
Danau Al Kahfi Land, Depok, 2004
Malam ini langit cerah penuh bintang, sinar bulan purnama membuat suasana di danau lebih terang biasanya, suara binatang-binatang malam di hutan dan danau terdengar saling sahut-menyahut menyemarakkan suasana malam yang indah.
"Aku selalu kagum dengan suasana danau ini di malam hari, kenapa sih kamu menghadirkan suasana romantis untuk Rumah Kotak dan sekelilingnya?" tanya Erlangga.
"Karena Kantor Segitiga itu membutuhkannya, mereka kan pasangan," ujar Widi.
"Itu aku pernah baca dari sktesa kamu, sekarang aku mau dengar penjelasannya langsung," sahut Erlangga.
"Setiap pagi datang, Rumah Kotak selalu memandangi Kantor Segitiga dengan kagum. Bangunan kokoh itu menjadikan dirinya tempat bernaung orang-orang yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya. Di tubuhnya orang-orang melakukan aktivitas dari pagi hingga sore hari, ia beruntung karena tercipta untuk memberi manfaat pada banyak orang. Sore menjelang malam Kantor Segitiga tampak letih, Rumah Kotak ingin pasangannya esok kembali memiliki semangat baru untuk memberi manfaat, ia memancarkan segenap keindahannya untuk menentramkan pasangannya," ujar Widi.
"Kenapa ya, aku merasa pernah mendengar cerita ini di masa lalu langsung dari kamu? Apa kita sudah pernah bertemu sebelum di kantor ini?" tanya Erlangga.
"Kan kita pernah kuliah di kampus yang sama,” sahut Widi.
“Maksudku bukan sekedar pernah melihat, tapi memang kenal, bahkan dekat. Aneh ya?” tanya Erlangga.
“Untuk orang yang enggak punya masa lalu seperti kamu, apa anehnya?" tanya Widi.
"Enggak punya masa lalu? Lahir langsung serperti ini?" tanya Erlangga.
"Enggak mungkin, kan? Waktu kamu sulit mengingat hal-hal sepele yang ditanya Andi, menurut kamu itu wajar?" tanya Widi.
"Wajar, artinya kehidupanku di masa lalu enggak menarik untuk di ingat," jawab Erlangga.
__ADS_1
"Kalo menurut kamu wajar, kenapa kamu tertarik membahas masa lalu?" tanya Widi.
"Sekedar memastikan aja, tapi sudahlah, karena sejujurnya menurutku masa lalu itu enggak penting, aku seorang pengejar pemimpi sehingga lebih tertarik dengan masa depan," jawab Erlangga.
Widi kehilangan semangat, ia mau mengikuti Erlangga karena berharap dapat membantu mengembalikan ingatan masa lalunya pelan-pelan. Tapi ternyata Erlangga tidak tertarik membahas masa lalu. Widi teringat perkataan Erlangga saat masih menjadi Angga, ‘kita tidak mungkin menunjukkan keindahan sebuah bangunan pada orang yang memilih memejamkan mata saat berada di depannya’. Sayangnya, Erlangga tidak menangkap raut kecewa pada wajah Widi.
"Widi, terus terang, aku ajak kamu ke sini memang untuk bicara masa depan. Widi, aku mencintai kamu, aku mau kamu jadi pacarku" ungkap Erlangga.
Widi gusar, baginya kalimat Erlangga itu mirip omongan orang kesurupan, karena yang bicara bukan pemilik badan. Hatinya sedih, sudahlah ia tidak mampu mengusir hantu yang menguasai badan itu, tiba-tiba hantu itu menyatakan cinta padanya.
"Widi, boleh aku tahu perasaan kamu?" desak Erlangga.
Widi tersenyum kecut, tak menyangka orang yang pernah melamarnya dengan elegan, kini menembak dan menagih jawaban seperti para abege yang pernah diceritakannya.
"Aku pernah cinta sama kamu," ujar Widi, ia berharap jawabannya mampu memberi kekuatan pada Angga yang bersembunyi di dalam sana untuk mengusir Erlangga.
"Kalimat itu memang hanya bisa dimengerti oleh orang yang menghargai masa lalu, sayangnya kamu cuma tertarik masa depan," ujar Widi.
Erlangga baru sadar wajah Widi telah berubah sedih. Apa ini tentang Vanessa? tanya Erlangga dalam hati.
"Widi, mungkin kamu sudah mendengar hubunganku dengan seorang perempuan. Kalo kamu bersedia, aku bisa batalkan pertunangan itu dan menjadikanmu sebagai tunanganku," ujar Erlangga enteng.
Widi benar-benar ingin membunuh hantu Erlangga yang merasuki tubuh Angga, mulut itu dipaksanya mengikuti cara berpikir bodoh, soal jodoh semudah mengganti warna cat tembok.
"Angga, kamu belum siap menjalin hubungan dengan siapapun," ujar Widi.
__ADS_1
"Apalagi yang belum ku siapkan?" tanya Erlangga heran, ia merasa telah memiliki segalanya.
"Angga, laki-laki itu harus bisa menjadi imam pasangannya," jawab Widi.
"Oh itu. Aku akui untuk urusan agama, aku kurang. Tapi sebenarnya agama itu cuma sugesti untuk mencapai ketenangan, manusia memang butuh imajinasi seperti itu," ujar Erlangga, sangat fatal!
Widi tersentak. Angga memang sudah tidak ada. Secuil harapan bertemu Angga yang dulu telah musnah. Widi tak tahan, ia menjauhi Erlangga mendekati pagar di tepi danau karena tak mau menampakkan matanya yang telah berkaca-kaca.
Erlangga bingung, setiap ucapannya mendadak membuat situasi semakin memburuk. Ia ikut berdiri di sebelah Widi tanpa berani mengucapkan sepatah kata.
Widi menoleh pada Erlangga, ia berusaha menguatkan dirinya untuk dapat bicara tanpa menangis.
"Angga, aku enggak punya hak mencampuri prinsip hidup kamu, satu hal yang harus kamu tahu, ini malam terakhir aku di kantor ini," ujar Widi.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W