
Malam sekitar pukul delapan lewat, kawasan sekitar Blok M masih cukup ramai. Erlangga sudah lupa pada fase kehidupannya saat masih terhimpit kesulitan ekonomi, sehingga berada di jalanan tanpa tersekat kaca mobil, membuatnya merasakan sensasi baru. Ia memperhatikan sekelilingnya persis seperti orang dari pelosok pedalaman yang baru melihat kota besar, tapi yang menarik perhatiannya tentu saja bukan gedung-gedung mentereng.
Erlangga tampak serius memperhatikan sebuah metromini yang ngetem, sang supir memajukan mobilnya sedikit-sedikit, hanya untuk memberi efek ancaman atau harapan palsu bahwa bisnya segera berangkat. Metromini yang sangat sesak itu masih saja bisa dimasuki estafet pengamen dan pedagang asongan.
Setelah Erlangga dan Widi berjalan agak jauh, metromini tadi menyusul. Erlangga heran, sang kondektur mampu berdiri hanya dengan mengandalkan satu kaki menginjak ujung pintu dan satu tangan mencengkram pegangan besi, tangannya yang lain melambai pada orang-orang di trotoar, padahal badannya telah terdesak keluar oleh penumpang yang menjejali pintu, dan hebatnya lagi dia masih mengajak orang-orang untuk masuk. "Aaa Duk, Duk, Duk, Leduk, Cleduk, Cleduk. Kosong! Kosong! Terakhir! Terakhir! Kemanaa?" teriak kondektur itu pada Erlangga.
"Ke Bulan!" jawab Erlangga iseng. Ia takjub melihat kegigihan kondektur itu, ambisinya dalam pencapaian target melebihi sales-sales kantoran.
"Naek bis nenek kau aja, lay! Monyong!" teriak kondektur itu sebal.
Widi tersenyum, ia melihat sisi Angga pada Erlangga mulai muncul. Mereka terus menelusuri trotoar. Erlangga tak peduli Widi membawanya kemana, ia sangat menikmati malam ini. Erlangga memperhatikan kebiasan Widi setiap bertemu pengemis, ia tak pernah melewatinya tanpa memberikan uang kecil, Erlangga semakin mengagumi perempuan yang punya aura positif ini.
Sesaat kemudian mereka melewati para pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar. Widi melihat pedagang yang menjual perlengkapan sholat dan buku-buku Islami, ia menghampiri dan membeli peci.
"Buat siapa, Wid?" tanya Erlangga.
"Buat kamu, biar tambah rajin sholat, mau?" tanya Widi.
Erlangga senang, ia langsung memakainya.
"Nah tambah ganteng kan, nanti aja dipakai pas sholat, di sini banyak debu nanti kotor," kata Widi.
"Makasih Wid. Sekarang gantian, ke mall yuk! Kamu mau aku beliin apa?" tanya Erlangga.
"Asik mau ditraktir, beliin Teh Botol di situ aja deh, aku haus," kata Widi,
"Ah, jalan sama bos kok cuma beli Teh Botol, perlu aku beliin sama gerobaknya sekalian?" tanya Erlangga.
"Boleh, tapi kamu dorong sampai kantor, ya?" Canda Widi.
"Siapa takut? Tapi kamu naik di atas gerobak, ya! Hahaha. Bang, Teh Botol dua!" pesan Erlangga.
Setelah minum, Erlangga mengeluarkan dompetnya, kemudian ia sibuk mencari uang di setiap celah dompetnya yang cuma terisi berbagai kartu. Ia juga memeriksa semua saku, tetap tidak ketemu. Widi tertawa melihat wajah kuatir Erlangga.
"Bos, bayar cepetan," goda Widi.
"Hehe, kamu kenapa nyari bos yang kere sih?" jawab Erlangga.
"Hahaha. Katanya mau beli gerobaknya sekalian? Ya udah, gih, tinggalin sepatu kamu, mudah-mudahan abangnya mau," usul Widi,
"Jangan kejam lah sama kaum lemah, bayarin dong, bos," rayu Erlangga.
"Utang ya?" tanya Widi.
"Siaaap, bos," sahut Erlangga
"Kamu mau makan apa Ga?" tanya Widi.
"Kaum lemah sih ikut yang bayarin aja, hehe," sahut Erlangga.
"Bagus, kamu tahu diri! Eh, kamu mau nyobain bubur ayam yang dekat kuburan di ujung sana?" tanya Widi.
