
Erlangga berusaha mengingat, di kepalanya muncul satu nama, Nata! Erlangga senang karena berhasil mengingatnya tetapi tiba-tiba nama itu juga mengantarkan ingatannya pada kejadian kecelakaan. Wajah Erlangga berubah tegang, sebuah gambar mengerikan muncul di kepalanya, ada darah, pecahan kaca, lampu sirene dan orang dalam tandu.
Tiba-tiba rasa sakit kembali menyerang kepalanya bahkan lebih hebat dari sebelumnya. Erlangga berusaha menahan rasa sakit itu agar tidak membuat teman-temannya kuatir, tetapi ia tidak bisa menutupi terlalu lama, di dahinya muncul butiran-butiran keringat, ia mulai menggigil, sesaat kemudian tampak darah menetes dari hidung. Soffie terpekik, Widi bangkit dari kursinya.
"Ndi! Aku bilang kan udah! Kamu kenapa jadi enggak sabar sih?" Widi marah pada Andi.
"Astaghfirllahaladzim, maaf, Wi. Kenapa Ga?" tanya Andi menyesal.
Erlangga tak menjawab.
"Pak Erlangga, bapak aku antar pulang aja." ujar Widi sambil menghampiri Erlangga, tanpa sadar ia mengambil tissue dan menempelkannya pada hidung Erlangga agar darahnya tidak tercecer, setelah darah berhenti mengalir, Widi mengambil tissue lain mengeringkan dahi Erlangga dari butiran keringatnya. Soffie dan Andi saling berpandangan, mereka terseyum penuh arti.
"Maaf ya, aku enggak apa-apa kok, tapi aku memang sebaiknya pulang dari pada merusak suasana," Erlangga berdiri memanggil pelayan untuk membayar. "Terima kasih Widi, aku enggak usah dikawal segala, kalian lanjut aja, aku bisa pulang sendiri, ada supir kok. Sekali lagi maaf banget."
Soffie ikut berdiri, "Pak Erlangga, gimana sih? Kalo kenapa-napa gimana? Emang Pak Didi bisa ngurus ini-itu kalo terpaksa ke rumah sakit? Kita antar kamu."
"Soffie, hidangannya udah ada di meja, mubazir. Aku udah baikan, tenang aja, kalo ada apa-apa aku pasti telpon kalian," ujar Erlanga.
"Betul Soff, kita makan dulu, kalo dibutuhkan, kita bisa nyusul," sahut Andi sambil memberi kode pada Soffie agar membiarkan Widi dan Erlangga pulang berdua, ia berharap kebersamaan mereka dapat mengembalikan ingatan Erlangga, Soffie mengerti.
"Ya udah, tapi Pak Erlangga tetap harus dikawal Widi," ujar Soffie.
"Betul! Angga, kamu enggak usah tungguin pelayan, ini biar aku yang urus, kalo ada apa-apa segera kabari, " ujar Andi.
"Terima kasih, kalian pinjemin Widi, aku seneng banget jadi punya temen ngobrol di mobil. Kalian lanjut aja makan malamnya, jangan kapok ya," kata Erlangga.
"Enggak dong, Hati-hati ya Ga, Wi," ujar Andi.
Widi dan Erlangga meninggalkan Soffie dan Andi. Saat menyantap makan malam, Soffie dan Andi tidak bisa terlalu menikmati hidangan, pikiran mereka masih terganggu oleh kondisi Erlangga. Tiba-tiba mata Soffie tertuju pada satu arah di bagian dalam restoran. Ia terus menatap 2 orang di tempat itu.
"Kenapa, kok galak banget tampang kamu?" tanya Andi.
Soffie tak menjawab, ia terus memandangi sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Ia tersenyum sinis.
"Ada apa sih?" tanya Andi mencari arah yang dilihat Soffie.
"Kamu lihat kan pasangan yang pacarannya kaya enggak tahu tempat itu?" tanya Soffie.
"Astaghfirllahaladzim, mereka lupa kalo ini tempat umum? Ya sudah, enggak usah dilihat aja," ujar Andi.
__ADS_1
"Justru harus lihat, soalnya aku kenal mereka, yang laki-laki itu anak buah Erlangga, namanya Desmond." Soffie berdiri. "Sebentar ya, kamu tunggu di sini."
"Ya kalo mau negur nanti aja di kantor. Nanti jadi ribut," tahan Andi.
"Siapa yang mau ribut? Aku cuma mau datengin, pura-pura pinjam sesuatu," ujar Soffie.
"Soffie, penting banget ya harus kesitu?" tanya Andi gusar.
