Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Pantas Tak Pantas


__ADS_3

Al Kahfi Land, Depok, 2004


Di rumah kotak Erlangga serius mendengar Santoso bicara tentang permasalahan kantor. Santoso tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, mumpung Erlangga bisa bicara tanpa marah-marah.


"Oke San, besok kita akan bicara lebih banyak tentang SDM dan soal keributan Desmond dengan Ali Tanjung. Sekarang gue tertarik bicara tentang anak buah Desmond yang ruangannya ada di ujung itu, siapa tadi nama panggilannya?" tanya Erlangga.


"Widi, Pak," jawab Santoso.


"Oh iya, Widi. Gue suka banget sama semua karya dia, lulusan mana sih?" tanya Erlangga.


"Sebentar, saya lihat datanya." Santoso membolak-balik kertas-kertas dokumen Widi.


"Sini gue lihat," pinta Erlangga. Santoso menyerahkan kertas-kertas yang dipegangnya.


Erlangga serius mengamati dokumen tentang Widi.


"Arsitek lulusan Universitas Berdikari Depok tahun 2003, masuk sini tahun 2001. Oh! Ini arsitek yang gue terima padahal belum lulus kuliah, karena sketsanya yang bagus itu kan?" tanya Erlangga.


"Betul, Pak," sahut Santoso.


"Hmm Widi, ternyata dia arsitek rumah kotak ini. Berarti dia sudah kerja di sini sekitar hampir tiga tahun. Pengalaman kerja sebelumnya, hah, sales mobil?" tanya Erlangga heran.


"Iya sales mobil, Pak," jawab Santoso sambil tertawa kecil.


"Kenapa ketawa, San?" tanya Erlangga.


"Sales mobil mewah, Pak. Mobil mewah, lho, hehe," sahut Santoso menekankan.


"Menurut lu, Widi pantesnya jadi sales bemo?" tanya Erlangga sambil tertawa.


"Astaghfirllah, bukan begitu pak...." sahut Santoso.


"Hahaha, jangan salah lu, San. Itulah, mata kalian enggak jeli, enggak detail! Makanya anak-anak sini kalo nyodorin apa-apa sering gue tolak, yang jelek dibilang bagus, yang bagus dibilang jelek. San, gue enggak gampang tertipu kemasan," ujar Erlangga.


"Saya enggak bilang Widi jelek lho, Pak," kilah Santoso.


"Hahaha! Nah itu! Kalimat Widi jelek, siapa yang baru aja ngomong? Gue bukannya lagi bahas tentang anak-anak yang enggak jeli?” tanya Erlangga.


“Astaghfirllahualadzim, iya ya,” sahut Santoso.


“Semua orang memang lebih tertarik cover ketimbang isi, makanya di kantor ini gue kasih yang orang-orang mau. Lu lihat sendiri bangunan kantor kita, penampilan orang-orang kita, secara psikologis, kelebihan kita pasti bikin tamu nunduk! Ada juga sih segelintir karyawan yang belum nyocokin penampilan dengan kantor ini, salah satunya elu, penampilan lu masih kaya bapak-bapak kantoran jadul, hahaha," ledek Erlangga.


Santoso hanya bisa tersenyum, sambil diam-diam membandingkan penampilannya dengan penampilan Erlangga. Memang benar, kata Santoso dalam hati.


"Gini San, dia pernah jadi sales mobil mewah, lu tahu enggak artinya?" tanya Erlangga.


"Mungkin dulu penampilan dia berbeda. Memang di sini dia sering panas-panasan naik motor untuk ngawasin proyek," jawab Santoso.


"Nah itu, Desmond keterlaluan, kita kan punya banyak mobil kantor. Si jaket butut itu arsitek, bukan tukang,” ujar Erlangga.


Santoso tertawa mendengar panggilan sayang Erlangga untuk Widi.


“Udah itu lihat nih, laporan lu tentang joblist anak ini, kerjaannya banyak banget, kerjaan penting semua lagi, anak buah Desmond yang lain ngapain?" tanya Erlangga.


"Itulah, Pak! Tadi saya sangat setuju saat bapak bilang posisi Desmond harus kita kaji ulang, begitu pula anak buahnya yang lain," ujar Santoso.


"Iya, memang gue yang salah bawa Desmond ke sini, tapi gue sekarang udah enggak perduli, kalo enggak bisa kerja, gue balikin aja ke bapaknya yang nitipin sampah," kata Erlangga


"Setuju, Pak," sahut Santoso.

