Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu

Al Kahfi Land - Menyusuri Waktu
Menunaikan Janji Part 3


__ADS_3

"Widi, aku datang memenuhi janjiku,”  ujar Erlangga.


“Maksud kamu?” tanya Widi heran.


“5 tahun yang lalu, aku pernah ke sini untuk cari kamu, ternyata cuma ada hutan pinus, akhirnya aku menggambar sketsa bangunan itu. Masih di tahun 1999, aku juga memaksa untuk ketemu kamu lagi. O iya, aku belum cerita karena situs lintas waktu mendadak hilang, ternyata di tahun 1999 aku berhasil kenalan sama kamu dan masuk ke dalam sejarah kamu. Tebakanku betul kan? Kamu memang sangat cantik, makanya kamu aku lamar malam itu juga. Widi, di tahun 1999 aku juga pernah bilang mau temui kamu lagi di hutan pinus ini di tahun 2004. Alhamdulillah, aku mampu memenuhi janjiku.”


Widi tersenyum walau matanya berlinang, "Uge......"


"Bukan, aku harus punya standar nama baku. Angga aja,” canda Erlangga.


Widi tak mampu berkata-kata kecuali memandangi Erlangga sambil mengucapkan rasa syukurnya di dalam hati.


“Ya Allah, Dewi, Widi, untung kalian orang yang sama. Kamu kok mau dideketin Uge? Kan udah aku lamar,” tanya Erlangga.


Widi menutup wajahnya dengan tangan dan melepaskan tangis sepuasnya. Erlangga menghampiri,  ia melepas tangan Widi dari wajahnya dan menghapus air mata itu dengan jarinya, “maaf. Iya aku tahu, bukan muhrim, tapi enggak ada tisu. Jangan nangis terus dong, aku kuatir jadi nyentuh terus, kalo naik kelas, terus naik kelas lagi, maka akan?” tanya Erlangga.


Widi tersenyum, “Angga benar-benar sudah kembali.”


"Widi, aku minta maaf, aku gagal mengantar ayah kamu dengan selamat," ujar Erlangga.


"Angga, dengan atau tanpa kamu, Bapak akan tetap menghadap Tuhan. Sudah takdir, Ga. Pasti rasa bersalah itu yang bikin kamu jadi berubah," kata Widi.


"Iya, tapi seandainya aku mampu menyetir dengan baik saat ban meletus, mungkin penyebab kepergiannya bukan karena kecelakaan," sahut Erlangga.


"Angga, Bapak pergi karena berani mengungkapkan kebenaran. Kecelakaan itu berhubungan dengan kasus yang mau diungkapnya, bahkan kamu hampir jadi korban saat itu, peneror menembak ban mobil karena tidak bisa melihat posisi Bapak," ujar Widi.


"Astaghfirllah. Mudah-mudahan kepergian Bapak tercatat sebagai syuhada. Oh iya, Ibu sekarang ada dimana?" tanya Erlangga.


"Ibu menyusul Bapak seminggu kemudian karena sakit," sahut Widi.


"Maafkan aku Wid. Masya Allah. Kamu kuat sekali," ujar Erlangga.


"Angga aku senang kamu berhasil kembali. Tapi aku tetap harus pergi, " ujar Widi.


Walau berat meninggalkan Erlangga yang sudah menjadi Angga, tetapi Widi merasa tetap harus meninggalkan tempat ini. Ia tak mau menyakiti hati tunangan Erlangga.


"Jangan Wid, aku yang harus pergi dari sini, terlalu banyak amanah Bapak yang tidak mampu ku jalani, Al Kahfi Land ini memang punya kamu," kata Erlangga.


"Angga, kamu yang mewujudkan Al Kahfi Land dari nol dan kamu pula yang membesarkannya, di belakang kamu banyak pencari nafkah, Al Kahfi Land butuh kamu," sahut Widi.


"Kamu mau aku tetap di sini?” tanya Erlangga.


Widi mengangguk.


