Alex Mafia

Alex Mafia
bab:6


__ADS_3

Mengetuk pintu.


Karena ketakutan dia semakin menarik selimut warna ungu itu untuk menybelum bisa tidur, mereka juga merasakan ketakutan yang sama.


Maria menyembunyikan ketakutannya, dia tidak ingin kedua anaknya tahu bahwa ia sedang ketakutan.


dia ingin melindungi anak anaknya


Alek dan lena masih belum bisa, tidur, mereka juga merasakan ketakutan yang sama


"Ibu aku tidak bisa tidur!" keluh alek.


"Iya aku juga," sahut lena lantang.


Mata Mereka masih terlihat melebar.


"Ayo tidur anakku," kata Maria lagi, "Tenang ibu akan menjaga


kalian berdua,"elimuti tubuhnya.


sedikit merasa tenang mereka berdua segera memejamkan mata sambil memeluk ibunya.


lima menit kemudian


alek dan lena tertidur pulas . melihat kedua putra putri nya sudah terlelap. Maria terdiam sesaat. dia tetap saja tidak bisa tidur ia memang sengaja tidak ingin dirinya tertidur dia ingin menjaga kedua anak anak nya


satu jam kemudian


" hoaam... "maria mulai mengantuk dan kini sudah bisa menguap.


tidak kuat menahan rasa kantuknya, ia memejamkan mata. Maria pun terlelap dalam tidurnya.


malam yang begitu dingin itu membuat mereka bertiga berpelukan begitu erat dalam tidur nya


Malam yang begitu dingin itu membuat mereka bertiga berpelukan begitu erat dalam


tidurnya.


Selimut tebal pun sudah digunakan untuk menutupi tubuh mereka tapi rasa dingin itu masih saja masuk ke dalam tubuh bahkan menusuk tulang mereka.


"Tap... Tap...Tap..." Langkah


kaki mengendap..


Alek terbangun, dia mendengar suara langkah kaki sepatu boots yang bertubrukan dengan lantai yang terbuat dari kayu di rumah itu.


alek bocah itu langsung melebar, ia terbangun dari posisi tidurnya dan duduk di tempat tidur warna ungu itu.


Mencuri dengar suara


Langkah kaki itu semakin mendekati pintu kamar lena.


"Tap,.. Tap,.." berjalan


kemudian berhenti.


Langkah itu menghilang beberapa saat, alek mencari suara itu tapi tak di dengarnya lagi.


"Klek... Klek..." gagang pintu


dibuka.


Matanya terbelalak mengarah pada gagang pintu yang bergerak sendiri.


Dua kali gagang pintu itu di buka tapi tidak bisa karena dikunci


Oleh lena dari dalam.


Untung saja..


alek tetap terjaga tidak dapat kembali tidur, matanya melebar dan tidak mengantuk lagi.


maria dan lena masih tertidur dengan lelapnya.


Rasa kantuk kembali menghampiri Hector, sesekali matanya terpejam karena kantuk yang luar biasa.

__ADS_1


"Kleeek,.. Kleeeek,..Kleeeek" Suara pintu dibuka paksa.


Kaget... Dada alek berdegup makin kencang seperti mau copot.


Pintu itu terbuka, dia mendorongnya perlahan.


"Bagaimana bisa ia membuka


pintu itu?"


Ternyata seorang pria tak lain adalah Michael, ayahnya.


Selama ini dia menyembunyikan kunci cadangan uk semua ruangan termasuk kamar kami.


Mata alek terbelalak, ia melihat pintu itu terbuka dan ada sosok pria tinggi besar berdiri di pintu itu. Rico berusaha membangunkan ibu dan kakaknya, tapi tidak berhasil.


Mereka masih terlelap dalam mimpi indahnya. Matanya masih


tertutup dengan rapat.


Tegang...


alek menutup mukanya dengan selimut matanya mengintip sedikit dari balik selimut.


Tubuh alek bergetar, dia bersembuyi di dalam selimut tebal itu semakin dalam.


Sosok pria itu berdiri mengamati mereka bertiga yang


terlelap dalam tidurnya, ia melihat alek, lena dan Maria.


Agar tak membuat sanga ayah curiga, alek kemudian berpura-pura tidur sambil sesekali matanya mengintip pria itu dari balik selimutnya.


Hening,.. tak ada suara.


Jantung alek terasa berdetak dengan kencang, sampai dia berkeringat.


Tangannya basah namun alek mencoba lagi.


la menggerakkan tangan kanannya di dalam selimut, mencoba membangunkan Maia yang posisinya berada di tengah.


alek kembali mencoba mengintip dari balik selimut warna ungu milik lena.


Kamar itu gelap lampu dimatikan oleh lena tadi sebelum tidur, Lampu di depan kamar menyala.


Terlihat jelas sosok pria itu adalah Michael.


"Apa yang dilakukan Michael, ia berdiri di depan pintu itu?" pikir alek dalam hati.


