
Malam itu masih terasa sunyi.
Dingiiin...
Rasanya masih menusuk
sampai ke tulang rusuk.
Kriiik... Kriiii.... Kriiiik....
Telinga alek terus
mendengar suara serangga sejenis jangkrik yang mengerik
agak kencang di malam itu.
"Deg,..Deg,..Deg..."suara detak
jantung alek begitu kencang hingga dia juga mendengar dan merasakan detak jantungnya sendiri, saking kencangnya!
Pria kecil itu terbangun dari tidurnya, kemudian buru-buru memposisiskan dirinya duduk di tempat tidur berwarna ungu itu.
iya dia masih berada di
tempat tidur milik lena kakaknya.
Tegang,.. dirinya masih merasa tegang.
Baju kaos berwarna putih yang dikenakan alek basah oleh cucuran keringatnya sendiri.
Jantungnya masih berdetak kencang dan napasnya tersengal -sengal, seolah masih kesulitan untuk bernapas.
Beberapa menit dia terdiam, untuk berusaha mengatur pola
Bernapasnya. Setelah berhasil tenang dia menarik napas panjang kemudian melepaskannya dengan perlahan.
alek sudah agak merasa tenang napasnya sudah mulai teratur dan jantungnya kembali berdetak normal.
ia sadar bahwa kejadian yang dialaminya hanya sebuah mimpi.
Mimpi itu terasa nyata, kejadian demi kejadian yang ia alami begitu detail.
Setiap alur cerita dalam mimpi itu membuat ia seperti merasa bahwa hal itu benar - benar terjadi.
Seperti bukan mimpi.
Matanya berkeliling melihat keadaan di sekitarnya. Dia masih berada di tempat tidur lena
Dengan selimut berwarna ungu itu.
Maria ibunya dan lena kakaknya masih berada di posisi yang sama seperti awal mereka berangkat untuk tidur.
Bibirnya tersenyum, sambil
menghembuskan napas.
"Hhhhhhhhhh,...." alek hembus napas. Dia kini bernapas lega, "Aku hanya bermimpi! Ini tidak nyata" katanya.
Mata alek berkeliling dan
berhenti di jam dinding warna
ungu muda milik lena.
"Ehm masih jam setengah tiga pagi." alek baru tersadar. Tubuhnya menggeliat, ia melemaskan otot-otot badannya.
'Capek sekali badanku.' alek sudah lebih tenang sekarang meski mimpi itu masih mengganggu pikirannya.
Serasa tidak habis pikir kenapa bisa ia bermimpi seperti itu. "Aah sudahlah."
alek lalu merebahkan tubuhnya sambil berguma,. "Capek sekali badanku. Lebih baik aku segera tidur."
Dia lalu menarik selimut lalu mulai mencari posisi nyaman untuk tubuhnya yang merebah di tempat tidur itu.
"Aduh! Bajuku basah sekali!" Katanya sembari kembali ke posisi duduk, kemudian pria kecil itu berdiri untuk berjalan pelan.
Dia bermaksud mengambil baju di kamarnya, baju yang sekarang ia gunakan sangat basah. Tangannya menggapai gagang pintu kamar lena.
Ceklek... dia membuka kunci pintu dan dengan santainya alek membuka pintu itu dengan
perlahan sambil mengucek mata kanannya.
Dia masih sangat mengantuk.
Posisi kamar alek dan lena bersebrangan. Kemudian alek masuk kamar dan segera mengambil baju gantinya di lemari berwarna biru miliknya.
__ADS_1
Tangannya meraih baju kaos berwarna coklat muda kemudian segera dia pakai lalu dengan cepat
Menutup kembali lemari pakaiannya. Dengan perlahan diapun berjalan kembali menuju kamar lena.
Belum juga sampai ke tempat tujuannya, tenggorokannya terasa kering ia haus, haus itu mencekik lehernya hingga dia akhirnya memutuskan berjalan ke arah dapur.
Dapur itu terletak di sisi rumah sebelah kiri berseberangan
dengan posisi kamar mereka yang berada di sisi rumah sebelah kanan.
Untuk ke dapur itu dia harus melewati ruang tamu yang berada di sisi tengah rumah.
Sambil mengucek matanya yang masih mengantuk alek berjalan melewati ruang tamu tempat dimana Michael sedang tidur.
Sebenarnya dia lupa jika
ayahnya ada di sana.
Matanya agak sedikit kabur tidak nampak jelas apa yang ada disekitarnya.
Gelap ...
Ciri khas keadaan malam hari di rumah orang luar Amerika.
