
Kosan Bodas, Bandung, 1999 - Al Kahfi Land, Depok, 2004
Sepanjang hari Uge lebih banyak istirahat di kamar kosnya, ia baru saja menelpon Dewi dari wartel, sekarang saatnya chatting dengan Dewi masa depan, Widi. Ia tak sabar menceritakan pertemuan mereka dan mendengar reaksi Widi. Tetapi ternyata Uge hanya mendapati pesan offline dari Widi.
^(OFFLINE)Assalamualaikum Uge, maaf malam ini aku enggak bisa chatting, aku harus pulang cepat untuk beristirahat karena Insya Allah besok aku mau ke kosan kamu di Bandung. Gantian Ge, aku juga mau cari kamu, mudah-mudahan aku dapat sesuatu di sana. Oh iya, jangan sedih ya, hehe. Maaf kalo date kita semalam enggak seperti yang kamu harapkan, tapi aku kagum sama usaha kamu.^
Uge menghela nafas, ternyata ia harus menunda mengabarkan cerita indah kemarin malam.
Di seberang waktu Widi sebenarnya ingin sekali mendengar cerita Uge, ia membayangkan Uge pasti kaget mengetahui dirinya adalah Dewi. Pasti Uge patah hati karena aku pulang sama Angga, Uge dan Angga saling kenal enggak ya? Mudah-mudahan besok aku menemukan jejakmu.
Widi telah menelpon Kosan Bodas lagi, besok ia akan mendatangi alamat yang diberikan Kang Ujang.
***
Kosan Bodas, Bandung, 2004
Pagi sekitar jam 10, Widi telah tiba di Kota Bandung dengan mobil kantor yang ia setir sendiri. 5 tahun tak berjumpa, Kota ini tidak terlalu banyak berubah walaupun juga sudah tidak sama seperti saat terakhir ia meninggalkannya. Widi masih mudah mengenali lika-liku jalan walau beberapa jalan dan bangunan baru sempat membuatnya bingung, gerai Factory Outlet bermunculan dimana-mana, keberadaannya tampak telah mengancam kejayaan Cihampelas. Patung-patung besar karakter komik di depan toko-toko, yang dulu selalu memukau pelancong dari luar Bandung, kini telah tampak tua dan sepi dari perhatian.
Widi telah memasuki daerah Cipaganti, ia tersenyum memandangi trotoar tempat ia jalan bersama Angga. Angga tinggal di mana ya? Katanya dia dekat dengan bapak dan ibu, tapi saat ibu dimakamkan, dia enggak muncul, padahal itu harapan terakhir aku bisa ketemu dia lagi,kenang Widi.
Widi memandangi billboard ala rambu lalu-lintas 'Slow Down Radio Ardan' yang masih terpampang, rumahnya yang dulu tak jauh dari sini, hanya melewati beberapa kelokan. Widi sengaja melewati bekas rumahnya dan berhenti sebentar, rasa sedih dan rindu sejenak hadir di hatinya, tapi kedatangannya bukan untuk meratapi nasib, setelah sejenak mengobati kerinduannya, ia melanjutkan perjalanannya.
Widi melewati Jalan Setia Budi yang kini tampak padat oleh angkot dan mobil berpelat B. Saat tiba di pertigaan dekat NHI, ia teringat jajanan serabi yang pembelinya rela mengantri berjam-jam, tapi sekarang ia tidak melihat jejaknya sama sekali. Setelah mobilnya melewati terminal Ledeng, Widi membelokan mobilnya memasuki Jalan Sersan Bajuri. Di sepanjang jalan yang terus menanjak, Widi melihat rumah-rumah semakin menjamur, ia masih ingat, jika terus lurus, ia akan menuju rumah Angga, di dekat Kampung Daun. Mobil Widi kini memasuki jalan kecil yang membelah kebun tanaman hias, hingga akhirnya ia sampai di ujung jalan buntu yang terdapat sebuah rumah besar berwarna putih. Widi mencocokkan nomor alamat di tangannya dengan nomor di dinding rumah, sama, berarti ia telah sampai di Kosan Bodas.
Widi langsung disambut Kang Ujang dan sepasang suami-istri yang telah menunggunya di teras rumah, setelah saling berkenalan, mereka masuk ke dalam. Widi memperhatikan isi rumah dan mengagumi kebersihan rumah tua ini. Jendela-jendela krapyaknya dibuka lebar-lebar agar udara segar dari luar leluasa masuk, sebuah kipas angin gantung besar berputar kencang agar lantai basah yang dipel cepat kering.
