
ITB, Bandung, 1999
Uge bergerak sangat cepat, hanya dalam waktu satu minggu, ia telah membeli tanah di kawasan hutan pinus, mengurus legalitas pendirian perusahaan, menyewa ruko sebagai kantor sementara dan merekrut tim awal. Walau belum ada bangunan kantor yang akan ditempati Widi tetapi Al Kahfi Land secara resmi telah berhasil lahir dari tangannya.
Uge merahasiakan proyek Al Kahfi Land, sehingga ia tidak melibatkan pasukan proyeknya dari Bandung. Ia ingin memberi kejutan pada dosen, teman kampus dan teman kosan yang menjulukinya si raja proyek.
Uge belum sempat chatting dengan Widi, walau sejak 2 hari yang lalu ia sudah berada di Bandung, karena ia ingin berkonsentrasi pada sidang kampus yang kemarin telah berhasil dilaluinya dan menyelesaikan berbagai urusan lainnya. Hari ini Uge datang ke kampus lagi karena diminta Andi.
"Wihh Si Bewok udah klimis, ngapain aja di Jakarta?" sambut Andi.
"Makanya, udah sama-sama klimis masih aja dipanggil bewok. Gue lagi cari modal nikah, Ndi," sahut Uge.
"Nikah sarua embe? (Nikah sama kambing?) Hahaha. Ga, gue mau nunjukin ini," kata Andi sambil menunjukkan majalah yang ia ambil dari tasnya.
"Pemenang kontes 'Home Design Majalah Trending-Rumah'. Saha nu gawe? (siapa yang buat?)" tanya Uge sambil mengamati majalah dari Andi.
"Kan ada namanya disitu," sahut Andi.
"Ini Dewi yang sering lu omongin itu?" tanya Uge.
"Alus nteu? (bagus enggak?)" tanya Andi.
"Sumpah keren banget, padahal dia kan baru tingkat dua ya, Ndi," ujar Uge.
"Makin jatuh cinta, kan?" tanya Andi.
"Kayaknya elu deh yang ngebet sama Dewi, lu ta-aruf aja," sahut Uge.
"Ngaco lu! Dewi itu udah kayak adek gue," ujar Andi.
"Ya kan cuma kayak, bukan adek lu beneran!" sahut Uge.
"Wok, gue sama Dewi itu tetanggaan,” ujar Andi.
“Tetanggan? Bukannya kata orang-orang dia diantar Mercy?” tanya Uge.
“Dewi tinggal di daerah elit, gue tinggal di gang kecil kampung, tapi sama-sama di Cipaganti, tetanggaan kan?” tanya Andi.
“Hahaha bener, terus kenapa kalo tetanggaan?” tanya Uge.
“Bokapnya Dewi itu orang kaya yang jiwa sosialnya tinggi, banyak tetangga yang enggak mampu nyekolahin anak ditanggung sama bokapnya, termasuk gue. Gila aja lu, masa gue deketin?" tanya Andi.
"Yah nyantai aja, justru itu jadi motivasi, kalo elu bisa lebih sukses dari bokapnya Dewi, terus jadi mantunya, kan enggak sia-sia dia nyekolahin lu," ujar Uge.
"Enteng banget! Bokap gue itu tukang andelan bokapnya Dewi buat ngurus rumahya, dari kecil gue sering di rumahnya, beneran kayak adek gue, gimana ada rasa? Makanya gue jodohin ke elu! Lagian gue udah punya pacar," ujar Andi.
"Lu pacaran? Hehehe, bukannya lu udah mulai disuruh nyobain mimbar pengajian gerlong?" tanya Uge tak percaya.
"Lho kalo pacarannya cuma lewat chatting, emang haram?" tanya Andi sambil cengar-cengir.
“Tergantung obrolannya,” sahut Uge.
“Mendingan ngaku aja, pantesan enggak mau dikenalin, udah ketemu calon dari masa depan ternyata,” ujar Andi.
Uge kaget, rupanya Andi sudah tahu. "Hehe, Jenggo, lu tau darimana?" tanya Uge.
