
Usai melaksanakan sholat, Uge dan Dewi melanjutkan perbincangan mereka di salah satu taman di ITB yang jarang dilewati orang. Uge memilih tempat ini agar tidak mengundang gosip.
"Sebelum diskusi kurikulum, aku boleh tanya hal lain yang agak berat enggak?" tanya Dewi.
"Mudah-mudahan aku punya bobot yang cukup untuk menahan beban pertanyaan kamu," jawab Uge.
"Kamu yakin Tuhan itu ada?" tanya Dewi.
Uge terkejut dengan pertanyaan ini, wajahnya berubah serius, orang pintar bertanya keberadaan Tuhan, aku harus berhati-hati agar tidak salah menjawab.
"Beneran berat. Yakin," jawab Uge.
"Alasannya?" tanya Dewi.
"Karena aku belajar arsitektur," jawab Uge.
"Apa hubungannya dengan arsitektur?" tanya Dewi heran.
"Alam semesta adalah sebuah karya menakjubkan, masa enggak ada arsiteknya?" tanya Uge.
"Memangnya sebuah karya menakjubkan itu harus dibuat oleh arsitek? Di belakang Candi Borobodur tentu ada arsiteknya, karena karya tersebut punya keteraturan pola, jarak, bentuk, ukuran dan berbagai indikasi lain yang membuktikan karya tersebut lahir melalui konsep. Bagaimana dengan Danau Toba? Walaupun keindahannya menakjubkan, tetapi dia tidak memiliki keteraturan yang membuat kita bisa bilang ada arsitek atau kreator dibelakangnya,” jawab Dewi.
“Hmm, harus ada keteraturan? Bagaimana dengan lukisan abstrak? Tapi aku memilih sepakat bahwa harus ada keteraturan, agar diskusi ini tidak sulit dipahami seperti lukisan abstrak. Nah, apa alam semesta tidak memiliki keteraturan? Di sekolah kita pernah belajar, benda-benda besar di jagad berputar dan mengitari objek induknya, putarannya terkunci pada poros, kitarannya terkunci pada garis edar. Bukankah bola-bola raksasa di angkasa itu memiliki orbit? Enggak menggelinding atau bergulir bebas seperti bola yang ditendang. Jelas sekali ada sebuah desain di sana," kata Uge.
"Itu karena gravitasi," jawab Dewi.
“Oke. Kenapa bidak catur plastik bisa menempel pada papan kayu catur? Karena magnet? Jawaban itu betul! Tapi jika tidak ada pembuat catur yang punya konsep tentang bidak yang tidak mudah bergeser atau jatuh dari papan, maka magnet itu tidak akan berada di sana. Begitu pula gravitasi,” ujar Uge.
"Bagaimana dengan istilah hukum alam?" tanya Dewi.
"Bebas aja, mau dinamakan hukum alam, hukum rimba atau hukum perdata. Bayangin deh, hanya untuk hal sepele melekatkan bidak catur, dibelakangnya harus ada seseorang yang punya ide, membuat konsep dan mewujudkannya. Apalagi untuk membuat benda-benda mati berukuran raksasa saling melekat dan bergerak teratur, kalau tidak ada konseptor dan konsep yang membuat membuat benda-benda langit itu tunduk, maka mereka akan bergerak bebas seperti papan catur yang di hamburkan ke udara. Jangankan tanpa konsep, bahkan jika konsep yang sudah lama berlaku itu tiba-tiba tak dipatuhi sebentar saja, misalnya, rotasi bumi tiba-tiba melenceng, maka Indonesia bisa mendadak beku karena bergeser ke kutub, Antartika pun mendadak cair karena pindah ke khatulistiwa, separuh bumi tenggelam dihajar tsunami. Lebih ngeri lagi jika orbit bumi yang tiba-tiba melenceng, kebayang enggak?” tanya Uge.
“Akan seperti pesawat tanpa pilot, jika bergerak menuju bulan, maka bulan akan terlihat terus membesar, air laut di bawahnya akan tertarik ke atas menjadi sangat tinggi, tak lama kemudian ledakan yang jauh lebih dahsyat dari nuklir akan menamatkan riwayat umat manusia. Ngeri banget, ya! Jadi, hukum alam juga bagian dari konsep, bukan hal kebetulan, begitu?” tanya Dewi.
