
Kosan Bodas, Bandung, 1999 - Al Kahfi Land, Depok, 2004
"Jam sabraha, Kang?" tanya Uge.
"Baru jam salapan lewat, aya naon Den Uge?" tanya Kang Ujang, penjaga Kosan Bodas yang baru saja keluar dari ruang tamu yang terdapat jam bandul besar.
"Nteu Kang, kalo hampir jam sapuluh, ingetin urang nyak," pinta Uge sambil memetik gitar di antara anak-anak kos yang sedang ngeriung di ruang tengah.
"Beres Den Uge, saha nu hayang kopi?" tanya Kang Ujang ke anak-anak.
"Jang, kau bikin ajalah yang banyak di ceret! Pasti habis nya itu," sahut Bang Ucok sambil mengunyah martabak telor traktiran Uge.
Bang Ucok adalah penghuni kos yang paling senior, keponakan pemilik kos. Sehari-hari ia bekerja sebagai asisten pribadi pengusaha bule, dompetnya tebal tapi bagian atasnya bagai dijahit, sehingga para tukang palak di kosan sulit membobolnya, kalau sudah begitu proposal pengadaan martabak selalu diajukan pada Uge.
"Uge, kenapa rupanya tanya-tanya jam, mau betelor lagi kau?" tanya Bang Ucok sambil tertawa terkekeh dengan not sangat rendah.
Uge tidak menjawab, ia tersenyum dan terus memetik gitar.
"Di sini aja laaah dulu, Ge. Enak kali abang dengar kau main gitar, macam di lapo bintang lima, hehehe," pinta Bang Ucok sambil menggulung ujung kaosnya ke atas, hingga perut buncitnya terekspos mata-mata malang yang tak sengaja melihatnya.
"Eee kawan, siapa yang pande main truf? Ha..? Ha..?" tanya Bang Ucok mengambil kartu remi dan memandang temannya satu-persatu.
"Enggak bisa bang, remi aja," sahut Wawan, ia juga kuliah di ITB.
"Bah, bosan kali aku main remi, tak ada yang pande maen truf kelen?" tanya Bang Ucok sambil memuntir bulu-bulu diperutnya. Semua menggeleng sambil menjaga pandangan dari pemandangan tak indah yang dipertontonkan Bang Ucok.
^Timbang pening kurasa, nah bantelah, remi pun jadi, Omen, kocok kartunya! Main kau Ge?" tanya Bang Ucok pada Uge.
Omen dan dua temannya tertarik mendekat untuk main kartu.
"Enggak suka main kartu Bang," jawab Uge tetap asik memainkan gitar.
"Bah, tak main duit nya kita, tak bedosalah, kalaupun iya, paling sikit aja, mau abang tanggung? Hehehe," goda Bang Ucok, lagi-lagi Uge cuma senyum,
Wajah Bang Ucok semakin terlihat jahil, ia bergeser lebih mendekat, kemudian memegang pundak Uge sambil memijit-mijit kecil memberi tekanan psikologis, "ah macam apa kali, cemana Ustad, sebentar aja lah?" rayu Bang Ucok, Uge menggeleng.
Karena penasaran, Bang ucok semakin menajamkan serangannya, "Bah, minum tidak, main kartu tidak, main cewek pun tidak, monoton kali hidup kau macam warna cat Kosan Bodas," ledekan Bang Ucok membuat anak-anak tertawa.
"Ngetawain Uge aja kelen, hehehe. Tapi yang pendiam macam ini, biasanya lebih ngeriiii, ada ceweknya di kampus, Wan?" tanya Bang Ucok sambil mengedipkan sebelah mata pada Wawan.
"Kayaknya enggak ada tuh Bang," jawab Wawan sambil cengar-cengir.
"Haaa... Itulah! Katanya anak ITB, teknik arsitekturrrrrr... Tapi tak lakuuuuu HUAHAHA." Terdengarlah ledakan tawa anak-anak kos, lebih tepatnya tawa gaya oportunis agar bola cela-an hanya menuju satu arah atau tidak bergulir liar ke arah mereka.