__ADS_1


"Hmm, Si Jaket Bolong itu siapa tadi namanya? Widi? Iya Widi. Untung anak ini betah. Dulu memang dia yang senang, bisa diterima kerja saat masih kuliah, tapi sekarang, kalo dia sadar potensinya, dia bisa pilih kantor manapun yang bikin dia nyaman. Anak ini gue yang tanganin langsung deh," kata Erlangga sambil terus membolak-balik dokumen tentang Widi.


"Betul, Pak. Apalagi dia sekarang dia sedang ambil S2 arsitek," sahut Santoso.


"Nah apa gue bilang? Orang sebagus ini kalo ketahuan kompetitor pasti dibajak. Hmm, gini San, Widi jangan pernah lu jemur lagi, kasih mobil baru dan supir untuk dia. Besok ingetin gue untuk bahas gaji, dia gue naikin ke posisi baru yang pantas, Manager Project."


“Manager Project? Buat departemen baru, pak?” tanya Santoso.


“Enggak usah, ganti posisi Desmond. Untuk Widi, biar gue langsung yang ngabarin ke dia,” kata Erlangga.


"Siap, Pak! Soal jaket bututnya, gimana?" tanya Santoso mulai berani memberi pertanyaan iseng.


"Hahaha. San, lu nantangin gue? Bangunan tua aja bisa gue sulap jadi megah, apalagi nyulap Si Jaket Butut!" jawab Erlangga sambil tertawa.


Santoso hanya mesem-mesem.


"O, iya. Lu bilang nanti siang Widi mau ke lapangan. Gue minta, sore pas dia balik ke ruangan, harus udah ada komputer yang paling canggih di mejanya, bisa?" tanya Erlangga.


"Insya Allah bisa, Pak," sahut Santoso.


"Bagus, thankyou, San. Oke, untuk sementara segini aja dulu," ujar Erlangga.


"Sama-sama, Pak." Santoso pamit dan meninggalkan Erlangga.


*****


 


 


Sekitar pukul setengah delapan malam, Widi kembali ke kantor setelah mendatangi lokasi proyek. Suasana kantor telah sepi, tiba-tiba, Soffie menghampirinya, "Hai, Wid, baru balik?"


"Yup, tumben belum pulang?" sahut Widi dengan wajah tidak berminat.


"Enggak boleh?" tanya Widi sambil menghentikan langkahnya.


"Boleh aja sih, cuma tadi anak buahku mau pakai juga," sahut Soffie.


"Mobil kantor yang lain kan ada," balas Widi.


"Iya sih, terus kamu kenapa pakai mobil yang baru? Mobil itu yang minta aku lho," ujar Soffie.


"Oh, itu masalahnya?" tanya Widi sambil tersenyum sinis.


"Eee," Soffie ingin menjelaskan tapi langsung dipotong Widi.


"Sof, kalo masalah mobil, kamu tanya Pak Santoso aja ya," ucap Widi sambil cepat meninggalkan Soffie.


"Oke Wid, nanti aku tanya, emang motor kamu rusak?" teriak Soffie dari jauh, Widi tak menyahut, ia menunjuk ke arah ruang Santoso tanpa menoleh.


Widi malas meladeni hal-hal remeh tak bergizi. Selama ia bekerja di sini, baru kali ini dia pakai mobil kantor, itu pun atas perintah Santoso. Widi memang tidak menanyakan alasan Santoso, karena ia selalu berusaha menghindar dari semua petinggi kantor, termasuk pada Santoso yang paling ia percayai di sini.


Jangankan pada para petinggi, bahkan Widi jarang ngobrol dengan sesama karyawan. Ia malas meladeni tema standar obrolan para hedon, paling cuma seputar masalah siapa yang paling tahu cara menghabiskan uang dan membanggakan pengalaman bersenang-senang di dunia hitam. Widi hanya nyaman bergaul dengan golongan yang harus bekerja pontang-panting agar bisa bertahan hidup seperti dirinya.


Widi belum tahu, sebentar lagi ia akan menggantikan atasannya, Desmond. Orang tua Desmond merupakan partner bisnis Erlangga, sehingga ia mau dititipi bocah mentah yang sedang cari pengalaman sebelum meneruskan kerajaan bisnis keluarganya.


