
Maria mendengar suara langkah kaki datang mendekatinya, dan benar saja ternyata resepsionis itu mengampirinya..
"Mohon maaf ibu, kuncinya masih ada di kami dan memang belum saya serahkan ke ibu tadi!" sopan dan seolah menenangkan
Jawab resepsionis itu dengan
Maia yang kebingungan. Maria tersenyum lega kepada resepsionis itu, dia menghela nafas panjang.
"Syukurlah saya kuatir mba, saya kira saya menghilangkan kunci kamar ini." Serunya pada resepsionis itu.
"Iya bu saya mohon maaf ini kelalaian saya, ini kuncinya bu!" Sambil meminta maaf dan
menyodorkan kunci kamar dengan
tangan kanannya pada Maria,
Beranjak pergi dari tempat duduknya Maria berdiri kemudian tangannya meraih kunci yang diberikan oleh resepsionis itu padanya. Bibirnya tersenyum pada resepsionis sambil bernapas panjang seperti lega.
Untung saja kuncinya tidak hilang, ia tidak tahu harus bagaimana kalau sampai
menghilangkan kunci kamar
sebuah hotel.
"Mohon maaf atas kelalaian saya bu, sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini!" Seru resepsionis itu sambil tersenyum dan meminta maaf.
"Tidak apa-apa kak saya sudah lega kuncinya masih ada disini." Jawab Maria sambil tersenyum pada resepsionis itu.
"Baik terima kasih kak." Kata Maria sambil pergi berlari kecil ke arah lift.
Maria tidak sabar lagi ingin segera naik ke lantai lima, menemui kedua anaknya yang sudah menunggunya lama. Mereka pasti sudah sangat kelelahan setelah perjalanan seharian ini.
Sambil menaiki lift Maria merasa senang, entah bagaimana jika benar kunci itu hilang.
la bersyukur Tuhan masih memberikan jalan keluar..
__ADS_1
Setelah beberapa detik,...
"Tiiing,..." suara berbunyi pertanda lift sampai di lantai lima.
Maria berlari bergegas menghampiri kedua anaknya. Napasnya tersengal-sengal dia berlari sampai di depan kamarnya kemudian tangannya langsung
buru-buru membuka kunci
kamar.
lena kaget dan langsung terbangun mendengar ibunya berlari dan membuka pintu kamar.
Kedua mata lena dan alek tertuju pada ibunya mereka merasa kasian melihat napas ibu nya terengah - engah karena berlari."Ibu kenapa terburu-buru?"
tanya alek sambil berdiri dari duduk nya.
"Seharus nya ibu jangan berlari - lari bu, ibu santai saja kami pasti menunggu ibu disini kok!" seru lena kasian melihat ibunya kelelahan berlari.
"Keburu malam anakku kasian kalian seharian belum istirahat, kalian pasti Lelah sekali." jawab ibu nya sambil tersenyum
Maria menganggap dirinya bersalah kepada kedua anaknya, gara-gara kelalaiannya yang tidak memeriksa kunci itu di lobby tadi. la buru-buru menuju lift sebelum menerima kunci kamar itu.
mengulangi kesalahan seperti ini lagi di kemudian hari.
"Maafkan ibu ya anak- anakku, ibu teledor tadi tidak memeriksa terlebih dahulu kuncinya." Seru ibu meminta maaf karena merasa bersalah.
Maria merasa sangat bersalah ia meminta maaf kepada kedua anaknya karena membuat mereka jadi tidak dapat beristirahat dengan cepat karena masalah
sepele yang ia timbulkan.
"Tidak ibu itu bukan kesalahan ibu, memang kejadian ini terjadi karena unsur ketidaksengajaan pihak resepsionis tadi bu." Seru lena sambil menenangkan Maria.
Memang kesalahan bukan pada Maria tapi murni keteledoran dari resepsionis itu. Tapi Maria merasa bahwa dirinya yang teledor tidak memeriksa
keberadaan kunci itu terlebih dahulu sebelum menaiki lift.
