Alex Mafia

Alex Mafia
bab;8


__ADS_3

Tak... Tok... Tak... Tok... Suara sepasang kaki menuruni tangga.


Suara Langkah kaki pria itu terdengar di telinga alek semakin mendekat.


Langkahnya lambat seolah sedang sangat berhati-hati dalam melangkah.


Seperti tidak ingin alek tau dia ada disitu. Kakinya sengaja melangkah pelan agar alek tidak mendengar


Semakin menuruni tangga dan sampai pada baris tangga terakhir.


Sosok tubuh pria itu terlihat berdiri, tinggi besar bayangannya dipantulkan oleh bias cahaya yang turun dari lampu diatas gudang melalui pintu yang terbuka itu,


Deg... deg... deg... Jantung


alek berdegup kencang sekali.


Sampai-sampai ia bisa merasakan ada yang mau keluar dari dadanya, tubuhnya terasa melemah.


alek ketakutan, tubuhnya bergetar dalam pelukannya sendiri.


Seolah tidak mau ditemukan


oleh ayahnya tubuh alek


Semakin mengecil menenggelamkan dirinya di dalam persembunyiannya di bawah meja yang terletak di bawah tangga.


Telinga alek kemudian bergerak, dia mendengar lagi suara langkah kaki ayahnya yang bergerilya dalam gelap untuk mencarinya.


Tap...Tap.... Langkah kaki ayahnya terdengar semakin jelas di telinganya melangkah kemudian


sesekali berhenti, seperti berusaha mencari alek di setiap sudut gudang kotor itu.


BRAK... Barang dibanting Michael dengan kencang. "Aaaa!"


Dibantingnya kursi itu ke depan meja tempat alek bersembunyi sepertinya dia tahu jika putranya ada di situ.


Krieeeek.. tiba-tiba lemari


Dibuka dan lemari usang itu pun tak luput, ia membukanya dan memeriksa bagian dalam lemari berwarna coklat tua itu.


Tak mau melewatkan pandangannya dari semua sudut di dalam gudang kotor itu. Setiap barang yang ada di dalam gudang itu ia periksa dengan teliti.


Tap...Tap... langkah kaki kaki Michael kembali terdengar.


Pria paruh baya itu terdengar mendekat putranya seakan mengetahui karena suara langkahnya seperti berada di daun telinga bocah sepuluh tahun itu,


Dengan cepat bocah malang itu mengangkat kepala perlahan dan melihat ke depan agak ke atas kemudian alek mulai melotot dan terbelalak saat mendapati ayahnya sudah berada di depan meja itu.


Sosok yang sangat


menyeramkan membuat alek ketakutan.


Tiba-tiba.


Kedua tangan ayahnya dengan cepat menyambar menggapai daun meja itu.


Greeeeeettttttttt... Meja digeser.


"Haaaaah..." teriak Michael yang menemukan putranya.


"Oh Tidaaaaak." alek


terperanjak melihat ayahnya di hadapannya.


Melihat alek berada di sana ayahnya semakin kuat menggeser meja tempat alek yang ketakutan bersembunyi.


Greeet... Greeeeeettttt... digeser lagi meja yang menjadi tempat persembunyian putranya dan kraaaak... sebuah kaki meja patah kemudian roboh.


Meja yang lapuk karena dimakan rayap itu patah salah satu kakinya sehingga roboh ke sebelah kanan.


Kesempatan...


Disaat ayahnya sibuk mengamati meja patah itu, tubuh kecil alek mulai membungkuk dan perlahan berdiri beranjak dari persembunyiannya, ada ruang kosong yang masih dapat dimanfaatkannya keluar dari bawah meja


la merambat di sela sisi kiri meja itu kemudian dengan gesitnya alek berlari ke arah tangga.


alek berlari sekencang - kencangnya menaiki tangga gudang, namun karena terlalu bersemangat kayu yang rapuh itu menindih tubuh kecilnya, "Aduuuuuh!" teriak alek ketakutan.


Tangga yang terbuat dari kayu itu retak, kaki sebelah kanan alek terjebak di retakan kayu anak tangga itu.


Dia berusaha menarik


kakinya.


"Aduh.... Sulit sekali." alek menggumam.


Sambil berusaha


mengeluarkan kaki kanannya alek menarik kakinya dengan kuat


Dia memakai sepatu kets berwarna putih pemberian ibunya.

__ADS_1


Kesayangannya, enak sekali dipakai.


Sepatu itu adalah hadiah ulang tahunnya yang ke sepuluh di bulan juni kemarin.


"Kreeeek.." sepatunya robek.


Astaga sepatu kesayangannya robek, alek


segera melepas sepatu itu dari kakinya


Sepatu itu terjebak di rongga kayu anak tangga yang lobang karena retak.


Dengan berat hati pria kecil itu terpaksa menginggalkannya.


