
Al Kahfi Land, Depok, 2004
Sore ini, seorang tamu yang belakangan sering mampir ke kantor Al Kahfi Land, tampak berdiri mengagumi salah satu benda seni yang dipajang di ruang tunggu. Wajahnya putih bersih dan tampan, ia membiarkan janggutnya tumbuh subur, penampilannya tetap elegan walau terkesan santai, hari ini ia mengenakan kemeja koko putih tangan pendek dan celana panjang casual abu-abu yang tidak menutupi mata kaki, serta sepatu yang belakangnya terbuka seperti sandal.
Laki-laki itu bergeser menghampiri benda seni lainnya, ia tidak sadar, di dekatnya seorang perempuan mengamatinya.
"Andi!" teriak perempuan itu dengan wajah terpana. Laki-laki itu menoleh.
"Masya Allah, Dewi!" teriak Andi.
"Kamu lagi ngapain di sini?" tanya Widi terlihat sangat senang.
"Assalamualaikum, Dewi. Masya Allah, ternyata benar, kamu kerja di sini," sahut Andi.
"Wa alaikumsalam, iya. Mau ketemu siapa, Ndi?" tanya Widi. Ia masih tidak percaya bisa bertemu Andi di sini.
"Dewi, kamu kenal Soffie?" tanya Andi.
Widi terpana. Kini ia tahu siapa laki-laki yang diceritakan Soffie.
"Yaa ampun Ndi! Ternyata kamu, hahaha, sebentar ya," ujar Widi.
Widi menelepon Soffie dengan telpon genggamnya.
"Assalamualaikum Wid, tumben telepon?" jawab Soffie di telepon.
"Wa alaikumsalam, Soff kamu ke ruangan aku ya, sekarang!" ujar Widi.
"Kamu aja ke tempat aku, lagi nanggung nih," sahut Soffie.
"Di tempat aku aja, biar enak ngobrolnya, kalo enggak mau ntar nyesel lho," ujar Widi.
"Iya deh aku kesana, sebentar lagi ya, assalamualaikum," sahut Soffie sambil menutup telpon.
"Wa alaikumsalam, ayo Ndi, di ruangan aku aja nunggu Soffie, kita ngobrol-ngobrol dulu," ajak Widi.
Mereka berjalan ke ruangan Widi. Sampai disana, Andi mengagumi penataan ruangan Widi. "Masya Allah, Dewi banget nih ruangannya. Apa kabar Wi? Kamu kemana aja? Mendadak hilang, enggak taunya di sini."
"Alhamdulillah baik Ndi, kalo aku ceritain, sampe sebulan juga enggak kelar, nah kamu gimana ceritanya bisa kenal Soffie?" tanya Widi.
"Itu nanti aja, aku mau dengar cerita kamu, dicicil aja dulu. 2 sahabatku mendadak hilang, yang satu ini ternyata baik-baik aja, Angga dimana sih?" tanya Andi.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, wajah soffie pun muncul dari balik pintu.
"Assalamualaikum. Eh, kamu udah di sini!" Soffie meraih tangan Andi dan meletakkan di pipinya, tapi Andi cepat menarik tangannya. Widi memandang takjub.
"Wa alaikumsalam." Widi juga terperangah melihat wujud Soffie yang baru. Soffie memang terlahir cantik, tetapi hari ini ia lebih cantik dengan hijabnya.
"Masya Allah Soffie kamu makin cantik aja. Curang deh, katanya minggu depan kita pakai hijab sama-sama," ujar Widi.
"Iya aku juga maunya barengan, tapi pak Ustad ini bilang niat baik itu jangan ditunda-tunda, ibadah itu berlomba-lomba bukan tunggu-tungguan, tiap ketemu kalo masih belum pakai hijab, bisa satu jam sendiri tuh, ceramahin aku," ujar Soffie.
__ADS_1
"Haha, dia emang gitu, tapi lihat dong hasilnya! Insya Allah besok aku nyusul deh, kalo enggak, bakal kena ceramah juga nih," canda Widi. Andi cuma mesem-mesem.
"Akhirnya kalian ketemu juga. Ini lho orang yang aku maksud Wid, bener kan? Kalian pasti saling kenal, pokoknya aku tahu banyak tentang kamu deh," ujar Soffie.
"Dasar intel. Eh duduk dong, kita ngobrol-ngobrol dulu ya," ajak Widi, Soffie dan Andi mengikuti Widi duduk di sofa.
"Aku emang lagi nempelin Widi terus, soalnya dia mau kujodohin sama bos aku, seperti yang udah sering ku ceritain ke kamu," kata Soffie pada Andi.
"Iya tahu, tapi jangan jodohin orang sembarangan. Kamu sendiri yang bilang, bos kamu itu enggak pernah sholat. Masa dijodohin sama yang begitu?" protes Andi.
"Tuh denger Soff, hehe," ujar Widi senang dibela Andi.
"Lagian, Dewi itu sudah dilamar sahabatku," tambah Andi.
Kenangan lama kembali melintas di benak Widi, andai Angga tidak berubah.
"Mana sahabat kamu? Selama ini Widi sendirian kok," kata Soffie.
"Nah itu, Angga dimana sih Wi? tanya Andi.
Widi menghela nafas, ia bingung mau mulai cerita darimana, "Ndi, Soffie pernah cerita tentang bos dia enggak?"
“Kenapa kamu enggak setuju aku dijodohin sama bosnya Soffie itu? Memanganya Soffie cerita apa?" tanya Widi pada Andi.
