Alex Mafia

Alex Mafia
bab"5 trauma


__ADS_3

"hmmmm.... "maria Nikmat sekali.. Mmmmhhhh.. . " desahnya pelan



ia mengambil kain busa di tetesinya dengan sabun kemudian ia membersihkan setiap inci tubuhnya perlahan maria mengambil shampo kemudian dituangkan sedikit di tangan l, aroma blueberry tercium dari shampoo itu.


digosokkan perlahan ke rambut panjang dan pirang nya itu. kemudian dipijatnya perlahan seluruh bagian kepalanya.


"Hmmmmmmmm... enak sekali kapalaku... " kata nya lagi


selesai memijat kepala nya, maria segera membilas rambut dan badannya dengan air bersih. ia berdiri dan keluar dari bakal mandi itu.


tubuhnya tak mengenakan apa-apa terlihat sangat jelass. ia berjalan kearah cermin besar yang terpampang di dalam kamar mandi.


di depan kaca


alisnya tersentak bersama-sama, ia terkejut melihat wajahnya yang cantik itu penuh dengan luka dan lebam.


air matanya menggenang, ia menangis, wajahnya kini basah karena air mata itu.


sepintas tiba-tiba maria mengingat saat Michael memukuli nya. air mata nya mulai menggenangi mata indah itu lagi.


tangisan maria mulai menjadi jadi dan air mata tumpah di wajah nya


"sesekali maria berteriak seakan bertanya bagaimana bisa hal ini terjadi pada mereka? "


tak pernah terbesit bahwa suami yang sangat ia cintai akan melakukan hal yang buruk pada nya dan kedua anak anak nya.


"Brrrrr,....... dingin.. " tubuh nya kedinginan menggigil kedinginan


"klik.. klik,.. " menghidupkan kran air


"tes,...tes,.. " suara air.


kedua tangan maria membentuk mangkuk, ia mengambil air di genggaman tangan nya.


di basuhnya wajah itu, maria segera menghapus air matanya


perlahan karena terdapat banyak luka di wajah nya itu.


"aduhh... "maria sedikit mengeluhkan rasa sakit di luka nya" sakit! "jerit nya pelan


Perlahan karena terdapat banyak luka di wajah itu.


"Aduh..." Maria sedikit mengeluhkan rasa sakit di lukanya, "Sakit!" jeritnya pelan.


Dingin semakin menusuk sampai ke tulang.


Maria segera meraih handuk merah yang ada di gantungan baju dalam kamar mandi. la mengeringkan dan


menghangatkan tubuhnya dengan handuk merah yang lembut.


Tangan kanannya Kembali meraih kain handuk di gantungan baju, kali ini dia meraih handuk berukuran agak kecil berwarna merah jambu untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Kemudian maria menggapai kotak P3K yang ada di atas rak yang menempel di dinding kamar mandi.


"Krek." Kotak dibuka perlahan.


Maria mengambil cairan alkohol dan sebuah kapas. la membuka penutup nya kemudian menuangkan cairan itu ke kapas. Ditempelkannya kapas itu ke dahinya yang terluka.


"Aaaaah sakiiiit.." teriaknya pelan sambil menahan sakit.


Dahinya mengerut, matanya menyipit dan bibirnya bergetar ia monahan sakit itu dengan tenang


tidak berapa lama ia


Mengambil obat merah dan sebuah kapas, di buka dan di teteskannya obat merah itu ke Kapas kemudian ditempelkan kembali ke luka di sekitar wajahnya.


Sungguh kasian maria.


Semua luka itu ditutup rapi satu per satu dengan perban yang ia potong kecil-kecil, agar tidak terbuka dan terkena bakter


maria kembali ke kamar membuka lemari pakaian, ia mengambil baju piyama berwarna merah.


handuk itu di lepas dari tubuhnya


Dan bergegas memakai


piyama merah itu.


Maria menoleh ke kanan dan kiri mencari pengering rambut untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ternyata pengering itu ada di dalam laci, ia segera meraihnya dan mengeringkan rambut pirangnya.


Di kamar lain...


Alek dan lena juga


Mengunci diri di kamar mereka masing-masing. Menandakan bahwa mereka masih dalam keadaan waspada terhadap Michael


Sama halnya dengan maria, alek pun juga menyiapkan air hangat dan aroma terapi di dalam bak mandi.


Membersihkan tubuh tinggi kecilnya itu setelah sempat beradu dengan Michael tadi.

__ADS_1


alek sebenarnya merasakan stress yang luar biasa apalagi untuk anak yang baru berusia sepuluh tahun.


"Krek.." Maria membuka pintu dengan perlahan kemudian masuk untuk melihat keadaan matanya. Dia mencoba melotot, melirik dan mengamati sekeliling.


Kedua kaki Maria jinjit, jalan perlahan menuju ke kamar Alek dan lena.


"Tok.. tok..." mengetuk dengan perlahan.


Beberapa kali Maria mengetuk kamar alek dan lena yang berseberangan, pintu itu tak kunjung dibuka.


"Tok... tok..." Maria Kembali mengetuk pintu kamar, "alek ini ibu!" kata Maria.