Ditembak langsung begitu, Uge tetap santai. Karena tak juga berhasil memancing respon Uge, Bang Ucok mencoba cara yang lebih persuasif.
"Ge, cak kau tengok Si Omen!" Bang Ucok menunjuk Omen dengan cara memajukan rahangnya, Omen tetap konsentrasi membagikan kartu.
"Mukaknya cekung macam sendok, kuliahnya pun tak jelas dimana."
"Telkom Bang." Jawab Omen dengan mimik serius dan mulut agak menganga.
"Iyalaaah... Dulu ITB, sekarang Telkom, besok Harvard pulak kau bilang, hahaha!.... Bah! Kuliah teknik katanya, entah teknik memanjat atau teknik mengigau, tak jelas kali kau, Men!" lanjut Bang Ucok membuat anak-anak tertawa.
"Eh, kok ketawa kelen? Nanti duluuuu... Justru Si Omen lah yang paling paten, anggar anak Telkom, didatangi cewek terus, kadang dua, kadang tiga, gonta-ganti pulak, itu baru laki-laki paten!" puji Bang Ucok membuat Omen terlihat bangga.
"Ssstt.. padahal karena gampang disuruh-suruh bikin tugas aja itu, hehehe." Kata Bang Ucok seolah berbisik pada anak-anak yang lain, tawa anak-anak kembali terdengar, termasuk Omen.
Bang Ucok melirik Uge lagi, wajahnya semakin jahil, "tapi kau masih sukak sama cewek kan, Ge? Bah, ngeri jugak abang sama Uge! Naksir pulak kau sama abang, HAHAHA." Anak-anak tertawa semakin keras.
Akhirnya Uge meletakkan gitarnya, anak-anak menahan tawa menanti serangan balik Uge. Bang Ucok terkekeh-kekeh dan mengedipkan sebelah matanya ke anak-anak.
"Bang, ada yang kirim salam," saatnya Uge angkat bicara.
"Ahhh biasa ituuuuu... Macam tak kenal aja sama abang kau yang ganteng ini," Bang Ucok mencolek dengkul Wawan seolah meremehkan informasi Uge.
"Dari Lala," ujar Uge.
Nama yang disebut Uge rupanya penting buat Bang Ucok, ia tak bisa meremehkan informasi ini.
"Ahh yang betul kau? Apa katanya?" tanya Bang Ucok, saat serius wajahnya berubah, matanya menyipit, mulutnya semakin menganga karena rahangnya tertarik ke bawah.
"Katanya Bang Ucok itu cowok penyayang tapi...... Pelit." kata Uge.
"Bah banyak kali cerita kau, tapi katanya kau ustad, bohong pulak, udah tak takut dosa rupanya?" tanya Bang Ucok, ia sebenarnya penasaran tetapi tak mau dikerjai, terlihat dari wajah seriusnya, ekspresi jahilnya sudah hilang.
"Yah emang dosa kalo bohong," jawab Uge dengan wajah tak acuh. Bang Ucok semakin penasaran, Uge ingin meraih gitar, tapi Bang Ucok menahan tangan Uge.
"Pelit katanya? Yang jelas lah, terus apa pulak kau bilang?" Bang Ucok memang naksir berat pada Lala, karyawati hotel yang cantik, ia juga ngekos di sini.
"Iya itu Bang, gue langsung tanya, pelit kenapa? Tapi jawabannya enggak nyambung, kata Lala, Bang Ucok genit, suka colak-colek, bener gitu bang?" tanya Uge.
"Alamaak, entah siapa yang nipu, kau apa Lala? Mana berani aku? Bisa di tamparrrrrnya aku," sahut Bang Ucok.
"Enggak percaya? Enggak usah dilanjutin ya?" Uge seperti mau bangkit, tapi tangan Bang Ucok cepat menahan dengkul Uge agar tetap pada posisi dan tidak pergi.
"Astaghfirlah... Pak Ustad ku yang soleh, cuma becanda abang ini, tau kali lah abang, tak mungkin lah ustadku ini bohong," rayu Bang Ucok.