"Tap... Tap..." Michael melangkah pelan


La mengendap memasuki kamar, sepertinya dia sudah tersadar dan tidak lagi dalam keadaan mabuk.


Gaya jalannya sudah tidak seperti tadi saat ia mabuk. Jalan tegak dan lurus seperti orang waras.


Saat ini alek merasa dirinya beserta Ibu dan kakaknya ada dalam bahaya.


"Apa yang akan di lakukan Michael?" tanyanya dalam hati.


Tiba-Tiba saja alek melihat ada bayangan tangan ada di tembok sebelah sisi kirinya.


Ternyata tangan Michael dengan cepat merebut selimut yang dipakai oleh putranya dengan sangat kasar.


Dia tahu putranya belum tidur dan mengawasinya dari balik


selimut itu.


"Tinggalkan aku sendiri!!" teriak alek dengan sangat keras hingga membangunkan kakak dan ibunya, "Kau bukan ayahku, kau penjahat!!" teriak alek histeris.


Alek yang ketakutan


kemudian berdiri badannya sedikit membungkuk dengan maksud menghindari Michael yang berada di hadapannya. Ia keluar dari kamar lena dengan gesit masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


"Cekrek.. Cekrek.." la mengunci pintu kamarnya dua kali putaran.


Tubuhnya bergetar, matanya tertuju ke arah pintu itu.

__ADS_1


bingung mencari tempat


Untuk bersembunyi. Menengok ke sana kemari mencari tempat yang aman.


Mata alek langsung bergerilya.


Dia berusaha mencari dan


memutuskan dimana dia akan bersembunyi.


Akhirnya...


Berguling badan kecilnya masuk ke kolong tempat tidur. Dia berpikir disitu tempat yang paling aman untuk nya bersembunyi saat ini


"klek... klek..... " suara gagang pintu dibuka.


tapi untung alek sudah mengunci pintu itu dari dalam.


"Tok..Tok.." pintunya diketok.


Sontak alek terkejut.


la berusaha menutupi mukanya dengan kedua tangannya, ia sangat ketakutan. Anak sepuluh tahun ini berusaha tetap tegar, tidak menangis ia sangat tangguh.


"alek" suara Michael memanggil, "Aku tau kau di dalam,


Buka pintunya!!" teriak Michael membuat putranya semakin ketakutan.


"Apa yang harus aku lakukan!" bisik alek dengan suara bergetar.


"Keluarlah alek," lanjut Michael tanpa perduli apa yang dirasakan putranya, "Jangan jadi pengecut alek!!" hina ayah jahat itu kepada putranya.


Dor... Dorr...Dorr


Dengan kesal pria paruh baya itu menggebrak pintu kamar dengan keras.


"Ayo buka pintunya, cepat!!" bentak Michael semakin marah.


Michael semakin manjadi - jadi, dia terus meneror putranya yang sudah ketakutan sejak tadi.


Entah apa maksudnya melakukan itu.


"Srek... srek..." suara kunci dimasukkan dalam lobang dan tak lama kemudian seberkas cahaya lampu mulai memasuki kamar pria kecil yang gelap.


Klek... Klek, terdengar suara gagang pintu perlahan dibuka.


Dan benar saja pintu itu terbuka perlahan. Michael berhasil membukanya, dia juga mempunyai kunci duplikat kamar putranya.


Bagaimana mungkin padahal alek yakin dia sudah menguncinya dari dalam.


Tubuh alek semakin bergetar, bibirnya pun ikut bergetar, mata Rico melebar melotot melihat ke arah pintu.


Dari bawah tempat tidur bocah sepuluh tahun itu mengawasi bayangan Michael yang terlihat tinggi dan besar.


Sambil ketakutan dia kemudian mencoba untuk tenang berusaha menghentikan tubuhnya yang gemetar.


"Ibu..." teriaknya dalam hati berharap wanita paruh baya itu mendengar panggilan


ketakutannya, "Tolong aku Ibu..."


Ketakutan, itu yang dirasakan alek saat ini. Sangat ketakutan.


la masih melihat dan mengamati bayangan Michael dari bawah tempat tidurnya, bayangan itu memantul ke lantai yang terbuat dari kayu. Bayangan dengan badan yang tinggi, besar, dan rambut gondrong itu


memantulkan sosok yang menyeramkan di lantai kayu yang diterpa cahaya dari luar kamar.


"Tap...Tap...." Michael


memasuki kamar gelap putranya.


Suara sepatu boots Michael pelan masuk ke kamar, ia mengendap-endap berharap bisa menemukan pria kecil yang malang itu.


"Krieeek" Suara membuka lemari pakaian.


Michael masuk ke kamar dan memeriksa lemari pakaian putranya, tangan kanan Michael membukanya perlahan. Ia tidak menemukan alek disana.

__ADS_1


__ADS_2