Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Menyusuri Waktu Part 2


__ADS_3

Kali ini Widi jadi teringat lagi pada Angga, laki-laki yang mengenalkannya pada Tuhan. Dimana Angga? Aku punya pertanyaan tentang Tuhan, dan biasanya ia selalu punya jawaban. Katanya Tuhan adalah arsitek alam semesta, lalu kenapa Dia tidak memperdulikan aku sebagai ciptaanNya?


Widi baru sadar, ia pun melupakan Tuhan, padahal hanya Tuhan yang bisa memberinya keajaiban, dalam lamunannya tiba-tiba Angga seolah muncul dan berkata. Bukankah alam semesta yang besarnya tak terhingga bisa diangkat dan digerakkan-Nya, apalagi cuma mengangkat derajat kita, bukankah kita sangat kecil. Mohonlah keajaiban itu.


Sejak malam itu harapan Widi kembali muncul, ia mulai mendekatkan diri pada Tuhan. Kini buku-buku agama lebih menarik perhatiannya ketimbang buku arsitektur. Widi mulai rutin menjalani sholat lima waktu, bahkan ia hampir tidak pernah melewatkan sholat dhuha dan sholat malam. Puasa senin-kamis juga telah menjadi kebiasaannya. Tante Lina melihat perubahan besar ini. Pelan-pelan kebiasaan baru Widi mulai dikuti juga oleh keluarga ini. Rumah yang tadinya suram karena kering dari agama, mulai menampakkan cahaya. Benar saja, keajaiban mulai menghampiri, Tante Lina tidak lagi berdagang di pasar, ia dan suaminya sudah punya bisnis katering yang penghasilannya lumayan. Order-order desain Widi juga semakin banyak, ia berencana mengumpulkan penghasilannya untuk membeli komputer dan melanjutkan kuliahnya, karena keluarga ini tampaknya sudah bisa mengatasi masalah keuangannya sendiri.


Waktu terus bergulir, di Tahun 2001, hampir dua tahun Widi berada di rumah Tante Lina. Walau Widi rajin menjalankan ibadah, tetapi ia belum bisa membaca tulisan Al Qur'an. Widi butuh guru untuk itu, tetapi ia malu jika terlihat oleh orang yang mengenalnya, sudah umur segini, kenal huruf pun tidak.


Di suatu pagi Widi mengendarai motor mencari tempat belajar mengaji. Setiap ada masjid ia berhenti, menurutnya di masjid pasti ada tempat belajar Al Qurán. Sayangnya setiap berhenti, ada saja yang menyapanya, kalau tidak tetangga, orang-orang pasar, sehingga ia terpaksa melanjutkan lagi perjalanannya mencari masjid yang lebih jauh.


Widi terus mencari hingga menemukan kawasan hutan pinus, ia tak menyangka masih ada hutan luas di kawasan yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Ia penasaran ingin tahu sampai sejauh mana akhir hutan ini. Di tengah kawasan hutan ini ia melewati gerbang besar dengan tulisan Al Kahfi Land. Widi terus menyusuri jalan hingga bertemu area pemukiman lagi. Setelah menemukan sebuah masjid, Widi memarkir motornya dibawah pohon besar, di samping motornya ada sebuah mobil mewah parkir yang juga mengincar pohon.


Widi masuk kedalam masjid, ia bertanya pada dua perempuan berhijab yang baru selesai Sholat Dhuha. Perempuan itu memberi tahu masjid ini punya jadwal rutin pelajaran Iqra untuk orang dewasa. Widi menyempatkan sholat dhuha, usai sholat, saat berdoa ia tak sengaja mendengar percakapan dua perempuan tadi.


"Kasihan ya Ustadza Ida, guru ngaji kita, dia dan bayinya belum boleh pulang, masih ditahan bagian administrasi rumah bersalin, uangnya kurang 2 juta," kata perempuan berhijab putih.


"Iya, simpanan aku cuma ada 1 juta, kamu punya setengahnya lagi?" tanya perempuan berhijab biru.


"Kalo seminggu lagi Insya Allah ada, sekarang kan masih tanggal tua," jawab perempuan berhijab putih.


Widi memiliki uang 2 juta rupiah dalam tasnya, rencananya itu untuk uang muka membeli komputer, sisanya akan ia cicil. Widi mengeluarkan amplop berisi uang dari dalam tasnya dan menghampiri dua perempuan itu.