Sayangnya Desmond cuma jadi anak manja yang punya wewenang besar. Ia memilih anak buah dari lingkar pergaulannya yang sama-sama tidak bisa kerja, padahal menjadi arsitek di sini adalah pekerjaan paling berat, karena harus mencapai standar Erlangga yang perfeksionis. Hari ini Erlangga baru tahu dari Santoso, sebenarnya ia hanya perlu mempekerjakan satu orang di departemen Desmond, yaitu Widi.


Santoso yang sudah lama muak dengan kelakuan para parasit kantor itu senang, karena akhirnya Widi mendapat perhatian dari Erlangga. Ia tidak cuma memberikan posisi yang layak untuk Widi, bahkan tertantang untuk merenovasinya. Semoga bukan karena terinspirasi acara televisi yang menyulap rumah reyot menjadi rumah idaman.

__ADS_1


Sebenarnya Widi tidak perlu diajari menjadi cantik. Erlangga kan tidak mengenal Widi di masa lalu.


Ayo sejenak kita coba mengkhayal menjadi seorang Widi.


Saat masih menumpang di rumah Tante Lina, setelah subuh Widi sudah punya seabrek aktivitas di pasar tradisional bersama tantenya. Setelah itu ia masih pula menyempatkan diri mengantar anak-anak Tante Lina ke sekolah.


Begitu urusan keluarga Tante Lina selesai, Widi harus terburu-buru ke kantor agar tidak kesiangan. Daripada menyiapkan waktu khusus untuk berdandan, lebih baik menyelesaikan  tumpukan pekerjaan yang sudah menantinya.


Siang hari, saat matahari sedang kejam-kejamnya, Widi harus keluar kantor dengan motornya meninjau proyek. Kadang-kadang ia mendatangi beberapa tempat yang jaraknya berjauhan. Widi tidak mau pinjam mobil kantor, karena malas berebut dengan para petinggi yang selalu mengangkangi mobil kantor untuk urusan pribadi.


Di lokasi proyek, Widi berhadapan dengan orang-orang lapangan seperti mandor, tukang, preman bahkan maniak. Laki-laki saja, kalau lembek bisa disikat, apalagi perempuan.


Tampil cantik juga akan menyulitkan Widi untuk berjingkat di atas genangan air, melangkahi adukan semen, berkelit dari cat basah, zig-zag di antara tumpukan material, memanjat plafon dan sebagainya.


Saat debu, asap, panas matahari, guyuran hujan, cipratan becek menjadi santapanmu setiap hari, maka kulit gosong, komedo, daki, keringat, bau badan dan kawan-kawannya akan mengawinimu secara paksa.


Jadi, siapa perempuan yang bisa tampil cantik di alam Widi? Pantas ia sering tampil tak pantas.


*****


 


Setelah tiba di ruangannya, Widi menyalakan lampu, ia tertegun melihat sebuah laptop baru di atas meja. Widi menemukan catatan, ia membacanya.


 


Widi, Pak Erlangga memberi laptop ini untuk mendukung pekerjaan kamu. Beliau juga memberi desktop baru yang sesuai dengan kebutuhan kamu, tapi saat ini masih di dept IT. Besok kamu tukar desktop lama dengan yang baru setelah data pekerjaan kamu simpan.


Santoso


 


 


Widi senang sekaligus heran, karena hari ini kantor memberinya banyak perhatian.


Ucup ngasih komputer? Kok dia tahu aku butuh komputer bagus, jangan-jangan orang yang di koridor tadi pagi itu ….


Widi menghampiri jendela yang menghadap danau. Ia tahu rumah kotak sering ditempati Erlangga saat malam hari, tetapi baru kali ini ia ingin memastikan sosoknya.


Di balik kaca-kaca rumah kotak, Widi menemukan bayangan seseorang yang tidak terlihat jelas, tapi Widi mengenali gerakan orang itu, Ucup sholat?


Kata teman-teman Widi, Erlangga itu Islam KTP, jangankan sholat fardhu, waktu jum’atan ia malah sering mengadakan meeting.


Alhamdulillah, gumam Widi singkat sambil menjauhi jendela, ia kuatir dituduh memata-matai Erlangga.


Sudahlah, siapapun Ucup, yang penting dia baik sama aku dan ternyata sholat. Mungkin dia sudah tobat, jadinya enggak seperti yang dibilang banyak orang.


Widi menyalakan laptop barunya, ia ingin mencobanya untuk chatting lintas waktu.


*****


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.


Penulis, Indra W


__ADS_2