Alex Mafia

Alex Mafia
bab;9


__ADS_3

alek melangkah jinjit pelan menghampiri pintu ruang tamu kemudian mnempelkan telingganya di daun pintu.


Tubuhnya makin jinjit meninggikan badannya untuk melihat siapa gerangan yang mengetuk.


Berusaha menggapai lobang kaca pembesar di pintu itu, lobang


itu terlalu tinggi untuknya.


Kurang tiga puluh centi lagi untuk menggapai lobang pintu itu.


alek bergegas mengambil kursi kayu yang terbuat dari pohon pinus milik ayahnya.


Kursi itu cukup berat tapi dia tetap berusaha menyeretnya perlahan kemudian menaiki kursi.


Dari atas kursi mata alek mulai mengintip di lubang kaca


pembesar di daun pintu itu.


"Siapa di luar?" tanya dalam hatinya."Haaah??" Dia kemudian terkejut sampai hampir saja terjatuh karena terkejut. Ia seperti melihat hantu.


Tubuhnya langsung jongkok di atas kursi kayu itu. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.


Seolah tidak ingin melihat sosok yang ada di balik pintu itu.


Wajah alek tiba-tiba putih pucat, kedua tangannya dingin, tubuhnya gemetaran.


"alek!" bisik pria dari luar


pintu.


Itu ayahnya, mengetuk dan memanggilnya dari balik pintu ruang tamu.


"Bagaimana dia bisa keluar dari gudang itu?" tanyanya bingung.


Sangat aneh...


"Siapa yang membantunya keluar dari sana ?" pikirnya.


Cekrek... Michael bergegas membuka gagang pintu lalu membukanya dan pintu itu terbuka sedikit.


alek baru menyadari bahwa dari tadi dia belum mengunci pintu.


Segera didorongnya pintu itu


dengan cepat dan sekuat tenaga ia mengunci pintu itu.


Untung saja... belum


terlambat.


Doook... dok... dok... Michael mengetuk pintu itu dengan keras dan Kkedua tangan alek meraih kursi yang berbahan kayu itu dan mendorongnya ke gagang pintu.


Ditahannya gagang pintu itu dengan pegangan kursi.


Gagang pintu itu tidak bisa bergerak lagi meskipun di buka dari luar karena tertahan oleh kursi kayu.


Menyadari hal itu Michael


tidak sabar ia marah.


BRAAAAK... BRAKKKKK, didobraknya pintu itu sekuat tenaga hingga membuat alek semakin ketakutan.


iya benar suara itu adalah


suara dobrakan pintu dengan sangat keras dan sekuat tenaganya.


Seperti orang kalap Michael berusaha mendobrak dengan kencang pintu itu dari luar.


Dirinya penuh amarah, dendam.


alek seperti dalam mimpi.... tapi ia yakin bahwa ini bukan mimpi.


Seperti menonton film horor, tapi dia juga sadar bahwa ini bukan film yang sedang ia tonton.


Hal buruk dan mengerikan ini benar-benar terjadi padanya saat ini.


la merasa kacau, kalut,


bingung, ketakutan..


Semua rasa campur aduk menjadi satu.

__ADS_1


Anak berusia sepuluh tahun


ini masih begitu kecil untuk mengalami hal buruk seperti ini.


Ayah yang seharusnya melindungi dirinya malah melakukan hal yang sebaliknya. Dia malah meneror dan melakukan hal mengerikan pada dirinya.


BRAAAAK... BRAKKKKK.. dia mendobrak lagi pintu itu hingga putranya terkejut dan terjatuh dengan posisi terduduk di lantai.


Kursi kayu terjatuh, engsel pintu itu rusak terlepas dari baut baut nya.


Kemudian pintu itu roboh dan patah tak beraturan.


Pintu yang tadinya kokoh itu berhasil di robohkan oleh ayahnya.


alek pasrah.


Dia lemah tubuhnya letih, sudah tidak bertenaga lagi untuk melarikan diri. Pria kecil itu


Sengaja terdiam seolah tak mau lagi menyelamatkan dirinya sendiri dari teror ayahnya.


"Ayah..." bisiknya, "Aku menyerah,.. aku tidak kuat lagi!" katanya pasrah.


menatap pasrah pada ayahnya


Matanya sayu sambil yang memiliki tubuh sangat tinggi, besar dan kekar itu.


Dia saat ini ada


dihadapannya..


alek tidak berkedip, pandangannya kosong kemudian mulai menangis meski tanpa air mata yang menetes.


Lari pun juga tak mungkin, karena posisi alek sudah sangat dekat dengan ayahnya.


Michael yang tinggi besar kemudian mendekat putranya yang ketakutan itu dengan


kemarahan di dadanya. Tampak tangan kanannya patah, dibalut dan diikat dengan kain kemudian digendongnya.


Entah dari mana dia memperoleh kain untuk mengikat tangan yang patah itu.


Tak lama kemudian tangan kirinya mengayun meraih rambut alek, Michael menjambak rambut putranya kebelakang hingga wajah pria kecil itu


terangkat dibawanya mendekat ke wajahnya.


Sedekat itu,...


alek memejamkan matanya, pertanda dia sedang ketakutan. la tidak ingin melihat ayahnya.


"Buka matamu anak kecil!"


perintahnya.


alek yang ketakutan membuka matanya sedikit untuk mengintip, sedikit membuka kelopak matanya.