Untung saja kaki kanan alek tidak sampai terluka. Dia segera berlari dengan pincang tanpa sepatu di kaki kanannya.


Sementara itu


Suara retakan anak tangga itu


terdengar oleh ayahnya.


"BRAAAAK" meja ditendang.


Sebastian menyadari anaknya berlari ke arah tangga. Dia merasa jengkel sehingga meja rapuh itu menjadi sasaran kemarahannya. Dia menendang meja itu sekuat tenaga dengan kakinya.


alek akhirnya berhasil


mencapai ujung tangga, ia membuka pintu gudang dan buru -buru keluar dari ruangan itu.


Tap... Tap... Tap... Tap... Suara Langkah tergesa-gesa.


Michael berjalan tergesa dan agak berlari menyusul alek yang tergesa.


Dia marah...


Raut wajahnya seram dan


berwarna merah. Tanda ia sedang marah besar "Kraaaaak,..." Suara baju


sobek.


iya...


Tangan Michael begitu kuat dan panjang, seukuran tangan orang Amerika dewasa.


ia berhasil meraih baju kaos putranya sampai membuat kaos itu robek tak beraturan.


Kemudian.


Gubraaaak... Pria itu terjatuh.


Kaki Michael tersandung oleh sepatu alek yang masih terjebak di lobang anak tangga yang retak tadi.


Tubuh besar Michael terjatuh di anak tangga itu.


Kedua kakinya kehilangan kendali dan terpeleset, tidak dapat


menahan tubuhnya lagi.


Tubuhnya terjatuh dan menindih tangan kanannya sendiri.


Duuuuug...


Dagu Michael membentur


kayu anak tangga dan


Kreeek... kayu itu patah


perlaha.


"Aaaaaaaaaaargrgrgrgrggrh!"


Dengan kencang Michael


berteriak kesakitan, tangan kanan Michael patah,


"Hiiiiaaaaaaaaa..." Dia terus teriak


kencang karena kesakitan yang sangat sakit.


"Untung saja!" gumam alek yang terjatuh di sebelah pintu gudang segera berdiri, ia kemudian menutup pintu lalu menguncinya dengan rapat.


Greeeet,.. greeeett,..greeettt...


dia segera menggeser rak sekuat tenaga


Baju kaos alek basah oleh


keringatnya sendiri.

__ADS_1


la menutupi pintu gudang itu dengan sebuah rak berwarna putih. Tempat ibunya biasa menyimpan barang pecah belah.


Rak berukuran sedang yang tingginya sama seperti daun pintu gudang itu.


Pas jika digunakan untuk


menutup pintu itu, semua


bagiannya tertutupi dengan


Sempurna.


"Hhhhhaaaaah.. hhhhhhhh..." Napasnya tersengal-sengal.


alek mulai lega sekali, dia bisa menjebak ayahnya di dalam gudang itu.


la berharap semoga rak itu bisa menahan Michael agar tidak terus memburunya.


Тааар,.. Таааар...


Taaap...berjalan pelan dan tertatih.


alek berjalan pelan menuju ke kamar lena berusaha mencari Ibu dan kakaknya. Kepalanya menengok


ke sana kemari mencari


keberadaan mereka berdua.


Kamar lena Kosong.


Dia kemudian berjalan pelan


dan tertatih ia berusaha mencari


mereka di ruangan lainnya.


Diperiksanya semua ruangan di rumah itu, tapi mereka tetap saja tidak ada.


"Mungkin mereka bersembunyi!!" pikirnya.


"Ibu.... lena.. kalian dimana?" teriaknya dengan kencang agar keduanya keluar dari persembunyiannya.


alek lelah tubuhnya lunglai seperti tidak berdaya, kemudian duduk di atas sofa berwarna abu - abu di ruang tamu.


Matanya terpejam, ia begitu Lelah dan mengantuk.


Lima menit ia tertidur di sofa ruang tamu.


Tidak berapa lama.


alek terkejut dan terbangun matanya mengamati ruang tamu


itu. La melihat ke arah jam dinding


warna kuning.


Sudah jam tiga pagi sekarang.


"Sebentar lagi matahari


terbit." gumamnya.


Tiba-tiba...


Tok... Tok... Tok... pintu diketuk seseorang dan sontak


alek terkejut karenanya.


"Apalagi ini??" tanyanya dalam hati.


La berjalan ke arah suara ketukan itu.


Telinganya berusaha mencuri dengar dan mencari asal suara itu.


Tok... Tok... Tok... ketukan


pintu lagi.


Ternyata suara itu berasal dari pintu ruang tamu yang diketuk dari luar.


"Siapa yang mengetuk rumah ini jam tiga pagi!!" tanyanya sambil


mendekati pintu.


alek melepas sepatu kiri


nya, dia tidak dapat berjalan sempurna jika sepatu sebelah kiri


tidak dilepas karena sepatu itu


terasa berat sebelah. rasanya

__ADS_1


__ADS_2