Alex Mafia

Alex Mafia
Bab;13


__ADS_3

Maria terlihat sangat cantik sekali. Meskipun wajahnya penuh luka dan perban tapi ia masih terlihat cantik setelah bersolek.


Beranjak dari tempat duduk lemari hias nya ia segera menuju ke lemari pakaian kemudian membukanya perlahan. ia bermaksud mempersiapkan baju


yang akan dia kenakan.


Maria membuka lemari pakaiannya perlahan, dia mulai memilih baju mana yang akan dikenakannya.


Tangan kanannya meraih gaun berwarna putih polos bersih tanpa motif. lya benar Maria memang sangat menyukai warna putih. Hampir semua isi lemari itu penuh dengan pakaian dan gaun berwarna putih.


Putih adalah warna favorit maria sejak muda.


la menyukai warna putih sebab mencerminkan suci dan bersih tanpa noda, seperti bisa membuat mata segar bila memandangnya.


Selesai memutuskan gaun mana yang akan ia kenakan, ia segera memakai gaun itu dengan perlahan.


Tangannya kembali meraih ke dalam lemari pakaian, di dalam lemari sebelah kanan atas ada tumpukan tas yang ia tata dengan rapi. Dia mengambil satu yang berwarna merah muda, kemudian mengisinya dengan dompet, handphone, tisu dan uang receh.


Kemudian ia memakai sepatu kets warna merah muda dan menggunakan kacamata.


Diambilnya botol parfum


warna merah kesukaan Maria kemudian disemprotkan ke leher, baju bagian depan dan belakang.


"hmmm harum sekali!"


katanya.


Cantik sekali Maria hari itu.


Maria sudah siap dia segera berjalan keluar dari kamarnya menghampiri kedua anaknya yang sudah menanti di ruang keluarga.


"Ayo anak-anak kita


berangkat!" ajak Maria pada kedua anaknya. "kalian sudah siap kan?" tanyanya lagi.


lena dan alek menganggukkan kepala mereka dan menjawab ibunya dengan semangat.


"Kami siap berangkat, Bu." sahutnya.


Mereka bertiga segera melangkah ke luar rumah dan


mengunci pintunya dari luar.


Seharian ini Michael tidak tampak batang hidungnya dia tidak ada di rumah. Sepertinya dia pergi entah kemana. Karena tidak tahu kemana suaminya pergi, Maria terpaksa mengunci pintu rumah dari luar.


Sementara itu.


Maria, lena dan alek segera menaiki mobil berwarna


hitam milik Maria. Maria menyetir, alek duduk di kursi sebelah sopir dan Helena duduk di kursi belakang. Sebuk pengaman segera dipasang dan sebelum berangkat mereka berdoa terlebih dahulu agar selamat di perjalanan.


Broooom... broom... Suara mesin mobil terdengar begitu nyaring.


Maria memanasi mesin mobil yang sudah lama tidak ia gunakan

__ADS_1


agar tidak mogok dijalan.


Kasian Maria...


Melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari sosok suami. Kadang ia sangat mendambakan sosok suami yang bisa membuat dirinya seperti wanita seutuhnya, diperlakukan lemah lembut dan begitu spesial bagi pria itu. Tapi kenyataannya berbanding terbalik. Ia melakukan segalanya sendirian, seperti hidup


tanpa suami. Hanya ada dirinya


dan anak-anaknya saja.


Kesedihannya itu tidak pernah ia perlihatkan di depan anak- anaknya. Maria berusaha tampak tegar ia selalu menampakkan kesan bahagia dan ceria serta penuh kasih sayang pada kedua anaknya.


Selesai memanasi mobil.


Mereka segera berangkat


menuju kota Tijuana. Di perjalanan mereka melewati sawah dan peternakan.


lya rumah mereka memang berada di pinggiran kota Tijuana jadi masih bernuansa alami.


Suasana pedesaan banyak pepohonan udara begitu segar di sana. Tidak ada polusi karena memang jarang sekali ada kendaraan berlalu lalang di sekitar


tempat mereka tinggal. Masih


banyak orang yang lebih memilih mengendarai kuda untuk sarana transportasi mereka. Hampir semua penduduk disitu memiliki peternakan dan kuda.