"Boleh, tapi kok di kuburan? Enggak ada tempat lain yang lebih serem?" tanya Erlangga.
"Bukan di kuburan Pak, tapi dekat kuburan! Kamu belum tahu aja, tempatnya rame lho, Ga," ujar Widi.
"Haha, yuk aku mau cobain, kalo rame pasti enak," ujar Erlangga.
"Tapi kalo jalan kaki agak jauh nih, enggak apa-apa?"
"Enggak masalah, udah dibayarin, yang ngajak cantik pula,” rayu Erlangga.
“Enggak usah ngerayu, ini utang! Jangan lupa besok bayar,” sahut Widi.
“Hahaha. Tahu aja!” balas Erlangga.
Mereka melanjutkan perjalanan. Erlangga sangat menikmati suasana ini, ia membayangkan, jika Widi mau menjadi pasangannya, hidupnya pasti bahagia. Widi melirik Erlangga yang senyum-senyum sendiri.
"Kenapa senyum-senyum terus?" tanya Widi.
"Kalo marah terus, ntar salah," jawab Erlangga.
"Jadi ingat teman-teman di kantor. Orang-orang di kantor itu takut banget sama kamu," ujar Widi.
"Kenapa takut sih?" tanya Erlangga.
"Kayaknya kamu harus lebih sering menghirup polusi udara kotor dan aroma keringat orang-orang kecil, supaya kamu sadar betapa beruntungnya kamu, lihat enggak? Sangat banyak orang yang enggak seberuntung kamu."
"Apa hubungannya sama takut?" tanya Erlangga.
Dewi tidak menjawab, perhatiannya teralih oleh seorang bapak yang berjalan terseok-seok mendorong gerobak dari arah depan menuju padanya. Di atas gerobak itu tampak perempuan setengah baya yang berusaha mendiamkan anak kecil di pelukannya yang menangis kencang minta makan.
"Angga, kamu lihat ya, bapak yang sebentar lagi melewati kita," ujar Widi pelan.
"Oh yang itu, mau kemana dia bawa anak istri malam-malam gini pakai gerobak?" tanya Erlangga.
__ADS_1
"Gerobak itu mungkin memang rumahnya," tebak Widi.
Gerobak itu melewati mereka. Wajah si bapak tertunduk murung.
"Kamu dengar kan tangisan anak kecil itu?" tanya Widi.
"Iya, anaknya nangis kelaparan, harusnya bapaknya berhenti, kasih makan dulu biar kenyang, baru jalan lagi," ujar Erlangga.
"Angga, bapak itu enggak punya uang, makanya dia diam aja," kata Widi.
"Oh gitu, kasihan banget," sahut Erlangga.
"Kita bisa bantu, kamu temenin aku, ya" ajak Widi.
Widi menyusul bapak tadi, Erlangga mengikutinya.
"Pak, maaf, boleh berhenti sebentar," panggil Widi. Bapak itu menghentikan gerobaknya, wajahnya terlihat bingung dan agak takut. Widi mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Bapak, maaf jangan tersinggung, mohon diterima." Widi menempelkan enam lembar uang berwarna biru bergambar Presiden Soeharto ke tangan si Bapak, ternyata bapak itu malah berusaha mengembalikan pada Widi, tapi Widi tak mau.
"Maaf, ini untuk apa ya?" tanya Si Bapak.
"Ini titipan rezeki dari Allah buat bapak, jangan ditolak," ujar Widi.
"Oh, alhamdulillah ya Allah," ucap bapak itu dengan wajah seperti mau menangis, bapak itu membungkuk, ia ingin mencium tangan Widi, tapi Widi segera menahan bahu bapak itu agar kembali tegak, ia merasa tak pantas dihormati seperti itu.
"Ya Allah, terimakasih banyak nyonya, tuan, mudah-mudahan banyak rezeki, panjang umur, sehat." Bapak itu mendoakan dengan wajah ingin menangis, begitu pula istrinya, anak mereka mendadak diam, mungkin karena takut pada orang asing.
"Aamiin mudah-mudahan bapak dan ibu juga sehat dan banyak rezeki, si kecil juga mudah-mudahan jadi anak soleh ya," sahut Widi sambil menyentuh si kecil.
"Terimakasih, mudah-mudahan nyonya dan tuan juga punya anak yang soleh," kata sang ibu.
"Aamiiin!” ucap Erlangga keras. Widi melirik Erlangga, ia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Bapak sama ibu lanjutin lagi aja perjalanannya ya, assalamualaikum," jawab Widi sambil mengajak Erlangga melanjutkan perjalan.
