
Al Kahfi Land, Depok, 2004 - Kosan Bodas, Bandung, 1999
Widi berjalan cepat menuju ruangannya menghindari berinteraksi dengan manusia-manusia jenis Soffie lainnya, walaupun biasanya mereka sudah pulang sebelum gelap. Lampu-lampu koridor yang dilewati Widi kembali menyala, setiba di ruangannya, Widi pun menyalakan lampu ruangannya, ia tertegun melihat sebuah laptop baru di atas meja, dekat komputer lamanya. Widi menemukan catatan, ia membacanya.
Widi, Pak Erlangga memberi laptop ini untuk mendukung pekerjaan kamu. Beliau juga memberi desktop baru yang sesuai dengan kebutuhan kamu, tapi saat ini masih di dept IT. Besok kamu tukar desktop lama dengan yang baru setelah data pekerjaan kamu simpan.
Santoso
Setelah dapat jatah mobil kantor, Si Ucup juga ngasih komputer? Alhamdulillah. Widi sangat senang, hari ini ia mendapat banyak hal menyenangkan dari kantor, ia jadi penasaran ingin tahu sosok Erlangga.
Widi tahu, rumah kotak itu selalu terang di saat danau telah gelap. Kata orang kantor, rumah kotak adalah tempat Erlangga bekerja di malam hari, Widi menghampiri jendela untuk mencari tahu. Ternyata ada seorang laki-laki sedang duduk di area L, sayangnya wajahnya tak terlihat jelas karena jaraknya cukup jauh dan hari mulai gelap pula.
Widi menempelkan wajahnya ke jendela berharap bisa melihat wajahnya. Baru kali ini ia ingin tahu sosok Erlangga. Laki-laki di seberang sana tampak menyadari diperhatikan, ia berdiri dan juga berusaha melihat Widi. Karena sungkan Widi cepat menjauhi jendela, ia tak mau Erlangga mengira dirinya sering memata-matai, lagi pula ia belum melaksanakan Sholat Isya.
Usai sholat Widi penasaran lagi, pelan-pelan ia mendekati jendela, ternyata Erlangga sudah tidak berada di area L, Widi mencari-cari, ia melihat bayangan seseorang di balik kaca Rumah Kotak, walau tidak terlihat jelas, tapi Widi mengenali gerakan orang itu, Erlangga sholat!
Pemandangan itu menenteramkan hatinya, kata teman-teman Widi, Erlangga itu Islam KTP, jangankan sholat fardhu, saat waktu jumatan ia malah hobi seliweran keliling kantor.
Widi menyalakan laptop baru untuk mencobanya, ternyata belum terinstall software, kecuali untuk browsing. Ya sudah, sekali-kali menikmati malam dengan hal-hal menyenangkan, tapi apa ya? Widi sudah lama tidak memanjakan diri sendiri, sehingga mencari hal-hal menyenangkan saja ia bingung.
Widi sengaja membuat dirinya sangat sibuk karena waktu kosong membuatnya tersiksa, ia jadi teringat berbagai hal yang manis yang mendadak hilang dari hidupnya. Benar saja, kenangan manis 5 tahun yang lalu dengan seseorang yang pernah melamarnya kembali muncul, sekarang kamu dimana ya?
Ya ampun, kan ada internet! pekik Widi bersemangat, ia duduk lebih tegak dan siap mengetik sesuatu pada browser. Tiba-tiba harapannya kembali pupus, memangnya dia selebriti? Pasti ada ribuan nama panggilan yang sama. Widi tidak tahu nama lengkap, tanggal lahir, alamat rumah dan sebagainya, ia hanya tahu mereka kuliah di kampus yang sama, tapi anehnya saat itu mereka sudah bicara serius urusan pernikahan.
Widi terus berpikir mencari kata kunci yang tepat untuk diketik di mesin pencari, tapi ia tidak punya jejak apapun yang bisa menuntunnya, laki-laki itu tidak banyak bercerita tentang dirinya dan Widi pun belum sempat bertanya banyak tentang kehidupan pribadi laki-laki itu, pertemuan mereka sangat singkat, Widi berharap di dalam hati, andai mesin waktu benar-benar ada. Tanpa sadar ia mengetik kalimat itu. Widi tertegun, ia menemukan situs yang menarik yang ditampilkan mesin pencari.
Diskusi Lintas Waktu - lintaswaktu.dd
http://lintaswaktu.dd
September 9, 2004 -- Relativitas, diskusi lintas waktu. Chat Platform. Wadah berbagi informasi dengan orang di tahun berbeda.
Widi tidak percaya, tapi ia butuh melakukan sesuatu sehingga ia iseng mendaftar untuk chatting.
Wah, ada orang Bandung, bisa nostalgia nih, tapi kenapa maksa judul chatting lintas waktu sih, tahunnya di setting beda-beda segala sama programer, gumam Widi.
