Alex Mafia

Alex Mafia
bab 25


__ADS_3

"Hallo selamat pagi ada yang bisa kami bantu ibu?" tanya pelayan dengan ramah.


"Ehm iya pak saya mau memesan sarapan apa bisa diantar ke kamar lima kosong lima?" Tanya Maria kepada pelayan itu.


"Bisa ibu, apa saja pesanannya? Tanya pelayan restoran kepada Maria. "Saya pesan dua Sup iga, dua Kentang keju, satu burger dan dua hotdog, satu fetucini, satu spageti kemudian minumannya satu jus alpukat, satu teh hangat dan satu jus strawberry." Jawab Maria sambil menyebutkan semua pesanannya.


"Baik ibu, itu saja pesanannya atau ada lagi tambahan mungkin untuk minuman hangat atau makanan kecil dan penutupnya ada ice cream salad buah ataukue manis mungkin ibu berminat?" tanya pelayan sambil menawarkan beberapa menu penutup dan makanan ringan kepada Maria.


"Ehm sudah itu saja pak pesanan saya, boleh minta tolong diantar ke kamar lima kosong lima ya pak!" pinta Maria kepada pelayan itu.


"Baik ibu mohon ditunggu, dan terima kasih sudah memesan selamat pagi bu." Ujar pelayan sambil memberikan ucapan terima


kasih pada Maria.


"Iya pak terima kasih dan selamat pagi." Jawab Maria ramah kepada pelayan retoran itu.


alek lalu keluar dari kamar mandi dia sudah selesai mandi, badannya terasa segar rambut pirangnya basah sambil menggosok rambut yang basah itu dengan handuk warna putih.


Baru saja dia melangkah keluar dari kamar mandi kemudian ia terkejut melihat TV menyala dan ada tayangan kesukaannya "Kapten Amerika". Tawa girang keluar dari bibirnya dan langsung melangkah cepat mengambil remote TV sambil duduk di atas tempat tidur.


Sambil duduk bersila alek menonton acara kesukaannya itu, ia menikmati keseruan ceritanya sambil sesekali komen dengan adegan yang terjadi di dalam film itu. Tangannya pun kadang memberikan pukulan kecil ke arah kasur busa bila terjadi adegan yang menegangkan.


Maria sengaja menghidupkan TV dan memilih acara kesukaan putranya, dia tahu bahwa ini acara yang paling dinantikan bocah itu sehari-harinya. Menonton Film seri kartun "Kapten Amerika" ini seolah-olah menjadi tugas kedua baginya selain mengerjakan tugas sekolah.


Menonton film ini bagi bocah sepuluh tahun itu adalah Wajib hukumnya bisa dibilang hobi kedua nya setelah fotografi.


Ibunya hafal jam tayang film kesukaan putranya itu, hari ini dia lupa menonton karena pikirannya sedang asik dengan objek fotografi di luar balkón tadi.


Maria selalu bisa membuat kedua anaknya bahagia, hal kecil pun selalu ia perhatikan. Semua untuk kebutuhan anak-anaknya selalu ia berikan meskipun itu hanya sekedar untuk menonton film kesukaan. Selama itu bagus dan baik bagi anak-anak pasti akan dia berikan dengan penuh rasa cinta.


alek masih fokus menonton TV dan makin menghayati adegan film itu.


Sementara lena dia masih sibuk menelpon teman sekolahnya. lena asik menceritakan tentang liburannya kali ini kepada sahabatnya di sekolah. Shanaz nama teman lena, mereka bersahabat semenjak di sekolah dasar sampai saat ini masih satu sekolah di sekolah menengah pertama. Selalu satu sekolah, mereka memang janjian untuk masuk ke sekolah yang sama. Tak mau pisah mereka selalu ingin bersama, selain memiliki persamaan sifat mereka juga memiliki kesukaan dan hobi yang sama. Mulai dari fotografi dan kesukaan terhadap warna ungu.