__ADS_1
lena mendorong pintu kamar yang agak sedikit berat, sepertinya daun pintu itu terbuat dari bahan kayu jati tebal yang berasal dari Asia. Kayu jati memang awet dan tidak akan dimakan rayap, pohon jati tumbuh di kebanyakan negara yang terletak di Asia.
Dengan kuat lena mendorong daun pintu itu menggunakan tangan kanan, kemudian tangan kirinya menggeret tas koper milik mereka. Sesampainya di dalam kamar lena mencari saklar untuk menghidupkan lampu kamar, matanya berkeliling dan tangannya meraba - raba dinding kamar di dekat pintu masuk. Ia terus mencari dan menengokkan kepalanya ke arah kanan dan kiri.Tapi tak juga menemukan dimana saklar itu berada.
Pikirannya terbesit senter di telepon genggam, kemudian dengan cepat tangannya merogoh saku celananya mengambil telepon genggam. Dinyalakannya senter di telepon genggam itu dan dia mulai mengarahkan senternya ke arah area dinding di dekat pintu masuk itu.
"Nah ketemu, ternyata disini kamu bersembunyi!" kata lena sambil bergurau dengan dirinya sendiri.
Tombol itu ditekan dan terang,
Lampu kamar sudah hidup sekarang nampak jelas suasana di dalam kamar itu.
"Woow bagus sekali desain kamar ini, sungguh klasik dan bagus sekali interiornya." Decak lena terkagum dengan penataan dan motif barang di dalam kamar itu.
Kamar itu memang dirancang klasik sesuai dengan tema hotel yang memang dibangun dari abad seribu delapan ratus lima puluhan.
"Ibu,... alek,... kalian masuklah kemari, coba lihat ini indah sekali kamar ini!" seru lena memanggil Ibu dan adiknya untuk masuk. Seolah ingin memamerkan seisi kamar itu pada Maria dan alek.
lena tidak berhenti berdecak kagum melihat seluruh isi kamar itu. Ukuran kamar yang tidak biasa sekitar sepuluh kali lima belas meter.
Daun telinga alek yang mendengar kakak nya memanggil segera bergegas mengajak ibunya untuk masuk ke dalam kamar. Kepala alek menunduk matanya melihat ke arah jam tangan yang ia gunakan di sebelah kanan. Jam tangan nya menunjukkan pukul dua belas tepat.
"Ayo bu mari kita masuk ke dalam, bersih-bersih kemudian tidur hari sudah malam bu!" Seru alek sambil meraih tangan Maria menggandeng mengajaknya masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Maria mendorong pintu yang agak sedikit berat itu kemudian menutup dan mengunci pintu kamar. alek dan Maria sontak kaget melihat seisi ruangan kamar begitu luas dan indah sekali interior di dalam kamar itu.
"Wow keren sekali kamar ini bu,sungguh luar biasa baru kali ini aku melihat secara langsung kamar yang bagus seperti ini ibuuuuuu!" memanggil ibu dengan girang alek terus saja berlari lari mengitari ruangan itu.
Tampak kegirangan alek segera mengambil telepon genggamnya dan mulai memotret seluruh isi ruangan. alek sangat sibuk dengan aksinya malam itu, dia seperti tidak bisa diganggu...
Dia Sangat sibuk,...
Bahkan dia lupa belum mengganti pakaiannya dan belum mandi. Kreatif sekali Hector dia memang anak yang suka menyibukkan diri dengan bakatnya terhadap fotografi.
"Hmmmm kalau sudah ketemu dengan hal klasik semacam ini pasti dia sudah lupa bu." Canda lena kepada ibunya sambil memperhatikan alek beraksi memotret.
__ADS_1
Sambil memperhatikan alek memotret lena mulai membongkar isi kopernya dan menata pakaian mereka di lemari pakaian. Lemari yang juga terbuat dari bahan kayu jati itu tampak berdiri kokoh di sudut ruangan. Dibukanya lemari itu perlahan kemudian Helena mulai memasukkan baju satu demi satu
menatanya dengan rapi.