Setelah Bang Ucok yakin Uge tidak jadi beranjak, ia tersenyum bangga, memamerkan wajah sombong ke anak-anak. "HEY kawan-kawan dengar ya! Abang kau ini tak pernah colak-colek si Lala, tapi entah cemana? Ternyata itu pulak yang dia bilang ke orang-orang, rupanya berharap ku colek si Lala, HUAHAHA" Bang Ucok tertawa sambil mengambil martabak, "terus apa lagi katanya, Pak Ustad?"
"Lala bilang, aku sih enggak masalah ya, kalo Bang Ucok suka genitin aku, karena aku tuh emang suka sama Bang Ucok," lanjut Uge.
"Ooo maaang tak masalah katanya? Manalah aku tau kalo dia sukak sama aku? Tiap ku tegor, macam singa tak makan tiga tahun mukaknya. Hahaha, galak kali dia sama aku. Eh tapi betul tidak cerita kau?" tanya Bang Ucok ragu.
"Enggak percaya kan? Udah lah gue masuk kamar aja deh," ancam Uge lagi.
"Bah, jangan lah kau suka merajuk Ganteeeng," tahan Bang Ucok sambil memijit-mijit bahu Uge penuh persahabatan.
"Lanjut Bang?" tanya Uge.
"Iya laaaaaaaaah, biar lontong-lontong ini tau siapa abangnya," tunjuk Bang Ucok ke anak-anak.
"Emang Lala galak ya sama Bang Ucok?" tanya Uge.
"Caperrrrrrr, biasaaaaa ituuuuu!" Jawab Bang Ucok pongah.
Kalo kata Lala sih, dia sakit hati sama Bang Ucok," lanjut Uge.
"Alamak Jaaang, sakit hati katanya? Ha.. kelen dengar itu lontong-lontong? Calon isteri abang itu nampaknya cemburu, pasti dikiranya abang kau ini banyak kali ceweknya. Uge, kenapa tak kau bilang, cewek-cewek yang sering ngejar abang, cuma teman aja ituuuu? Apa lagi katanya?" tanya Bang Ucok.
"Yakin Bang, gue ceritain semuanya di sini?" tanya Uge.
"BAHH, tak perlu ada rahasia, seluruh dunia pun udah tau nya, abang kelen ini kan pleiyboooiiiy. Terus apa katanyaaa?" tanya Bang Ucok.
__ADS_1
"Katanya, Bang ucok suka colak-colek, tapi giliran Lala minta rokok Samsu Bang Ucok, masak sebatang aja enggak dikasih, pelit banget deh," lanjut Uge.
"Hah rokok? Tak pernah ku tengok si Lala kosan kita itu merokok, Samsu pulak, ngeri kaliiiii!" ujar Bang Ucok.
"Emang bukan Lala yang kos disini Bang," sahut Uge.
"Hah?" Bang Ucok berpikir sejenak, kini dia tahu siapa mahkluk yang diceritakan itu.
"MONYET kau! Sana kau! Betelor aja terus di kamar!" Bang Ucok mengamuk dan melempari Uge dengan kartu, Uge langsung menjauh sambil meneruskan ceritanya yang terpotong.
"Iya, Lala yang keker itu Bang, yang kalo malam ngamen jadi cewek, tapi kalo siang bantu proyek gue, ngaduk semen sama pasir. Sumpah enggak bohong, dia ngomong gitu Bang, HAHAHA," ujar Uge sambil tancap gas ke kamarnya.
Kali ini tawa anak-anak terdengar lebih menggelegar, bahkan ada yang sakit perut dan mengeluarkan air mata, kecuali Omen, ia tampak masih berpikir keras.
"Ooooh Lala! Si Latip? Bencong dekil itu yang lu colek-colek juga Bang?" tanya Omen polos.
"Eh mukak sendok, percaya kali kau sama si ustad gadungan, memang bohong aja kerjanya, makanya dia lari," tangkis Bang Ucok berupaya mengembalikan kewibawaannya yang luntur.
