Alex Mafia

Alex Mafia
bab;_23


__ADS_3

"Ibu menungguku ya, maaf aku lama mandinya ya bu?" tanyanya kepada ibunya karena merasa tidak enak sudah membuat ibunya menunggu.


Maria menonton film di televisi, kebetulan pada saat menghidupkan TV tenyata acaranya film horor Thailand.


Seram sekali kelihatannya, apalagi ditonton di dalam kamar nuansa


klasik seperti ini sangat mendukung sekali.


"Tidak apa-apa nak, ibu memang belum bisa tidur mata ibu masih belum mengantuk." Jawab Maria berusaha membuat anaknya tenang agar tidak merasa bersalah kepadanya.


"Ayo sekarang segera tidur ya nak pejamkan kedua matamu hari sudah mulai pagi pasti badanmu capek semua." Perintahnya pada


alek untuk segera tidur."Baik bu aku juga sudah mengantuk, tapi ibu juga harus tidur bu karena ibu pasti Lelah sekali seharian menyetir mobil di perjalanan tadi." alek berusaha membuat ibunya agar mau bergegas tidur.


Maria tersenyum dan


mengangguk menandakan setuju untuk beranjak tidur.


Sambil mengambil Remote dan mengarahkannya ke TV kemudian mematikannya. Film horror Thailand itu sebenarnya sangat menarik tapi Maria lebih memilih tidur mengistirahatkan badannya yang sudah kelelahan. Kedua tangannya menata selimut tebal berwarna putih bersih yang dikenakan oleh lena dan alek, dibenahi sampai benar-benar rapi agar kedua anaknya tidak kedinginan.


Ditariknya selimut itu sampai ke leher mereka, kemudian begitu juga dengan dirinya selimut itu ditariknya sampai ke leher agar terasa hangat saat tidur nanti. Malam begitu dingin dan senyap tidak terdengar suara kehidupan di luar kamar mereka.


"Baca doa dulu sayang!" serunya pada alek memerintahkannya untuk berdoa sebelum tidur.


Mereka berdua berdoa bersama sambil mempersiapkan diri untuk tidur. Sementara lena dari tadi sudah terlelap dalam tidurnya.


Ketiganya bercengkrama dalam tidurnya menenggelamkan diri di atas kasur empuk dan hangatnya selimut berwarna putih yang sangat tebal sehingga cukup untuk menghangatkan mereka bertiga.


Tiba-tiba telapak tangan Maria menjadi putih dan membiru dia begitu kedinginan mungkin karena mandi kemalaman. Dinginnya malam di kota itu membuat Maria sedikit menggigil. la mengambil remote pemanas ruangan dan menaikan suhu panasnya agar mereka tidak kedinginan. Kedua anak baik itu kemudian bergegas memejamkan mata, tidak lama kemudian mereka pun terlelap.


Suasana malam hari begitu dingin terlihat dari kabut yang agak tebal menyelimuti udara di sekitar hotel dan sepi membuat suasananya menjadi semakin seram.


Nuansa klasik dari bangunan dan penataan interior yang identik dengan barang-barang antik membuat aura negatif di hotel menjadi sangat terasa. Untung saja ketiganya sangat kelelahan sehingga bisa tidur dengan nyenyak malam itu.

__ADS_1


Bagaimana tidak kelelahan mereka seharian menempuh perjalanan menuju kota Tijuan dengan jarak tempuh dua jam. Berjalan mengelilingi Mall sebesar lapangan sepak bola yang memiliki tujuh belas lantai lantai. Belum lagi kejadian di rumah kemarin malam membuat tidak bisa tidur dengan tenang karena kelakuan ayahnya sendiri yang membuat rasa tidak nyaman tinggal di rumah mereka sendiri.


Hari berganti,...


Pagi ini matahari sudah menyapa dengan memberikan sinar terik yang menerpa tirai kamar berwarna kuning emas di jendela berukuran sebesar TV di gedung bioskop. Tapi mereka bertiga masih saja terlelap dan seakan tidak mau bangun.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, matahari sudah mulai memberikan rasa hangatnya ke badan.


Masih saja belum mau bangun, mereka masih terlelap....


Masih menikmati mimpi indahnya,..


Tubuh mereka masih Lelah makanya tidak mau bangun,..


