
"Sudah selesai pesan sayang, jadinya pesan apa kalian?" tanya ibunya.
"Maaf lama ya bu, kami pesan Steik dan kentang untuk ibu tapi kami belum memesan minuman untuk ibu." sahutnya.
"Ibu mau dipesankan minuman apa?" tanya lena. "Tidak usah sayang ibu masih punya air mineral ini." Jawabnya.
Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, steik daging beserta kentang goreng saus ayam jamur.
Seperti biasa mereka mulai berdoa terlebih dahulu sebelum menyantap makanan. Selesai berdoa mereka segera menyantap steik daging saus ayam jamur yang masih panas itu.
Dengan perlahan mereka memakannya karena masih dalam keadaan panas. Sesekali bibir mereka meniup makanan yang masih panas itu agar cepat dingin.
Mereka makan dengan lahapnya karena sudah kelaparan dan hari sudah malam. Iya mereka kemalaman karena harus berbelanja kebutuhan tadi.
Piring Steik itu bersih, semua makanan sudah tidak tersisa lagi.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk makan steik panas itu. Perut mereka sudah terlalu lapar sehingga tidak menyisakan sedikitpun makanan di piringnya.Ⓡ
Setelah itu mereka segera menyantap kentang goreng yang dimasak tidak terlalu kering dan diberikan keju lumer diatasnya terlihat lezat sekali. kentang itupun juga habis dengan cepat mereka
tidak menyisakanannya satu pun di piring berwarna putih itu.
Perut mereka kenyang sekali, sambil meletakkan badan dengan cara bersandar pada kursi pertanda kenyang di perutnya. Mereka meneguk minuman boba manis dengan es yang penuh dalam gelas plastik. lena dan alek mengelus perut berulang kali menandakan rasa puas setelah selesai makan.
Hmmmmm Kenyang sekali...
"Mari kita turun anak-anak." Ajakan Maria pada kedua anaknya.
Beberapa saat setelah itu mereka segera beranjak pergi meninggalkan area gerai makanan itu.
Menuruni beberapa lantai bermaksud menuju ke tempat parkir. Kedua mata Maria melihat ada lift di depan mereka.
"Ada lift di sini, ayo kita masuk lift itu anak-anak." Ajak Maria sambil mendorong keranjang belanjaan.
Bergegas menuju lift dan menekan tombol turun. Beberap saat kemudian lift itu terbuka, au dua orang di dalamnya. Maria mendorong keranjang masuk ke dalam lift kemudian menahan pintu agar tidak tertutup dengan menekan tombol sembari
menunggu kedua anaknya masuk dalam lift.
__ADS_1
Pintu lift tertutup,..
Maria menekan huruf "UG" lantai paling bawah tempat parkir mobil. Lift melaju turun dengan kencang dan tidak lama mereka telah sampai di lantai parkiran mobil.
Menoleh ke arah kanan kiri mereka mencari mobil hitam milik Maria. Sempat agak lama mereka mencari berkeliling tempat parkir di level tiga itu.
"Nah itu dia mobil ibu aku hafal plat nomornya, benar kan itu ibu?" kata lena sambil menunjuk ke arah kanan tempat mereka berdiri saat itu.
Malam itu gelap dan hanya ada lampu yang menyinari area tempat parkiran mobil itu. Susah untuk mengenali mobil dari kejauhan. alek agak berlari menghampiri mobil hitam itu ingin memastikan kebenarannya
"Ibu iya benar ini mobilnya tangan kanannya sambil menunjuk ke arah mobil hitam itu." Sambil berlari - larian alek menghampiri ibu nya.
Langkah kaki mereka semakin cepat menuju mobil yang sedang di parkir itu. Maia membuka mobil dengan menekan tombol kunci
otomastis. lēna membuka pintu bagasi kemudian alek membantu ibunya memasukkan kantong belanja satu per satu ke dalam bagasi.
Selesai membereskan kantong belanjaannya Maria segera menutup bagasi dan masuk ke dalam mobil. la segera memasukkan kunci dan menghidupkan mobil. Tak mau menunggu lama lagi ia segera
menancap gas menuju keluar tempat parkir.