Anak-anak semakin tertawa, mereka sudah tidak mempan lagi dengar penjelasan Bang Ucok.
"Waaaah aya naon? Rame eeuy! Kopi, Kopi." Kang Ujang datang, ia meletakkan ceret kopi yang telah dibuatnya dan mendekat pada Bang Ucok.
"Den Ucok, boleh minta Samsunya, sebatang aja?" tanya Kang Ujang polos.
"Yang sering dicolek aja enggak boleh, apalagi Kang Ujang, HAHAHA," kini Wawan jadi berani menyerang Bang Ucok, derai tawa kembali meledak.
“HUAHAHA, memang monyet kelen semua, ya!" sahut Bang Ucok ikut tertawa.
Uge memang pendiam, tapi jangan kira dia adalah sasaran empuk, serangan baliknya sangat berbahaya. Kehadiran Uge tadi cuma untuk membunuh waktu, setiap jam sepuluh malam Uge punya rutinitas baru, chatting dengan perempuan dari masa depan.
*****
^Wid, ada satu cara untuk ngebuktiin siapa di antara kita yang ngaco. Yuk ketemuan! Kasih alamat kantor kamu, aku akan datang,^ pinta Uge.
^Ngapain?^ tanya Widi.
^Biar enggak ada lagi drama lintas waktu, takut?^ tantang Uge.
^Kenapa takut?^ sahut Widi.
^Kalo gitu kasih alamatnya dong, Wid,^ pinta Uge lagi.
Widi diam beberapa saat, kemudian muncul balasan, sebuah alamat kantor. Uge segera menyimpan alamat itu.
^Kapan kamu mau datang?^ tanya Widi.
^Insya Allah besok setelah sholat subuh aku langsung berangkat, mungkin jam sembilan pagi aku sudah sampai kantor kamu, itu kalo alamatnya benar dan enggak nyasar,^ jawab Uge.
^Alamatnya bener kok, mana tega aku ngerjain kamu yang datang jauh-jauh dari Bandung,^ sahut Widi.
^Wid, maaf, kamu udah nikah atau punya pacar?^ tanya Uge nekat.
^Kenapa nanya beginian?^ sahut Widi heran.
^Kan jadi fitnah kalo datengin istri orang,^ balas Uge.
^Kalo cuma ketemu, ngobrol yang wajar-wajar, apa masalahnya?^ tanya Widi.
^Eh Uge, kalo bener kamu mahasiswa, buat aku kamu masih ABG, harusnya kamu panggil aku mbak, anak kecil ngomong naksir segala,^ ejek Widi.
^Emang salah kalo lebih muda? Justru kalo cerita kamu bener, masuk kuliah tahun 98, sekarang kamu seharus masih kuliah, bukan arsitek, Dek Widi,^ balas Uge.
^Enggak sopan manggil Dek! Ge kita udah sering chatting, kok stressnya enggak ilang-ilang ya? Udah diskusi banyak hal, masih aja balik lagi ke soal lintas waktu^ tanya Widi.
^Kan kamu yang duluan bilang aku ABG, kamu tiga tahun dibawah aku, lho,^ sahut Uge.
^Gini aja, kamu lahir tahun berapa, Ge^ tanya Widi.
^1977,^ jawab Uge.
^Lahir tahun 1977, berarti umur kamu sekarang 27! Betul kamu di atas aku, terus ngapain ngaku masih kuliah?^ tanya Widi.
^Hahaha, udahlah, aku akan datengin kamu besok, kita lihat siapa yang error, Wid,^ ujar Uge.
^Oh iya, repot amat, kenapa kita enggak coba teleponan aja? Minta nomor handphone kamu dong, Ge,^ pinta Widi.
^Handphone? Aku bukan anak orang kaya,^ sahut Uge.
^Apa hubungannya kaya dengan handphone? Oh iya lupa, kamu kan ceritanya masih di tahun 1999. Oke, kalo nomor lain yang bisa dihubungi, ada? Alasannya apalagi?^ tanya Widi.