“Kata kamu rumah kotak ini pasangan kantor segitiga. Begitu juga kamu, kamu adalah pasanganku. Aku enggak mau di sini kecuali kamu mengizinkan aku meneruskan lamaranku yang tertunda," ujar Erlangga.


"Terlambat, Ga. Kamu juga menjanjikan hal yang sama dengan orang lain,"


“Itu kan Angga yang lain….” sahut Erlangga.


Tiba-tiba ponsel Widi berbunyi, "Andi telpon, pasti dia mau tanya kamu," kata Widi pada Erlangga.


Widi ingin mengangkat tapi Erlangga meminta ponsel itu, Widi menyerahkan ponselnya pada Erlangga.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Wi, kumaha? Angga Sehat?" tanya Andi.


"Waalaikumsalam, kunaon, Jenggo?" tanya Erlangga.


"Hah? Angga? Lu udah enggak gila?" Andi balik bertanya.


"Enak aja gila, otak gue geser dikit doang, tapi udah bener di servis Dewi," sahut Erlangga.


"Ah enggak percaya, gue tes dulu, speakernya terus nyalain, biar Dewi denger," ujar Andi.


"Sok mangga, tes lah!" tantang Erlangga.


"Siapa nama anak perempuan Ustad Abdullah yang paling cantik, yang dulu bikin lu getol banget ngaji di Gerlong itu?" tanya Andi.


"Eh, blegug Si Jenggo, mau ngerusak hubungan gue sama Dewi! Anak Ustdaz Abdullah kan tiga-tiganya laki semua," sahut Erlangga.


"Hahaha, alhamdulillah. Bewok udah enggak gila!  Ga, speakernya tolong di matikan dulu, ada yang mau gue omongin, penting! Maaf ya, Wi!" ujar Andi.


Angga mematikan fungsi speaker pada ponselnya sehingga Widi tidak dapat mendengar percakapan mereka lagi.


"Ga, tadi di tempat kita makan malam, Soffie ngeliat calon tunangan kamu, Vanessa pacaran sama anak buah kamu Desmond, mesra-mesraan di tempat umum gitu, ini kabar baik apa kabar buruk?" tanya Andi memelankan suaranya.


"Oh ya? Alhamdulillah, kabar baik ini mah, makasih, Ndi, infonya," ujar Erlangga.


"Ya udah besok lah ngobrol lagi, kasihan Widi udah malem, untung sama Angga yang ini, Insya Allah bisa dipercaya. Salam sama Widi, assalamualaikum,"


"Oke Ndi, Wa alaikumsalam."


"Ada info penting. Di tempat kita tadi, Andi dan Soffie melihat Desmond lagi pacaran sama tunangan Si Angga yang otaknya belum diservis. Kita doakan aja semoga mereka segera menikah," ujar Erlangga senang.


"Hah?" Widi kaget mendengar kabar itu.


"Nah, sekarang gimana dengan urusan pernikahan kita? Mau cari penghulu malam ini juga atau gimana? Aku sudah 5 tahun nunggu jawaban, jangan bilang enggak ada proses lagi,” ujar Erlangga.


“Coba cari di internet, ada penghulu 24 jam, enggak?” canda Widi.


Widi merasa sangat lega, masalah yang membebaninya telah hilang.


“Hahaha, takut ketunda bertahun-tahun lagi ya? Tuh, makanya kalo dilamar langsung jawab,” ujar Erlangga.


“Makanya, sekarang kamu antar aku pulang, malam ini juga kamu ngomong ke tanteku. Kayaknya tanteku bisa pingsan ngeliat bos Al Kahfi Land datang ngelamar keponakannya. Dia ngefans banget sama kamu, katanya sering ngedoain kita berjodoh,” sahut Widi.


“Oh iya? Tuh, tante kamu aja tahu aku, kamu sombong banget, nunggu aku panggil, baru mau kenal sama bos Al Kahfi Land. Ngomong-ngomong, besok kamu jadi resign?” tanya Erlangga.