“Bagaimana mungkin kebetulan? Ada angka! Untuk membuat jalur lintasan atau orbit agar tidak saling berbenturan, tentu harus ada angka kordinat yang ditulis dan dipahami oleh para pelintas. Kita juga pasti sering mendengar angka-angka ini, Bumi berotasi penuh terhadap poros dalam waktu 24 jam, mengelilingi matahari 365 ¼ hari dan punya gerakan seperti kepala mengangguk sehingga dikenal 4 posisi yang kita sebut musim. Instruksi yang dipatuhi benda-benda mati itu sangat terukur, silakan saja menyebutnya dengan istilah hukum alam, tapi orang IT pasti lebih suka menyebutnya dengan istilah program. Jangankan program yang rumit, program yang sederhana pun tak mungkin lahir dengan cara mengetik sembarang teks,” ujar Uge.
Dewi memandangi Uge dengan takjub, ia merasa beruntung bertemu dengan laki-laki ini. “Kita semua tahu tentang gravitasi, orbit, rotasi, revolusi… tapi baru kamu yang menyadarkan aku, bahwa semua itu memang terlihat seperti program, bukan hal kebetulan. Ternyata semakin dalam mengamati alam semesta, maka kita akan semakin menemukan eksistensi Sang Arsitek.”
“Menarik juga, ternyata pengetahuan itu belum tentu sejalan dengan kesadaran. Aku jadi makin semangat untuk mengajak kamu mengamati lebih dalam lagi. Bayangin deh, kalo kamu ditunjuk jadi kepala proyek sebuah gedung kampus baru untuk ITB, apa yang dibutuhkan?” tanya Uge.
“Aku sendiri harus ahli dan dibantu orang-orang ahli lainnya, bahkan dari berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan. Pastinya banyak banget hal yang harus dipikirkan dan dikerjakan,” sahut Dewi.
“Betul! Nah, sekarang bayangin juga, kalo dulu kamu ditunjuk jadi kepala proyek pembuatan bumi, supaya jadi planet yang bisa dihuni berbagai makhluk seperti sekarang ini, apa yang dibutuhkan?” tanya Uge.
“Hmmm. Aku ngerti maksud kamu, maha arsitektur ini harus dibuat oleh Maha Arsitek, bahkan manusia yang dianggap mahluk paling cerdas aja, enggak cukup pengetahuannya untuk jadi kepala proyek, apalagi bilang bumi tercipta dengan sendirinya. Hahaha, kok kepikiran sih jadi kepala proyek pembuatan bumi? Apalagi yang kira-kira enggak kepikiran?” tanya Dewi.
“Putaran benda-benda langit itu enggak mengalami perlambatan seperti putaran gasing, padahal sudah sejak entah berapa milyaran tahun yang lalu, seolah seperti kipas angin yang dicolok ke listrik rumah. Kepikiran enggak, naro batrenya di mana?" tanya Uge.
“Hahaha, ngeselin! Berarti kamu enggak setuju dengan Teori Big Bang dan Teori Evolusi?" tanya Dewi.
"Aku sederhanakan, ya! Mereka bilang alam semesta ini berawal dari ledakan satu titik, lalu mengembang membentuk alam semesta, itu Teori Big Bang. Kemudian di salah satu benda langit yang telah mendingin, Bumi, hadirlah kehidupan yang berawal dari mikro organisme sederhana yang berubah pelan-pelan menjadi berbagai makhluk hidup kompleks, itu Teori Evolusi, begitu kan?" tanya Uge.
"Ya secara sederhana seperti itu, terus kamu setuju enggak?" tanya Dewi.
__ADS_1
"Kalo kampus ini dibom, apa yang akan terjadi?" tanya Uge.
"Hancur berantakan," jawab Dewi.
"Bukan jadi gedung baru kan? Karena ledakan itu seharusnya tidak mungkin menghasilkan karya arsitektur." Uge memandangi tempat disekitar mereka untuk memberi contoh yang lebih nyata.
"Oke, lihat nih!" Uge mengambil beberapa batu kecil yang ada di dekat mereka. Ia menyusunnya membentuk segitiga di dekat Dewi.
"Illuminati?" tanya Dewi.
"Emangnya bentuk segitiga udah dipatenin mereka? Hehe, ini cuma contoh, kalo bikin segi empat, cari batunya kan jadi lebih banyak," ujar Uge.
"Enggak juga," kata Dewi merubah segitiga itu menjadi segi empat dengan ukuran yang lebih kecil.