"Assalamualaikum," sapa Widi.


"Wa alaikumsalam." sahut kedua perempuan berhijab.


"Maaf, boleh enggak saya nitip uang untuk guru ngaji itu?" tanya Widi.


"Oh, mbak kenal?" tanya wanita muda berhijab biru.


Widi menggeleng sambil menyerahkan amplop tersebut, "Mudah-mudahan cukup, saya pamit dulu ya, assalamualaikum," Widi langsung meninggalkan dua perempuan itu.


"Wa alaikumsalam, jazakillah khairan," teriak dua perempuan berhijab itu.


"Ya Allah baik banget orang itu, mudah-mudahan segala urusan dia juga dimudahkan Allah," perempuan muda berhijab putih mendoakan Widi dan diaminkan perempuan satunya.


Saat keluar masjid, dari kejauhan Widi melihat seorang laki-laki pemilik mobil yang parkir dekat motornya. Ia tampak sibuk bicara lewat telepon genggam yang menempel di antara telinga dan pundaknya sambil memasukkan dokumen-dokumen miliknya dari atas jok motor Widi ke dalam mobilnya. Orang itu sangat terburu-buru, sebelum Widi sampai di motornya, mobilnya telah berlalu. Widi melihat ada map tertinggal di atas jok motornya. Widi membaca tulisan pada bagian luar map. ‘Santoso, Al Kahfi Land’.


Al Kahfi Land? Tempat yang tadi aku lewati. Widi menunggu sekitar 10 menit, barangkali orang itu kembali mengambil dokumen miliknya. Karena orang yang ditunggunya tidak muncul, Widi memutuskan mengantar dokumen tersebut.

__ADS_1


****


 


"Selamat siang Mbak, mau ketemu siapa?" tanya seorang petugas keamanan ramah, di lobby gedung.


"Selamat Siang, Pak Santoso ada?" tanya Widi.


"Maaf ini dengan siapa?" tanya Pak Jajat.


"Saya Widi, mau mengembalikan map Pak Santoso yang tertinggal," sahut Widi.


"Baik, silahkan menunggu dulu," ujar Pak Jajat.


Widi duduk di tempat tamu, ia memandang kagum detail gedung ini, sudah lama ia tak berada di tempat sebagus ini. Widi menyeka keringat yang membasahi dahi dengan lengan jaket lusuhnya sambil memperhatikan karyawan yang lalu-lalang, penampilan mereka sangat kontras dengan dirinya yang setiap hari beredar di pasar. Sayangnya, walau indah dipandang mata, mereka terlihat angkuh, beberapa orang meliriknya dengan tatapan tidak bersahabat.


"Mbak Widi, mari saya antar ke ruang Pak Santoso," ajak Pak Jajat.


Saat bertemu Santoso, Widi langsung menyerahkan map dan segera berpamitan, tapi Santoso menahannya.


"Sebentar Mbak Widi, silahkan duduk! Saya sangat berterimakasih, dokumen yang tertinggal ini adalah lamaran kerja para arsitek yang sudah saya sortir, kalau tadi hilang, bisa pusing saya, atasan saya butuh cepat. Mbak Widi bekerja atau kuliah?" tanya Santoso.


"Hmm, sebagai?" tanya Santoso.


"Kalau melihat pendidikan, saya ingin menjadi arsitek atau desainer interior, tapi saya bisa bekerja jadi apa saja," jawab Widi.


"Kamu sudah lulus kuliah?" tanya Santoso


"Saya sempat menjalani 4 semester di FSRD ITB pak, lalu melanjutkan di jurusan arsitek kelas sore khusus karyawan di Universitas Berdikari Depok, sekarang sedang macet lagi Pak," jawab Dewi.


"Sayang sekali, macet kenapa?" tanya Santoso.


"Ya itu pak, saya harus bekerja supaya lancar lagi," jawab Widi diplomatis.


"Wah sayang juga ya, padahal kalau kamu sudah lulus, kamu bisa coba melamar di sini, kantor ini memang sedang mencari arsitek," ujar Santoso.


"Kalau karya lebih penting dari ijazah, saya berani di tes, Pak. Alhamdulillah karya-karya saya sering memenangkan kontes arsitektur," jawab Widi yakin. Ia menangkap peluang, bukankah ia ingin menjadi arsitek dan perusahaan ini pun juga membutuhkannya?