"lena ini ibu!" sambil mengetuk pintu kamar lena.


Kreeeek... alek membuka


pintu.


Kreeeeek... lena juga


membuka pintu.


Mereka berdua sudah mandi.


"alek kemarilah!" kata


maria.


Tangan maria memberi kode pada alek untuk masuk ke dalam kamar lena.


Mereka masuk kamar lena


Dan mengunci pintu dari dalam


rapat - rapat.


Di dalam kamar...


Maria segera memeluk erat kedua anaknya, ia menciumi mereka satu persatu. Meraih kepala dan mengelus rambut mereka dalam pelukannya.


"Tenang Ibu Bersama kalian!" Kata Maria mencoba membuat putranya tenang, "Jangan takut!"


Sambil Kembali memeluk


tubuh alek dan lena.


Maria melihat luka di pelipis


mata alek masih mengeluarkan


"lena dimana kotak P3K-


mu?" tanya Maria.


lena segera mengambil


Kotak P3K letaknya ada di sebuah rak gantung di atas dinding dengan cat warna ungu. Tangan Helena menggapai kotak itu dengan cepat.


"Ini Bu!" katanya.


lena segera menyodorkan kotak berwana putih itu pada Maria ibunya.


Tangan kanan Maria meraih kotak putih P3K itu dengan cepat dan segera membuka nya, ia bermaksud mengobat luka di pelipis mata adiknya.


Maria tak sabar, dia ingin segera mengobati dan menutup luka putranya itu.


Luka alek tampak


menganga lebar terlihat besar


karena sobek.


Brakkk


Pria kecil itu terjatuh dengan keras dan membentur batu yang agak tajam. Untung saja batu itu tidak terkena mata alek, beberapa centi saja bergeser mata alek yang akan terluka bisa saja


mengalami kebutaan.


"Klek" Maria membuka kotak


P3K


Botol Alkohol dan obat merah


segera dibuka, dia mengambil kapas kemudian menuangkan alkohol.


"Kau siap Nak?" tanya Maria.


Sambil memberi kode pada alek dengan cara mengerlingkan matanya.


"Iya Bu, aku siap," jawab

__ADS_1


alek.


Dia anak yang pintar, tangguh, kuat dan sempurna untuk anak


Sepuluh tahun.


ia anak kecil ini memang lebih dewasa untuk anak seumurannya, dibandingkan dengan teman seumurannya dia selalu lebih mengalah dan bijaksana.


Ditempelkannya perlahan- lahan kapas yang sudah dilumuri alkohol itu ke luka yang masih menganga.


"Ssssshhh..." alek menahan


sakitnya.


Dahinya mengerut dan ia memejamkan matanya, seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat.


Pengaruh alkohol itu sangat


membuat alek kesakitan.


Tangannya meraih selimut dan meremasnya dengan kuat, ia berusaha menahan rasa sakitnya


Dengan sekuat tenaganya.


Mulutnya berkedut menolak mengatakan apapun.


Anak usia sepuluh tahun itu tidak sadar matanya sampai menitikkan air mata beberapa kali.


alek yang malang...


Maria menekan luka itu beberapa kali, kemuadian membersihkan noda darah disekitar luka itu.


Kemudian tangan Maria kembali mengambil kapas yang masih bersih, meneteskan obat merah ke kapas itu.


"Sudah siap?" tanya Maria.


"Ok bu." alek tersenyum berusaha membuat ibunya tak semakin cemas.


Dengan tegas alek menjawab pertanyaan Maria. Seakan ingin segera diobati


Ibunya.


Maria menempelkan kapas dengan obat merah itu ke bagian pelipis mata pria kecil yang terluka.


Sesekali anak sepuluh tahun itu mengerutkan dahi dan menahan sakit sekali lagi, sambil menutup matanya.


Bibirnya kembali mengerut..


Menahan sakit.


Maria sangat cekatan, tangannya berusaha menjangkau setiap luka yang menganga di pelipis mata putranya.


Kemudian ia segera mengambil kain kasa untuk menutupi lukanya agar pendarahan berhenti agar bakteri tidak masuk.


"Selesai!" seru Maria lalu


tersenyum ke arah putranya.


Lega luka itu sudah tertutup


rapi sekarang.


"Makasi Bu," kata alek.


"Iya sayang cepat sembuh


ya...." sahut ibunya.


"Iya bu semoga bisa cepat sembuh," jawab alek.


Mata Maria berkeliling mencari jam dinding di kamar lena.


Oh disana rupanya..


"Sudah jam sebelas malam anakku, ayo kita tidur!" kata Maria.


Mereka bertiga terpaksa tidur Bersama dalam satu kamar milik lena yang bernuansa serba


ungu.


"Iya bu..." jawab alek dan lena hampir bersamaan.


lena memang sangat menyukai warna ungu, sungguh warna favoritnva.


Malam semakin larut,


ketiganya berpelukkan dalam satu ranjang berukuran queen size.


Ranjangnya cukup besar


untuk mereka bertiga.

__ADS_1


Maria tidak bisa tidur, ia tidak dapat membuat matanya terpejam.


Rasa takut kuatir michael terbangun dan marah. Maria membayangakan Michael


__ADS_2