Alex Mafia

Alex Mafia
bab ; 30


__ADS_3

Alek segera membuka lemari pakaian, ia memilih baju untuk digunakannya pergi ke alun -alun malam itu.


Dengan menggunakan tangannya ia meraih celana jins panjang dan sebuah kaos berwana hijau tidak lupa jaket tebal dan sarung tangan juga ia persiapkan.


alek segera melepaskan


piyama dari tubuhnya satu persatu kemudian mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana jins yang sudah ia ambil dari lemari pakaian. Jaket tebal berwarna putih dan sarung tangan berwarna warna hijau segera ia gunakan untuk menjaga agar tubuhnya tetap hangat di cuaca yang sangat dingin di luar sana.


Sepasang sepatu kets


berwarna putih kesayangannya yang merupakan hadiah ulang tahun dari ibu juga sudah ia siapkan beserta kaos kakinya.


"Oh iya ada yang masih kurang, topiku mana?" tanyanya pada dirinya sendiri yang lupa mempersiapkan topinya.


alek kembali menuju ke lemari pakaian, Matanya berkeliling di sekitar lemari pakaian itu ia mencari topi berwarna merah miliknya. "Nah ini dia aku


menemukanmu." Ucapnya tiba tiba.


Tangan kanannya segera meraih topi kerpus rajutan berwarna merah pemberian ibunya itu, Maria memang sengaja merajut kedua tangannya sendiri dengan penuh kasih sayang.


topi itu untuk anak laki-lakinya. Helai demi helai ia rajut dengan


Hampir saja alek kelupaan memakai topi kesayangannya itu.


Untung saja dia masih di dalam kamar. Entah bagaimana jadinya kalau ia tidak memakai topi itu dalam dinginnya malam di luar sana. Pasti kepalanya akan terasa pusing karena kedinginan.


lena juga telah selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dan dalam keadaan sudah menggunakan baju lengkap. la mengenakan jaket berwarna merah muda menyala, topi


berwarna putih, sarung tangan tebal berwarna putih dan sepatu kets warna merah muda. Kombinasi warna yang pas untuk anak perempuan seumurannya.


lena berjalan menghampiri meja rias, dia bermaksud merias wajahnya agar kelihatan lebih segar dan cantik. Sambil duduk di kursi meja rias itu, ia mulai memakai bedak dioleskannya bedak ke wajahnya menggunakan spon bulat berwarna ungu ke seluruh wajah cantiknya.


Kemudian ia meraih lipstick yang ada di meja riasnya kemudian digunakan dan di aplikasikan ke atas bibir berwarna merah muda dan bentuknya yang tipis itu.


lena sudah besar sekarang dia mahir sekali berdandan. Mata lena melihat ke dalam cermin di depan wajahnya, di dalam cermin itu ia tidak sengaja melihat ibunya yang sedang mengawasinya dan memperhatikan dirinya di dalam cermin itu,


Ibunya tersenyum sambil memperhatikan cara lena mengaplikasikan makeup itu di wajahnya.


Dari tempat tidur Maria memandangi lena yang sedang berias tak terasa anak perempuannya sudah dewasa ia tumbuh menjadi sosok anak gadis yang begitu cantik.


lena yang sedang tersipu malu karena tau ibunya sedang melihat dirinya bercermin dan berdandan merias wajahnya kemudian segera beranjak dari meja rias itu.


lena sudah beranjak menjadi anak gadis yang sangat cantik sekarang, tidak terasa Maria sudah berhasil membesarkan anak perempuannya sampai sebesar itu. Tanpa bantuan suaminya.


Mengetahui anak gadisnya sudah selesai berdandan, Maria segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan kemudian bersiap- siap.