Tiba-tiba muncul satu nama baru lagi dari Bandung, 'Uge@bandung1999-online'.
Bandung lagi, tahun 1999? Kalo aja ini bener, Widi mendadak sinis, entah kenapa ia jadi malas meneruskan chatting.
^Aloo.. Widi.^ sapa Uge.
Widi ragu menjawab tapi jari tangannya mendahului keragu-raguannya.
^Hai.. Uge^ ketik Widi.
Aduh! Widi menyesal menjawab sapaan orang itu, ia tahu di dunia maya, orang bisa menjadi siapa pun dan berani bicara apa pun.
^Apa kabar dunia di tahun 2004?^ tanya Uge.
Walau cuma dunia maya, Widi masih menjunjung kesopanan dengan tidak meninggalkan pembicaraan saat telanjur menyahut, ya sudahlah, tapi jangan berharap basa-basi ini bakal manjang.
^Gitu-gitu aja, tiap jaman sama, paling cuma ganti penguasa, muncul teknologi baru dan nambah populasi,^ balas Widi datar.
^Enggak gitu-gitu aja dong, itu kan perubahan?^ tanya Uge, ia malah merasa ditantang berdebat.
^Iya kalo dicari-cari ya banyak, jangankan tahunan, sedetik aja udah terjadi perubahan, seenggaknya posisi jarum detik pada jam udah bergeser dari tempat semula.^ jawab Widi terus memojokkan.
^Kamu pasti penjinak bom? Sedetik aja dibilang bisa membuat banyak perubahan,^ balas Uge.
“Nyolot nih orang!” ujar Widi, ia juga merasa ditantang berdebat.
__ADS_1
^Mas! Kalo mau tanya masa depan mending pelihara tokek.^ sahut Widi puas.
^Hahaha. Lho, kamu kan ngaku di tahun 2004, masak enggak ada hal baru yang bikin orang di tahun 1999 kaget?^ tanya Uge
^Mau dengar cerita mobil terbang? Maaf nih, buat orang yang ngaku dari masa lalu, di masa depan itu mobil tetap nempel di aspal, kecewa enggak?^ sahut Widi.
Widi berusaha menunjukkan rasa tidak percayanya pada 'chatting lintas waktu' agar diskusi ini tidak panjang. Sebaliknya, Uge jadi bersemangat karena berhadapan dengan lawan bicara yang skeptis, biasanya itu adalah jatahnya.
^Ya, ini kan situs chatting lintas waktu, pertanyaannya enggak boleh standar dong?^ ujar Uge memberi alasan.
^Justru karena ini chatting lintas waktu, pertanyaan lintas waktu kamu itu terlalu standar,^ ejek Widi.
^O, iya? Coba gantian, apa yang akan kamu tanya sama orang masa lalu?^ tantang Uge.
^Kamu bisa nemuin aku di zaman kamu enggak? Aku mau ngomong sama sama dia,^ tanya Widi.
Uge takjub dengan pertanyaan Widi, lawan bicaranya memang hebat.
^Kasih info lengkap aja, dimana aku bisa cari kamu di zaman aku,^ sahut Uge bersemangat, ia sebenarnya tertarik menemui Widi langsung, bukan soal lintas waktu.
^Sori deh, aku jujur aja ya, biar basa-basi ini enggak lama, aku enggak percaya kalo kita bicara dalam waktu yang berbeda, terserah aja kalo kamu percaya,^ ujar Widi berterus terang.
^Sama, aku juga enggak percaya,^ sahut Uge.
^Terus, kamu ngapain di sini?^ tanya Widi.
^Kayaknya kita sama, terbujuk kata lintas waktu, lalu iseng menyelami pemikiran orang-orang aneh, ujung-ujungnya kita jadi bersyukur masih diberikan kewarasan, bener enggak?^ tanya Uge.
^Aku sih lagi kurang kerjaan aja. Ya udah, karena kita sama-sama waras, jadi enggak ada lagi yang perlu diobrolin, aku pamit ya.^ ketik Widi ingin segera mengakhiri chatting.
^Tunggu Wid, aku jarang punya teman ngobrol yang punya DNA sama, boleh kita ngobrol sebentar?^ tanya Uge.
^Ok,^ sahut Widi.
^Thanks ya, kita kenalan dulu, nama panggilanku Uge, tinggal di Bandung, sedang kuliah di ITB, kamu?^ tanya Uge.
Informasi Uge membuat Widi tertarik, ia ingin tahu kabar terkini tentang ITB dan Bandung.
^Oh, kamu masih mahasiswa. Nama panggilanku Widi, lulusan Universitas Berdikari Jakarta, udah 3 tahun kerja jadi arsitek. Kamu di ITB, angkatan?^ tanya Widi bersemangat.
^Aku angkatan 95, udah semester akhir,^ sahut Uge.
Jawaban ini membuat Widi kecewa, ^masih mau ngedongeng tentang lintas waktu?^ tanya Widi kesal.
