
Kosan Bodas, Bandung, 1999 - Al Kahfi Land, Depok, 2004
Malam ini ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Widi yang terdistorsi kehadiran Dewi. Uge memilih Widi karena menurutnya Widi tidak seberuntung Dewi. Bukankah hampir setiap malam, perempuan itu rela sendirian di kantor di tengah hutan hanya untuk chatting dengannya, jelas ia tak punya kehidupan nyata yang menarik. Sebaliknya, Dewi jelas punya kehidupan yang sempurna. Dewi selalu mendapat banyak perhatian dan cinta dari kerumunan pemujanya, aku hanya satu titik dari kerumunan, kehilangan satu titik tak akan terlalu berpengaruh, menurut Uge.
Uge tidak tahu, sebenarnya sejak pandangan pertamanya dengan Uge setahun yang lalu, ia sengaja sering melewati Masjid Salman hanya untuk sekedar melihat Uge. Dewi tertarik pada Uge yang tidak acuh dengan bisik-bisik kagum para perempuan yang berada di sekelilingnya. Tetapi sayangnya Uge jarang terlihat lagi di kampus.
Hingga akhirnya Andi mempertemukannya dengan Uge. Saat berbincang dengan Uge, Dewi yakin bahwa laki-laki ini memang tepat untuk jadi pasangannya. Dalam waktu singkat itu Uge nekat menawarkan sesuatu yang telah membuat harapan Dewi melambung tinggi. Uge tak sadar, ia akan menyakiti hati Dewi lebih dalam dari yang ia sangka
Uge menyalakan komputer. Ternyata tidak sulit memunguti rasa rindunya pada Widi yang sempat tercecer gara-gara kehadiran Dewi. Uge merasa kehadiran Dewi adalah ujian, walau tak sempurna tapi ia berhasil lulus. Uge berjanji tidak akan lagi melakukan kesalahan serupa, Widi adalah calon pasangan hidupnya kelak, tak peduli seperti apa wujudnya.
Uge mengetik kalimat pertamanya setelah satu bulan pergi, ^Assalamualaikum, kangen enggak?^
Di seberang waktu rupanya Widi sedang bersiap-siap untuk pulang, tiba-tiba suara chatting masuk terdengar. Ia bukan main senangnya, ia segera membalas kalimat Uge. ^Biasa aja. Gimana urusan kamu, lancar?^
^Sombong, hahaha. Alhamdulillah, aku udah berhasil beli tanah di hutan pinus,^ ujar Uge.
^Alhamdulillah. Nah, tinggal cari jodoh tuh,^ sahut Widi. Ia teringat hubungan Uge dengan Soffie.
^Nah, ini yang mau kubahas. Setuju, Wid, ketemuan di jamanku, yuk!^ ajak Uge.
^Uge, kamu enggak pernah muncul di sejarahku, emang kamu punya niat ngerubah takdir?^ tanya Widi.
^Widi, aku enggak mungkin merubah takdir, tetapi ternyata orang yang telah melewati waktu, belum tentu telah mengungkap rahasia takdir. Buktinya, sebelum aku datang ke hutan pinus, kamu enggak nyangka kan, ternyata aku bagian sejarah Al Kahfi Land,^ ujar Uge.
^Sudahlah, aku enggak mau ngebuang waktu kamu, kita jalanin aja chatting ini sampai kamu bosan, jika lima tahun nanti kamu masih ingat, silahkan temui aku di kantor buatan kamu ini,^ sahut Widi.
__ADS_1
^Justru kalo kamu enggak mau ngebuang waktuku, kasih tahu di tahun 1999, kamu ada dimana?^ pinta Uge.
^Maaf, aku enggak mau,^ sahut Widi.
^Oke, mulai besok aku akan cari kamu sampai kita ketemu. Pencarian awal, ke Jakarta, mendatangi Universitas Berdikari,^ ujar Uge.
Widi kesal dengan sikap keras kepala Uge, tapi ia tak tega membiarkan Uge meninggalkan Bandng lagi tanpa bertemu dirinya. Widi mengalah.