Kedua suami istri itu menjawab salam Widi, kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Bapak itu pasti senang banget, banyak banget tiga ratus ribu," ujar Erlangga.
"Segitu enggak banyak. Kalo aku beliin kamu sepatu seharga segitu, kamu pasti enggak mau pakai," ujar Widi.
"Nuduh aja! Peci sepuluh ribu ini aja aku pake tadi,. Tapi, orang susah memang lebih mensyukuri pemberian," kata Erlangga.
"Nah itu hubungannya obrolan kita tadi, tentang mensyukuri pemberian. Bapak tadi cuma dapat segitu aja udah bersyukur banget. Kamu yang dikasih kesempatan jadi orang sehebat ini, pasti hebat juga rasa syukurnya," ujar Widi.
"Salah! Lagi dakwah," sahut Widi.
"Terus apa hubungannya dengan orang kantor yang takut sama aku?" tanya Erlangga.
"Nah, dengan segala kehebatan itu, kamu kan bisa bikin lebih banyak orang jadi bahagia, bukan jadi takut," ujar Widi.
"Lho, aku sudah ngasih kantor bagus dan gaji bagus, harusnya bahagia dong, kenapa malah takut?" tanya Erlangga.
"Angga, kalo setelah ngasih duit ke bapak tadi, terus aku marah-marah kayak mau nelen dia, kira-kira gimana perasaannya?" tanya Widi.
"Oke-oke paham! Tapi, emangnya kalo aku marah kayak mau nelen orang?" tanya Erlangga sambil tertawa.
"Ada yang enggak sadar, kelakuannya bikin orang pada jantungan," sahut Widi.
"Hahaha, iya deh! Aku janji enggak gitu lagi," ujar Erlangga.
"Angga, itu tempatnya, kita makan di situ ya?" tunjuk Widi setelah hampir sampai.
"Wah antri ya, berarti enggak bisa ngobrol lama-lama. Ya udah, kita makan dulu, tapi nanti ngobrol-ngobrol lagi di danau rumah kotak, ya," ajak Erlangga, ia benar-benar tak mau melepas Widi.
"Hmm, kalo besok kesiangan, jangan marah-marah ya, bos!" Sahut Widi.
Mereka antri sebentar, setelah ada kursi yang bisa ditempati, mereka segera menyantap makan malamnya. Erlangga benar, mereka tidak bisa berlama-lama, saat baru dudul, sepasang anak muda sudah berdiri di dekat mereka untuk menunggu meja.
"Kamu jangan banyak-banyak sambelnya, sesendok aja udah pedes." Widi mencegah Erlangga yang ingin memasukkan sambal berkali-kali pada mangkuknya.
"Oh gitu, ini telornya kok mentah?" tanya Erlangga.
"Emang gitu ciri khasnya, kamu enggak suka?" tanya Widi.
"Belum pernah sih, cobain aja lah," sahut Erlangga.
Awalnya Erlangga tampak ragu, kemudian ia memaksakan diri menyuap telur mentah yang telah diaduknya pada bubur, mengikuti Widi. Ekspresi tertekan yang tampak pada wajah Erlangga, membuat Widi tertawa. Tapi setelah makan beberapa suap, ia bisa menikmatinya.
Setelah makan malam, mereka langsung menuju kantor dengan taksi.
***
Al Kahfi Land, Depok, 2004
__ADS_1
Saat tiba di kantor, Pak Jajat menghampiri Erlangga, "Selamat malam Pak Erlangga, malam Mbak Widi," sapa Pak Jajat.
"Jat, Didi udah sampe?" tanya Erlangga.
"Sudah pak, itu Pak Didi," tunjuk Pak Jajat.
Pak Didi muncul dari balik belakang tembok tempat resepsionis, "Ya Pak."
"Didi, nanti saya pulang sendiri aja. Kamu siapin mobil yang biasa saya bawa sendiri dan bilang sama Hendrik, Widi biar saya saja yang antar," perintah Erlangga.
"Baik, Pak," sahut Pak Didi.
"Yuk ngobrol di dekat danau," ajak Erlangga pada Widi.
"Baik, Pak," Widi sungkan memanggil dengan sebutan 'Angga' di depan anak buah Erlangga.
Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam. Sebenarnya sudah terlalu malam untuk berada di kantor, tapi Widi sudah terbiasa pulang malam dari kantor.
Setelah Widi dan Erlangga berlalu, Pak Didi menghampiri Pak Jajat. Dari tangga basement Pak Roni tiba-tiba muncul dan langsung bergabung.
