Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Menyusuri Waktu Part 1


__ADS_3

Dewi tak pernah tahu Angga sedang bersama ayahnya saat kecelakaan terjadi, bahkan ia tak melihat Angga, bahkan Andi, saat proses pemakaman ayahnya. Seminggu setelah kepergian Pak Nata, kesedihan kembali menyelimuti Dewi, ibunya meninggal dunia. Lagi-lagi ia tak melihat 2 orang yang sangat diharapkan mampu menguatkan hatinya. Dewi tidak tahu, Angga telah berubah menjadi orang lain dan Andi sedang sibuk dengan bisnisnya di Singapura.


Dewi tak pernah tahu bahwa ia adalah pewaris tunggal perusahaan-perusahaan besar milik ayahnya karena Pak Nata tidak banyak bicara soal itu. Kekayaan ayahnya yang Dewi tahu, hanya rumah besar yang mereka tempati dan kendaraan-kendaraan mewah yang parkir di rumahnya. Setelah Pak Nata dimakamkan, ternyata tak satu pun pimpinan perusahaan-perusahaan milik Pak Nata mencari Dewi atau ibunya untuk membicarakan hak-haknya.


Pak Jim, orang kepercayaan Pak Nata untuk mengurusi aset keluarga ternyata telah menggantikan posisi Pak Nata sebagai pemilik perusahaan-perusahaan besar Pak Nata. Bahkan saking serakahnya, ia juga ingin menguasai rumah besar yang ditempati Dewi beserta isinya. Saat itu Dewi belum mengerti bahwa dunia ini banyak dihuni oleh orang-orang yang kejam, sehingga Pak Jim berhasil menekan Dewi untuk menjual semua aset keluarga dan tinggal di rumah kecil, dengan alasan biaya operasional rumah besar, gaji para supir, pembantu dan sebagainya itu sangat tinggi. Pak Jim mengatakan, uang hasil penjualan aset itu digunakan untuk bisnis, keuntungannya akan berguna untuk menanggung biaya hidup dan simpanan untuk masa depan Dewi. Semua itu hanya akal-akalan Pak Jim, kenyataannya Dewi tak dapat apa-apa selain rumah barunya yang kecil.


Tante Lina mengunjungi Dewi, ia berniat membawa Dewi tinggal bersamanya, ia sangat kaget melihat kondisi Dewi. Tante Lina tidak terima atas perlakuan Pak Jim, tapi ia dan suaminya hanya bisa mundur teratur ketika Pak Jim menantangnya ke pengadilan. Mereka hanya orang kecil, yang tidak punya nyali berhadapan dengan orang-orang besar yang pandai memanfaatkan celah kelemahan hukum.


Sejak itu Tante Lina memaksa Dewi tinggal di rumahnya, ia melarang Dewi ke Bandung, Dewi tak boleh berhubungan dengan siapa pun yang berkaitan dengan masa lalunya dan merahasiakan keberadaannya. Tante Lina trauma dengan peristiwa tewasnya Pak Nata dan perebutan harta yang dilakukan Pak Jim. Mulai saat itu Dewi yang tadinya hidup senyaman putri raja, kini harus menjalani hari sebagai Widi yang hidup prihatin.


Widi tidak mau menjadi beban, ia segera mencari pekerjaan, apa saja, asal gajinya cukup untuk menutupi kebutuhannya sendiri dan melanjutkan kuliahnya di tempat barunya. Karena tidak pilih-pilih, maka tidak sulit untuk perempuan secantik dan sepintar Widi mendapat pekerjaan. Ia diterima menjadi sales di perusahaan dealer mobil mewah.


Tahun pertama tinggal di rumah Tante Lina, Widi seperti anak kos yang menumpang tidur. Pagi hingga sore ia kerja, sore hingga malam ia kuliah, sabtu dan minggu ia mendatangi toko-toko buku, membeli dan membacanya seharian di tempat yang tidak ada gangguan. Ia jarang berinteraksi dengan siapa pun, termasuk dengan keluarga Tante Lina. Tantenya tidak mau mengusik, ia tahu kesibukan Widi adalah pelarian dari kesedihannya, yang penting Widi mau tinggal dengannya.


Awalnya semua berjalan lancar, sudah satu tahun ia bekerja tanpa masalah, ia punya atasan baik yang hanya menuntut bawahannya bekerja profesional. Tiba-tiba ia punya atasan baru yang tidak sejalan dengannya. Atasan baru itu menekan anak-anak buahnya untuk menghalalkan segala cara agar target penjualan tercapai, terutama para wanita yang cantik. Widi tidak suka dengan arahan ini, ia terpaksa keluar.


Kali ini nasib baik seolah menjauhinya. Tak satu perusahaan pun menjawab lamarannya. Widi resmi jadi pengangguran, sehingga kuliahnya pun harus terhenti. Kehidupan baru ini membuka mata Widi, ia baru sadar bahwa keluarga Tante Lina sebenarnya tak sanggup menampungnya. Kebutuhan dasar keluarga ini tak bisa terpenuhi, apalagi ditambah seorang pengangguran, ia mulai merasa jadi benalu di rumah ini.

__ADS_1


 


Widi terkenang saat orang tuanya masih ada, keluarga Pak Nata sangat berjiwa sosial, seharusnya keluarga Tante Lina inilah yang wajib didahulukan untuk dibantu, tetapi karena keluarga Tante Lina tidak pernah menceritakan kesusahannya, maka keluarga Pak Nata menganggap kondisi ekonomi mereka baik-baik saja.