"Makanya biasain matiin komputer kalo udah kelar, udah tau gue sering pake kalo lu pergi, HAHAHA," sahut Andi sambil tertawa terbahak-bahak.
Uge ingat, ia memang tergesa-gesa saat berangkat ke Jakarta. "Wah parah, privasi, Blegug!" maki Uge.
"Privasi? Surat gue yang di dalam amplop aja berani lu buka!" omel Andi.
Kini giliran Uge yang tertawa keras. "HAHAHA! Itu sih salah lu! Gimana dong? Di meja gue ada amplop manis, ditujukan untuk cewek yang gue kenal, anak pengajian kita pula. Wajar lah iman gue masih lemah!
“Ngehe lu! Nah sama, iman gue juga masih lemah!” balas Andi.
“Tapi, gue serius mau nanya. Di jaman internet kok masih ada ya, orang masih bikin surat cinta? Hahaha" ledek Uge.
"Gue juga serius mau nanya, apa sih status hukum fiqihnya pacaran online? tapi mendingan langsung ke ahlinya aja, Ustad Abdullah! Yuk, ke Gerlong?” balas Andi.
"Iya-iya gue nyerah, ampun! Jadi apa aja yang udah lu baca?" tanya Uge.
__ADS_1
"Dikit," sahut Andi.
"Dikit? Gue pergi seminggu! Nyesel gue ngasih tau posisi kunci kamar," ujar Uge.
"Ga, emang lu susah banget ya nyari calon bini? Sampe nyebrang tahun segala. Katanya si anti kerumunan ini titik yang paling kelihatan! HAHAHA" ejek Andi puas.
"Hahaha… Ya udah lah karena lu udah tau, sekalian aja gue minta pendapat elu, Ndi." ujar Uge.
"Oke, gue serius ya." Andi menarik nafas dalam-dalam dan berpikir sejenak. "Jujur nih, menurut gue sih enggak sehat."
"Kenapa gitu?" tanya Uge.
"Gue sih enggak percaya lu beneran ngobrol sama orang masa depan, tapi anggap aja itu bener! Artinya, 5 tahun lagi lu baru bisa ketemu, gimana kalo dia bukan jodoh lu? Lu mau buang waktu selama itu?” tanya Andi.
"Enggak buang waktu, dong! Artinya, ada atau engggak ada dia, gue emang enggak berjodoh dengan siapa pun selama kurun waktu itu,” jawab Uge.
"Emang repot ngomong sama orang pinter. Gini aja deh, kita ngomong tentang tingkat peluang aja. Kenapa lu enggak cari perempuan yang punya peluang besar atau masuk akal untuk lu nikahin secepatnya?” tanya Andi.
"Bener juga lu, Ndi! Ngapain nunggu 5 tahun? Peluang akan lebih besar atau masuk akal, kalo gue cari dia di tahun kita!” sahut Uge bersemangat.
“Hahaha, konsistensi lu memang sulit tertandingi,” ujar Andi sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Di tengah obrolan, tiba-tiba seorang perempuan menghampiri mereka.
"Ndi, boleh ganggu sebentar?" tanya perempuan itu pada Andi.
“Eh, Dewi! sahut Andi senang, akhirnya ia berhasil mempertemukan Uge dengan Dewi.
Uge tak sadar terpana menatap Dewi, begitupula sebaliknya. Dua pasang mata yang pernah bertemu ini kini kembali terpaku beberapa detik. Jantung Uge mendadak berdetak kencang. Dewi memang seolah punya magnet yang sangat kuat untuk membuat orang terpesona, Uge kembali mengakui kebenaran cerita Andi.
"Eh Angga, kenalin ini Dewi," ujar Andi.
"Angga," ujar Uge memperkenalkan diri sambil menyatukan kedua telapak tangannya tanpa menyentuh tangan Dewi.
"Dewi," sahut Dewi sambil mengikuti cara Uge bersalaman.
"Oke, jadi gini, kalian sengaja gue pertemukan di sini, karena Dewi minta dicarikan orang untuk ngebantu dia. Nah, Angga kebetulan orang yang paling tepat. Ya udah diomongin langsung ke orangnya aja," pinta Andi pada Dewi.
