
Al Kahfi Land, Depok, 2004
Cuti Widi telah selesai, ia memasuki Al Kahfi Land dengan penampilan barunya. Biasanya, ruangannya tak pernah terasa sejauh ini, Widi risih, semua mata terkunci mengikuti langkahnya, padahal kemarin-kemarin kehadirannya hanya seperti angin lewat. Widi berusaha sekuat mungkin bersikap biasa, seolah tidak ada yang berubah, sesuai dengan perkiraannya, perempuan yang satu ini pasti tak bisa melihat perubahan besar di kantor ini, ia mencegat Widi.
"Widi, sebentar," bisik Soffie sambil menarik dirinya ke tempat yang tersembunyi.
"Apaan sih Soff?" sahut Widi tak senang.
Soffie menatapnya dengan teliti dari ujung kaki ke ujung ke kepala sehingga Widi jengah.
"Gitu dong, dari dulu kek! Kamu hari ini cantik banget deh," puji Widi.
"Biasa aja lagi! Udah ah, aku ada kerjaan nih," sahut Widi.
"Cieee, kamu lagi jatuh cinta ya?" canda Soffie.
"Terserah deh. Terus, apalagi yang kamu mau komentarin?" tanya Widi ketus.
"Wah, pilihan pakaian dan sepatu kamu keren lho Wid, bisa digaet Pak Erlangga nih," canda Soffie lagi.
"Iya, terus apalagi?" sahut Widi galak.
"Ih kamu judes banget sih!" protes Soffie.
"Aku buru-buru, ada kerjaan soff," ujar Widi berharap Soffie berhenti menyiksanya.
"Emangnya aku enggak ada kerjaan? Ngobrol sebentar yuk!" ajak Soffie.
"Udah ah, pasti cuma mau ngomongin Pak Erlangga," tolak Widi.
"Ciee kamu kali yang mau ngomongin dia? Hihi, tahu enggak Wid? Pacarku yang kenal kamu itu, cerita banyak tentang kamu," ujar Soffie.
"Ah paling cuma sekedar kenal," sahut Widi malas.
"Kenal banget, dia sekampus sama kamu tapi beda angkatan, katanya dulu dia temen deket kamu," ujar Soffie berusaha meyakinkan Widi.
__ADS_1
"Ah ngaku-ngaku aja tuh orang," sahut Widi ketus.
"Pacarku itu lulusan ITB, sekarang jadi pengusaha di Bandung," ujar Soffie.
"Aku cuma sebentar kok di ITB," sahut Widi.
"Pokoknya dia kenal banget lah," balas Soffie.
"Siapa namanya?" tanya Widi.
"Rahasia," jawab Soffie sambil tertawa.
"Apaan sih, ngajak cerita tapi pake rahasiaan segala?" sahut Widi kesal.
"Dia sempat beberapa kali mampir ke sini, nanti kalo datang kesini lagi aku temuin deh, tapi biar surprise, aku rahasiain dulu namanya. Kisi-kisinya adalah aku sama dia kenalan di chatting lintas waktu, hihihi," ujar Soffie.
Widi kaget tapi ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan, "ya bagus deh, intinya kamu sudah bisa ngelupaiin Pak Erlangga."
"Emang aku ada hubungan apa sama Pak Erlangga? Udah aku bilang, kita itu kayak adik-kakak. Dia itu enggak pernah punya pacar, lho, eh, sekarang tau-tau kepincut sama seleb kampungan itu, pake ngumpet-ngumpet segala, emangnya aku enggak enggak tau?" ujar Soffie sewot.
"Kamu jealous ya, Soff?" tanya Widi menertawakan Soffie dengan wajah sinis.
Widi kaget, bukan hanya karena Soffie ingin menjodohkannya tetapi ternyata ia juga terlibat dalam proyek merombak penampilannya. Widi menyesal memakai setelan baju dan sepatu yang ternyata pilihan Soffie, ia merasa tak punya wibawa lagi dimata perempuan yang paling dibencinya ini.