Sesampainya di pintu keluar, penjaga pintu parkir meminta surat beserta karcis kemudian melakukan pemeriksaan surat. Setelah selesai surat dikembalikan pada Maria dan mereka diperbolehkan melanjutkan perjalanan.
Maria mencari hotel yang bagus untuk mereka menginap malam
ini.
"sudah jam berapa sekarang sayang? Tanya Maria pada alek.
"Sekarang sudah jam sebelas malam bu." Sahut alek sambil menunjukkan jam tangannya ke depan wajah Maria yang sedang menyetir mobil.
Sekitar jam sepuluh lebih dua puluh lima menit tadi mereka keluar dari mall. Tak terasa sudah jam sebelas malam. Sungguh cepat waktu berlalu di kota ini.
Suasana malam hari di kota ini begitu ramai, seperti tak pernah sepi. Anak muda berpasangan nongkrong di pinggir jalan kota
Tijuana hanya untuk sekedar bertemu dan mengobrol. Mereka melepaskan penat dan
bersosialisasi dengan teman dan kerabatnya. Kota Tijuana benar-benar
__ADS_1
hidup ketika malam hari. Pasar malam di alun-alun kota juga menambah daya Tarik penduduk lokal maupun wisatawan untuk keluar di malam hari. Hanya untuk sekedar menikmati indahnya suasana kota dengan gemerlap Lampu hias yang terlihat di setiap sudut kota. Terangnya lampu membuat suasana malam hari di kota sangat indah dan
begitu hidup.
Mobil sedan itu berhenti di pelataran sebuah Hotel bintang tiga letaknya tak jauh dari mall Tijuana.
Kurang lebih sekitar tujuh menit dari mall ke arah alun-alun kota. lena dan alek terlihat tertarik melihat suasana hotel karena posisi yang strategis berhadapan dengan alun-alun kota.
"Wow bagus sekali hotelnya, lokasinya tepat di depan alun alun benar-benar pemandangan yang indah aku suka sekali." teriak alek kegirangan.
Setelah selesai parkir, Maria segera mematikan mesin mobil sedan miliknya. Ia membuka bagasi dan mengambil tas koper berisi baju milik mereka dan peralatan lainnya. Koper itu memang dipersiapkan Maria sudah lama, ia meletakkan koper itu di dalam bagasi mobil untuk persiapan jika ada kejadian mendadak seperti ini saat mereka bepergian.
Turun dari mobil ketiganya segera memasuki lobby hotel menuju resepsionis.
"Selamat malam ada yang bisa kami bantu ibu?" tanya resepsionis kepada Maria.
Mereka ingin memesan satu
kamar dengan bed yang paling besar agar cukup untuk mereka bertiga. Maria berencana menginap dua malam disana tapi dia masih merahasiakannya dari lena dan alek.
Dia ingin memberikan kejutan untuk kedua anaknya itu.
Maria memerintahkan pada kedua anaknya untuk duduk menunggunya di sofa ruang tunggu
"Malam mba saya ingin memesan kamar yang bed king size untuk kami bertiga apa masih ada?" Jawab Maria.
Maria sengaja memesan satu kamar agar lebih praktis dan ekonomis. Dia harus lebih menghemat uang karena banyak kejadian tidak terduga seperti hari ini.
"Baik bu kamar nya masih
ada, bisa saya pinjam tanda pengenalnya untuk pendaftaran bu?" kata resepsionis.
Untung saja Maria membawa tanda pengenal dan sejumlah uang tunai dalam dompetnya. jadi ia tidak perlu repot mencari mesin ATM lagi bila bepergian. Maria memang Wanita yang disiplin dia
selalu mempersiapkan segala keperluan sebelum melakukan
sesuatu. Maria selalu mencatat
__ADS_1
semua perlengkapan yang ia perlukan sebelum bepergian.
Selesai melakukan pemesanan kamar dan membayar tagihan, mereka segera menaiki lift menuju ke kamar mereka yang berada di lantai lima.