"Bukaaaa..." teriak Michael dengan kesal.


Dengan terpaksa putra Michael itu membuka kedua matanya, pandangannya kosong.


alek masih saja melihat ke arah lain, dia masih belum berani


melihat mata ayahnya.


"Lihat aku!!" teriak Michael dengan marah sambil menarik rambut putranya.


"Aduh sakit ayah!" erang


alek berharap ayahnya melepas jambakannya, dia terpaksa melihat kedua mata seram milik ayahnya, sosok mengerikan yang tidak pernah membuat ia nyaman dari kecil.


Dengan mencoba memberanikan dirinya alek menatap kedua mata ayahnya dengan perlahan.


"Ayah..." panggilnya lirih, "boleh aku bertanya?"


Michael yang terkejut melihat keberanian putranya, dan


tiba-tiba tertawa, "Hahahahhahah..."


"Apa yang mau kau tanyakan?" sambungnya.


Suaranya menjadi terbata bata, alek mulai melancarkan pertanyaannya pada Michael, "Kenapa kau jahat padaku, Ayah?" tanya alek dengan polos. "Apa salahku?" tanyanya lagi.


Mata ayahnya melotot, ia memandang alek dengan tajam.

__ADS_1


"Aku memang tak pernah menyukaimu," sahut Michael


dengan tatapan mata yang sinis.


"Kenapa?" tanya alek.


"Karena kau bukan anak kandungku!" jawab Michael dengan keras, "Kau menghancurkan hidupku dan cintaku pada Maria." Teriaknya histeris.


Saat kata-kata yang menyayat hati alek itu keluar dari mulut Michael, tangan kiri Michael


mulai mengayun, dia melepaskan pegangan rambut putranya lalu mambanting alek ke lantai.


Brakkk....


Sungguh biadab laki-laki itu. Dia melempar alek dengan keras ke lantai rumah.


"Aduuuuh..." keluh bocah malang itu kesakitan.


Beruntung lantai rumah itu terbuat dari kayu, tubuhnya


terjatuh tapi tidak terluka.


Terbesit di otaknya, jika saja lantai itu terbuat dari batu marmer pasti dia akan mati.


"Aduh..." alek kembali mengerang kesakitan sembari meraba kakinya yang mendarat lebih dulu.


Kulit kepalanya terasa panas, rambutnya perih dan kepalanya pusing ia kesakitan karena di


Jambak oleh ayahnya dengan sangat keras.


Tubuhnya yang bertubrukan dengan lantai pun terasa ngilu serasa di pukuli.


"Haaah??" alek mulai meningat alasan ayahnya tentang dirinya dan dia pun terkejut, wajahnya penuh tanda tanya.


"Benarkah yang kau katakan??" tanyanya dalam hati,


"Aku tidak salah dengar kan yah ?" tanyanya sekali lagi, "Bagaimana bisa aku bukan anak kandungmu?"


Mulut alek tidak berhenti bertanya, dia terus melancarkan semua pertanyaannya kepada Michael, sang ayah yang memberikannya jawaban yang telah menghancurkan hatinya.


Michael mencibir, bibirnya tersenyum kecut ke arah putranya, "Bukan aku yang harus menjawab pertanyaanmu!" sahutnya lagi,


"Jika kau ingin tahu kebenaran, kau tanyalah pada ibumu saja!"


"Ta... tapi!" alek terbata, dia benar-benar tak siap dengan jawaban ayahnya itu.


"Bukan aku yang harus


bertanggung jawab atas dirimu!" ketus Michael, dengan berteriak dan alek masih belum percaya,


"Lalu siapa ayahku ?"


tanyanya dengan sisa keberanian yang dia miliki.


Tentu Michael marah mendengar pertanyaan putranya sehingga dia kembali menjambak rambut pria kecil itu lalu berkata, "Kau anak HARAM!!" teriaknya.


Tiba-tiba air mata menetes dengan sendirinya dari kedua mata alek, ia tidak percaya,


"Katakan ini semua hanya kebohonganmu Ayah!!"


Mendengar perkataan itu, Michael tertawa dengan sangat keras membuat pertanyaan di hati alek semakin memuncak.


"Kau tidak benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya kan??" ulang alek dengan lirih.


"Dasar bodoh!!" sahut


Michael, "Tanya saja pada Ibumu, dia bukan Wanita yang baik."


"Sungguh?"


"Dia berselingkuh, dasar wanita pendosa!!" teriak Michael dengan dada yang sesak.


Lagi-lagi genggamannya pada rambut alek dilepaskan dan dihantamkan ke lantai kayu itu.


Gubraaak... tubuh alek terjatuh dan air matanya menetes lebih deras lagi, alek menangis


bukan karena kesakitan, rasa itu sudah tidak terasa lagi.


Rasa sakit yang teramat sangat sakit adalah karena dia tau kebenaran bahwa dia bukan anak Michael


Napasnya sesak, serasa makin sedikit oksigen yang dia hirup. Lehernya seperti tercekik dan dadanya tak bisa menerima perkataan ayahnya itu.

__ADS_1


Dengan dada terengah tangan kiri alek memegang dada, tangan kanannya menggapai ke arah Michael seperti meminta tolong, dia tidak dapat bernapas...


Sontak ia terkejut dan terbangun dari mimpinya.


__ADS_2