sebuah pesan offline dari Uge.
^(OFFLINE) Widi maaf, aku harus ke Jakarta hari ini, mungkin akan berada di sana sekitar seminggu bersama pemodal Al Kahfi Land. Salam kangen dan doain aku ya!^
Yah, Uge pergi satu minggu! gumam Widi.
Widi tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membunuh sepi melewati malam di kantor tanpa Uge, ia langsung mematikan komputer dan lampu ruangannya untuk pulang.
Mulai malam ini hingga Uge pulang, Widi tidak lagi punya minat berlama-lama di kantor hingga malam, sehingga ruangan terang di seberang Rumah Kotak akan gelap di malam hari, untuk sementara ia ingin tinggal di rumah Tante Lina.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W