Beberapa menit kemudian. Mereka bertiga sudah selesai berbenah dan bersiap untuk pergi. Maria mengunci pintu balkon kamar, lena mematikan lampu - lampu kamar yang sudah tidak digunakan.


alek menunggu ibu dan kakaknya di luar depan pintu kamar yang mereka sewa, sambil duduk di atas kursi yang tersedia di depan kamar mereka, kursi tunggu memang disediakan di depan setiap kamar hotel bertema


klasik itu.


Benar-benar hotel dengan fasilitas yang lengkap dan harganya sangat terjangkau.


Lima menit kemudian lena dan Maria telah selesai bersiap dan mereka keluar dari kamarnya.


Maria membalikkan badan segera bergegas mengunci pintu kamar, kemudian kunci itu disimpannya di dalam tas cangklong wanita berwarna merah muda yang ia bawa di tangan kanannya.


"Ayo kita berangkat anak- anak, kita habiskan waktu kita malam ini di alun-alun kota!" serunya sambil tersenyum mengajak alek dan lena untuk menikmati malam ini dengan bersenang-senang di kota itu.

__ADS_1


Ketiganya berjalan menyusuri lorong lantai lima dengan agak tergesa-gesa seperti sudah tidak sabar ingin segera sampai disana. Mereka menuju ke arah lift bermaksud menuruni lantai lima itu ke lobi hotel.


lena berjalan paling belakang setelah aleksementara Maria di urutan paling depan, mata lena seolah dengan sengaja menengok ke sebuah kamar tempat dimana ia menemukan dan melihat ayahnya sedang bersama wanita lain.


Suasana hati lena mendadak berubah menjadi tidak karuan karena mengingat hal itu. Kembali merasa muak sekali pada pasangan itu.


Raut wajah lena berubah drastis ia kembali murung dan wajahnya menjadi pucat pasi. Sama sekali tidak ada senyuman di wajannya, tidak seperti tadi saat la bersenda gurau dengan ibu dan adiknya.


lena merasa tegang.


Beberapa saat lalu ia seperti tidak ada beban di pikirannya berbanding terbalik dengan sekarang, ia seperti sedang berpikir keras di dalam benaknya ada sesuatu yang ia simpan dengan sangat rapat. la merasakan kedua tangannya menjadi dingin. Perutnya terasa sakit.


Kedua tangannya memegangi perutnya sekarang, berusaha menahan rasa sakit itu sambil berjalan ke arah lift hotel. Tak lama kemudian mereka sampai di depan pintu lift klasik itu.


Untung saja lena seorang anak yang kuat ia masih dapat mengendalikan diri, berusaha mengatur caranya bernapas dan mengalihkan perhatian serta pikirannya untuk tidak memikirkan hal yang sangat memalukannya itu.


Tangan Maria menekan tombol turun panah ke bawah di depan lift itu. Di depan lift mereka bertiga menunggu pintu lift terbuka. Beberapa orang tampak berlalu lalang keluar masuk lift lain yang berada di sekitar lorong itu. Ada empat buah lift di lantai hotel itu.


Suara pintu yang terbuka atau tertutup terdengar di telinga lena dan itu membuat ia merasa tidak nyaman dan merasa ketakutan. la takut jika mereka bertemu dengan ayahnya dan wanita berambut hitam panjang itu. lena seolah tak mau dan tidak sudi melihat wajah mereka.


Rasanya dia sudah tidak sabar ingin turun meninggalkan hotel ini dan pergi ke alun-alun. Sambil menunggu lift naik dari bawah ke lantai lima.


Pikiran lena kacau.


la takut jika ibunya bertemu dengan ayahnya yang sedang bersama wanita itu. Helena tidak sanggup membayangkan jika saja hal yang ia takutkan itu terjadi, wajahnya semakin pucat perutnya kembali terasa sakit.


"Aduh perutku mules lagi!" ucapnya sambil memegangi perutnya tubuhnya agak membungkuk seperti menahan sakit. Dahinya mengerut dan matanya menyipit.


Bibir tipis lena mengerut seperti sedang menahan sakit. Ternyata dari tadi Maria memperhatikan gerak gerik anak perempuannya itu menyadari bahwa lena aneh, wajahnya tidak seperti biasanya.


