
Bandung 1999
Hingga saat ini Dewi masih terus mempertanyakan kesiapan batinnya. Ia tak menyangka laki-laki yang disukainya malah mengajaknya melangkah lebih jauh melampaui harapannya, menikah! Dewi jadi sering sholat untuk mendapat jawaban, lagi pula hatinya juga membisikkan, biasakan sholat jika mau jadi pendamping Angga.
Dewi baru saja selesai sholat subuh, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. Pak Nata muncul, wajahnya tampak sangat senang melihat Dewi telah mau sholat, tapi ia tak mau menanyakannya agar Dewi tak malu.
"Widi, subuh ini juga kita harus berangkat, kamu sudah siapkan yang perlu di bawa?" tanya Pak Nata.
"Sudah, alamatnya dimana, Pak? Widi mau kasih tahu teman Widi untuk nyusul ke sana," pinta Dewi.
"Jangan Nak, kita mengungsi karena ada ancaman keselamatan, nanti teman kamu bisa ikut terkena bahaya. Rahasiakan tempat baru kita dari siapa pun, nomor ponsel kamu juga buang dan jangan menelpon siapapun dulu. Mobil aja bapak yang setir sendiri, kita enggak boleh pakai supir. Nanti kalau kondisinya sudah aman, kita hidup normal kembali, kamu masih dukung Bapak kan?" tanya Pak Nata.
"Iya dong, Widi bangga kok, Bapak bukan cuma berjuang untuk keluarga tapi Bapak juga mau berjuang untuk orang banyak," sahut Dewi menyemangati sambil memeluk ayahnya.
Pak Nata seorang pejabat tinggi pemerintah yang ditugaskan bergabung di sebuah komisi baru yang dibentuk Presiden ** Habibie untuk memberantas korupsi, jauh sebelum lahirnya KPK.
Pak Nata punya banyak perusahaan besar warisan ayahnya, tetapi ia lebih suka bekerja di bidang hukum yang sesuai dengan minat dan pendidikan akademisnya. Ia mempercayakan perusahaan-perusahaan besar itu kepada orang-orang pilihan ayahnya tanpa pengawasannya, ternyata kepercayaan total ini akan merugikannya di kemudian hari.
Subuh itu suasana rumah Pak Nata terasa dramatis. Bapak, Ibu dan Anak saling berpelukan untuk menguatkan jiwa.
*****
Al Kahfi Land, Depok, 1999
Pagi sekitar jam 6, Uge di jemput mobil yang disewa Pak Nata untuk berangkat ke Al Kahfi Land. Intuisi Uge tepat, pasti ada sesuatu yang menyebabkan ia tidak bisa bertemu Andi, tiba-tiba nomor ponsel Dewi pun tidak aktif saat Uge menghubunginya di wartel. Jantung Uge berdebar, ia punya firasat buruk.
Jam 8 Uge telah sampai di Al Kahfi Land, Pak Nata sudah berada di situ. Uge menduga pasti ada hal yang sangat penting soal kantor sehingga Pak Nata mendadak menyuruh orang menjemputnya. Diluar dugaan Uge, Pak Nata malah lebih banyak bercerita tentang keluarganya.
"Angga sudah punya calon?" tanya Pak Nata.
Uge memang ingin membicarakan keinginannya menikahi Dewi, tetapi setelah wisuda, rupanya Pak Nata membuatnya harus menyampaikan sekarang.
"Insya Allah sudah, Pak," jawab Uge.
Ada raut kecewa diwajah Pak Nata walau ia sembunyikan. "Oh begitu? Alhamdulillah, kok belum dikenalin ke bapak, mungkin ada yang bisa bapak bantu," sahut Pak Nata berusaha bijaksana, ia tak mau memaksa Uge mengikuti keinginannya.
"Pak Nata, sebenarnya Angga memang mau bicara ini, tapi masih menunggu waktu yang tepat, ternyata Bapak sudah menanyakannya sekarang," ujar Uge.
"Oh, kalau punya niat baik, dilaksanakan segera, kalau Angga enggak punya perwakilan keluarga, Bapak bersedia," Pak Nata tahu Uge hidup sebatang kara.
__ADS_1
"Pak, sebenarnya Angga mau minta izin untuk menikahi anak bapak, Widi," ujar Uge.