Mereka selalu mematikan lampu rumahnya di saat tidur.
Keadaan gelap gulita.
La berjalan pelan, tangannya sambil meraba - raba karena memang gelap sekali.
alek melewati sofa tempat Michael tidur malam itu.
Tiba-tiba...
Gubrak... alek terjatuh.
"Aduh!" bisiknya.
alek terjatuh di lantai kayu
itu. merasakan sakit pada kaki
kirinya seperti terkilir.
Kaki Michael panjang sekali sampai menggantung di sofa dan mengenai alek yang berjalan di dekat sofa abu-abu itu.
"Gawat...," gumamnya.
Matanya bergerilnya dalam gelap mengamati situasi di sekitar
tempat ia terjatuh.
Tangannya menggapai meja di sampingnya, kemudian tangannya bertumpu pada meja itu agar ia ada peganggan dan kuat untuk berdiri.
alek segera mengangkat tubuh dan kakinya bangun dari jatuhnya.
"Aduh!" keluhnya sembari memegangi bagian tubuhnya yang
sakit.
Bibir alek meringis dia merasakan kesakitan di bagian kaki kiri yang terkilir itu.
Sambil jinjit melangkah pelan ia kembali melangkahkan kakinya perlahan menuju ke dapur.
Kakinya pincang, langkahnya tertatih-tatih menuju dapur yang letaknya masih beberapa Langkah lagi dari ruang tamu itu.
Grrrrrrhhhh...Grhrhhrhrrrr...
Suara Michael yang sedang mendengkur menggema di seisi ruangan.
Untung saja Michael tidak terbangun dia masih pulas terlelap dalam tidurnya.
Suara dengkuran itu juga masih kencang dan terdengar di telinga alek.
"Fiuuuuuh...." alek kini
Dapat napasnya lega.
Sambil mengelap keringat yang membasahi dahi nya.
Kembali berjalan pelan, dan akhirnya ia sampai di dapur.
la segera menghidupkan
lampu dapur itu.
__ADS_1
Dengan sangat hati-hati
alek segera meraih gelas yang ada di rak berwarna putih milik ibunya.
La menekan tombol "on" di dispenser berbentuk kotak tinggi dan berwarna hitam itu.
Air mulai memenuhi gelas di
tanganya dan alek dengan sabar menadah air dalam cangkir kuning miliknya.
Dengan perlahan alek segera meneguk gelas kuning yang penuh berisi air putih.
"Aaaaah...." Lega sekali, rasa
dahaganya seketika hilang setelah meminum air putih itu.
Selesai minum.
Dia segera meletakkan gelas
kuningnya di tempat cuci piring.
"Hoaaaam!" Matanya yang mengantuk segara membuatnya menguap.
Saat ini rasa kantuknya
kembali, mengalahkan segala rasa
yang ada.
Tubuh kecilnya terasa capek sekali, ia memang kurang tidur setelah kejadian malam tadi.
Kejadian yang tidak ingin ia
ingat lagi.
Ditambah lagi dengan tidurnya yang tidak nyenyak, sampai harus terbangun karena mimpi buruk tadi.
Untung saja besok hari sabtu sekolahnya libur sehingga dia bisa
beristirahat panjang di hari
liburnya.
alek segera mematikan saklar lampu dapur yang kembali membuat ruangan menjadi gelap.
Kemudian...
alek Kembali berjalan pelan mengendap-endap menuju ke ruang tamu tempat Michael tidur tadi.
Sengaja berjalan pelan agar
tidak membuat Sebastian terbangun dari tidurnya.
Dengan kaki terkilir yang masih sakit akibat terjatuh tadi, dia berusaha mencapai kamar lena.
Tiba -tiba.
Langkahnya terhenti ditengah perjalanannya menuju kamar
lena.
"Aduh...." gumam alek
pelan. Perut bagian bawahnya terasa sakit rasanya seperti ingin buang air kecil.
Dengan segera dia bergegas menuju kamar mandi. la mempercepat langkahnya segera berlari kecil.
Padahal kakinya sedang terkilir. la berlari sambil jinjit dan menahan sakit nya.
alek sudah tidak dapat
Menahan rasa ingin buang air kecil itu seperti sudah diujung.
Untung saja langkah kaki alek tidak membuat Sebastian terbangun dari tidurnya.
Sampai di depan kamar
lena.
Ceklek... pintu kamar dibuka dan dia dengan cepat segera memasuki kamar lena dan memasuki kamar mandi.
"Hmmmmmmm.. "
"lega sekalian rasanya! katanya
__ADS_1