"Sayang kenapa wajahmu pucat sekali, ada apa dengan perutmu sayang apa kamu sakit?" tanya Maria kuatir kepada lena la mempertanyakan kondisi anak


lena kebingungan ia berusaha menutupi kesakitannya dengan cara menegakkan kembali badannya agar tidak kelihatan bungkuk. Sambil menahan rasa sakit di perutnya, lena pura - pura melemparkan senyuman kepada ibunya.


"Tidak apa ibu, sepertinya aku hanya masuk angin karena tidur di luar balkon sore sampai malam


tadi Bu," jawab lena


menerangkan pada ibunya agar ia tidak perlu kuatir terhadap dirinya karena ia baik-baik saja.


lena anak yang baik, ia tidak ingin ibunya sedih bila tahu ia sedang sakit.


Sambil menatap mata ibunya ia menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan ibunya dengan tenang, sesekali melemparkan senyuman ia berusaha meyakinkan ibunya agar tidak kuatir dengan keadaannya.


la ingin ibunya berpikir bahwa lena hanya sedang masuk angin karena ulahnya yang kelamaan tidur di luar balkon kamar mereka tadi sore.


"Mungkin aku lapar bu, perutku dari tadi berbunyi terus!" sahutnya lagi sambil berusaha membuat ibunya yakin bahwa ia baik-baik saja. alek memandangi mereka berdua yang sedang bercakap tentang keadaan lena tadi. Matanya sesekali melihat ke arah lampu lift.


Beberapa saat kemudian lift itu sampai di lantai lima tepat dihadapan mereka dan pintunya terbuka.


Maria dan lena yang sedang bercakap belum sadar bahwa lift telah sampai di depan mereka. alek masuk lift sambil melangkahkan kakinya perlahan, saat ini dia berada di dalam lift bernuansa klasik itu.. menunggu ibu dan kakaknya masuk ke dalam lift. Tapi mereka masih asik bercakap-cakap di luar lift.


Beberapa detik kemudian.


"Ayo ibu, kakak, masuk, kita segera turun!" seru alek sambil menekan tombol untuk menahan pintunya agar tidak tertutup karena ibu dan kakaknya belum masuk ke dalam lift.


Mendengar ajakan alek kemudian Ibu dan lena menoleh pada anaknya itu. Mereka baru sadar ternyata lift sudah berada di depan mereka dan dalam keadaan terbuka.


Tiba-tiba ada sosok wanita yang seperti sengaja melewati Maria dan lena. Bahu wanita itu seperti sengaja dibuat untuk menyenggol tubuh Maria dengan keras.

__ADS_1


Dengan cepat ia berjalan masuk lift seperti tidak sabaran wanita itu buru-buru masuk ke dalam lift yang sedang terbuka, ia menyerobot Maria dan lena yang baru sadar bahwa pintu lift telah terbuka.


Hampir saja Maria terjatuh karena wanita itu. Untung saja lena dengan cepat memegangi tubuh ibunya dari belakang.


Maria terkejut!


Sontak pandangan mata Maria tertuju pada wanita yang menabrak dirinya barusan. Sambil memandangi wanita itu Maria dan lena melangkah perlahan memasuki lift.


alek terkejut dengan kejadian itu kepalanya mendongak ke kiri kedua matanya pun tertuju pada wanita yang saat ini berdiri di sebelah kirinya dalam lift itu.


Wanita yang memiliki rambut panjang sepinggang berwarna hitam itu. Menggunakan baju ketat dan menampakkan belahan dadanya serta menggunakan bawahan rok mini. Ada tato sebuah nama di tangan kanannya.


"Pelan-pelan donk mba saya sampe mau jatuh!!!" Kata Maria memperingatkan wanita itu untuk lebih berhati-hati karena hampir saja membuat ia terjatuh.