^Ada nomor telepon kosan sih, ya udah mana nomor handphone kamu? Aku telepon dari wartel deh,^ pinta Uge.
^Kelamaan, sini nomor kosan kamu, aku telepon sekarang, nama kamu bener Uge kan?^ tanya Widi.
^Iya orang-orang kosan emang kenalnya Uge,^ sahut Uge.
^Kamu sekarang dimana?^ tanya Widi.
^Di kamar kosan,^ sahut Uge.
Setelah mendapat nomor telepon, Widi langsung menelpon. Terdengar nada panggil, ternyata langsung ada yang mengangkat. Widi senang karena misteri lintas waktu akan segera tuntas.
"Halo, assalamualaikum," sapa seseorang yang mengangkat telepon dengan logat khas Sunda.
"Wa alaikumsalam, bisa bicara sama Uge?" tanya Widi.
"Den Uge? Anak ITB? Arsitek?" tanya Kang Ujang.
"Iya." Widi tersenyum lega, ternyata Uge tidak fiktif dan benar masih kuliah. Widi tak sabar mendengar alasan abege sok tua yang merasa hidup di masa lalu.
"Den Uge yang gondrong, tinggi, kasep, tapi awut-awutan?" tanya kang Ujang membuat Widi bingung tapi ia jadi punya tambahan informasi tentang Uge.
"Iya," jawab Widi sekenanya.
"Den Uge yang ustad, rajin sholat ke masjid?" tanya Kang Ujang.
"Ustad? Iya." jawab Widi.
"Den Uge yang di kamar terus, seneng baca, pinter maen gitar dan..."
"Iya, iya, ada pak?" tanya Widi mulai tak sabar.
Widi mengetik sesuatu pada Uge, ^Ge, keluar dong, yang angkat telpon bawel nih.^
__ADS_1
^Emang udah telepon? Kok enggak kedengaran dering telepon? Aku cek dulu keluar, sebentar ya Wid, posisi telepon dekat kok dari kamar,^ ketik Uge.
"Jangan panggil bapak atuh, Kang Ujang aja," pinta Kang Ujang.
"Iya Kang Ujang, Uge nya ada?" tanya Widi.
"Iyeu saha (ini siapa), Neng?" tanya Kang Ujang.
"Saya Widi," sahut Widi.
"Istrinya?" tanya Kang Ujang.
"Bukan kang, Uge sudah punya istri?" tanya Widi.
"Nteu nyaho (tidak tahu), dulu mah kabogoh (pacar) aja nteu aya (tidak ada), alim pisan (banget) Den Uge mah," sahut Kang Ujang.
"Oh gitu, tapi Uge nya ada?" tanya Widi.
"Oh maap, Eneng Widi berarti kabogoh Den Uge ya?" tanya Kang Ujang lagi.
Widi mulai kesal, lalu ia melihat jawaban Uge pada monitor komputer, ^Enggak ada yang pakai telepon, pasti kamu salah pencet nomor.^
^Enggak, yang angkat kenal kamu kok, ini dia ngomong terus, keluar lagi deh,^ ketik Widi.
"Alhamdulillah Neng Widi, cepetan atuh nikah, saya mah seneng kalo..."
"Kang Ujang, saya mau bicara sama Uge, orangnya ada enggak?" tanya Widi gemas.
"Oh iya, maap Neng, maap, maap, ma... aaaap," sahut Kang Ujang.
"Maaf kenapa kang?" tanya Widi.
"Kang Ujang teh jadi bingung, kabogoh Den Uge kok nyarinya ke sini? Telat atuuuuh," ujar Kang Ujang.
"Udah tidur? Masih melek kok di kamarnya, dia yang minta saya telepon sekarang," ujar Widi.
"Hah? Neng Widi nakutin pisan, bekas kamar Den Uge lagi kosong atuh," sahut Kang Ujang.
"Kang Ujang, Uge udah pindah?" tanya Widi heran.