Mungkin hal itulah yang membuat mereka berdua menjadi akrab dan tidak terpisahkan. Setiap hari selalu menelpon satu sama lain saling berkabar dan bercerita kehidupan sehari-hari yang mereka alami. Tidak pernah bosan mereka berdua bercerita dan bersenda gurau.


lena beberapa kali menginap di kediaman keluarga Shanaz, ibu dan ayahnya pun sudah menganggap lena seperti anak mereka sendiri.


Keluarga Shanaz juga mengetahui bahwa Michael ayah lena sering berperilaku sangat buruk pada ibu dan anak-anaknya, karena itulah ibu dan ayah Shanaz sangat menyayangi dan menganggap lena seperti anak mereka.


"Tok...tok..tok..." suara ketokan pintu kamar terdengar oleh Maria dan anak-anaknya dari dalam kamar.


"Itu dia makanan kita sudah datang!" Kata alek sambil berlari ke arah pintu bermaksud membantu ibunya mengambil makanan pesanan mereka.


Maria mengintip siapa yang mengetuk pintu dari lubang pintu yang terbuat dari bahan kayu jati dan terlihat sangat kokoh itu. Tangan kanannya menggapai gagang pintu kamar ia kemudian membuka perlahan pintu jati berwarna coklat tua itu. Dan benar pelayan dari restoran yang mengetuk pintu kamar mereka dan bermaksud mengirimkan pesanan makanan milik Maria dan anak-anak.


Setelah pintu terbuka,...


"Permisi ibu saya mau mengantarkan makanan yang ibu pesan melalui telepon tadi." Terang pelayang kepada Maria sambil menyodorkan beberapa piring makanan ke tangan Maria. Maria menerima piring berisi makanan dan minuman sambil mengecek satu per satu pesanan itu takut ada yang kurang atau malah kelebihan. Satu demi persatu piring di berikan kepada Maria, diletakkannya piring - piring berisi makanan itu di atas meja makan ruang dalam kamar itu.


"Ada yang kurang ibu pesanannya?" Tanya pelayan dengan melihat bon makanan lalu disodorkan bon itu ke tangan


Maria.


Bon itu sudah ditangan Maria, kemudian di ceknya satu per satu oleh Maria.

__ADS_1


Dan sudah lengkap semua...


Maria kembali masuk ke dalam kamar mengambil tas yang diletakkan diatas meja TV, merogoh dompet di dalam tas. la membuka dompet mengambil sejumlah uang lalu dihitungnya di hadapan pelayan itu,


"Totalnya sembilan puluh lima dolar ya pak, ini uangnya silahkan dihitung lagi pak!" Serunya kepada pelayan untuk menghitung kembali uang yang di berikannya,


Dan kemudian dihitungnya uang itu oleh pelayan perlahan agar tidak ada yang salah.


"Ini semua seratus lima dolar ibu uangnya, jadi kembali sepuluh dolar sebentar saya ambilkan kembaliannya." Sambil merogoh saku celananya pelayan itu bermaksud untuk mengembalikan uang kembalian pada Maria.


Maria mengucapkan terima kasih pada pelayan karena sudah mengantarkan makanan mereka pagi itu.


"Sudah pak ambil saja uang kembalian itu untuk bapak saja.


Terima kasih ya pak sudah membantu!" Kata Maria menerangkan pada pelayan tadi untuk menyimpan uang kembalian untuk itu untuknya.


Bibir pelayan itu sontak tersenyum ia melemparkan senyuman dan menganggukkan kepala pada Maria kemudian mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih banyak bu, selamat makan dan selamat menikmati hidangannya." Jawab pelayan sembari pergi meninggalkan kamar mereka.


Tidak mau berlama-lama Maria segera menutup pintu dengan mendorong daun pintu dari Jati itu. Saat akan melangkah la mendengar suara ketukan pintu lagi.


Buru-buru ia buka pintunya dan ternyata si Pelayan tadi..."Mohon maaf ibu


mengganggu lagi, saya Cuma mau bilang nanti piringnya diletakkan di bawah pintu luar kamar saja bu, biar nanti saya yang ambil," Kata pelayan itu dengan maksud ingin membantu Maria agar tidak kebingungan menaruh piring kotor.