"Iya thooo, masih ora percaya? Hehe," tanya Pak Didi, ia baru saja menceritakan hubungan Erlangga dan Widi pada Pak Jajat.
"Lu ghibah aje, Ji! Emangnye kalo beduan ude pasti pacaran, norak lu!" ledek Pak Roni.
"Sampeyan enggak lihat sih, lha emangnya sampeyan enggak seneng kalo mereka pacaran?" tanya Pak Didi.
"Kalo bener, ane mah seneng banget, mbak Widi itu anaknye baek banget, kali aje bisa bikin si bos jadi baek lagi kaya dulu. Ane kenal si bos dari jaman dia masing jadi anak metal, Ji, pas beli tanah engkong ane ini," kata Pak Roni.
"Ngomong-ngomong, sampeyan kenal lama, kok enggak dijadiin direktur sama bapak? Hehe," ledek Pak Didi pada Pak Roni.
"Soalnye dasi direktur kepanjangan kalo ane pake, jiahaha,” sahut Pak Roni.
“Di, lu sarap ye? Kalo Haji Roni jadi direktur, kantor ini bakal dibikin jadi tempat mancing, hahaha,” canda Pak Jajat.
“Jiahaha. Tadinye ane mau dijadiin arsitek, tapi ane gambar kucing malah dibilang kambing! Jiahaha. Eh, biar kate coman dijadiin tukang jaga kantor, dulu, ane dibikinin kontrakan dong ama si bos, ngiri kan lu pade?" ujar Pak Roni bangga.
"Berapa pintu? Jangan-jangan pintunya doang? Hahaha," ledek Pak Didi.
"Lu dateng dah kalo kagak percaya! Lu jalan pagi, sorenye lu baru nyampe pintu paling ujung, jiahaha," sahut Pak Roni.
"Kalah kereta, hahaha. Nah sampeyan banyak duit dong, terus ngapain disini?" tanya Pak Didi.
"Lah kalo di sono doangan, palingan ane coman maenin burung, Ji. Mendingan di sini, bisa ngerjain elu! Jiahaha," jawab Pak Roni.
"Hahaha pantes anak lu banyak, kebanyakan maen burung?" canda Pak Jajat.
"Nah, lu paham! Jiahahaha. Duit mah banyak! Coman abis buat inpes pendidikan, makanye 3 anak ane bisa kuliah. Eh ngarti kaga lu inpes? Inpestrasih? Ah, kaga sekolah sih lu pade!" ledek Pak Roni.
"Investasi, Pak Haji! Baca koran sering kebalik, ngaku sekolah, hahaha," balas Pak Didi.
"Ngomong-ngomong, lu berdua enak aja jodohin orang, emang pada lupa? Inget enggak? Nah, iye kan? Bakal perang dunia ketiga ini mah," ujar Pak Jajat.
"O iye, wah gawat dong Ji! Ah, mending ane balik ke kamar aje deh. Kaga sanggup ngeliat bos kite dicakarin perempuan. Nyok ah, Jat! Biar Didi aje yang misahin kucing berantem," ajak Pak Roni.
"Lho lho lho pada kemana? Aku melu (ikut)!" Ujar Pak Didi terlihat cemas.
"Eh Di, lu kan kudu nyiapin mubil bapak, entar kalo dicariin pegimane?" tanya Pak Roni.
"Lha, tapi piye iki (bagaimana ini)? Temenin dong, aku wedi (takut) jeee..." ujar Pak Didi kuatir.
"Lu bangunin Hendrik aje, beliin mi tek tek, ajak maen catur! Dia mah kalo ngendusin makanan pasti 86, mumpung dia kaga tau urusan! Biar lu ada temen pas misahin orang cakar-cakaran, jiahahaha," ledek Pak Roni.
"Ah, kamu lho, ojo medeni (menakut-takuti)! Yo wis (sudah) lah, aku ngambil mobil bapak sekalian beli mi tek tek, sampeyan tunggu di sini dulu, ya" pinta Pak Didi pasrah.
"Ntar dulu! Emang lu mau beli mi tek tek berape? berani-beraninye nyuruh kite nunggu dimari?" tanya Pak Roni.
"Iya.. aku beliin 4!" Sahut Pak Didi.
Pak Roni menunjukkan jempolnya ke Pak Jajat yang tertawa mendengar akal-akalan Pak Roni. “Ama rokok, Di! Jiahaha.”
***
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1