Sungguh menyenangkan tinggal di pinggiran kota Tijuana, I sebenarnya mereka sangat Bahagia. Hanya saja satu yang membuat mereka tidak nyaman yaitu ayah mereka sendirilah yang membuat situasi di rumah selalu


menenggangkan, apalagi jika Michael dalam keadaan mabuk sudah pasti ia akan membuat keributan.


Sampai tidak bisa mengingat


lagi, entah mulai kapan sikap Michael berubah pada anak anak dan Maria. Doa Maria tidak pernah putus, permohonannya selalu sama agar suaminya menjadi sosok yang dulu ia kenal dan sayang terhadap keluarga.


Masih setengah perjalanan lagi, kira-kira setengah jam lagi mereka sampai di kota Tijuana. Maria mengendarai mobil hitamnya dengan kecepatan sedang, karena


memang tidak dapat melaju dengan kencang. Banyak sekali penduduk yang menunggang kuda di jalan raya itu. Maria juga tidak ingin buru-buru karena mereka sangat menikmati perjalanan siang itu. Suasana segar dan sejuk itu membuat mereka semakin menikmati perjalanannya menuju kota.


Setengah jam kemudian.


Tepat Jam dua siang, mereka


sampai di Kota Tijuana setelah perjalanannya kurang lebih dua jam.


Tijuana adalah kota tujuan para wisatawan. Pantai Tijuana merupakan tempat tujuan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota itu. Pantai dengan pasirnya berwarna putih menjadi daya tarik seperti magnet bagi pengunjung yang menyukai pemandangan alam.


Kemudian.


Krucuk..Krucuk...


Perut Helena dan alek berbunyi bersamaan, mendengar suara perutnya kemudian mata mereka saling menatap dan tertawa mendengarnya.


Hahahahhaha,...


Mereka tampak bahagia sekali saat ini.. tidak ada kesedihan dan ketakutan seperti di rumah

__ADS_1


"Ibu,.." kata lena.


"Perut kami lapar sekali...,"


katanya.


"Iya nak sebentar lagi kita sampai di rumah makan."sahut Maria.


"Sabar dulu ya sayang.."


jawabnya.


Sambil tersenyum pada anak


- anaknya...


Mobil mereka langsung


menuju ke rumah makan cepat


saji di kota itu. Mister Mac nama restoran itu, sebuah nama yang simple dan mudah diingat.


Lokasinya memang berada di perbatasan. Letak restoran yang strategis sehingga membuat para wisatawan yang melakukan perjalanan pasti mampir untuk sekedar makan, minum segelas kopi dan teh. Banyak juga yang


mampir hanya untuk beristirahat melemaskan tangan, badan dan kaki setelah melakukan perjalanan


jauh.


Tijuana merupakan kota tujuan wisata dan selalu menjadi pilihan utama bagi kebanyakan orang yang hendak berlibur bersama keluarga.


Ciiit... Maria menekan pedal remnya dengan dalam sehingga suara rem mobil terdengar begitu


nyaring.


Maria memarkirkan mobilnya di samping halaman rumah makan cepat saji itu.


Rumah makan itu menyajikan makanan cepat saji seperti ayam crispy, kentang goreng, pie apple, burger, hot dog, ice cream dan sangat disukai anak-anak kecil.


banyak lagi menu yang pasti


Maria mematikan mesin mobil.


Kemudian tangan kanannya meraih tas yang berada di kursi belakang.


Mereka turun dari mobil dan bergegas berjalan masuk ke dalam restoran.


"Ibu aku mau ayam!" minta alek kecil lalu menunjuk ke arah seekor ayam goreng besar di depannya.


Sambil tersenyum Maria


menoleh ke arah anak laki-laki kesayangannya kemudian menganggukkan kepalanya tanda mengiakan sambil berjalan masuk.


"Aku burger ya, Bu!" sahut lena tak mau sama dengan adiknya.D


"Ok sayang." Jawab ibunya.

__ADS_1


__ADS_2