
Kosan Bodas, Bandung, 1999
Setiap musim ujian tiba, Uge selalu berencana pindah dari kosan Bodas. Ia tidak tahan dengan kebisingan penghuni saat malam, tetapi rencana itu selalu menguap setelah musim ujian selesai.
Ternyata selama ini sebenarnya Uge menikmati kegaduhan di luar kamarnya. Celoteh konyol mereka sering membuatnya tertawa sendiri dan merasa tetap uptodate menyerap informasi tidak penting, tetapi pada semester akhir kuliahnya ini, Uge lebih butuh ketenangan. Ia harus segera merampungkan skripsinya.
Kebisingan terus menghantam gendang telinga Uge, sehingga tak satu kalimat pun dari buku yang berhasil masuk ke kepala, padahal ia sudah bersama buku-buku yang beserakan sejak beberapa jam yang lalu.
Kenapa enggak sholat malam saja, katanya mau jadi ustad? Bukan enggak mau, tetapi gue biasa melakukannya sekitar satu jam sebelum sholat subuh.
Oke, kenapa enggak tidak tidur aja? Ide ini lebih enggak mungkin.
Uge biasa lelap di tengah hiruk-pikuk suara gaduh. Jawabannya ada pada gelas besar di dekatnya. Setelah tiga kali mengosongkan gelas yang tadinya berisi kopi hitam, kafein memompa jantungnya lebih cepat, sehingga memaksanya tetap melek dan melakukan aktivitas.
Uge mati gaya, tanpa sadar ia meneguk isi gelas besar itu lagi. Ternyata cuma ampas kopi yang mampir ke mulutnya, Uge pun mendelik. Sambil membersihkan ampas dari bibirnya, Uge memandangi sekeliling kamar, mencari kegiatan yang dapat membuatnya mengantuk. Pandangannya berhenti pada komputer, benda ini justru sihir yang selalu membuatnya melek berjam-jam pada malam hari. Dengan malas Uge duduk di depan komputer sambil menyentuh tombol CPU dengan jempol kaki.
Kipas komputer berputar, desing suaranya bagai pesawat lepas landas. Pantulan wajah Uge di monitor gelap seketika menghilang tergantikan cahaya terang dari latar biru, dibarengi suara pecah synthesizer yang membuat speaker aktif kecil bergetar.
Komputer telah siap pakai, jari telunjuk Uge telah mengokang pelatuk kiri mouse, tetapi ia malah bingung.
Selanjutnya ngapain? Andai mesin waktu ada.
Uge memang hanya berharap mampu melompati waktu menuju saat dunia terasa hening dan damai.
Tiba-tiba jari Uge bergerak sendiri seolah bosan menunggu perintah akal yang sedang kosong. Klik! Mesin pencari muncul. Jari itu semakin agresif, bahkan mengetik kalimat butuh mesin waktu.
Gue mulai sinting, kan.
Mesin pencari memberikan hasil penelusuran, Uge membaca kalimat milik situs web di paling atas.
http://lintaswaktu.dd
July 10, 1999 -- Relativitas, diskusi lintas waktu. Chat Platform. Wadah berbagi informasi dengan orang di tahun berbeda.
Uge tersenyum geli, tetapi ia malah penasaran mengakses situs web tersebut. Klik! Laman situs web tersebut muncul.
__ADS_1
Lintas Waktu
Mengakses ‘Lintas Waktu' akan membuatmu terdampar di semesta tak berdimensi.
Bijaksanalah saat kau mengetahui apa yang orang lain tidak ketahui, pengetahuan akan merubahmu menjadi insan terasing, jika kau memaksa orang lain sejalan dengan pencapaianmu.
Sesungguhnya pengetahuan itu diberikan padamu untuk membuat kepalamu semakin tertunduk dan bersujud pada Yang Maha Tahu.
Sekali lagi ku harap, bijaksanalah saat kau kembali ke waktumu.
DD
Uge meneliti laman sebentar, lalu meng-klik tombol fitur chatting.
Uge melakukan proses pendaftaran, ia mengetik nama Uge dan alamat emailnya. Tiba-tiba pada jendela chatting- nya muncul tulisan Uge@Bandung,1999.
Hebat programmernya, lokasi gue kedeteksi.
Uge memperhatikan daftar nama-nama anggota chatting.
Member Online :
bayu-robay@jakarta, 2002
lienchantique@jakarta2004
kokoDidi@bekasi2003
leony-love-f4@jakarta2001
maspiyan@jogjakarta1998
__ADS_1
mpikmuda@bandung1999
ronald-bangjago@medan2004
sheilla-cute@tangerang2003
tomkenceng@bandung1998
widi@depok2004-online
More Member
Tahunnya kok beda-beda?
Uge ingat, sistem mampu menampilkan lokasi dan tahun keberadaannya secara otomatis, tetapi ia tak percaya. Apa sulitnya bagi programmer untuk menyenangkan hati para pengunjung yang terobsesi diskusi lintas waktu.
Tadinya gue berencana debat dengan orang-orang gila di situs ini, buat pelampiasan kekeselan gue sama orang-orang gila di luar kamar, tapi, ngapain debat? Kayaknya ada yang lebih bermanfaat.
Uge tersenyum, ia bercita-cita sukses dan menikah pada usia muda. Bisnis sudah ia jalani, tetapi soal jodoh, hingga detik ini tidak pernah muncul titik cerah.
Gagal di dunia nyata barangkali berhasil di dunia maya, gumam Uge sambil mencari nama perempuan pada daftar anggota.
Yang mana nih? DD enggak jelas cowok apa cewek, Lienchantique? Biasanya yang pake embel-embel cantik malah kebalikannya, hehehe, Leony love F4? Dari namanya kayaknya cantik, tapi sayang, selera musiknya enggak gue banget! Nah ini aja simpel, Widi! Mudah-mudahan perempuan, Klik!
^Hai Widi.^
^Hai Uge.^
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1