"Hehe, iya deh segi empat aja. Nah sekarang lihat." Uge memunguti semua batu kecil itu ke dalam genggamannya lalu menjatuhkannya hingga tercecer di tanah. "Kalo enggak disentuh, perlu berapa milyar tahun kita nunggu sampai bisa membuat bentuk yang sederhana tadi?" tanya Uge. Kemudian Uge kembali menyusun batu-batu tercecer menjadi bentuk segi empat lagi.
"Mau bilang enggak setuju Teori Big Bang aja repot banget?” tanya Dewi sambil tertawa.
“Siapa bilang enggak setuju? Tuh, kalo ada tangan, batu itu bisa jadi segi empat. Jadi, tergantung teori itu, kalo setuju dengan peran arsitek, maka layak dipelajari. Tapi kalo terjadi dengan sendirinya, malah seperti cerita klenik,” sahut Uge.
“Berarti begitu juga dengan Teori Evolusi, kan?” tanya Dewi.
“Betul! Tanpa ada ahli elektro, mana mungkin segulung kabel dan besi yang tercecer dapat menjadi robot. Makhluk hidup itu karya mekanis yang jauh lebih kompleks dari robot. Guru-guru kita pernah nunjukin gambar sistem pencernaan, pernafasan, reproduksi dan sebagainya, apa itu enggak terlihat mirip seperti gambar teknik?” tanya Uge.
"Betul banget. Hmm, tapi kenapa orang-orang cerdas seperti para pembuat teori itu malah banyak yang menjadi atheis?” tanya Dewi.
"Hehe, enggak ada hubungannya kecerdasan dengan atheis. Orang cerdas dan bodoh bisa menjadi atheis bisa juga beragama. Justru pertanyaannya seharusnya gini, kok bisa ya orang cerdas kok enggak percaya tuhan?” ujar Uge.
“Iya, tadi kita sempat bahas, pengetahuan itu belum tentu sejalan dengan kesadaran,” sahut Dewi.
"Mungkin butuh hidayah. Angga, kenapa sih hidayah itu enggak diberikan aja pada semua orang?" tanya Dewi.
"Kata Ustad, hidayah itu seperti cahaya matahari, sebenarnya semua orang dapat. Masalahnya justru kita yang menjauh, memilih ruangan gelap dan menutup semua celah," ujar Uge.
"Makasih, Ga. Kamu sudah membawa cahaya untukku. Aku masih punya pertanyaan lain, kenapa harus ada agama?" tanya Dewi.
Uge tertawa kecil karena teringat urusan yang seharusnya ia bicarakan dengan Dewi. Tapi diskusi ini tampaknya lebih penting bagi Dewi.
"Oke, kenapa seorang arsitek harus membuat gambar kerja?" tanya Angga.
"Supaya pelaksana mengerjakan bangunan sesuai keinginan arsiteknya," kata Dewi.
"Kira-kira itulah tujuan agama, supaya manusia hidup sesuai keinginan penciptaNya."
"Tapi, tanpa agama orang tetap bisa jadi baik, kan?" tanya Dewi.
"Sebagai arsitek, kamu suka enggak, kalo tukang membuat bangunan yang tidak sesuai keinginan kamu? Misalnya menurut kamu yang bagus cat putih, tapi menurut tukang yang bagus cat merah, dan dia menjalankan yang dia mau,” tanya Uge.
"Hehe, marah," jawab Dewi.
"Ternyata hal yang bagus menurut pekerja, percuma jika tidak taat pada keinginan arsiteknya," ujar Uge.
"Hmm betul juga. Nah ini juga harus kutanyakan. Kenapa Tuhan bikin banyak agama? Bikin bingung. Misalnya, sekarang aku yang jadi tukang. Di meja ada banyak gambar kerja dari arsitek berbeda, yang mana yang harus ku ikuti?” tanya Dewi.
__ADS_1
"Nah, enggak mungkinkan? Pasti ada yang iseng naro gambar kerja lain. Tuhan juga enggak membuat banyak agama. Gini deh, kalo aku ngaku sebagai arsitek Masjid Salman, kamu percaya?" tanya Uge.
"Buktinya ada enggak?" sahut Dewi.
"Nah betul, siapa pun bisa aja ngaku-ngaku. Kalo aku bener arsitek Masjid Salman, namaku dan informasi penting lain harus tertulis dalam dokumen resmi. Jangan lupa, kamu harus belajar supaya punya ilmu untuk memeriksa dokumen. Kalo enggak, nanti kamu percaya aja, pas kutunjukin namaku, padahal itu coret-coretan bon tukang baso,” canda Uge.