"Neng Widi nteu nyaho? Den Uge udah lama pindah, kayaknya lima tahunan mah ada. Kamana iyeu (kemana ini) si kasep?" tanya Kang Ujang.
Widi terkejut, rasanya sulit untuk percaya dengan penjelasan Kang Ujang, di Monitor Uge telah menulis sesuatu.
^Ngerjain terus, enggak ada yang telepon^, tulis Uge.
^Sebentar Ge, nanti ku jelasin.^ Widi mulai merasakan kejanggalan.
"Kang Ujang mah kangen, kalo ketemu suruh kesini atuh silaturahmi, anak lama mah masih sering ngumpul, aya Den Ucok, Den Omen, Neng Lala..semua lah kecuali Den Uge." Kang Ujang terus nyerocos sehingga Widi memotong pembicaraannya.
"Kang Ujang tahu enggak, Uge lulus kuliah tahun berapa?" tanya Widi.
"Wah udah lama, ya pas pindah itu kayaknya, sekitar tahun 99 kalo enggak salah." Jawaban Kang Ujang membuat perasaan Widi campur-aduk.
Widi berpikir keras, apa mungkin mereka memang berada di waktu yang berbeda? Ia merasa bodoh jika harus mempercayai hal ini.
"Ya sudah, hatur nuhun (terima kasih) Kang Ujang, assalamualaikum," ujar Widi.
"Sami-sami (sama-sama) Neng, wa alaikumusalam." Saat Kang Ujang menutup telepon tiba-tiba ia teringat sesuatu yang penting dan berhubungan dengan Widi, tapi ia tidak sempat mengatakannya pada Widi.
Widi mengakhiri teleponnya, ia melihat sudah ada tulisan Uge di monitor komputernya.
^Wid, kenapa enggak jadi telepon? Aku aja deh yang telpon,^ pinta Uge,
Widi segera mengetik, ^Udah Ge^
^Mana? Enggak ada telepon kok,^ ujar Uge.
^Udah, kamu kenal Kang Ujang?^ tanya Widi.
^Oh beneran udah telepon, tapi kok di ruang tengah enggak ada yang pakai telepon kosan? Oke, aku keluar lagi deh biar aku langsung yang angkat telepon,^ ujar Uge.
^Gak usah, Ge,^ sahut Widi.
^Kenapa?^ tanya Uge.
^Kata Kang Ujang, kamu udah enggak di situ sejak lima tahun yang lalu,^ sahut Widi.
^Hehe kamu pasti nebak nama nih, nama Ujang mah pasaran di Bandung, pasti kamu enggak nelepon,^ tebak Uge.
^Oke, kamu kenal Ucok, Omen, Lala?^ Jawaban Widi membuat Uge tersentak.
^Hmm kenal banget, tapi Wid, gimana caranya kamu ngobrol sama Kang Ujang, kata anak-anak dia lagi disuruh Bang Ucok beli rokok ke warung dan enggak ada orang yang pakai telepon, aneh?^
^Ge, jujur aja dong,^ pinta Widi.
^Ah itu lagi, ya kita buktiin aja, besok kan aku mau ke kantor kamu,^ sahut Uge.
^Udah dulu deh, aku jadi takut, Ge,^ ujar Widi.
^Takut kenapa?^ tanya Uge.
^Ge, aku sendirian di kantor malam-malam, ketemu hal aneh gini, serem tau,^ ujar Widi.
^Yah kasihan, maaf ya Wid,^ kata Uge.
^Udah ya, mudah-mudahan kamu besok enggak nyasar kesini. Aku sih berharapnya tadi itu skenario canggih kamu, enggak apa-apa deh ngerjain, daripada kita beneran beda waktu. Aku pasti maafin kok,^ ujar Widi.
^Ya kita lihat aja besok lah Wid,^ sahut Uge.
^Oke Ge, assalamualaikum,^ tutup Widi.
^Walaikumsalam,^ sahut Uge.
Widi jadi ketakutan, sebaliknya Uge tampak bersemangat, ia langsung mengemasi hal yang harus dibawa ke Jakarta.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
__ADS_1
Penulis, Indra W