
Kosan Bodas, Bandung, 1999 - Al Kahfi Land, Depok, 2004
Malam ini Uge baru saja menyuruh para tukang untuk menggotong batu besar berwarna hitam ke mobil pick up untuk dibawa ke Al Kahfi Land. Menurut nya, batu unik itu layak berada di tempat yang membuatnya terlihat keren, sayang jika cuma jadi alas untuk menjemur sesuatu di kosan dan Uge telah membelinya dari pemilik kos yang tidak peduli dengan batu itu.
Sebelumnya Uge juga telah menyatakan kepada Bang Ucok akan mengakhiri masa indekosnya bulan depan tapi Uge belum tahu kepastian waktunya. Uge masih belum mau memberikan alamat barunya dan tetap merahasiakan Al Kahfi land, karena ia ingin memberi kejutan, ia berencana mengundang teman-teman dekatnya ke Al Kahfi Land setelah bangunannya benar-benar rampung.
Setelah menyerahkan urusan batu pada sang supir, Uge pamit masuk kamar, ia tak sabar untuk chatting dengan Widi. Uge telah menyalakan komputernya walaupun jam segini biasanya Widi belum online.
"Assalamualaikum, lu lagi chatting?" Sapa Andi, kepalanya muncul dari balik pintu kamar Uge.
"Wa alaikumsalam, eh Ndi, ngagetin aja, biasain ngetok dulu! Belum, baru jam sembilan, biasanya kan jam sepuluh. Gue lagi browsing doang," sahut Uge.
"Haha, jadi gini nih?" tanya Andi sambil masuk dan menutup pintu.
"Gini apa? To the point aja, lu mau nanya apa?" jawab Uge sambil tertawa, ia sudah menduga, Andi pasti merasa berkepentingan terhadap informasi tentang hubungannya dengan Dewi.
"Parah lu, gue titipin malah dipacarin," ujar Andi.
"Lu nitipin apa jeblosin?" tanya Uge.
"Gue kan cuma ngenalin, berarti bener nih yang gue denger dari orang, lu pacaran sama Dewi. Kata lu enggak mau pacaran, enggak istiqomah lu!" ledek Andi.
"Pacaran apaan? Gue mau lamar," sahut Uge.
"Hahaha, tuh untung gue ngelanggar privasi lu! Kasian gue sama elu, saking bujang lapuknya, deketin cewek fiktif. Akhirnya elu bisa ninggalin juga kan, siapa namanya?" tanya Andi.
"Namanya Widi. Maaf ya, anda salah! Widi dan Dewi adalah orang yang sama," ujar Uge.
"Hah serius lu? Ya Allah, lupa gue, keluarganya emang manggil dia Widi. Gimana ceritanya?" tanya Andi.
"Ngapain cerita, lu kan udah baca chattingan gue,” sahut Uge.
“Gue baca cuma dikit. Sekedar mastiin, kok bisa, orang yang punya tingkat intelektual lumayan percaya situs lintas waktu, ternyata frustasi bisa melumpuhkan logika. Jadi selama ini lu dikerjain Dewi?” tanya Andi.
“Ndi, yang chatting sama gue itu Dewi di tahun 2004," ujar Uge.
"Jadi lu masih percaya? Hahaha, udah lu confirm sama Dewi yang nyata?” tanya Andi.
“Gue dilarang ngabahas soal itu sama Dewi di tahun 2004,” sahut Uge.
“Hah? Hahaha. Wah, lu kan enggak biasa ngobrol sama perempuan, lu pasti dikerjain orang yang ngaku-ngaku jadi Dewi, jangan-jangan lu chatting sama laki? Hahaha. Sini gue mampir website chatting lintas waktu palsu itu, biar gue bantai mereka," tantang Andi.
"Padahal Si Jenggo penasaran, siapa tahu ketemu jodoh juga. Oke, kita bikin account baru untuk lu," ujar Uge sambil mendaftarkan Andi di situs lintas waktu.
“Sori ya, tingkat intelektualitas gue itu jauh di atas elu, tapi bikinin aja! Kayaknya gue emang perlu ngajarin anak kuper yang malang ini, bagaimana mengatasi dunia yang kejam,” ledek Andi.
Uge mendaftarkan Andi dengan nama ‘AP’, inisial Andi Permana. Uge dan Andi membaca nama-nama anggota chatting lintas waktu yang online, salah satu nama membuat Andi tertarik. Hmm, bener juga Si Angga, siapa tahu ketemu jodoh, hehe, gumam Andi.
Uge memberikan kursinya dan mencari kursi lain, lalu duduk disebelah Andi.