"Hahaha, Angga ada-ada aja sih. Oke aku ngerti, aku harus belajar agama dengan mendalam supaya yakin bahwa pilihanku benar. Makasih banget ya, Angga, udah mau ngobrol masalah ini,", ujar Dewi. Ia terlihat sangat puas dengan diskusi ini.
"Sama-sama, maaf ya, aku juga masih belajar, jadi penjelasanku tadi sangat dangkal dan bisa jadi banyak yang salah, saranku sebaiknya setelah ini kamu mencari orang yang beneran ahli masalah agama. O iya, hehe kamu lupa ya, urusan kurikulum program mengajar gimana?" tanya Uge.
"Hehe, aku sih enggak lupa, aku sengaja enggak interupsi karena menikmati dan menurutku penting. Angga aku mau diskusi lebih banyak lagi sama kamu tapi aku harus pulang sekarang, boleh minta nomor kamu? Pinta Dewi sambil mengeluarkan ponsel miliknya.
"Aku cuma punya nomor telepon kosan, tapi kalo pakai telepon kosan, anak-anak kos berisik banget. Gimana kalo aku aja yang hubungin kamu dari wartel? Kamu mau ditelepon kapan?"tanya Uge.
"Boleh, kalo malam ini, bisa?" tanya Dewi sambil menyebut nomor telepon rumahnya.
“Insya Allah bisa,” sahut Uge sambil mencatat nomor telepon Dewi.
Setelah sedikit berbasa-basi, mereka pun berpisah.
Saat Dewi meninggalkannya, Uge tidak beranjak pulang. Baru kali ini ia ngobrol berdua selama ini dengan perempuan, bahan diskusinya pun tidak biasa, sehingga ia sebenarnya masih betah. Tiba-tiba Uge merasa jantungnya berdebar, seperti ada perasaan aneh mendadak muncul dalam hatinya. Magnet Dewi memang terlalu kuat, bahkan untuk orang yang mengaku anti kerumunan seperti Uge, dia tak sadar sedang merasakan sensasi jatuh cinta. Lalu bagaimana dengan Widi?
Uge memang mentah pengalaman dengan perempuan terutama untuk urusan hati, saat bertemu dengan Widi dalam chatting lintas waktu, ia mengira telah bertemu perempuan yang paling tepat untuk menjadi pasangannya kelak, padahal sosok Widi yang dikenalnya, hanya imajinasi yang ia bentuk dari kalimat yang dibacanya. Sekarang Uge bertemu dengan sosok perempuan nyata, Dewi telah berinteraksi dengan panca inderanya.
Alam pikiran Uge kini berdebat sengit, separuh hatinya menggoda untuk mendekati Dewi tetapi separuh hatinya yang lain menyerangnya dengan perasaan bersalah pada Widi.
Sisi hati Uge yang terpikat pada Dewi berkata, Wisuda sudah di depan mata, bisnis sudah mulai berjalan, urusan jodoh mau menunggu lima tahun? Itu pun belum tentu jodoh.
Sisi hati Uge yang terlanjur memberi harapan pada Widi berkata, Pantas aja kau enggak ada di Al Kahfi Land. Rupanya kau malu pada janji yang enggak mampu kau tepati.
Uge merasa dipermainkan oleh waktu. Ia diberi kesempatan mengintip masa depan, sehingga terjebak menambatkan hatinya dengan seeorang di sana. Tapi setelah itu ia malah dipertemukan dengan seseorang lain yang nyata yang selama ini ia cari.
Waktu telah memberiku pilihan sulit, maka biarlah waktu pula yang memberikan jawaban atas pilihannya yang tak mampu kujawab, gumam Uge.
Tiba-tiba tepukan halus mendarat di pundaknya, "Angga, mau anterin aku pulang enggak? tanya Dewi.
Uge terkejut, apa ini jawaban sang waktu?
"Kamu bukannya diantar supir?" tanya Uge.
"Bosen ah. Mau pulang jalan kaki sambil ngobrol. Kalo capek, kita sambung naik angkot, mau?" tanya Dewi.
Tanpa basa-basi pura-pura menolak, Uge menyanggupi permintaan perempuan pilihan Sang Waktu.
*****
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W