Wajah Pak Nata terlihat kaget sekaligus senang, ia memastikan lagi, "menikah dengan Widi?"
"Angga yakin Widi adalah orang yang tepat untuk jadi pasangan hidup, Angga sudah menyatakannya pada Widi." Uge berusaha tenang, ia siap dengan resiko terhadap hubungan bisnisnya jika Pak Nata tidak setuju.
"Sudah berapa lama kalian sudah pacaran? Kok kalian enggak pernah ngomong?" tanya Pak Nata.
"Kami enggak pacaran, Angga serius mencintai anak bapak, makanya Angga ingin menikahinya, bukan pacaran. Saat itu Angga baru tahu kalau Bapak adalah ayahnya Widi, dan Widi juga belum tahu kalo saya dan Bapak saling kenal,” jawab Uge.
"Widi sudah menjawab pinangan kamu?" tanya Pak Nata.
"Widi enggak menjawab dengan kata 'iya' tapi Angga yakin insyaAllah sikapnya menunjukkan Widi bersedia," jawab Uge.
"Sebenarnya bapak dan ibu memang sudah lama mau menjodohkan kalian, tapi kami kuatir malah jadi salah, anak-anak sekarang kan enggak suka dijodohkan, ternyata kalian sudah membicarakan hal yang serius ini. Alhamdulillah, malam ini kita bicarakan sama-sama ya," ujar Pak Nata.
"Jadi Bapak mengizinkan Angga?" tanya Uge.
"Insya Allah Nak, Angga enggak sadar ya, bapak dan ibu itu sayang banget sama kamu seperti anak sendiri, makanya impian Angga ini bapak bantu. Dengan ikatan pernikahan, Bapak jadi tambah yakin, Angga bisa membimbing Widi," ujar Pak Nata.
"Alhamdulillah terimakasih Pak," sahut Uge.
"Oh iya, kamu tahu Widi ada dimana?" tanya Pak Nata.
"Iya, bapak ikutin saran Angga. Widi dan Ibu, bapak ungsikan dulu ke tempat rahasia, semua nomor telepon bapak suruh ganti. Nanti malam jam 11, kamu ke kantor bapak ya, dari sana kita berangkat ketemu ibu dan Widi di daerah puncak. Sekarang bapak mau ke kantor pusat dulu, ngurus perkara korupsi itu," ujar Pak Nata.
"Iya Pak, Bapak mau Angga antar? Tumben Bapak enggak bawa supir," tanya Uge.
"Pak Bambang, supir pribadi Bapak, sudah Bapak pecat. Dia ternyata mau dibayar untuk jadi informan koruptor itu, bahaya sekali! Angga enggak usah antar Bapak, mumpung di sini, Angga lakukan aja apa yang harus dikerjakan, mungkin karyawan-karyawan yang sudah ngantor di Ruko Fatmawati butuh arahan Angga. Bapak tinggal dulu ya, assalamualaikum," salam Pak Nata.
"Wa alaikumsalam, hati-hati ya Pak, kalo butuh apa-apa kabarin Angga aja, Insya Allah nanti Angga beli ponsel, supaya bapak mudah hubungin Angga," ujar Uge.
"Iya terimakasih Angga," sahut Pak Nata sambil meninggalkan Uge.
Setelah Pak Nata pergi, Uge berkeliling meninjau pembangunan Al Kahfi Land. Uge manusia yang selalu ingin cepat. Walau pembangunan kantor Al Kahfi belum selesai, ia sudah menjalankan bisnis di kantor sementara, bahkan memulai secara bersamaan membangun proyek properti yang untuk dijual.
Uge telah merekrut 3 karyawan, Santoso adalah orang pertama yang ia ajak dan dia bukan orang baru untuk Uge. Santoso dan Uge tumbuh dan besar di panti asuhan yang sama, usia Santoso 5 tahun di atas Uge, sehingga ia sering menganggap Uge sebagai adik.