"Lu ngapain di sebelah gue?" tanya Andi.
"Hahaha, katanya lu mau ngajarin anak kuper yang malang ini," sahut Uge.
"O, iya bener! Saksikan baik-baik kehandalan gue! Tanamkan di kepala lu, semua manusia ini ada di tahun 1999. Mereka bisa ngaku apa aja, hidup di zaman majapahit, tinggal di bulan, bahkan ganti jenis kelamin. Tapi dari kalimat yang mereka tulis atas pertanyaan jenius gue, akan mudah terjawab siapa sebenarnya lawan bicara kita. Kalo lu mau belajar dari gue, lu akan mudah dapat jodoh,” ujar Andi serius.
"Hahaha. Jelas-jelas gue yang udah dapet," sahut Uge.
"Jelas-jelas kalo enggak gue bawain Dewi kemarin, lu ditipu nunggu 5 tahun kan, Bewok?" ledek Andi membuat Uge tertawa.
Andi mengambil ancang-ancang. “....Bismillahirrahmannirrahiim!” ujarnya sambil mengklik nama Soffiechantique2004.
"Hahaha. Eh, Jenggo, kalo pake embel-embel cantik, justru pasti kebalikannya. Amatir!" ledek Uge.
__ADS_1
"Stttt berisik, manusia anti sosial tahu apa?" tanya Andi sambil mengetik, ^Assalamualaikum,^
"Setelah memulai sesuatu dengan bismillah, jangan lupa kasih salam, Ga, kalo dijawab artinya seiman," ujar Andi.
"Yah mentah banget lu sama dunia maya, gimana seiman? Lu sendiri yang bilang, itu bisa aja laki," balas Uge tak mau kalah.
^Waalaikumsalam, Andi! Ternyata omongan kamu benar ya,^ jawab Soffie.
Andi dan Uge terkejut. Saking kagetnya, Andi menjatuhkan gelas di dekat komputer, untung cuma gelas kosong dan tidak pecah. Andi membenarkan posisi gelas itu.
"Nah lo, dia udah kenal sama elu, Ndi," ujar Uge.
"Kelihatan banget kan, siapa yang mentah sama dunia maya. Tebakannya kebetulan tepat aja. Santai, Ga," ujar Andi.
“Santai naon? Gelas sampe jatoh, hahaha,” ujar Uge.
“Sssst….santai!” perintah Andi.
^Maksudnya?^ Ketik Andi.
^Wah bener lagi. Awas jangan jatuhin gelas lagi,^ Jawab Soffie.
Uge dan Andi saling berpandangan, lalu keduanya mengamati seluruh ruangan. Uge semakin mendekatkan kursinya ke monitor komputer, "Nyari kamera? Rasain lu, Ndi, belagu sih elu, dia bisa ngeliat lu tuh kayaknya," ujar Uge.
Andi menggelengkan kepala seolah meremehkan Uge, "lu emang cetek soal cewek. Ini pasti perempuan, mereka itu memang punya intuisi yang kuat karena mereka makhluk yang lemah. Untuk ngadepin makhluk lemah, kita harus terlihat lemah supaya bisa satu frekuensi, tapi kasih kesan ada kekuatan besar di balik itu, seperti tulisan-tulisan singkat gue ini.”
^Bingung,^ ketik Andi.
"Haha, kekuatan besar? Nulis bingung, bukannya nunjukin lu blo-on ya?" ledek Uge.
"Hahaha, ***** lu," maki Andi
^Wah bener lagi! Sekarang aku percaya,^ ujar Soffie.
^Ya udah, aku ceritain ya biar kamu enggak bingung, kamu kan sekarang masih mahasiswa, kebayang kok, kaya gimana tampang abege linglung,^ ketik Soffie.
Uge tertawa keras hingga hampir menangis, Andi cuma bisa mesem-mesem.
^Andi, sebulan yang lalu kamu nemuin aku di tahun 2004. Waktu itu aku enggak percaya saat kamu bilang kita udah janjian lima tahun yang lalu lewat website chatting lintas waktu, kupikir cuma alasan dibuat-buat untuk ngajak kenalan, apalagi setelah itu kamu jadi sering jemput aku di kantor. Nah, barusan aku numpang sholat isya di ruangan temen aku, terus iseng ngintip komputer dia yang nyala, mumpung belum pulang dari Bandung. Ternyata pas mousenya aku goyang, muncul web lintas waktu yang kamu ceritain, aku daftar aja untuk mastiin cerita kamu, eh bener, aku lihat ada nama AP,^ ujar Soffie.