Santoso mengangguk-anguk sambil mengamati Widi. Anak ini dari mesjid, dia mau repot-repot mengantar dan langsung pamitan tanpa mengharap imbalan, apa sebaiknya diberi kesempatan?

__ADS_1


Tiba-tiba seorang laki-laki muda masuk ke ruangan Santoso.


"Eh sorry San, gue enggak tahu lu lagi ada tamu," ujar Laki-laki itu, tadinya ia ingin keluar lagi, tetapi setelah melirik Widi, ia merasa tak perlu sesopan itu, dari penampilannya pasti bukan tamu penting.


"Gimana, kapan gue bisa dapat lagi calon arsiteknya? Pusing gue, semua calon gue ditolak Erlangga, padahal katanya harus cepet, mentang-mentang dia juga arsitek, suka sok tahu tuh yang punya kantor, padahal gedung kantor hasil karya dia ini juga biasa-biasa aja," keluh laki-laki itu.


"Kebetulan sekali Pak Desmond, Bapak ada waktu untuk interview tamu saya? Memang belum lulus tapi sering menang kontes arsitektur, Pak Desmond kan pasti lebih mengerti urusan arsitektur," pinta Santoso.


Desmond tampak meneliti Widi dengan wajah meremehkan.


"Interview sama HRD nya dulu lah, hari ini gue sibuk. Oke, gue tinggal dulu ya," jawab Desmond menghindar, ia tidak tertarik dengan calon yang diajukan Santoso. Sambil keluar pintu, ia memberi kode agar Santoso mengikutinya. Santoso pun menghamprinya.


"Lu mabok dimana semalam, San? Lulusan universitas luar negeri aja, ijazahnya di lempar Erlangga di depan muka gue, eh elu kasih gue tamatan SMA," ujar Desmond mengejek, walaupun memanggil Santoso mendekati pintu, tapi ia tidak berusaha mengecilkan suaranya agar tidak terdengar Widi. Desmond tertawa meninggalkan Santoso sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Dengan perasaan tidak enak hati, Santoso kembali menemui Widi yang mendengar ucapan Desmond. Tetapi Widi tidak tersinggung, ia malah tertantang untuk membuktikan dirinya mampu.


"Pak, saat melihat kantor ini saya yakin, Pak Erlangga yang namanya tadi disebut, pasti arsitek yang hebat, saya sudah lama berharap karya saya dapat dilihat oleh arsitek seperti beliau. Kalau diizinkan, saya ingin menggambar bangunan untuk melengkapi kantor ini untuk diberikan kepada Pak Erlangga. Boleh saya diberi kesempatan, Pak?" tanya Widi.


Santoso menangkap enerji besar tersembunyi dalam diri Widi, ia juga ingin memberi Desmond pelajaran atas kesombongannya, akhirnya Santoso tertantang untuk menguji intuisinya dalam menilai potensi SDM.


"Oh tentu, saya akan carikan kamu tempat yang tenang untuk menggambar, sebelum itu saya akan mengajak kamu keliling, supaya bisa membaca selera Pak Erlangga, beliau memang seorang arsitek hebat," ujar Santoso.


Rupanya intuisi Santoso akurat! 3 hari kemudian seorang arsitek muda yang belum lulus kuliah berhasil menempati ruangan besar yang berada di ujung gedung kantor ini. Widi menggambar sketsa rumah kotak bersanding dengan bangunan segitiga beserta penjabaran konsepnya.


Erlangga berkali-kali memuji gambar itu di depan Santoso dan Desmond, "Desmond! Nah ini yang gue cari, arsitek, bukan tukang gambar. Anak ini punya konsep, karyanya jadi punya nyawa. Lu ngapain bawain gue ijazah-ijazah? Gue mau karya bukan dokumen, kalo butuh dokumen gue pesen aja ke tukang setting!"


Santoso melirik Desmond dengan senyum penuh arti. Ia puas bisa membalas kesombongan Desmond.


Waktu terus berjalan, Widi telah menempati ruangannya selama 3 tahun. Hingga akhirnya ia mengetahui bahwa dia berhak lebih dari sekedar menempati ruangan, Widi adalah pemilik perusahaan ini, selain Erlangga.


***


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W

__ADS_1


__ADS_2