"Makasih deh atas pilihan bajunya, tapi jangan macam-macam deh, Soff! Aku enggak suka dijodoh-jodohin, apalagi sama cowok kayak dia, Serius! Lagian kamu lupa? Semua orang kan udah tahu, dia udah tunangan sama model cantik yang bikin kamu cemburu itu," ejek Widi.
"Hah? Cemburu sama seleb kampung? Wid, dulu vanessa pernah satu sekolah sama aku di Perancis, kartu mati dia! Aku belum cerita aja sama Pak Erlangga tentang kelakuan murahan tunangannya. **** aja Erlangga kalo enggak ninggalin Vanessa demi kamu! Urusan seleb kampung itu serahin sama Soffie," ujar Soffie.
Widi bingung kenapa harus dia yang menjadi tumbal kecemburuan Soffie, padahal menurut Widi, Soffie lah yang paling pantas jadi pasangan Erlangga, seharusnya ia memperjuangkan dirinya sendiri saja.
"Soff udah deh, jangan libatin aku untuk proyek konspirasi kebencian kamu sama Vanessa, aku kerja dulu ya," mohon Widi.
"Isssh sombong, iya deh Widi yang ehm ehm.. Ih serius! Kamu cantik banget deh sekarang," puji Soffie.
Widi langsung melangkah cepat meninggalkan Soffie.
__ADS_1
"Wid, tunggu!” teriak Soffie.
Widi tak peduli, ia tetap melangkah.
“Widi! Nanti kalo masuk waktu sholat, aku mau pinjem ruangan sama mukena kamu, boleh enggak?" teriak Soffie.
Pertanyaan Soffie membuat Widi menahan langkahnya, ia memutar badan menatap Soffie, seolah tidak percaya dengan pendengarannya. Soffie sholat? Widi mengangguk, ia tak bisa menolak untuk urusan yang satu itu.
"Makasih cantik, assalamualaikum!" teriak Soffie sambil meninggalkan Widi dengan langkah yang sangat ringan.
"Waalaikumsalam," jawab Widi pelan, ia masih terpana memandangi Soffie, segudang pertanyaan tiba-tiba memenuhi kepalanya.
Siapa sih pacarnya? Hebat banget! Seorang Soffie dibuatnya hijrah. Anak ITB, kenalan di chatting lintas waktu? Hah? Apa Uge juga memperospek Soffie?
Sejak malam pertemuannya dengan Erlangga, hari-hari Widi dipenuhi berbagai kejutan informasi yang membuatnya seperti harus mengurai benang kusut. Erlangga mendadak muncul dalam hidupnya dengan wajah yang membuat Widi mengira ia adalah laki-laki yang pernah melamarnya, tapi ternyata bukan. Uge mendadak menjadi Erlangga, tapi ternyata juga bukan! Erlangga malah mendadak menjadi Agi, entah siapa lagi itu?
Saat informasi simpang siur itu belum tercerna dengan baik, tiba-tiba Soffie masuk ke dalam lingkaran cerita lintas waktu dan ikut-ikutan memberinya teka-teki baru. 3 kalimat kunci yaitu, 'Kenal banget Widi', ‘Sholat' dan 'Chatting lintas waktu' membuat Widi terpaksa memecahkan 'misteri siapa pacar rahasia Soffie'. Hanya ada satu tersangka yang layak disidang, Uge.
Widi mengembangkan analisanya, sekarang ia paham kenapa Uge tidak berani menjumpainya di tahun 2004, ternyata dia memilih Soffie, dan untuk menebus rasa bersalahnya, ia bersengkokol dengan Soffie untuk menjodohkan Widi dengan Agi atau Si Ucup, dasar kalian otak mafia!
Sekarang Widi jadi serba salah, ia tak mungkin menghukum Uge di tahun 1999 atas kesalahan yang mungkin belum dilakukannya. Tapi ia juga malas mendengar lagi kegombalan Uge yang ia sudah tahu endingnya.
Setelah merenungi banyak hal, Widi mengalah, 5 tahun memang waktu yang lama, ia memutuskan terus mendampingi Uge mewujudkan mimpinya, hingga Uge meninggalkannya dari situs lintas waktu.
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W