Wanita itu diam saja tidak mengucapkan sepatah kata pun, wajahnya seperti sewot tidak menghiraukan Maria yang sedang mengajaknya berbicara.


Sambil mendongok mengangkat wajahnya ke atas ia menoleh sedikit melihat ke arah Maria, Matanya hanya melirik Maria sambil melihat penampilan Maria dari atas sampai ke bawah.


Seolah tidak punya rasa iba dan sopan santun, sikapnya benar benar sangat sombong wanita itu memang tidak punya rasa kemanusiaan.


la meletakkan dan melipat kedua tangannya di depan dada. Sambil sedikit bergaya dan memasang muka galak, kedua matanya melirik ke sana sini sambil menunggu pintu lift tertutup.


Berapa detik kemudian pintu lift itu tertutup.


alek menggunakan tangan kanannya untuk menekan tombol turun "L" untuk menuju ke lobi.


lena berdiri di samping alek, dia melihat ke arah wanita itu lena dan alek seperti jengkel dengan wanita yang telah berbuat kasar pada ibunya. Mereka berdua terus saja memandangi wanita itu dari atas hingga ke bawah.


Tiba-tiba lena terdiam seolah sedang mengingat sesuatu, dia sadar bahwa ia pernah melihat sosok wanita ini. Tapi tidak sadar dimana ia pernah bertemu dengannya. lena semakin detail memandangi wanita itu, kemudian beberapa detik kemudian lena sadar.


Mata lena tiba-tiba melotot memandang wanita yang berada di depannya ini.


Orang ini adalah sosok wanita yang tadi bersama ayahnya, iya benar ini wanita penggoda itu.


Dalam hati lena. Ciri fisiknya dan caranya berpakaian yang sangat mirip dengan wanita penggoda itu. Juga tato di tangan kanan wanita itu.


lena dapat mengingatnya dengan sekarang.


Rambut hitam panjang sepinggang, tubuhnya tinggi agak gemuk dan berisi, suka memakai kaos ketat yang selalu menampakkan belahan dada, dan memakai rok mini. "Tapi kenapa wanita ini sendiri, dimana ayah?" Tanya lena dalam hati sambil berpikir mencari dimana ayahnya.


lena terus saja memperhatikan wanita itu, wajah wanita itu memang cantik tapi terlihat seperti bukan wanita baik - baik.


Cara wanita itu berdandan sangat tebal dan menor, pakaiannya terbuka dan mini sungguh tidak mencerminkan hal yang baik. Apalagi tato di tangan kanannya itu.


Jantung lena berdetak kencang ia melihat sosok wanita yang tega merebut ayahnya dari ibunya. Ia tepat berdiri di hadapan lena. Apa yang harus Helena lakukan sekarang.


Wanita inilah yang tadi


bermanja - manja dengan ayahnya, dan wanita ini pula yang begitu disayang oleh ayahnya saat ini. Ia adalah wanita merebut kasih sayang ayah dari ibunya, dari dirinya dan adiknya.


lena tidak habis pikir kenapa wanita ini begitu tega merampas kebahagiaannya. Dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan, lena berpikir keras kenapa wanita yang cantik seperti dia malah merebut suami orang.


Terlarut dalam pikiran itu lena menjadi emosi, rasanya ingin sekali menjambak rambut wanita dewasa ini. lena ingin membuat wanita itu jera, tapi bagaimana caranya dia sedang bingung.


Tangan lena mengepal seperti menahan suatu amarah kepada perempuan itu. lena benar-benar ingin menghajar perempuan dewasa itu.


lena sedang tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang.


Mata lena kemudian tertuju pada ibunya, ia berusaha meredakan amarahnya dengan memandangi wajah ibunya yang cantik dan lembut.

__ADS_1


la tidak habis pikir apa yang ada di pikiran ayahnya sehingga tega mencurangi ibunya. Wanita yang berada di hadapannya itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kecantikan ibu nya yang berasal dari luar dan dalam


__ADS_2