Rumah kontrakan kecil Tante Lina, gentengnya sudah bocor di sana-sini, eternit banyak yang telah lepas sehingga genteng terlihat dari dalam, warna dinding kusam, bak kamar mandi yang bocor telah tergantikan oleh ember besar, semua barang elektronik hanya menjadi pajangan karena tidak berfungsi.


Semua pemandangan tadi luput dari pandangan Widi saat ia masih bekerja,  saat itu ia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Tante Lina memaksakan diri berhutang pada tetangga untuk menyiapkan kamar yang layak untuk Widi, padahal kamar lain yang ditempati Tante Lina bersama suami dan anak-anaknya, kondisinya sangat menyedihkan, hanya terisi kasur gulung tipis yang sudah koyak di sana-sini dan tumpukan baju tanpa lemari.


Widi baru tahu, keluarga Tante Lina telah biasa makan seadanya, sekedar perut terisi, Tante Lina dan suaminya tidak jarang makan hanya dengan nasi yang di siram sedikit minyak goreng, bekas menggoreng telur untuk anak-anaknya supaya ada rasa. Dan yang paling membuat hati Widi miris, 2 anak perempuan Tante Lina yang masih kecil, sering tidak mau masuk sekolah karena malu, belum bayar uang sekolah, uang buku, uang kegiatan dan sebagainya. Widi menyesal tidak membantu keluarga ini saat ia masih bekerja, terlebih lagi saat ia masih tinggal di istana ayahnya.


Saat ini cuma tenaga yang bisa ia sumbangkan, dengan motor yang dibelinya saat masih bekerja, setiap hari ia mengantar-jemput Tante Lina ke pasar dan anak-anaknya ke sekolah. Tante Lina mencari nafkah dengan berdagang bumbu di pasar tradisional, sementara suaminya menjadi tukan ojek. Waktu luang membuat Widi dekat dengan seluruh penghuni rumah. Semakin dekat, semakin besar juga rasa bersalahnya, keluarga ini butuh uang, bukan tenaga.


Dalam waktu sekejap Widi sudah punya banyak langganan ibu-ibu, mereka sering menggoda Widi, ‘cantik-cantik kok kerja kaya begini, mendingan jadi mantu ibu, anak ibu kerja kantoran lho…..’ Bahkan  Koh Akiong, pemilik toko kelontong, mulai menawarkan hadiah melalui Tante Lina, entah ingin menjodohkan Widi ke anaknya atau untuk dirinya sendiri? Untungnya Tante Lina cukup bijaksana tidak meladeni usaha-usaha 'kasus suap' seperti itu. Widi memang terlalu cantik untuk pekerjaan seperti ini, sehingga beberapa ibu-ibu militan mulai memaksa Widi bertemu anaknya.


Untuk melanggengkan bisnis kecilnya sekaligus mengamankan diri dari upaya perjodohan, Widi memodifikasi penampilannya agar tidak terlihat cantik. Kini Widi tidak pernah mau mencopot helm cetoknya walau sudah turun dari motor, rambut panjangnya yang indah dipotong sebahu dan selalu dikuncir, ia pun meminta jaket motor milik suami Tante Lina yang tidak terpakai agar terlihat kumal dan gombrong di badan, jaket inilah yang akan dilihat Erlangga. Lambat laun penampilan Widi semakin mirip laki-laki, ia senang menggunakan kaos laki-laki, ia telah menjauhi sisir, pembersih muka dan perangkat-perangkat wajib perempuan lainnya. Penampilan tomboi dan kucel yang tadinya sebagai kamuflase, akhirnya malah menjadi identitas barunya. Tujuan Widi tercapai, sejak penampilannya semakin tak menarik, hubungan Widi dan orang-orang pasar akhirnya menjadi murni bisnis.


Widi semakin populer di pasar, kali ini karena talenta tersembunyinya mulai diketahui para pedagang di pasar tradisional hingga pengusaha di ruko seberang pasar. Awalnya Widi membantu mendesain sebuah toko, kemudian dari mulut ke mulut menyebarlah bahwa urusan menggambar dengan komputer, serahkan saja pada Widi. Akhirnya Widi meninggalkan bisnis kurir karena ia sudah sibuk dengan order membuat brosur, katalog, billboard, desain toko dan sebagainya. Widi mengerjakannya di rental komputer yang berada di dekat kampus, tempat ia kuliah saat masih bekerja sebagai sales.

__ADS_1


Penghasilan Widi memang tidak terlalu besar, tapi ia jadi bisa membantu keluarga tantenya. Ia sangat senang mendengar teriakan histeris keponakannya saat mendapat oleh-oleh, urusan sekolah mereka pun kini lancar. Lahapnya selera makan keluarga ini saat menikmati lauk pauk yang layak atas hasil jerih payahnya, membuat Widi sejenak melupakan kesedihannya.


Banyak hal yang membuatnya pantas bersedih, ia merasa sudah tak punya masa depan cerah lagi. Penghasilannya tidak cukup untuk meneruskan kuliah, sehingga impiannya menjadi arsitek terlalu jauh untuk dijangkau. Bahkan, soal kehilangan Angga, sudah tak ada tempat lagi dalam pikirannya yang terlalu sesak oleh himpitan hidup.


Di suatu malam Widi merenung, cucuran deras keringat ini hanya bisa untuk sekedar bertahan hidup dan tak akan membawaku terbang tinggi, cuma keajaiban yang bisa mengangkat derajat hidupku. Dimana Tuhan? Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar di benaknya.


 


 


Bersambung


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


 

__ADS_1


 


__ADS_2