"Oh iya, jadi gini Kak Angga….”
“Panggil Angga aja,” potong Uge.
Uge melirik Andi yang terus senyum-senyum tidak jelas, kemudian bicara pada Dewi, "sekedar bisa, Andi kalo promosi, emang ngalahin tukang obat jalanan."
"Ah, promosi gue selalu sesuai kualitas dong! Bisa bikin pembeli enggak kedip! hahaha” canda Andi pada Uge.
Uge ingin sekali melakban mulut Andi.
“Kamu mau bantu?” tanya Dewi pada Uge.
Andi menepuk bahu Uge sambil bicara, “ini yang gue maksud peluang dan masuk akal, katanya elu mau cepet...."
"Mau, rencananya kapan?" potong Uge sebelum Andi semakin menggila.
"Wah, makasih banget ya, Ga, Ya udah nanti kita cari waktu untuk bahas kurikulumnya bareng-bareng sama pengajar yang lain," ujar Dewi.
"Kok nanti? Angga orang sibuk lho, mendingan kalian berdua bahas sekarang," cecar Andi.
"Kalian berdua? Lu enggak ikutan?" tanya Uge ke Andi.
"Gue belum menguasai banget software 3D, kalo materinya gambar manual, sok mangga, urang ikut lah," sahut Andi.
"Nah sayangnya begitu. Tanpa Andi, kamu mau?" tanya Dewi.
"Justru aku males kalo ada Andi, pura-pura nanya aja, biar dia keliatan punya sedikit punya manfaat," ledek Uge.
"Hahaha… Justru gue ngasih kesempatan biar lu sekali-kali punya manfaat. Sori nih, kebetulan aku ada janji sama Pak Deny Willy Marpaung di lab FSRD, aku tinggal dulu ya, assalamualaikum," ujar Andi sambil tertawa-tawa.
"Wa alaikumsalam, makasih ya Ndi," sahut Dewi.
“Sama-sama,” sahut Andi, kemudian menarik Uge sedikit menjauh dan berbisik, "Sssstt… Jangan lu pacarin, adek angkat gue! langsung lamar! HAHAHA!”
Kali ini Uge benar-benar tak berdaya menghadapi Andi. Tapi entah kenapa hati kecilnya malah senang.
Setelah ditinggal Andi, suasana langsung menjadi canggung, Uge segera memulai percakapan agar situasi cepat normal, "Ngomong-ngomong desain kamu yang menang di majalah keren banget, Wi."
"Makasih Ga, aku bisa menang karena kamu enggak ikutan kontes aja," sahut Dewi.
"Enggak lah, kalo kontes desain akhlak Andi, aku baru yakin bisa menang," canda Uge. Dewi pun tertawa.
"Akhirnya aku kenal juga sama orang yang sering diceritain Pak Dheng, dia selalu muji-muji kamu," ujar Dewi.
__ADS_1
"Dia emang sering muji aku, katanya aku ini rajin, ternyata rajin nyapu, ngepel sama ngelap debu,” sahut Uge.
“Hahaha. Dia kagum sama desain kamu, Ga,” ujar Dewi.
“O ya? Pak Dheng kok malah sering bilang desain aku njlimet, katanya, kalo mau bikin orang pusing, mendingan bikin TTS aja," sahut Uge.
"Hahaha, tapi kalo sama aku dia bilangnya, Angga seharusnya di sini ngajar, bukan belajar," kata Dewi.
"Astaghfirloh, berarti dia udah frustasi banget ngajarin aku, sampe nyuruh gantian. Maaf ya, Pak Dheng, otak saya ini kekecilan,” ujar Uge membuat Dewi terus tertawa.
"Angga, ajarin dong! Gimana sih caranya supaya aku bisa selalu rendah hati kaya kamu," tanya Dewi.
"Itu enggak perlu belajar! Saat kita rendah pendapatan, maka kita tidak punya pilihan selain menjadi orang rendah hati," canda Uge lagi.