"Tuh, Widi mau juga kan?" ujar Soffie senang.
"Okelah, dia punya masa depan cerah, tapi emang kamu suka? Laki-laki tukang dandan, narsis, tempramental... Astaghfirlahaladzim jadi ghibah! Intinya gini Wi, setahu ku dulu banyak cowok-cowok model begitu deketin kamu tapi kamu malah pilih Angga kan?" ujar Andi membela sahabatnya.
"Gimana kalo bosnya Soffie itu adalah Angga, sahabat kamu yang hilang itu?" tanya Widi.
"Kalo gitu kamu sudah nikah dong sama Angga, kamu kan udah lama di sini, artinya cerita Soffie tentang bos kalian itu salah," ujar Andi.
Widi berdiri dan menghampiri jendela, kebetulan di jembatan ada Erlangga berjalan dari Rumah Kotak menuju Kantor Segitiga.
"Andi, sini deh, kamu kenal enggak sama orang itu?" panggil Widi. Andi langsung bangkit mendekati jendela.
"Itu bos kalian? Dari jauh potongan sama cara jalannya memang mirip Angga, tapi yang ini memang jauh lebih keren. Pantas kamu pilih yang ini, salah Angga juga sih, seneng banget tampil gembel, hehehe," Andi melihat sekilas lalu kembali duduk.
"Angga pernah enggak cerita tentang chatting lintas waktu?" tanya Widi sambil ikut kembali duduk.
"Nah, waktu itu aku mau cerita ke kamu Wid, Andi kenal aku juga dari situ, tapi takut kamu enggak percaya," potong Soffie.
"O ya? Gimana ceritanya?" tanya Widi, padahal ia sudah tahu tentang itu dari surat Angga.
"Enggak serumit kalian. Tahun 1999, aku chatting lintas waktu dengan Soffie. Aku catat waktu dan tempat yang akan jadi tempat kita ketemu, nah akhirnya seperti yang kamu lihat sekarang," kenang Andi.
"Nah, kamu enggak ngerasa ada sentuhan Angga di bangunan ini?" tanya Widi.
"Memang sih, arsitektur kantor ini Angga banget," jawab Andi.
"Ndi, orang yang tadi kamu lihat, memang Angga yang kita kenal," ujar Widi.
__ADS_1
"Bilang aja kamu sudah naksir bos kamu itu, tapi itu hak kamu, kok. Jadi, Angga ada di mana sekarang?" tanya Andi.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, muncul lah laki-laki yang sedang dibicarakan. Andi terpana melihat penampilan laki-laki itu, ia biasa melihatnya dengan bungkus berbeda.
"Oh, lagi ada tamu, boleh saya masuk?" tanya orang itu.
"Silahkan Pak Erlangga," jawab Soffie sambil memberi kode mengajak Andi keluar. Andi tidak mau, ia heran Angga tidak menyambut kehadirannya dengan gegap gempita.
"Wah kamu pakai jilbab sekarang? Aku kira tamu," ujar Erlangga pangling melihat Soffie.
Erlangga masuk sambil menatap Andi, "Aku tau, ini pasti tamu istimewanya Soffie".
Erlangga menyodorkan tangannya, "Erlangga!"
Andi tambah takjub melihat Erlangga memperkenalkan diri, mau tak mau Andi menyambut tangan Erlangga, "Andi!"
Andi menoleh ke Widi dengan wajah heran, Widi tersenyum menahan geli melihat pemandangan kikuk yang dipertontonkan Andi.
"Gimana persiapannya, rencananya tahun ini ya, Mas Andi?" tanya Erlangga.
Andi tidak menyangka sandiwara ini terus berlanjut, ia terpaksa mengikuti alur skenario yang belum dibacanya, "panggil Andi aja, Insya Allah tahun ini Mas Angga."
"Hmm, sebutan Angga memang lebih simpel daripada Erlangga, makanya jangan ditambah 'Mas' lagi, panggil Angga aja!" ujar Erlangga.
Andi terus memandangi Erlangga tapi ekspresi wajahnya dibuat sesantai mungkin, ia menanti ujung pembicaraan yang dianggapnya bercanda, kompak sekali pasangan ini ngerjain orang, ternyata gaya becanda di kantor ini juga se-njlimet arsitekturnya, gumam Andi.
"Oh iya, sebenarnya aku ke sini mau ngajak Widi ngobrol sambil makan malam nanti, tapi pasti lebih seru kalo kita jalan berempat, aku mau kenal sama calonnya Soffie, dia udah kaya adikku sendiri, bisa ya, Ndi?" Ajak Erlangga agak memaksa.
"Setuju, aku juga mau kenal dengan pemilik Al Kahfi Land," jawab Andi seolah memamerkan kemampuan aktingnya.
Widi memang butuh momentum kebersamaan dengan Erlangga untuk mencari tahu alasan perubahan sikapnya, dengan adanya Andi, ia lebih terbantu. Setelah membicarakan tempat, waktu dan cara keberangkatan, akhirnya mereka sepakat akan berangkat selesai sholat Maghrib. Kemudian Erlangga pamit meninggalkan ruangan Widi.
"Maksud kalian apa sih? Ngerjain? Hehe," tanya Andi pada Widi yang menertawakannya setelah Erlangga pergi.
Widi mengambil surat Angga untuk Andi, "Jawabannya mungkin ada di sini."
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1