
"Maaf Nak, kau bilang apa tadi aku tidak mendengarnya?" tanya Maria kepada alek untuk mengulangi perkataannya tadi.
alek pergi ke arah meja makan, tangannya kemudian mengambil air mineral untuk ibunya.
Disodorkannya air mineral itu ke kanan ibunya agar ia meminumnya.
"Glek,.. glekk,..." suara menenggak air minum.
Maria mengambil air mineral yang disodorkan alek padanya kemudian meminumnya seperti orang kehausan,...
"Sudah Jam berapa sekarang nak?" tanyanya lagi pada alek sambil melihat ke arah balkon yang terlihat sudah gelap.
Maria masih nampak tak
berdaya, masih ingin memejamkan matanya dan memeluk quling di kasur empuk itu. Seolah masih belum sadar Maria terdiam beberapa saat sambil mengumpulkan nyawanya.
"Jam Tujuh malam sekarang bu, aku juga tidak dapat menemukan lena dia tidak ada bu sejak aku bangun!" serunya menjawab pertanyaan ibunya
sambil memberitahu bahwa lena tidak ada di dalam kamar.
Sontak Maria terkejut matanya langsung melotot dan melihat sekelilingnya, tubuhnya dengan cepat langsung berdiri mencari dimana anak perempuannya berada.
"Apa?????" Tanya Maria sambil terkejut dan matanya melotot.
Sambil berjalan masih sempoyongan Maria mencari lena di sekitar kamar yang mereka tempati itu.
"lena kau dimana?" panggil
Maria mencari lena.
Keheningan di dalam kamar itu pun pecah ketika Maria berteriak memanggil lena.
Tapi tidak ada satu pun
jawaban yang keluar dari mulut Helena. Entah dimana dia berada saat ini pikir Maria sambil kebingungan mencari anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Apa sudah kau cari di dalam kamar mandi nak?" tanya Maria pada alek untuk mencarinya di kamar dalam mandi.
"Sudah bu tadi aku sudah mandi dan dia tidak ada juga disana!" sahut alek sambil menjelaskan pada ibunya. "Apa kau yakin nak sudah mencarinya di dalam kamar mandi itu?" mengulang pertanyaan pada alek ia berusaha meyakinkan lagi.
Sambil memeriksa ke dalam kamar mandi Maria masih melemparkan pertanyaan yang sama berulang kali pada alek, mungkin karena ia baru terbangun dari tidurnya dan terkejut bahwa lena tidak bersama mereka di kamar
"alek coba kau lihat di lorong depan kamar, siapa tahu dia sedang duduk di kursi depan kamar ini!" Seru ibunya memerintahkan alek untuk memeriksa keadaan di tempat duduk luar depan kamar.
Maria melihat ke arah balkon ia curiga balkon masih dalam keadaan terbuka.
Dengan perlahan kemudian berialan ke arah luar balkon. Sontak ia terkejut melihat apa yang ada di luar sana.
Bibir Maria tersenyum sambil menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri ketika melihat pemandangan di luar balkon itu.
"Disini kau rupanya nak." Katanya sambil memegang hidung anaknya dengan jari telunjuknya sambil menggoyangkan bahu ia membangunkan lena dengan sangat perlahan.
Maria yang telah
menemukannya, lena tertidur pulas dalam gelap dibawah sinar rembulan dan bintang yang bertebaran di angkasa dengan santainya ia berada di atas kursi rajut kayu rotan di luar balkon kamar mereka.
alek melangkahkan kakinya dengan segera menuju ke arah di luar balkon kamar memenuhi panggilan ibunya.
"Astagaaaa kakak!" alek terkejut melihat kakaknya tidur di luar balkon. lena yang terbangun karena kaget kemudian dengan badan kemudian ia langsung duduk di kursi rotan jati itu. la menarik dan menghembuskan napasnya dengan cepat seperti kaget.
buru-buru cepat mengangkat
Maria dan alek tersenyum lega melihat lena.
"Kau ketiduran lama di atas kursi ini loh kak! bagaimana kalau badan kakak masuk angin nanti?" tanya alek
alek tentang keadaan lena ia takut kakaknya itu akan masuk angin karena cuaca yang begitu dingin itu seperti menusuk kedalam tubuh bahkan sampai tulang mereka.
lena kembali merebahkan badannya la tidur terlentang di atas kursi itu dengan perlahan masih mengumpulkan nyawanya, masih belum seratus persen terbangun dari tidurnya. Beberapa kali masih menguap dan matanya kadang masih menyipit meskipun ia sudah beberapa kali berusaha untuk membuat matanya benar - benar terbuka.
"Jam berapa sekarang dek?" tanya lena kepada alek sambil sesekali menguap.
__ADS_1
lena masih ingin tidur lagi, seolah masih ingin terus bermimpi. Ia memejamkan matanya lagi.
"sekarang sudah pukul Tujuh malam kak." Jawab alek sambil melihat jam tangannya yang brwarna biru.
Mendengar jawaban dari adiknya itu ia tidak jadi tidur, kemudian kembali duduk di kursi itu untuk beberapa detik saja.
lena berusaha mengangkat badan ia bergegas bangun dari kursi tempatnya tertidur tadi.
Sambil berdiri la melihat ke arah kota di luar sana
pemandangannya yang begitu luar biasa malam itu berhasil membuatnya matanya terbuka lebar.
Mata lena seperti mau keluar, ia melotot tekejut melihat pemandangan di bawah balkon depan kamarnya. lena seolah- olah terbius dengan pemandangan yang ada di depan matanya saat ini.
"Wow indah sekali pemandangan itu." Ucapnya sambil tidak berhenti berdecak kagum lena berulang kali memuji keindahan kota itu.
Keadaan alun-alun kota dengan berbagai bentuk lampu hias disana sini membuat kota itu semakin terasa hidup di malam hari Kebetulan balkon kamar mereka menghadap ke arah alun- alun kota tepat di depan kamar. Kedua tangan lena memegang pagar bermotif klasik yang membatasi balkon itu sambil memandang jauh ke luar sana.
Angin kencang malam itu tidak berhasil meruntuhkan semangat mereka untuk tetap melihat keindahan kota yang ada
di depan kepala mereka sekarang dari luar balkon itu. Dari atas balkon itu mereka bertiga Helena, Maria dan alek melihat di bawah sana banyak sekali gerai yang menjual makanan, minuman dan ada beberapa tempat gerai yang menyewakan permainan untuk anak-anak.
Seperti konsep pasar malam.
"Ibu coba lihatlah itu indah sekali kota ini," ujarnya sambil menunjuk dan menarik tangan Maria dan alek mengajak mereka untuk berdiri lebih dekat dengannya memandangi suasana tepat di bawah balkon kamar yang mereka tempati.
"Waaah indah sekali bu, aku ingin kesana ayo kita kesana malam ini!" ajak alek pada ibu dan kakaknya untuk melihat alun alun dan menghabiskan malam di tempat itu.
alek sudah tidak sabar ia ingin sekali kesana, pemandangan yang baru saja mereka lihat malam itu memang mempunyai daya tarik bagi anak seusia alek.
Maria tersenyum dan mengangguk kepada alek . Tanda ia setuju dengan permintaan anak laki-lakinya itu. "Baiklah nak ayo kita kesana sekarang, kalian bersiap-siaplah pakai baju hangat ya." Sahut María menandakan setuju untuk menghabiskan malam di pasar malam itu.
"Yeaaaay asiiiiik!" seru mereka dengan girangnya.
Mendengar hal itu lena langsung bergegas memasuki kamar mandi bersiap-siap mandi dan mengganti bajunya.
__ADS_1