Uge sudah lama tidak pernah bertemu dengan Santoso, Uge mengajaknya karena di tempat lamanya karir dan gajinya sulit menanjak. Ternyata Santoso sangat handal, ia mengurus semua hal yang tidak terpegang Uge. Santoso tidak pernah memanfaatkan ikatan sejarahnya dengan Uge, bahkan santoso selalu memanggil Uge dengan sebutan Pak Erlangga. Tapi Uge menolak sebutan 'Pak', ia lebih senang Santoso tetap memanggilnya 'Angga' dan memperlakukannya sebagai teman saja.
***
__ADS_1
Jam 11 malam Uge mendatangi Pak Nata di kantornya. Kemudian mereka berangkat menuju tempat rahasia keluarga Pak Nata. Uge menyetir mobil sedan mewah Pak Nata dalam kondisi lelah dan mengantuk, ia belum tidur dari kemarin, ia terlalu memforsir tenaga karena berambisi merampungkan Al Kahfi Land secepatnya.
Mobil melaju di jalan tol yang sepi menembus kegelapan malam. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Rasa letih membuat Pak Nata menyimpan tenaganya, ia terus melafazkan zikir sambil memejamkan mata.
Tiba-tiba Pak Nata bertanya dengan mata terpejam, "Angga, saya merasa bersalah, belum sempat mendidik Widi menjalankan perintah agama, kalau nyawa Bapak diambil sekarang, bagaimana Bapak mempertanggung jawabkan itu?"
Uge melirik Pak Nata, ia sebenarnya bingung menjawab apa, tapi ia ingin membuat Pak Nata tenang, "Insya Allah Bapak masih punya banyak kesempatan untuk itu."
"Kalau saya tidak punya kesempatan, kamu bimbing anak saya, ya?" Pak Nata membuka mata dan menatap Angga.
Walau pertanyaan Pak Nata membuatnya tak nyaman, Uge berusaha mencari jawaban yang menenangkan, "Insya Allah, pak, mudah-mudahan saya mampu mendampingi bapak untuk membimbing Widi."
Pak Nata membuka seat-beltnya, lalu memundurkan joknya serta merebahkan.
"Jangan dibuka Pak, bahaya," ujar Uge kuatir.
Pertanyaan Pak Nata tadi semakin membuatnya berfirasat buruk, Uge berusaha menghalau perasaannya.
"Badan saya agak terasa sesak, boleh ya dibuka sebentar?" tanya Pak Nata.
Uge tidak berani memaksa Pak Nata, ia mengangguk.
"Sekarang saya tenang, mudah-mudahan kamu dan Widi segera menikah dan saya punya cucu yang soleh." Pak Nata memejamkan matanya lagi kemudian melafazkan zikir pelan-pelan lagi.
"Aamiin Ya Allah," jawab Uge.
Setelah itu di mobil itu hanya terdengar suara zikir Pak Nata, ia sempat mengucapkan lafaz kalimat tauhid, setelah itu ia tertidur pulas. Wajahnya terlihat tenang, ia tidur sambil tersenyum tanpa dengkuran, saat Uge meliriknya.
Uge menyetir dengan kecepatan sedang, diam tanpa ada teman bicara membuat Uge semakin mengantuk, kini pikirannya hanya terfokusnya untuk melihat jalan di depan dengan mata terbuka, sehingga ia tidak berpikir macam-macam dengan mobil yang mengikutinya, ia pikir mobil itu mencari teman seperjalanan agar aman, karena kondisi jalan tol sangat sepi.
Beberapa ratus meter di depan, Uge melihat truk kontainer mogok, buntut truk itu berada di tengah jalan. Agar bisa melewati truk itu, Uge menambah kecepatan untuk pindah ke jalur cepat.
Mobil SUV di belakang ternyata orang-orang yang dibayar untuk meneror Pak Nata. Sang pengemudi mengira sasarannya ingin kabur, mereka memutuskan bertindak cepat sebelum tertinggal, mobil di belakang berusaha menyusul, salah seorang di dalam mobil membuka kaca dan menembak ban belakang mobil Pak Nata. Dor!
Uge kaget, tapi ia mengira suara letusan itu berasal dari ban mobilnya yang pecah, bukan tembakan. Uge berusaha mengantisipasi mobilnya yang oleng, rupanya jaraknya sudah terlalu dekat dengan buntut truk. Bagian depan kiri mobilnya langsung menghantam keras kontainer. Pandangannya seketika menjadi gelap.
Bersambung
__ADS_1
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W