^Dasar keras kepala! Ya sudah, kamu boleh temui aku, sekarang tanggal dan bulan apa di tahun 1999?^ tanya Widi.
^10 September 1999.^ sahut Uge.
^Oke, aku selalu mencatat setiap kejadian yang menurut aku penting, aku cari dulu sebentar, ada apa di bulan september tahun 1999?^ ujar Widi.
Widi membuka catatan penting semacam diary yang ia simpan dalam bentuk file di komputer. Widi memang sangat teliti dan rapi dalam hal penyimpanan data. Ternyata ada catatan penting di tanggal 11 September 1999. ^Uge, cari aku di ITB, jangan tanya apa pun tentang urusanku di ITB,^
Widi sedang di ITB besok? Wah, mudah-mudahan jadi lebih mudah ketemu, gumam Uge senang. ^Alhamdulillah, oke-oke, aku enggak tanya itu, kasih informasi yang lebih lengakap supaya gampang cari kamu.^
^Besok tanggal 11 September 1999, ada acara panggung jazz kecil di kampus. kamu datang ke sana setelah sholat Isya, cari tempat paling depan saat awal acara, jangan telat! Gampang, kan? Pulangnya kamu ceritain ke aku, semua yang kamu lihat dan kamu lakukan,^ kata Widi.
^Gampang apanya? Panggung musik pasti rame. Besok kamu nonton dan duduk dimana? Terus ciri-ciri kamu apa?^ tanya Uge.
^Setelah break sholat Isya, aku satu-satunya perempuan yang mainin lagu pertama di panggung itu, gampang kan?^ ujar Widi.
^Wah, kamu musisi jazz? Pantes tahu ITB, kamu sering diundang ke kampus lain ya?^ tanya Uge tak menyangka.
^Aku bukan musisi, cuma sekedar bisa dan enggak punya alasan menghindar, yang minta Pak Dheng, soalnya,^ jawab Widi.
^Kamu juga kenal Pak Dheng?^ Uge jadi semakin penasaran.
^Jangan banyak tanya lagi tentang urusanku di ITB dan satu lagi syaratnya, jika kamu berhasil ketemu aku, kamu enggak boleh cerita apapun tentang chatting kita ini, janji?^ tanya Widi memastikan.
^Kenapa?^ tanya Uge.
__ADS_1
^Aku enggak mau masa laluku juga jadi enggak waras gara-gara tahu hal lintas waktu, walaupun itu enggak ada di sejarahku. Serius Ge, aku bisa marah banget, janji?^ desak Widi.
^Iya aku janji, insyaAllah, tapi ngobrol selain yang berhubungan dengan hal lintas waktu, boleh dong?^ tanya Uge.
^Hmm, oke, yang selain lintas waktu boleh,^ jawab Widi. Ia tahu Uge tidak akan berhasil bertemu dengannya di masa lalu, tapi karena belakangan ini Uge banyak memberinya keajaiban, ia tak mau hidupnya jadi semakin kusut.
^O iya, kamu dipanggung ngapain dan bawain lagu apa?^ tanya Uge.
^Aku nyanyi sambil main piano, bawa lagu pilihan Pak Dheng, I'm in the mood for love," jawab Widi.
^Wah, Pak Dheng tahu aja, kamu lagi 'in the mood for love, pasti' karena aku datang,^ ujar Uge.
^Haha, justru I’m in the bad mood sebelum naik ke panggung,^ sahut Widi.
^Tenang, setelah itu aku kan nemuin kamu. Kamu nya aja yang lupa kenangan manis kita,^ ujar Uge.
^Hehe, dasar! Gimana kalo kamu jadi patah hati? Hahaha, buktinya kamu enggak mau nemuin aku lagi. Hahaha, Uge, aku jadi enggak sabar nunggu cerita kamu besok,^ ujar Widi.
^Apalagi aku, akhirnya aku bisa menyatakan lamaranku langsung, Insya Allah.^
^Hebat, kamu memang selalu optimis. Oke udah dulu ya, malam ini kamu jangan begadang, kan besok malam kita ada date. Awas kalo telat atau enggak datang!^ ancam Widi.
^Insya Allah datang,^ sahut Uge.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1