
Al Kahfi Land, Depok, 2004 - Kosan Bodas, Bandung, 1999
Hari sabtu kantor libur, tapi bagi Widi justru ia harus berada di kantor, untuk lari dari serangan pertanyaan tentang kesendiriannya di malam minggu. Biasanya Widi mengisi waktu dengan melakukan berbagai hobi lamanya yang baru tahun belakangan ini bisa tersalurkan, seperti menggambar, menulis dan bermusik. Terkadang Widi juga menyenangkan diri di luar kantor, menonton film, pertunjukan musik jazz dan teater, sendirian saja. Sesekali ia juga kangen menginap di rumah Tante Lina.
Tapi malam minggu belakangan ini, ia tak mau kemana-mana karena menanti seseorang yang diam-diam mulai mengisi hatinya, Uge. Chatting lintas waktu telah menjadi ritual wajib untuk Widi dan Uge, mereka cocok satu sama lain, sama-sama tergila-gila pada dunia arsitektur dan musik jazz, keduanya nyaman curhat hingga debat, hingga lupa tentang perbedaan waktu.
Uge berkali-kali menyatakan perasaannya dan berjanji menemui Widi di tahun 2004 untuk melamarnya, tetapi Widi selalu menanggapinya sebagai gurauan. Walau Widi menyukai Uge, tetapi ia realistis, ia tak mau percaya penuh pada hubungan yang tak nyata, lagi pula ia belum bisa melupakan laki-laki mirip Erlangga yang pernah melamarnya.
^Ge, kamu malam minggu enggak bosen di kosan terus?^ tanya Widi.
^Ya doain aja Wid, mudah-mudahan urusan cari modal buat nikah dilancarkan, biar InsyaAllah kita bisa malam mingguan yang halal di rumah kita,^ sahut Uge.
^Ge, aku serius! Cari jodoh, gih! Yang sezaman,^ usul Widi.
^Yang sezaman ya? Oke, aku mau cari kamu yang di tahun 1999,^ ujar Uge.
^Enggak usah lah, dari tahun 99 sampe 2004, enggak pernah ada laki-laki mendadak muncul ngomongin chatting gila ini, hahaha,^ sahut Widi.
^Tapi bisa aja kita pernah ketemu walau enggak saling kenal, kamu itu orangnya kayak gimana sih, Wid?^ tanya Uge.
__ADS_1
^Gunakan imajinasi, menurut kamu perempuan yang kuliah di jurusan tukang bangunan, wujudnya seperti apa?^ tanya Widi.
Widi mengarahkan imajinasi Uge untuk membayangkan sosok perempuan dengan meteran di kantong, gulungan gambar kerja di tangan dan helm proyek di kepala, tetapi tiba-tiba yang muncul di kepala Uge malah Dewi, mungkin karena Dewi satu-satunya perempuan yang sering dikumandangkan Andi di telinganya.
^Pasti cantik!^ sahut Uge.
^Dasar kurang gaul, sekali-kali main ke kampus lain di Bandung, tapi jangan ke fakultas teknik lagi,^ ujar Widi.
^Siapa bilang enggak ada cewek cantik yang kuliah teknik?^ sahut Uge.
^Siapa? Sebut anak ITB yang cantik? Aku kan tahu anak-anak ITB jadul,^
^Selain Dewi?^ tanya Widi.
^Cuma Dewi yang ada di kepalaku,^ jawab Uge.
Widi tertegun, ia tahu banyak perempuan cantik di ITB selain Dewi, tapi kenapa Uge tak mau menyebutnya setegas nama Dewi?
^Ge, kamu naksir Dewi?^ tanya Widi.
__ADS_1
^Naksir? Kenal aja enggak,^ jawab Uge.
^Serius?^ tanya Widi.
^Widi, jangan cemburu sama Dewi, dong. Aku memang kurang referensi buat menggambarkan bahwa memang ada perempuan cantik yang kuliah teknik,^ sahut Uge.
^Uge, percaya deh, aku dukung kamu kok untuk dapat pasangan di zaman kamu! Tapi jangan Dewi, aku tahu kamu enggak akan bisa,^ ujar Widi.
^Ya memang, jodohku itu Widi,^ sahut Uge.
^Keras kepala!^ balas Widi.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W