^MasyaAllah, tapi gimana kalo ternyata Andi yang beda?^ tanya Andi.
"Kamu bilang, tiga kata pertama yang akan kamu ketik adalah 'assalamualaikum, maksudnya dan bingung'. Kamu kuliah dimana?^ tanya Soffie.
^FSRD ITB.^ Jawab Andi.
^Nah betul! Di sebelah kamu ada temen yang bawelin kamu chatting?^ tanya Soffie.
"Wah, Ga! Dia tau juga kalo lu bawel. Sekarang gue percaya, ini beneran lintas waktu," ujar Andi.
"Lu di masa depan tetap ngeselin, tanya Ndi, nama yang punya komputer?" pinta Uge.
^Iya bener, di sebelah ada si bawel, kamu pakai komputer siapa Sof?^ tanya Andi.
^Widi, kata kamu teman satu kampus juga,^ sahut Soffie.
“Tuh! Widi di tahun 2004 memang lagi ke Kosan Ledeng. Widi dan Dewi orang yang sama, ngeyel banget!” ujar Uge.
“Wah, aneh banget ya!” sahut Andi.
^Nanti dia enggak marah, kamu pake komputernya?^ tanya Andi.
^Lho kamu yang nyuruh kok, kata kamu kita akan chatting pakai komputer Widi, terus kamu bilang nanti kamu yang minta maaf,^ ujar Soffie.
__ADS_1
Andi dan Uge saling berpandangan, "Lu emang parah Ndi, enggak gue, enggak Dewi, enggak di masa sekarang, enggak di masa depan, semuanya lu hajar privasinya," ujar Uge.
"Hehe, kalo privasi Dewi kan yang nyuruh gue di masa depan, mana gue tahu? Masak gue minta maaf ke Dewi sekarang?" ujar Andi membela diri.
"Itu namanya udah sifat, blegug," maki Uge.
"Gue terpengaruh elu kan, lupa? Ga, lu sana dulu gih, ganggu aja," usir Andi.
^Terus kita ketemuan dimana sebulan yang lalu?^ tanya Andi, tangannya sigap mencari kertas dan pulpen.
^Di Citos. Kopi Hitam Cafe pas jam makan siang,^ jawab Soffie.
^Tanggal, bulan dan tahun berapa?^ tanya Andi sambil mencatat informasi dari Soffie.
^2 November 2004.^ ketik Soffie.
^Waktu itu ciri-ciri kamu kaya gimana?^ tanya Andi lagi.
^Ya ampun, ternyata bener gara-gara chatting ini kamu datengin aku. Oke, pas kamu nyapa, aku lagi sendiri duduk di ujung café, browsing pakai i-book, pakai kemeja putih dan tas orange di atas meja,^ ketik Soffie.
^Oke, Insya Allah lima tahun lagi aku kesana, aku sudah catat,^ sahut Andi.
^Iya kamu memang datang, Nah jangan lupa, kamu udah ngelamar aku, jadi awas ya kalo kamu macem-macem di kampus!^ ancam Soffie.
Andi dan Uge saling melihat lalu tertawa berbarengan.
^Emang diterima lamarannya?^ ketik Andi.
Tiba-tiba koneksi mereka terputus.
"Ga kenapa nih, Ga?" tanya Andi panik, Uge memeriksa jaringan internetnya.
"Jaringan enggak masalah, mungkin server webnya down," jawab Uge.
"Wah, komputer lu jadi dengki gini, enggak boleh orang seneng nih," ujar Andi.
Uge memeriksa seluruh kemungkinan, ia tak menemukan masalah pada komputer dan jaringannya, hanya website lintas waktu saja yang tidak bisa diakses.
"Ya udah deh, Insya Allah besok sekitar jam segini gue kesini lagi," kata Andi.
"Ngapain lu? Lu pikir di sini warnet? Kata lu hubungan lintas waktu enggak nyata, mau nungguin lima tahun?" tanya Uge.
"Santai Ga, semuanya udah tertulis di lauhul mahfudz," tangkis Andi.
"Hahaha giliran elu aja. Ya udah sana pulang, bentar lagi waktunya gue online. Mudah-mudahan pas gue, webnya udah bener," sahut Uge.
"Ya udah, gue emang cuma bisa mampir sebentar. Kalo bisa lu pergi agak lama lagi deh, tapi kunci kamar taro di tempat biasa, ya," pinta Andi.
"Enggak bisa, kali ini gue bawa, soalnya enggak sehat hubungan lintas waktu," ledek Uge.
"Angga, gue lagi pengen belajar keras kepala dari lu, hahaha."
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1