^Dongeng? Maksud kamu apa sih?^ tanya Uge.
^Angkatan 95 masih kuliah? Udah di drop out kali sama kampus,^ sahut Widi.
^Baru empat tahun, masa di drop out?^ tanya Uge.
^Jangan cari gara-gara deh, aku tau banget tentang ITB angkatan segituan,^ ancam Widi.
^Ya tes aja, gampang kan?^ tantang Uge.
^Kalo bener kamu anak ITB angkatan 95, di depan BNI ada pedagang es kelapa bernama Kang Yayan, pertanyaannya, tukang apa yang dagang di sebelah Kang yayan? Kalo salah jawab, langsung bye,^ ancam Widi sambil tertawa geli dengan pertanyaannya sendiri.
^Ngaco nih anak, Kang Yayan itu tukang parkir. Hahaha, jebakannya norak,^ jawaban Uge berhasil membuat Widi tertawa, ternyata Uge tahu.
^Boleh lah, terus kenapa dia sampe jadi tokoh legendaris?^ tanya Widi.
^Di akhir tahun 98, Kang Yayan dapat modal dari bule yang dinikahinya, dia jadi pengusaha travel sukses di Cipaganti. Kisah paling inspiratif di sekitar ITB, kalo enggak tahu, bukan anak ITB,^ sahut Uge lancar.
__ADS_1
Jawaban tepat Uge membuat Widi bingung, apakah Uge alumni ITB atau pernah mendengarnya dari alumni ITB? Hmm, jangan-jangan Uge pembuat situs ini, ia berusaha pengunjung percaya dongeng lintas waktunya, Widi mencari pertanyaan lain yang lingkupnya lebih sempit.
^Kamu kenal Dewi?^ tanya Widi, ia agak ragu dengan pertanyaannya sendiri yang terlalu spesifik.
^Dewi mana? Nama Dewi kan pasaran,^ sahut Uge.
^Emang Dewi yang kamu kenal berapa banyak?^ tanya Widi.
^Enggak ada, mungkin Dewi yang sering diomongin cowok-cowok? Dewi FSRD angkatan 98, itu maksud kamu?^ tanya Uge.
Widi tertegun, ^Kaya gimana orangnya, Ge?^
^Aku sih enggak kenal. Kata anak-anak, dia kuliah dianter supir pakai Mercy, tinggal di Cipaganti, Dewi yang itu bukan?^
Pertanyaan sesempit ini juga dilahap, Uge pasti alumni ITB! ^Ge, kamu alumni atau lagi ambil S2 di ITB? Angkatan 95 itu sembilan tahun yang lalu,^ tanya Widi ingin segera membawa diskusi ke situasi waras.
^Wah, aku paham! Kamu yang punya situs ini ya? Pura-pura enggak percaya lintas waktu, tapi lagi ngegiring pelan-pelan, kalo kamu beneran di tahun 2004,^ tebak Uge.
^Ge, kamu stress karena apa sih? Malu-maluin almamater aja, bikin situs beginian! Ngaku aja deh!^ balas Widi.
^Hahaha, ya udah, jadi kamu di tahun 2004, aku di tahun 1999, ya? Gitu maunya?^ tanya Uge.
^Gampang, Ge. Di ujung kanan bawah monitor komputer ada jam dan kalender, kalo enggak punya kalendar cetak,^ balas Widi.
^Wid, aku udah berhasil jawab pertanyaan kamu, ada yang meleset enggak? Nah, kamu kenapa tahu banget ITB? Katanya kuliah di Jakarta, jadi siapa yang suka bohong?^ tanya Uge.
^Aku enggak bohong. Perlu aku email scan ijazahku?^ tantang Widi.
^Nanti aja, kalo aku berhasil bikin perusahaan dan butuh arsitek dari masa depan,^ sahut Uge.
^Gimana mau punya perusahaan? Udah tua, enggak lulus-lulus S1,^ ledek Widi.
^Mbak Terminator, minta email kamu deh, semoga info tanggal, bisa merubah tema diskusi, dari lintas waktu ke arsitektur misalnya,^ ujar Uge.
^ Mas Flinstone perlu pembuktian segala, ya? Konyol banget! Tapi oke, aku mau tahu, nanti alasannya apa lagi,^ sambut Widi.
Mereka bertukar alamat email dan saling mengirim email, ternyata tidak berhasil.
^Huh, bikin dulu tuh alamat email yang belum ada, orang masa depan enggak tahu cara bikin email?^ tanya Uge.
^Lho, kamu tahu enggak kalo email kamu udah enggak aktif? Orang masa lalu enggak tahu cara buka email?^ tanya Widi.
Perdebatan tentang lintas waktu terus berjalan, hingga mereka jadi akrab, di ujung diskusi mereka sepakat chatting lagi pada jam yang sama. Dua makhluk ini pasti kesepian.
***
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1