Kang Ujang langsung menghilang entah kemana. Widi duduk ditemani laki-laki tambun yang ramah, sementara istrinya yang cantik dan berhijab itu pergi ke dapur. Suasana tampak sepi, karena sebagian besar penghuni kos telah beraktivitas di luar. Tak lama sang istri muncul dari dapur membawa baki minuman.
"Terimakasih Teh Lala, maaf saya jadi ngerepotin," ucap Widi saat perempuan berhijab itu menawarkan minuman hangat di meja. Rupanya ia adalah Lala, perempuan yang pernah kos di sini.
"Ah masa gini aja ngerepotin? Maaf ya cuma ada teh, soalnya saya sama Abang memang enggak tinggal di sini," ujar Lala.
"Kok maaf sih, teh? Saya sangat berterimakasih lho, Teh Lala sama Abang mau ke sini, jadinya ada yang bisa saya tanya-tanya," kata Widi.
"Justru kami ini yang penasaran kali sama Uge. Anak-anak lama Kosan jaman dia memang tak ada lagi yang tinggal di sini, tapi paling tidak 3 bulan sekali pasti kumpul di sini, kami udah macam sodara, cuma Uge aja yang tak nampak. Bah! Rindu kali abang sama dia," kata laki-laki tambun yang biasa dipanggil dengan sebutan Bang Ucok. Ternyata Bang Ucok telah menikah dengan Lala,
__ADS_1
Bang Ucok mengambil cangkir tehnya, ia menyeruputnya sambil mengeluarkan suara “ahhhh, sodap, mak! Eh, minum lah, Dek Widi,” pinta Bang Ucok, Widi pun meminum tehnya.
"Cemanalah Dek Widi, tak ada pulak yang tau Uge dimana? Kalo kutengok gambar-gambar kami jaman dulu, moneeeetes air mata ini, ah. Abang bukannya apa? Ngerinya memang udah lewat dia, sodih kaaaali ah," ujar Bang Ucok sambil menjentikkan telunjuk ke ujung matanya yang mulai basah.
"Hus Papah, jangan suuzon atuh!" kata Lala pada Bang Ucok.
"Cemana aku tak suuzon, Cinta? Si Jenggo aja pun tak tau," sahut Bang Ucok.
"Jenggo? Anak Kos?" tanya Widi.
"Bukan, tapi sama-sama macam ustad, Jenggo itu satu-satunya kawan dekat Uge di kampus. Uge itu yatim piatu dari masih kocik, tinggal di panti asuhan pulak, sebatang kara kali hidupnyaaa.... Ugeee,,, Uge.. Kau pindah pun tak pamit, manalah kami tau kau dimana. Siapa pulak yang ngurus kau, kalau sudah lewat?" ujar Bang Ucok kembali menjentikkan telunjuk ke ujung matanya yang basah.
"Ih Si Papah ngaco terus nih, maaf ya Teh Widi," kata Lala.
Widi tersentak, matanya jadi ikut berkaca-kaca, ia tidak pernah memperhitungkan kemungkinan seperti yang disampaikan Bang Ucok. Jika benar, apa yang bisa ia ceritakan pada Uge?
"Bang Ucok, masih punya foto Uge?" tanya Widi.
"Oh kalo gambar dia, di dompet ku pun ada, karena abang udah feeling, suatu saat pasti ada yang cari Uge." Bang Ucok mengambil foto tersebut dan menyerahkannya pada Widi.
Widi memperhatikan foto tersebut, ia tampak kaget.
"Angga? Uge adalah Angga?" tanya Widi setengah berteriak.
Widi yakin orang di foto itu adalah Angga. Wajah, rambut, pakaian, hingga mata yang tajam ini cuma dimiliki Angga. Bahkan kaos hitam bertuliskan "God is the best Architect" inilah yang dipakainya saat ia pertama kali melihat Uge di depan Masjid Salman.
"Iya Angga, Erlangga Yusuf nama lengkapnya, abang yang ganti nama dia. Saking aliiiiim kali macam ustad, ku panggil aja dia Uge alias Ustad Gondrong," ujar Bang Ucok.
"Oh Uge itu singkatan Ustad Gondrong. Ya ampun." Widi tersenyum pahit, matanya masih berkaca-kaca.
