
Jari telunjuk tangan kanan Maria menekan tombol tanda panah naik, dua menit kemudian lift terbuka sangat pelan butuh kesabaran untuk menunggunya terbuka utuh.
Setelah terbuka utuh Maria melangkah masuk ia buru-buru menekan tombol agar pintu lift tidak tertutup, lena dan alek pun kemudian melangkahkan kakinya menyusul masuk ke dalam lift.
"Lama sekali pintunya terbuka, lift ini aneh sekali ya bu model dan bentuk seperti udah lama." Seru alek sambil melihat keadaann di dalam lift.
Ibu nya mengangguk dan tertawa mendengar alek mengeluh kan soal pintu lift dan keadaan lift yang sudah lawas. Sambil tertawa Maria ikut memperhatikan lift matanya mulai berkeliling melihat corak yang memang tidak biasa.
Beberapa saat mereka menunggu pintu lift tertutup terasa lambat sekali, sekitar tiga puluh detik barulah pintu lift itu tertutup.
Lift itu memang model lama terlihat dari bentuk pintunya yang tebal dan ukuran dalam lift yang luas. Lift model pertama dibuat sekitar tahun seribu delapan ratus lima puluhan.
"Bagus bu lift ini unik seperti kotak perhiasan milik ibu penuh cermin di semua sisi, corak jaman kerajaan dan ada karpet di bagian bawahnya." alek menerangkan dengan sangat menggebu.
lena pun tersenyum sambil matanya berkeliling melihat keadaan di lift itu. Tangannya
. merogoh ke dalam tas selempang yang di bawa nya, ia mengambil telepon genggam. Tentu saja ia tidak lupa untuk mengabadikan momen bersama ibu dan adiknya di dalam lift nuansa klasik itu.
Beberapa kali mereka berfoto bersama, seolah tidak mau melewatkan waktu di tempat yang mewah itu.
Hotel dengan konsep klasik bintang tiga ini memang lawas, dibangun sekitar tahun seribu
delapan ratus lima puluhan jauh sebelum alek dan lena lahir.
alek merasa seperti sedang berada di sebuah kerajaan yang sering ia tonton di film.
Lift dengan perlahan menaiki terbuka perlahan alek keluar
tiap lantai hotel klasik itu, beberapa menit kemudian lift
berhenti di lantai lima. Pintu lift
dan berlari kecil mengelilingi lorong seluruh lantai itu.
"Ibu kamar kita nomor berapa?" tanya alek bersemangat sambil berlarian mengitari sepanjang lorong lantai lima itu.
"Lima kosong lima sayang kamar kita, coba kamu cari di ujung lorong dan belok ke kanan!" seru Maria sembari menunjukkan arah lorong dengan tangan kanannya. alek segera berlari mengitari ke ujung lorong itu kemudian berbelok ke arah kanan. Langkahnya terhenti Ketika menemukan sebuah kamar dengan daun pintu yang besar dan lebar. Sepertinya itu kamar yang dimaksud oleh ibunya dengan tulisan besar menggantung di daun pintu nomornya lima kosong lima.
"Ibu aku menemukan kamar
kita di sebelah sini bu cepat segera kemari bu!" sambil berlari menghampiri Maia dan lena dia menunjukkan kamar itu pada mereka berdua.
__ADS_1
Maria dan lena segera bergegas mempercepat langkahnya menuju ke ujung lorong kemudian berbelok ke kanan posisi kamar yang di maksud oleh alek. Ternyata benar disitu kamar mereka berada. "Sepertinya benar sayang ini kamar kita, sambil menengok ke arah lain memeriksa nomor kamar disekitarnya." Seru ibunya sambil memeriksa nomor kamar lain di sekitar sebelah kamar mereka.
Tangan Maria segera merogoh ke dalam tas warna merah mudanya mencari kunci pintu kamar hotel yang tadi ia masukkan ke dalam tasnya.
Dicarinya perlahan di dalam tas itu tangannya ke arah kanan dan kiri dalam tas itu. Tapi nyatanya Maria tidak dapat menemukannya.
"Kemana ya kuncinya kok tidak ada, sambil merogoh tasnya sekali lagi dengan perlahan." Seru Maria yang semakin kebingungan.