Tiba-tiba,..


"Kriiiing,.. kriiiing,.." Suara telepon klasik berbunyi ternyata telepon antik itu masih bisa berfungsi.


Maria terbangun dari tidurnya


Sepertinya Maria bermimpi mendengar telepon antik berdering beberapa kali, sekarang benda itu hanya diam saja tidak berdering lagi seperti tadi. Mata Maria menengok ke arah telepon antik yang terletak di meja sebelah kanannya. Maria mencoba mengangkat telepon dan mendengarkan suaranya di telinga.


"Ngiiiiiiiiiing suara di dalam lobang telinga telepon berbunyi." Ternyata telepon antik itu masih berfungsi berarti Maria tidak bermimpi tadi.


"Aku tidak bermimpi, benda ini memang berdering tadi!" seru Maria sambil memegang telepon antik disamping kanan tempat tidurnya.


Diletakkannya telepon antik itu ke posisinya semula..


Maria masih duduk di atas tempat tidurnya, ia mengangkat kedua tangan ke atas menggeliat meregangkan otot menarik tangan dan badan untuk membangunkan system motorik sensoriknya agar siap digunakan untuk beraktifitas.


Seperti memiliki magnet Kasur itu membuat Maria tidak ingin bangun rasanya masih berat untuk membuka matanya dan beraktifitas kembali. Maria memaksa mata untuk terbuka lebih lebar lagi, ia menggerakkan kedua kakinya diturunkannya ke lantai.


Sambil beranjak bangun dari tempat tidurnya, kedua kaki Maria mulai berdiri lalu berjalan menuju ke arah jendela membuka tirai berwarna kuning emas yang

__ADS_1


besarnya seperti ukuran TV cinema di gedung bioskop. Kedua tangannya merah tali yang menjuntai panjang di pojokan tirai kemudian ditariknya perlahan- lahan lalu tirai itu mulat terbuka.


Sinar matahari pagi itu mulai menerpa wajah Maria rasanya hangat dan nyaman sekali. Tirai sudah terbuka kemudian Maria


mereka agar udara bersih bisa masuk ke dalam kamar.


"Segar sekali udara pagi ini." Ujar Maria sambil mengangkat kedua tangan menggerakkan badan dan berlari kecil mulai berolah raga ringan.


Tiba-tiba....


"Krrriiiiinggg..." Suara telepon


antik berdering lagi.


Mendengar suara dering telepon Maria segera berlari menghampiri telepon antik dari abad ke sembilan belas itu.


Diangkatnya gagang telepon itu perlahan dan diletakkannya di telinga,..


"Hallo,..." Jawab Maria sambil agak sedikit heran dan berpikir siapa yang menelpon ke dalam kamarnya.


Terbesit di kepala Maria kemungkinan pelayan hotel yang menelepon dalam pikirannya.


"Selamat Pagi ibu, mohon maaf mengganggu kami ingin menawarkan sarapan pagi untuk ibu dan keluarga." Ujar pelayan hotel itu dengan ramah menawarkan sarapan pagi kepada Maria.


"Oh iya selamat pagi mba, apa bisa sarapan paginya diantar ke kamar kami mba ?" tanya Maria ramah kepada pelayan.


Maria masih malas keluar dari kamar dan beraktifitas di luar kamar karena itulah ia meminta pelayan untuk megantarkan sarapan pagi mereka ke kamar. Lagi pula kedua anaknya masih dalam keadaan tertidur pulas.


"Bisa bu silahkan ibu pilih terlebih dahulu, daftar menu ada di atas meja ya bu jika sudah silahkan menghubungi saya kembali!" Serunya memberi tahu Maria agar memilih menu dulu.


"Ok mba saya lihat dulu daftar menunya, semua menu di daftar tersedia kah mba?" tanya Maria sambil memastikan menu agar tidak salah memilih.


"Semua ada tersedia bu, baik ibu kami tunggu telepon selanjutnya dan terima kasih atas waktunya bu!" Seru pelayan restoran sambil mengakhiri pembicaraan.

__ADS_1


Maria menutup gagang telepon itu kembali pada tempatnya.


Maria segera membangunkan kedua anaknya agar mereka bisa memilih menu sarapan sesuai keinginan.


__ADS_2