"Penting banget calon suamiku sayang, karena yang perempuan itu calon tunangan sahabat kamu Erlangga, namanya Vanessa," ujar Soffie.
"Astaghfirlahaladzim." Andi tak punya alasan untuk menahan Soffie lagi.
Soffie benar-benar melakukan niatnya. Ia menghampiri pasangan itu, entah apa yang dikatakannya? Ia menghampiri tanpa membuat keributan sama sekali. Setelah Soffie meninggalkan mereka, sepasang kekasih itu langsung bergegas meninggalkan meja mereka.
*****
Mobil Van hitam Erlangga melaju pelan di Jalan Jendral Sudirman. Pak Didi, supir Erlangga, sesekali mencuri pandang lewat kaca spion ke Erlangga dan Widi sambil tersenyum penuh arti, ia tak menyangka perubahan besar Widi menjadi perempuan cantik membuatnya berada di kursi keramat yang selalu kosong, bahkan Vanessa pun tidak pernah duduk di situ.
"Widi, aku sudah baikan, gimana kalo aku antar kamu pulang aja?" tanya Erlangga.
Widi mengamati Erlangga, kondisinya memang sudah sehat seperti semula.
"Iya, Bapak memang sudah kelihatan sehat. Enggak usah antar aku, kita ke kantor aja, boleh, Pak?" tanya Widi.
"Panggil Angga aja," sahut Erlangga.
"Haha, aneh, belum biasa," kata Widi.
"Mulai sekarang biasain," sahut Erlangga.
"Nanti kata orang kantor, aku enggak sopan," sahut Widi.
"Yang bilang enggak sopan suruh ngomong langsung ke aku," ujar Erlangga.
__ADS_1
"Angga, boleh enggak sih jangan terlalu galak sama orang kantor? Tuh aku panggil Angga, Tapi kalo ada orang kantor aku tetap panggil Pak Erlangga, ya?" pinta Widi.
Widi sadar di mobil ada Pak Didi, ia melirik kaca spion, begitu pula Erlangga. Pak Didi kaget 2 pasang mata sedang menangkap basah dirinya, ia langsung fokus melihat jalan di depan. Erlangga dan Widi saling menoleh dan tertawa pelan, setelah itu keduanya diam, tidak mau obrolan mereka jadi bahan gosip.
Mobil telah melewati Masjid Al Azhar menuju lampu merah perapatan CSW, kondisi jalan semakin padat. Walau tak bersuara, sebenarnya kedua orang penghuni kursi tengah sedang bicara dengan batinnya masing-masing.
Aku enggak tahu harus bahagia atau sedih. Waktu tak mau berjalan normal untuk hubungan kita. 5 tahun aku enggak tahu kamu ada belahan dunia mana setelah kamu melamar, ternyata setiap malam aku selalu berbincang dengan kamu yang berada di masa lalu, dan pada saat yang sama ternyata wujudmu yang nyata pun mudah terlihat dari jendela. Lagi-lagi waktu menunjukkan kehebatannya mengecoh perasaanku, dia meletakkan dirimu di sebelahku, di saat kamu telah menjadi orang lain dan jadi milik orang lain, ujar Widi dalam hati.
Aku tak perlu memutar balik putaran waktu, untuk apa? Selama aku masih diberi kesempatan untuk berjalan bersama waktu, maka aku boleh mengupayakan kebahagianku. Lagi-lagi waktu mengajariku sesuatu, ia sengaja meletakkan dirimu di sebelahku untuk mengoreksi keputusan salahku dan berjuang memiliki hatimu, agar kita bisa selalu bersama di masa depan, ujar Erlangga dalam hati.
Mobil tampaknya sulit melewati perapatan CSW karena prilaku pengemudi yang tak sabar telah membuat jalan menjadi terkunci kemacetan. Erlangga melirik Widi, ia tidak ingin terbungkam hanya karena ada Pak Didi, momentum ini harus dimanfaatkannya dengan baik.
"Kamu enggak lapar? Kita kan belum makan," akhirnya Erlangga membuka pembicaraan.
"Iya sih, tapi repot juga mampir-mampir, kalo lagi macet gini cari parkiran susah banget, mana ada kendaraan parkir yang mau keluar," sahut Widi.
Erlangga dapat ide agar ia bisa lebih lama berdua Widi. "Jalan kaki aja, cari warung tenda pinggir jalan, kalo yang agak ramai biasanya kan enak."
"Boleh," sahut Widi.
Erlangga minta Pak Didi berhenti untuk menurunkan mereka.
"Didi, kamu langsung ke kantor, nanti saya pakai taksi," kata Erlangga saat turun dari mobil.
*****.
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1