Sambil mengangguk dan menjawab,... Maria pun membalas dengan ucapan terima kasih pada pelayan itu.


"Oh ok nanti saya letakkan di luar pintu ya pak, terima kasih banyak pa katas infonya." Sahut Maria sambil menutup pintu dan bergegas kembali ke dalam kamar.


Pelayan itu pun pergi melangkah meninggalkan kamar mereka sambil mendorong troli kembali ke lobi hotel.


meletakkan makanan.


Melangkah berjalan ke arah wastafel kemudian dia mencuci kedua tangannya sampai bersih dengan sabun. "Ayo sayang kita segera makan, kalian harus makan yang banyak untuk menjaga agar tubuh kalian sehat dan kuat." Ajak Maria agar anaknya semangat untuk makan.


"Krucuk,...krucuk..." Suara perut Maria semakin terdengar sampai telinganya sendiri.


Maria sudah sangat kelaparan, sementara lena dan alek sudah mulai membuka satu persatu bungkus plastik piring yang digunakan untuk menutupi makanan mereka. Tak lupa dengan kebiasaan mereka yang selalu berdoa terlebih dahulu sebelum mulai menyantap hidangan.


Maria, lena dan alek menyantap semua makanan yang mereka pesan dengan lahap. Tidak tersisa satupun makanan di piring. Mereka bertiga memang suka makan dan selalu menghabiskannya tanpa tersisa, pantang bagi mereka menyisakan makanan karena mereka tahu susahnya mencari uang dan merasa iba terhadap ibunya yang banting tulang untuk mencari rejeki.


Sangat bertolak belakang dengan Sebastian ayah mereka, ia tidak pernah bertanggung jawab atas istri dan anak-anak. Sosok ayah yang tidak baik dan tidak patut dicontoh.


lena dan alek sangat menghargai semua jerih payah Ibunya dalam mencari rejeki untuk keluarga, alek maupun lena selalu menjadi anak yang penurut, tidak pernah sedikitpun terbesit di pikiran mereka untuk membuat ibunya marah atau sampai membuatnya menangis. Rasa sayang anak-anak itu terhadap ibunya sangat besar melebihi apapun di dunia ini.


"Aduh kenyang sekali perutku bu, makasi ya bu sudah memesankan makanan lezat ini semua untuk kami berdua!" seru alek sambil kekenyangan berterima kasih pada ibunya karena memberikan makanan yang sangat lezat untuk sarapan pagi mereka. Perut pria kecil itu kemudian


membuncit dia telah


menghabiskan semua makanan yang ia pesan, mulai dari sup iga, burger dan kentang keju sampai segelas jus alpukat pun tidak bersisa sama sekali.


"Tidak sia-sia aku memilih menu ini, semua terasa sangat lezat aku suka masakan disini enak bu." Ujarnya sambil merasa puas dengan semua makanan yang ia pesan tadi.


Selesai makan alek maupun lena segera membereskan semua piring makanan, gelas dan sendok garpu yang kotor.

__ADS_1


"Tolong letakkan piring kotornya di depan pintu kamar ya sayang!" seru Maria memerintahkan agar piring kotor itu diletakkan di depan kamar seperti anjuran pelayan hotel tadi. Sambil hati-hati dan perlahan menumpuk semua piring kotor menjadi satu, diangkat perlahan semua piring kotor itu oleh lena.


Mereka berdua berjalan ke arah pintu yang terbuat dari kayu jati itu bermaksud meletakkan semua piring kotor itu di depan pintu kamar seperti perintah ibunya. alek membuka pintu perlahan


Kedua kaki lena melangkah keluar, tangannya penuh dengan bawaan berupa piring kotor. Tubuh lena membungkuk ke depan, kedua tangannya mengayun ke bawah dengan perlahan dan kemudian meletakkan tumpukan piring kotor itu dengan sangat hati -hati. Ditatanya piring itu dengan sangat rapi di depan kamar sambil jongkok.


Daun telinga lena Tiba-tiba menangkap sebuah suara derap langkah kaki. Sepertinya ada beberapa orang yang sedang berjalan ke arah lorong kamar yang mereka tempati. Suaranya seperti derap Langkah kaki sepatu hak tinggi milik wanita dan sepatu boots pria.


