Alex Mafia

Alex Mafia
bab;7


__ADS_3

"Krieeek" suara menutup.


Kemudian lemari itu ditutupnya Kembali dengan perlahan.


"Klek,. Klek,.." Suara pintu kamar mandi dibuka.


Michael memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar alek.


"Sreg,.. Sreg,.."suara kaki


alek mengendap berjalan perlahan agar Michael tidak mendengar.


ia keluar dari kamarnya lalu kembali masuk ke dalam kamar lena.


"Hah..?" alek terkejut mendapati ibu dan kakaknya tidak ada lagi di kamar itu.


Berusaha melihat di sekeliling, ia hanya memiliki waktu sedikit untuk mencari ibu dan kakaknya.


Sebelum Michael


melihatnya.


Dengan cepat alek berlari keruang tamu, disana dia tidak menemukan siapapun.


"Terengah-engah." Napasnya pendek dan sesak.


Dia ketakutan.


Dia menoleh ke arah kamar Maria, segera berlari ke dalam


kamar itu.


Tidak ada juga, pikirnya


dalam hati.


"Dimana Ibu dan kakakku!"


pikirnya.


Dadanya semakin sesak ia ketakutan serasa berdetak makin kencang, rasanya jantungnya mau keluar.


Dicarinya di setiap sudut ruangan kamar milik ibunya.


Badannya membungkuk,


melihat ke bagian bawah tempat tidur. Tidak ada juga...


"Krek,.. dia membuka lemari pakaian milik Maria, Tidak ada


juga.


Berjalan ke arah kamar mandi, alek membuka pintu perlahan, menengok ke dalam kamar mandi.


Tapi tak menemukan siapapun.


"Dimanakah ibu dan kakakku?" tanya alek namun tak menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri.


Muka bocah tampan itu mulai pucat, bola matanya melirik ke arah kanan dan ke kiri sambil mencari kira-kira dimana mereka.

__ADS_1


Dari dalam kamar Maria, alek berusaha melihat keadaan di luar mencari Michael.


"Aman!" serunya dalam hati


lalu melangkah menjinjit agar ayahnya tak menemukannya.


Perlahan alek menuju ke dapur tapi disana juga tak ada seorang pun.


"Hector..." teriak Michael memanggil putranya seperti ingin menelan pria kecil itu.


Deg...


alek terkejut dan bergetar takut. la masih berpikir kemana


Ibu dan kakaknya, setiap sudut ruangan ia jelajahi.


la terdiam sesaat sambil terus mencari orang-orang yang selalu melindunginya.


Dalam pikirannya bertanya kenapa mereka tega meninggalkan aku sendiri.


"Nah..." seru Michael, "Disitu


kau rupanya."


alek sadar Michael


Menemukannya, dia lalu menoleh belakang dengan ketahuan.


Michael dengan cepat berjalan dan meraih tangan putranya seakan bocah ini tak punya ikatan darah dengannya.


"Lepas!" teriak alek yang segera menarik tangannya namun tidak berhasil.


Berlari ke arah Gudang di bawah tanah, tempatnya di


Dia segera menutup pintu ke gudang agar ayahnya tidak mengikutinya.


Perlahan dan berlari kecil dia menuruni tangga bawah tanah di rumah itu.


Tempat itu begitu gelap, entah dimana letak saklar gudang itu. alek yang malang semakin bingung.


Matanya melotot berusaha mencari penerangan, tangannya menggapai dan meraba bagian tembok dikanan kirinya. la mencari saklar untuk


menghidupkan lampu.


"Sreeek... Sreeek..." la meraba dinding di gudang itu.


Tangannya berhenti di satu titik tembok Gudang itu, letaknya disebelah kanan tangga.


Benar saja, ketemu saklar warna putih tulang dengan dua tombol on dan off.


"Klik".alek menekan


tombol itu.


Sedikit Redup... kemudian mulai terang. Ciri khas lampu lama yang tidak pernah dinyalakan.


Lampu Gudang itu sudah menyala, mata alek bergerilya melihat kesana kemari.


Banyak sarang laba-laba di sana sini, barang-barang lama tampak penuh debu dan usang dan kotor.

__ADS_1


Seperti tidak terawat dan tidak terjamah oleh manusia bertahun-tahun dan sangat menyeramkan,


Hidung alek gatal, serasa ingin bersin karena aroma debu dan pengap yang tidak sedap seperti menusuk hidungnya. Tapi


ia menahannya dengan memencet hidungnya sendiri agar tidak menimbulkan suara.


la sadar suara bersin dapat membuat Michael mendengarnya.


Kaget...


"Cit,..Citt..." suara apa itu


tanyanya.


Dia baru saja menyadari bahwa itu suara tikus, pantas saja


bau aroma di Gudang ini sangat pekat dengan bau kotoran dan kencing tikus.


Jijik... Kotor...


Perasaan yang campur aduk jadi satu, ia terus saja menutupi hidungnya dengan kerah bajunya.


Agar bau itu tidak mengganggu penciumannya.


Tap... Tap... suara sepatu boots bertubrukan dengan lantai


kayu diatas rumah.


Hector mendengar suara Michael berjalan diatasnya, dia berada diatas gudang tepatnya di dalam kamar Maria.


Michael masih bergerilya mencari anggota keluarganya satu persatu


alek menghawatirkan ibu dan kakaknya. "Dimanakah mereka sekarang?" tanyanya


dalam hati.


Semoga mereka semua baik


-baik saja harapnya.


Klek... Klek...Klek... suara kunci pintu.


alek terkejut, ia mendapati ayahnya membuka pintu gudang dari luar.


Dada pria kecil ini berdegup kencang, tangannya bergetar, dan tubuhnya pun ikut bergetar.


"Ceklek." alek mematikan


lampu gudang dengan cepat kemudian berlari dengan cepat menuju kamar ibunya.


Badannya membungkuk, lalu alek segera mencari tempat untuknya bersembunyi.


Ada sebuah meja kecil, alek memutuskan untuk bersembunyi di bawah meja itu.


la berharap ayahnya tidak menemukannya di bawah meja itu.


la terduduk, kedua tangannya diletakkan di depan lututnya yang ditekuk untuk menghangatkan badannya.


Matanya terpejam dan wajahnya menunduk ia tenggelamkan wajahnya kedalam dekapan tubuhnya

__ADS_1


sendiri.


Meski dia ingin lari namun kali ini dia hanya bisa pasrah jika ayah nya menemukan nya


__ADS_2