"Hahaha, Angga, kirain kamu itu orangnya serius," ujar Dewi.
"Itu masalahnya, aku kalo lagi serius malah sering dikira becanda, tapi kalo lagi berusaha ngelucu, orang-orang malah pada diem, aneh ya,” ujar Uge.
Tiba-tiba terdengar suara Azan Dhuhur dari Masjid Salman ITB.
"Alhamdulillah, udah masuk waktu sholat, kamu muslim, Wi?" tanya Uge.
"Iya, muslim," sahut Dewi.
"Dhuhur dulu yuk di masjid? Nanti kita lanjut," ajak Uge.
"Aku enggak sholat," ujar Dewi jujur.
"Kalo gitu aku tinggal sebentar ya? Kamu nunggu dimana nanti aku susul," sahut Uge. Ia mengira Dewi sedang berhalangan.
"Hmm, aku sholat juga aja deh," ujar Dewi membuat Uge bingung.
"Oh? Ya udah, yuk," ajak Uge.
“Oh iya, mukenanya enggak ada," ujar Dewi.
"Biasanya ada di masjid, nanti kutanyain deh, kalo enggak ada nanti aku pinjemin ke temen yang aku kenal," sahut Uge.
Mereka berjalan berdampingan menuju Masjid Salman, orang-orang yang kenal tampak senyum-senyum, terkadang saling berbisik, ada pula yang mengeluarkan celoteh iseng karena melihat pemandangan yang tak biasa ini.
Sampai di Masjid, Uge memenuhi janjinya memastikan keberadaan mukena. Ia meninggalkan Dewi di depan masjid untuk mencari teman perempuan yang bisa ditanya. Sebenarnya ia menyesal menawari Dewi mencari mukena, bukankah Dewi bisa bertanya sendiri, kini Uge harus siap, pertanyaannya pasti akan dijawab dengan pertanyaan.
Dengan perasaan malu Uge mendekati pintu masuk perempuan, ia berharap cepat bertemu dengan wajah yang ia kenal, sebelum diusir karena berada di tempat yang salah. Padahal mahasiswi yang biasa datang ke Masjid Salman tentu mengenali wajah Uge, mereka tahu Uge punya urusan darurat, bukan karena nyasar.
“Angga, cari apa?” tanya Nisa.
Uge tampak lega. “Nisa, ada mukena yang bisa dipinjam?" tanya Uge.
"Buat Dewi, kan? Kamu jadian ya?" tanya Nisa pelan.
"Di masjid kok gosip. Si Andi nitip Dewi, mau diskusi kegiatan kampus. Boleh pinjamin enggak?" tanya Uge.
"Enggak gosip, justru lagi tabayun, kamu jadian? hihihi," tanya Nisa lagi.
"Kenal aja baru. Tuh kan, jadi nyesel nih ngajak orang ke masjid," sahut Uge.
"Ih Angga, kamu kok jadi ngambekan? Kasih tahu aja ke Dewi, mukena ada di rak lemari deket shaf paling belakang," ujar Nisa.
"Nisa, makasih infonya," kata Uge.
"Angga, alhamdulillah, kamu bisa bawa Dewi kesini, kamu bimbing terus ya, biar istiqomah," puji Nisa.
"Aku bimbing kamu aja, gimana?" tanya Uge.
"Ih aku serius, ya udah sana, nanti keburu Iqomah," sahut Nisa sambil meninggalkan Uge.
Uge tertawa. Nisa itu memang cantik dan pakai hijab pula, tak heran Andi khilaf nulis surat cinta untuknya, sayangnya Andi ternyata tidak beruntung. Di pengajian Gerlong, Uge dan Nisa sering dijodoh-jodohkan, tetapi justru hal itu malah membuat keduanya jadi menjaga jarak. Mereka tak mau terkesan rajin ke pengajian karena mencari jodoh.
Uge segera mencari Dewi, setelah memberikan mukena mereka berpisah.
*****
Bersambung
Vote dan comment anda sangat berarti bagi penulis, terimakasih telah membaca tulisan ini.
Penulis, Indra W
__ADS_1