Entah kenapa lena merasa derap Langkah kaki mereka semakin mendekatinya tapi ia sangat enggan untuk menoleh dan melihat siapa gerangan yang sedang berjalan ke arahnya. lena segera berdiri dari jongkoknya, tubuhnya sudah dalam posisi berdiri sekarang kemudian ia membalikkan badan bermaksud untuk kembali masuk ke dalam kamarnya.


Tiba-tiba derap Langkah beberapa orang tadi terhenti di sebuah pintu kamar. Sepertinya


sedang mencoba membuka pintu kamar sebelah.


Sambil menerka - nerka merasa ingin tahu siapa, spontan kepala Helena menoleh ke arah kiri. Ternyata sepasang laki-laki dan perempuan mereka berhenti di sebelah kiri kamar.


Mereka berdua menghadap ke arah pintu kamar mereka. Posisi kamar mereka berada di sebelah lorong sebelah kiri sementara


kamar lena lorong sebelah


kanan. Terpaut dua kamar yang membatasi kamar mereka.


Dari sisi sebelah kanan lorong kamar, mata lena berkeliling sedang mengamati mereka...


Sosok wanita dengan rambut hitam panjang sampai pinggul tubuhnya tinggi agak gemuk padat berisi, menggunakan baju merah ketat terlihat belahan dada dan rok mini warna hitam. Tangan wanita itu menggelayut erat di tangan seorang pria, sesekali disandarkannya kepala wanita itu di bahu pria itu...


Mereka seperti pasangan yang sudah tidak lama bertemu dan sedang di mabuk cinta,..


Pandangan lena berhenti tertuju pada pria itu, Pria yang tinggi tubuhnya kekar dan rambut gondrong yang diikat ke belakang. la menggunakan jaket kulit


warna hitam seperti milik Michael ayahnya.


lena heran matanya seperti melihat sesuatu yang janggal ia seperti mengenali sosok pria berambut gondrong itu..


Waktu seperti sesaat terhenti... ia tertegun lena terpaku terdiam berdiri di depan pintu kamarnya. lena terdiam sejenak sambil memandang ke arah mereka....


Kemudian pria itu menoleh sedikit ke arah wanita yang sedang bersandar di bahunya, kemudian dengan mesra dia mengecup dahi wanita itu,


Mata lena menangkap


pemandangan yang tidak biasa...


Bibir lena tertahan dan menganga seperti terkejut, dahinya mengerut seperti heran. sekarang tampak jelas siapa pria itu, dia memang benar si Michael ayah lena.


Tak ingin ketahuan Ayahnya, lena segera berlari masuk ke dalam kamar. Kedua tangannya mendorong dan mengunci pintu itu rapat - rapat. lena ketakutan seperti melihat hantu...


Pada saat Helena membuka kamar si Michael tiba -tiba menoleh ke arah lena, untung saja lena membelakangi mereka dan ia buru-buru masuk. Sepertinya Sebastian tidak menyadari dan ia tidak mengenali bahwa anak perempuan yang baru saja ia lihat adalah anak kandungnya sendiri.


lena masih sangat syok...


Tubuhnya membelakangi pintu menghadap ke dalam kamar ia berdiri menempelkan punggungnya di belakang pintu, sambil bernapas tersengal- sengal sesekali ia menelan ludahnya sendiri.


Kedua matanya masih terlihat melotot pandangannya kosong seolah baru saja melihat hantu. Kejadian tadi sangat tidak ia duga kenapa bisa terjadi suatu kebetulan yang sangat aneh...


Detak jantungnya kencang sekali, dan semakin kencang serasa tidak mau melambat seperti normalnya jantung yang berdetak. lena kebingungan,..

__ADS_1


Antara terkejut, bingung dan kecewa melihat kejadian itu...


lena seperti seorang wanita yang patah hati, serasa terluka dan hatinya hancur melihat ayahnya bersama wanita yang bukan ibunya.


__ADS_2