“Maksud kamu?” tanya Widi heran.


“Kalo jadi resign, balikin dulu ya, mobil baru, komputer baru, baju-baju baru. Yang boleh dibawa pulang cuma jaket fenomenal kamu aja! Arsitek butut kok bisa ada di kantor keren ini, sih?" canda Erlangga.


"Eh Ucup! Enggak ada takut-takutnya, enggak sopan ya sama pemodal! Udah bosen jadi bos di sini?" balas Widi.


"Hahaha, iya iya, cepetan ke rumah tante kamu, yuk! Kayaknya status pemodal harus cepat dirubah jadi istri," ajak Erlangga.


Rumah Kotak dan Kantor Segitiga menyaksikan peristiwa ini, mereka telah lama menunggu kedua arsitek ini juga merasakan bahagianya bertemu pasangan hidup. Suara makhluk hidup penghuni hutan dan danau semakin ramai saling bersahutan semakin melantunkan pujian pada penciptaNya yang telah memberikan kebahagian pada dua anak manusia yang mempertahankan hutan ini menjadi rumah mereka.

__ADS_1


TAMAT


 


 


 


 


Cerita Kawan Lama


Al Kahfi Land, Depok, 2004


"Al, lu sempat berinteraksi dengan orang masa depan?" tanya Angga.


"Enggak mungkin lah, Ga. Ali ini emang jenius, dia bisa bikin analisa detail seolah-olah dia pernah ke masa depan," potong Andi.


"Terserah aja, soalnya pembahasan pentingnya memang bukan tentang itu. Intinya dunia online akan merubah banyak hal. Kalo mau jadi pemenang di masa depan, lu harus berada di dunia itu, dan kalo lu tertarik, kita bisa mulai dari sekarang," ujar Ali Tanjung.


Ali Tanjung adalah sahabat Uge sejak masih sekolah, dialah orang yang dulu meracuni otak Angga sehingga terobsesi jadi pengusaha. Ali bagai mutan dalam film yang punya kemampuan menyedot kemampuan orang-orang di dekatnya. Saat bergaul dengan orang IT, keuangan, arsitek, desain, musik dan sebagainya, maka ia akan cepat menguasai ilmu dunia mereka. Sayangnya sebagai 'Mutan Serba Bisa', ada satu hal yang ia belum juga bisa, yaitu sukses seperti Angga dan Andi, segala potensi dan usahanya belum juga membuahkan hasil seperti yang diharapkannya.


Al Kahfi Land bukan tempat asing untuk Ali, bahkan Angga sempat berdiskusi dengan Ali sebelum membangun Al Kahfi Land, karena ia butuh pemikiran Ali yang cemerlang. Ali juga pernah bekerja di sini saat Angga masih terkena amnesia, Santoso yang mengajaknya. Tapi kemudian Ali memutuskan keluar karena bersitegang dengan Desmond. Angga mendengar dari Santoso, saat ini kondisi Ali sangat memprihatinkan, oleh sebab itu ia mengundang Ali untuk mendengar ide-ide liarnya soal bisnis dan berniat membantu Ali mewujudkannya. Ali baru saja mempresentasikan tentang bisnis baru yang menurutnya sangat potensial di masa depan seolah ia benar-benar telah melihat masa depan.


“Al, jujur aja, lu datengin masa depan secara fisik?” tanya Angga sangat penasaran.


“Angga, emangnya lu udah siap untuk tahu sesuatu yang seharusnya lu enggak tahu? Enggak takut amnesia lagi? Hahaha” tanya Ali Tanjung.


*****


 


 


Terimakasih telah membaca tulisan ini hingga selesai.


 


Note


Al Kahfi Land Series


1. Al Kahfi Land\, Menyusuri Waktu


2. Al Kahfi Land\, Dua Sisi


3. Ak Kahfi Land\, Delusi


Penulis, Indra W


 


 

__ADS_1


__ADS_2