Seingatnya dia memasukkan kunci itu ke dalam tasnya setelah menerima kunci dan membayar tagihan.
Entah kemana kunci itu
padahal bentuknya besar sekali dengan gantungan kunci besar berbentuk bangunan hotel itu,
Kemudian Maria meletakkan tasnya di meja ruang tunggu di depan kamar mereka, Sambil mengeluarkan semua isi tas dan menumpahkan isinya ke atas meja itu.
Maria kebingungan ..."Sepertinya kunci itu tadi aku masukkan kedalam tas ini kemudian aku berjalan menuju lift," Sambil memperagakan reka ulang kejadian tadi menjelaskan kepada alek dan lena.
alek dan lena pun ikut mencari kunci itu di tas dan mencoba mencari di saku tapi mereka juga tidak dapat menemukan nya.
"Kalian berdua tunggu disini ya anakku ibu coba turun ke resepsionis lagi, siapa tahu ibu lupa belum mengambil kunci nya." Seru ibu nya sambil melangkah pergi menuju lift.
Sambil jalan ke lift Maria membalikkan badannya melihat ke arah kedua anaknya sambil tersenyum... "Tunggu ibu ya sebentar saja." Katanya seolah menenangkan kedua anaknya.
alek membalasnya dengan mengangkat jempol tangannya menandakan setuju untuk menunggu ibunya disitu. Tak mau membuang waktu alek segera mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai berfoto.
Sementara lena ia kelelahan dan lebih memilih
memejamkan matanya karena sudah mulai mengantuk.
lena tertidur di sofa depan kamar mereka,..
Sementara itu,..
Maria berlari kecil menuju lift yang tadi ia naiki bersama kedua naknya.
Ditekannya tombol panah
bawah, cukup lama ia
enunggu liftnya sampai di lantai lima
__ADS_1
kemudian "Tiling,.. bunyi suara pintu lift sampai di lantai lima.
Lift nya sampai dan pintu mulai terbuka perlahan Maria bersiap-siap untuk masuk ke dalam lift.
Seperti tidak sabar Maria ingin
buru-buru masuk ke dalam lift uno yang memang bekerja sangat lambat.
Dan pintu lift sudah terbuka sekarang, di dalam sudah ada sosok perempuan cantik yang berumur sekitar dua puluh delapan tahunan. Mata Maria tertuju pada Wanita itu..
Maria melemparkan senyuman
pada wanita itu dan ia pun
membalas Maria dengan
senyuman.Langkah kaki Maria memasuki lift dengan perlahan, ia menekan tombol "L" yang artinya Lobby.
Canggung,..
Mereka tidak saling berbicara, Wanita itu sibuk memegang hp sedang berkirim pesan dengan seseorang. Maria pun tidak sempat berpikir untuk mengobrol dengan
telepon genggamnya seperti
Wanita itu. Pikiran Maria saat ini tertuju pada kunci pintu kamar hotel yang tidak ia temukan saat ini dalam tas nya.
"Tiiiing,.." Suara lift menunjukkan kan bahwa lift sudah sampai di lantai Lobby.
Lift berhenti, Pintunya mulai terbuka secara perlahan. Maria buru - buru ingin melangkah keluar, berapa detik kemudian pintu lift terbuka lebar. Dengan sedikit lari Maria menghampiri resepsionis dan mulai bertanya.
"Maaf apa kunci kamar lima kosong lima sudah diberikan kepada saya tadi mba?" tanya Maria dengan raut wajah gelisah.
"Sebentar saya cek terlebih dahulu ya bu, Mohon bersedia menunggu sebentar ya ibu." Jawab resepsionis dengan sopan sambil menatap mata Maria.
Maria melangkah ke kursi sofa berwarna kuning emas di sebelah
kanan meja resepsionis itu. la tidak tenang dan memikirkan kira -kira dimana kunci kamar itu berada. Mata Maria mengamati gerak gerik resepsionis itu, ia makin penasaran apakah kunci itu sudah diberikan padanya atau memang belum.
Maria melamun,.. pandangan matanya kosong..
Tidak lama kemudian...
__ADS_1