"Kosan ini dulu macam sarang mafia, kawan-kawan selow aja bawak pacar ke kamar, bejudi, mabuk, entah hapa-hapa lah, namanya pun anak muda ya kan? Abang pun tak ngerti, bisa pula pulak orang macam Uge ada di sini. Rupanya Uge memang macam di kirim dari langit. Uge sukak kali cerita alam kubur, dajjal lah, kiamat lah, neraka lah... macam dibawaknya kami ke sana, ngeri kaaali ceritanya! Dulu tiap azan, diam-diam lari dia ke mesjid, malu nampaknya. Tapi belakangan, sengaja kali dia buat sholat berjemaah di ruang tengah, kami pulak yang jadi malu. Lari lah semua setan-setan kos! Hahaha! Pande memang otaknya, hijrah kawan-kawan kita dibuatnya, termasuk abang kau ini lah." ujar Bang Ucok sambil tertawa lepas, tapi setelah itu ia kembali terdiam, matanya berkaca-kaca lagi.
"Nama lengkap Uge itu jadi betul Erlangga Yusuf, Bang?" tanya Widi
"Betul, itu nama lengkapnya, takut kali dia aku panggil Ucup, hehe," ujar Bang Ucok. Widi tertawa walau wajahnya terlihat sedih.
__ADS_1
"Kata dia, panggil Uge aja lah bang, masa ganti nama terus. Hehehe, padahal takut tak bonafit aja dia kalo kuganti Ucup, memangnya kenapa pulak rupanya nama Ucup?" tanya Bang Ucok.
"Katanya Uge punya kembaran disini?" tanya Widi.
"Ah itu pande-pande aku aja, mirip sikit, tapi tak kembar kali lah, sebentar, aku pun punya gambar orang itu berdua. Cak kau tengok?" ujar Bang Ucok sambil menunjukkan foto lainnya.
Widi memperhatikan foto itu. Benar kata Bang Ucok, ada beberapa kesamaan tetapi tidak terlalu mirip.
"Manusia ini abang jugak yang kasih nama, Agi artinya agak giting. Anak baek dia, cuma agak miring aja otaknya, sekarang jadi dosen pulak! Hah? Udah gila kampus itu! Nama aslinya, John Erlangga, anak Yusuf Mardani, tapi kalo kenalan pakai nama Erlangga Yusuf, makin pening kepalaku! Kawan kita ini sama aja, tak mau pulak dia kupanggil Jon, macam pelawak katanya! Rumah ini punya paman abang, dulu abang yang bantu ngurus administrasi, jadi, abang tau kali lah siapa anak-anak kos," ujar Bang Ucok.
Misteri lintas waktu telah terjawab, Pak Erlangga bukan Agi, tapi memang Angga, pantas wajahnya sama, hmm untuk apa Angga pura-pura enggak kenal? tanya Widi dalam hati.
"Eh lupa pulak aku nanya, hubungan Uge dengan Dek Widi ini, cemana?" tanya Bang Ucok.
"Maaf Bang Ucok, tadinya saya juga enggak tahu kalo Uge dan bos saya di kantor itu orang yang sama, ceritanya panjang. Alhamdulillah bang, Uge masih sehat-sehat aja," ujar Widi.
"Alhamdulillah! Oh mang, udah jadi bos dia? Pantas lah tak ingat kami lagi, Dasar si lontong! Ustad gadungan! Sok kali rupanya! Dimana dia? Ku pijak-pijak nanti Si Lontong! Hahaha," sahut Bang Ucok senang.
Widi tertawa, pikirannya pun menerawang. Ya ampun, Angga, malam itu kamu pasti sama kagetnya dengan aku. Tapi… Hmm, ternyata kamu nyebelin juga! Pantas aja kamu bilang janjian ketemu teman perempuan, untung yang berhubungan sama kamu perempuan yang sama, hahaha, ini juga enggak disangka! Ternyata setiap hari aku chatting dengan Angga. Widi merasa konyol, ia mengabaikan petunjuk jelas yang lalu-lalang di depan mata.
Dari belakang rumah, Kang Ujang muncul membawa sesuatu, "Neng Widi, ini ada kardusnya Den Uge. Maap kalo Kang Ujang lama, susah ngambilnya, ketutupan ama barang lain, udah lama banget soalnya," Kang Ujang memberikan kardus itu pada Widi.
"Ini kenapa di kasih ke saya?" tanya Widi.
"Den Uge pernah nitip ini, katanya harus dikasih ke perempuan yang namanya Widi atau Dewi. Kardus ini enggak boleh diambil siapapun, termasuk sama Den Uge sendiri, Kang Ujang disuruh sumpah segala, enggak nyangka kalo sampe bertahun-tahun," kata Kang Ujang.
Widi menduga Uge sengaja menitipkan barang ini karena tahu kedatangannya ke kosan Bodas melalui chatting offlinenya, yang luar biasa titipan ini telah menunggu lima tahun untuk bertemu dengannya.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1